Begitu banyak tragedi yang terjadi hari ini. Louis yang bertengkar dengan Visco, Irene yang di buntuti, pengawal Steve yang masuk rumah sakit dan juga sekarang Louis harus di adili oleh Zacklee.
Dia masuk ke ruangan Zacklee, di dalam ruangan itu Visco juga duduk di dalamnya. Mata Louis masih berapi-api menatap orang yang secara terus-menerus masuk menyelinap ke kamarnya tanpa izin.
Zacklee menyender di meja kerjanya, Louis dan Visco berdiri secara berdampingan di depan Zacklee. “ aku mendengar dari pengawal lain kalau kalian membuat keributan di rumahku?” kata Zacklee tegas.
Louis terheran-heran, mengapa Zacklee tiba-tiba menjadi sok bersikap adil seperti ini. Jika dia boleh jujur, selama Louis bekerja dengan Zacklee dia tak pernah menemukan bosnya itu peduli terhadap para pengawalnya. Aneh, benar-benar aneh! begitulah isi pikiran Louis sekarang.
Louis memberi bungkukan hormat kepada Zacklee, “ iya, itu karena Visco yang membuatku ingin membuat keributan dengannya” ujar Louis membela diri.
Visco bergelak ringan, dia tampak cengengesan. “ kau yang terlalu terbawa perasaan” gerutunya membuat Louis kesal.
“ Visco apa yang kau lakukan pada Louis?” tanya Zacklee pura-pura tak mengetahui, padahal selama ini dia yang menyuruh Visco menyelinap ke kamar Louis untuk mencari bukti soal latar belakang keluarga Louis.
“ Aku hanya mengecek kamarnya saja, aku takut di antara pengawal ada yang memiliki barang yang bisa di curigai” tukas Visco yang menjadi pimpinan pengawal itu.
Louis terkekeh mendengan jawaban Visco yang aneh, “ mengecek apanya, cih...” katanya.
Zacklee melangkah maju ke hadapan Louis, “ jika kau memang tak memiliki barang aneh di kamarmu, seharusnya kau tak membuat keributan kepada Visco. Bukan begitu Louis?” ujar Zacklee dengan tatapan sinis.
“ kalau kau bersikap seperti ini, itu tandanya kau memiliki sesuatu yang kau sembunyikan agar kau tak di curigai” imbuh Zacklee memancing Louis.
Louis mengepalkan tangannya, “ lalu menurutmu, sesuatu seperti apa yang aku sembunyikan?” kata Louis memberi umpan balik.
Zacklee mengernyitkan keningnya, dia tak menyangka pengawalnya akan bersikap tenang seperti ini. “ kau tak seharusnya menyerang balik bos mu Louis” kata Visco menyambung pembicaraan.
“ jika aku tak di perlakukan secara adil, aku akan memberontak Visco.” sahut Louis, dia juga menyerang Zacklee dengan tatapan matanya yang tajam bagai elang.
***
Tragedi yang muncul lagi adalah, Nyonya Zoe secara sengaja melontarkan ucapan soal pamanku. Dia mengungkapkan semuanya pada Steve, soal dia yang dahulu pernah hampir di tembak mati oleh paman.
Sekarang aku tak tau harus melakukan apa, apakah aku harus jujur saja? namun, jika aku jujur, Steve pasti akan menjauhiku. Aku harus membuat drama baru, selangkah kedepan aku harus bisa mendapat peluang untuk mendapatkan hari Steve.
Dengan begitu, aku akan lebih mudah membuat keluarganya hancur dan menjadikannya alat untuk mengontrol keluarganya. Tapi, jika keadaannya menjadi runyam seperti ini, apa yang harus aku katakan pada Steve?
Sekarang, pria yang mencintaiku itu menatapku dengan penuh kecurigaan. Dia menolehkan kepalanya saat ibunya berkata pamanku lah yang hampir menembakinya saat dia kerayakan ulang tahunnya.
Steve menatapku, dia terus menatapku. Lalu, tangannya menyentuh dadanya, dia pingsan di dalam ruang rawat. Aku terkejut melihat keadaanya menjadi seperti ini, tapi ini bagus. Aku tak perlu menyusun kata-kata lagi untuk memperdayai Steve.
“ Suster...tolong ada yang pingsan disini” ucap seorang suster yang masuk ke dalam ruang rawat dan terkejut melibat Steve terkapar lemas.
Aku dan nyonya Zoe menunggu di ruang rawat tempat Steve di rawat. Hanya tinggal kami berdua yang berdiri di depan ruangan itu.
“ selamat datang di rumah sakitku, kau pasti sudah tak lama tak berkunjung di tempat yang dulunya pernah menjadi aset besarmu ini” kataku memulai obrolan dengan cara memancing amarahnya.
“ kau adalah keponakan dari pria yang hampir membunuh putraku saat itu, bukankah itu benar?” tanya nyonya Zoe mengalihkan pembicaraan dengan logat sombong nya padaku
Aku melipat tanganku dan menghadap ke arahnya, “ jika itu benar, apa yang akan kau lakukan?” jawabku santai.
“ kau bahkan tak tau malunya mendekati putraku, kau tak pernah merasa bersalah sekalipun” ketusnya dengan nada penuh penekanan.
Aku tersenyum mendengar ujaran kebencian itu, “aku tak perlu menjelaskan apapun lagi padamu, bahkan jika aku ingin meninggalkan putramu, dia terus mengejarku. Siapa yang salah disini? aku atau putramu yang terlanjur mencintaiku?” jawabku brutal.
“ Sekarang, putraku menderita di dalam itu semua karena ulahmu” teriak nyonya Zoe, dia hendak membalikkan badannya dan masuk ke ruang rawat.
Aku menekan pundaknya dan membuatnya berbalik kepadaku, “ jangan pernah sentuh dia, kau yang membuatnya terkapar lemas. Andai saja kau menjaga ucapanmu, sesuatu tak akan menimpa putramu seperti ini” ketusku dengan mata melotot dan kedua tangan yang mencengkram pundaknya.
Dia menelan ludahnya karena ketakutan, selama ini dia tak pernah melihatku melotot dan mengeluarkan amarahku. Tapi ini belum seberapa, dia sudah bergetar menahan diri.
“ lepaskan aku!!!” ucap Zoe, namun aku semakin mencengkram pundaknya.
“ kenapa kau tak menyerahkan saja putramu padaku? putramu, terlalu menderita karena tekanan darimu nyonya” ketusku lagi
Nyonya Zoe berakrobat, dia tak bisa lepas dariku. “ kalau kau bermain-main denganku, akan ku pastikan kau tak pernah tersenyum semasa hidupmu Irene” jawabnya.
“ coba saja, Aku....tak pernah takut terhadap sesuatu yang mengancamku. Lebih baik kau duduk di kursi ini. Kau tak cocok menjadi ibu” ucapku berani, lalu setelah itu aku melepas tanganku dan menghempaskannya dengan pelan.
Dia menghela nafas, dan mengontrol nafasnya yang terengah-engah. Aku menatap matanya, dia kemudian duduk di kursi dengan tenang.
***
Ingatan yang masih membekas di kepala Steve, membuatnya seketika mengingat kejadian yang menimpanya saat merayakan ulang tahun ke-21. Saat itu suasana berlangsung meriah. Semua para tamu hadir, mereka menikmati jamuan ulang tahun dan memberi ucapan selamat kepada Steve.
Walaupun selama bertahun-tahun Steve selalu tertekan, karena orang tuanya. Dia berusaha untuk tersenyum lebar di ulang tahunnya yang ke-21 ini. Dia masih menyimpan begitu banyak tekanan, batin dan mentalnya terluka tapi dia berusaha baik-baik saja.
boommm
Suara ledakan tiba-tiba saja terjadi, membuat seluruh tamu menghadap ke arah sumber suara ledakan itu. Di antara mereka juga ada yang menutupi telinga mereka karena ketakutan. Steve berdiri diam, menatap ke seluruh tamu yang terlihat panik.
dorr
Setelah bunyi ledakan itu, terdengar pula suara tembakan. Bodyguard Steve yakni Levi mendekap Steve dan berusaha menghindari teman sekaligus tuannya itu dari tembakan.
Levi, adalah salah seorang bodyguard yang sangat dekat dengan Steve. Bagi Steve, bodyguard yang satu itu sudah seperti saudara. Di samping umur mereka yang sebaya, Levi juga selalu melindungi tuan muda itu dari apapun.
Mata Levi membulat, tembakan itu tepat mengenai jantungnya. Dia sedikit terpental, dan mencengram pundak Steve dengan erat. Steve menatap Levi yang menahan sakit, dia menatap mata sahabatnya dengan penuh kasihan. “ Levi....” teriak Steve.
Levi terjatuh lemas ke bawah, seluruh darah mengucur dari dadanya. Bajunya basah oleh darah, Steve berteriak sekencang-kencangnya. “ Levi.....Levi....” teriaknya dengan air mata yang mengucur dari pelupuk matanya.
Di sela-sela hembusan nafas terakhirnya, dia berkata pada Steve walau tertatih-tatih. “ Ma-maafkan a-aku Steve.” ungkapnya pelan, air matanya mengalir dari ujung matanya.
“ tidakk....tidakk, apa yang kau bicarakan” teriak Steve menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis.
“ a-aku berterima ka-sih padamu Steve” imbuh lagi sahabatnya itu di ujung nafas terakhirnya.
“ jangan bicara seperti itu Levi,” ujar Steve, dia tak bisa menahan air matanya lagi.
Levi menutup matanya dengan pelan, Steve menatap mata sahabatnya yang terpejam. “ Levi...Levi....” kata Steve memanggil nama kawannya, seolah dia ingin temannya meninggalkannya sendirian.
Semua orang menatap kepada Steve, dia memapah kepala sahabat sekaligus pengawal pribadinya itu. Bodyguard lain datang mengecek nadi Levi, dia kemudian menatap ke arah Steve dengan penuh kasihan. “ Levi, sudah...tiada” desisnya pelan.
“ apa?” ucap Steve dengan mata memerah.
Steve menepuk pipi Levi, dia tak kuasa menahan air matanya. “ Levi....Levi.....tidak tidak, kau temanku yang paling kuat. Kau tak bisa mati seperti ini” teriaknya.
“ apa yang kalian lihat? cepat panggil ambulans, kita harus menyelamatkan nyawa temanku” kata Steve pada seluruh pengawal yang menyaksikan kematian Levi.
Ibunya menenangkan Steve, dia menarik tangan putranya untuk berdiri. Namun putranya masih tak bisa menerima kenyataan bahwa dia akan kehilangan sahabatnya dengan cara seperti ini.
“ tidakkkk....tidak....”kata Steve dengan isak tangisnya yang terdengar kencang.
Teriakannya terngiang-ngiang hingga sampai sekarang masih membekas di kepalanya, air mata Steve mengalir ke samping menetes ke ranjang ruang rawat. Dia mengingat kejadian itu di dalam alam bawah sadarnya.
Hingga tak sadar dia bangun dan siuman, dengan menyebut nama Levi. “ Levi...” Ujar Steve yang tiba-tiba terbangun.
Steve menghela nafasnya, dia menepuk-nepuk dadanya yang masih terasa sakit ketika mengingat wajah temannya itu. Memori masa lalu bersama levi membuatnya seketika meluapkan air matanya, dia tak bisa melupakan kejadian itu dengan baik.
Nyonya Zoe terhentak ketika mendengar isak tangis dari dalam ruang rawat yang di tempati oleh Steve. Dia masuk ke dalam dan lari terbirit-b***t. “ Steve...apa kau tak apa?” tanya ibunya khawatir sambil mendekap Steve.
Steve masih saja menangis, dia tak kuasa menahan air matanya itu. “ Steve mengapa kau menangis?” tanya lagi ibunya.
Irene masuk ke dalam ruangan, dia menatap Steve yang tengah menangis. “ apa yang terjadi pada bocah ini?” tanyanya di dalam hati.
Steve perlahan-lahan menolehkan kepalanya kepada Irene, kepalanya mulai bergetar di selingi dengan pipinya yang basah oleh air mata. “ benarkah kata ibu? pamanmu yang berusaha menembakku saat itu?” ucapnya dengan pelan.
Irene terdiam cukup lama, kemudian dia mengangguk kepalanya. “ ya, itu ulah pamanku” jawabnya singkat dengan bola mata yang mengarah ke bawah.
Steve terkejut mendengar jawaban dari wanita yang di cintainya itu, dia tersentak kaget. Kemudian dia turun dari ranjang dan menghempaskan tangan ibunya yang berusaha mendekapnya. “ Steve, mau kemana kau?” tanya Irene, namun dia pergi mengabaikan pertanyaan dari kekasihnya itu.