KEPERCAYAAN

1992 Kata
Steve sudah terlanjur tau, siapa aku sebenarnya dan siapa pamanku sebenarnya. Dia menangis kala itu, namun aku tak mengerti apa yang membuatnya menangis. Apa karena dia kecewa aku tak memberitahunya, tapi jika itu adalah suatu alasan aku bisa menganggapnya terlalu berlebihan hingga dia menangis histeris seperti itu. Kejadian yang menimpanya kala itu bukan rencana yang ku susun. Itu murni karena kesalahan paman, karena dia yang terlalu terobsesi dengan pembalasan dendamku. Itulah mengapa, dia terlalu gegabah dalam menyusun strategi hingga ingin menghabisi putra dari orang yang telah membunuh keluargaku. Steve, bahkan dia mengabaikanku sekarang. Setelah aku mengaku padanya bahwa yang menembaknya adalah pamanku sendiri dia seketika tak peduli lagi. Dia turun dari ranjang rawat dan pergi meninggalkanku. “ Steve, kemana kau akan pergi” tanyaku, tapi dia sama sekali tak merespons. Raut wajahnya muram, dia menyeka air matanya sambil berjalan keluar dari ruang rawat. Aku mengikuti Steve dan menarik tangannya. “ mengapa kau tak menjawabku?” tanyaku pelan. Dia menatap wajahku dan air matanya lagi-lagi jatuh, kemudian dia menghempaskan tanganku dengan pelan. “ biarkan....aku sendirian Irene” jawabnya lalu pergi begitu saja. Sialan, dia benar-benar acuh kepadaku. Sekarang dia pergi meninggalkanku sendirian dan keluar dari rumah sakit. *** Steve masuk ke mobilnya dan menancap gas, dia keluar dari rumah sakit dengan kondisi yang tak begitu stabil. Dia terus meluapkan kemarahannya dan berteriak di dalam mobil. Lalu mobilnya berhenti di suatu tempat yang sejuk nan damai, tempat itu adalah sebuah pemakaman. Ya benar, itu adalah makam. Dia mencoba mengunjungi rumah terakhir sahabat yang pernah menjadi pengawalnya itu. Steve berjongkok, dan menatap ke tugu nisan yang tersurat nama sahabatnya. Dia meraba nisan itu lalu tersenyum, “ Levi..sudah lama rasanya tak bertemu denganmu” lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Angin yang berhembus, tempat yang terasa damai membuat hati Steve terenyuh. Dia menundukkan kepalanya, bukan semata-mata menunduk tapi dia tak kuasa menahan hatinya yang sakit. “ apa yang harus ku lakukan........” desisnya pelan, air mata terus mengucur tak terhenti. “ mengapa aku harus mengalami hal seperti ini Levi..” ucapnya. Steve terus menangis, dia memohon ampun di hadapan tugu nisan sahabatnya itu. “ maafkan aku, aku sungguh ingin meminta maaf padamu” imbuhnya, suara tangisannya semakin nyaring. tiba-tiba dia menyeka air matanya, “ benar, kau selalu bilang kepadaku untuk selalu kuat. Aku tidak boleh menangis di hadapanmu” Ujar Steve berusaha tabah. Tangannya mengusap-usap tugu nisan itu dengan pelan, “ suatu saat ketika kita bertemu lagi, ayo kita wujudkan keinginanmu. Bukankah kau ingin kita berlibur? kau selalu mengeluh karena ayahku selalu mempekerjakanmu siang dan malam. Seharusnya aku tau betapa lelahnya kau. Semoga kau tenang di kedamaian, aku yakin kau juga mendoakanku di atas sana. Aku juga akan mendoakanmu disini” imbuh Steve. “ aku akan pulang dulu, aku tidak ingin menceritakan masalahku. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini” Steve berdiri, dia tersenyum lagi menatap tugu sahabatnya itu. Kemudian dia pergi sambil menyeka air matanya, meninggalkan tempat terakhir kawannya beristirahat. *** Setelah jam istirahat, Louis pulang dari kantor. Dia sangat jenuh setelah menerima perlakuan buruk dari tuannya itu. “ sepertinya Zacklee mulai curiga atas keberadaanku” pikirnya. Louis pergi dan bergegas untuk pulang ke rumah Irene, saat keluar dari perusahaan dia bertemu dengan Minny dan ibunya. Minny melambaikan tangan kepada Louis, dia kegirangan bertemu dengan orang yang pernah menolongnya itu. Louis menghampiri Minny, anak kecil itu memeluk erat tubuh Louis. Dia kegirangan, “ apa paman bekerja disini juga?” tanya Minny pelan sembari mengukir senyuman di bibirnya. Louis mengangguk kepalanya, “ paman bekerja disini sudah cukup lama. Ahh apa yang kau lakukan disini?” kata Louis mengusap rambut Minny. “ Aku ingin bertemu ayahku” katanya. Louis membulatkan matanya, “ hah apa ayahmu bekerja disini juga?” Minny mengangguk pelan, kemudian ponsel Louis berdering. Dia mengangkat ponselnya, “ ya halo? ahh ya baiklah aku akan kesana” Ucap Louis menjawab ponselnya. “ Minny, nyonya..aku harus pergi dulu. Minny, jangan lupa untuk berhati-hati oke?” Seru Louis, dia mengajak Minny untuk melakukan tos ringan. Minny mengangguk pelan dan menepuk telapan tangan Louis itu, “ baiklah” Louis tersenyum, dia kemudian pergi meninggalkan Minny. Visco keluar dari perusahaan Zack, dia tak sengaja melihat Louis yang mengobrol asik dengan Minny di depan gedung. Visco datang menghampiri Minny, dia menjongkok ke hadapan putrinya dan memeluk erat gadis kecilnya itu. “ Ayah, ayah bilang kau akan pulang. Tapi, kami sampai menyusulmu kesini” kata Minny sedih. “ ayah, mendapatkan tugas lebih sayang. Ayah janji, setelah ayah menyelesaikan tugas nanti kita akan bermain bersama lagi. Oke?” Jawab Visco memberi senyum lebarnya kepada Minny. Lalu Visco berdiri, dia melontarkan pertanyaan pada istrinya. “ kau sedang bicara dengan siapa tadi?” tanya nya. “ Dia orang yang telah menyelamatkan Minny dari kecelakaan, apa kau ingat kecelakaan yang terjadi di jalan raya depan kantormu itu?” jawabnya. Visco sedikit berpikir, apakah benar Louis yang menyelamatkan Minny. Dia menjongkok lagi ke depan Minny, “ apa paman tadi yang menyelamatkan mu?” katanya memastikan. Minny mengangguk kepalanya, “ sayangnya aku tidak tau siapa namanya ayah.. tapi paman itu sangat tampan” jawabnya. Visco mengangguk kaku, kemudian dia tersenyum. “ ayah harus baik hati pada paman itu” tukas putri kecilnya itu. Visco memeluk Minny lagi, “ tentu saja. Ayah...akan berbaik hati padanya” gumamnya. *** Beberapa hari berlalu... Tidak ada lagi Steve, manusia itu tak pernah berkunjung lagi ke rumahku. Aku pun tak tau, kapan dia harus menyendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi yang pasti, aku tak akan mengejarnya. Jika dia pura-pura menghilang hanya untuk ku kejar, aku tak akan pernah mengejarnya. Bagiku, tidak ada hal yang harus di lakukan dengan cara mengemis dalam cinta. Jika akhirnya memang hubungan kita harus berhenti disini, biarlah berhenti saja. Aku bisa fokus pada seluruh rencanaku seutuhnya, sekarang aku duduk di samping jendela kamarku. Aku duduk mencari udara segar, sembari menikmati secangkir kopi yang ku seduh. Menatap bintang, bulan yang bersinar terang dan menatap langit yang begitu sudi memberikan keindahan di malam ini. Beberapa hari yang lalu,Louis sempat berkunjung kemari. Dia bilang, Zacklee sudah semakin curiga akan keberadaannya. Jika dia memang sudah mengetahui itu, baiklah. Ayo kita mulai permainannya sekarang, tak perlu lagi ada yang harus di tutupi dengan rapi. Semuanya sudah jelas, saatnya kita bertempur. Mataku tiba-tiba berbinar, saat sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahku. Mobil yang terlihat familiar, seketika aku bangun dari tempat duduk dan menatap dengan baik orang yang keluar dari mobilnya. “ Steve....” kataku, sambil menyipitkan mata. “ mengapa dia kemari?” pikirku lagi. Aku keluar dari kamarku, dan menemui Steve di luar. Dia menatapku canggung, aku masih belum bisa menyapa nya kali ini. Lalu bibirnya melukis senyuman manis, ternyata senyumannya belum saja pudar. “ ayo..kita pergi keluar” ajaknya, aku tak mengiyakan perkataannya. Tapi dia sudah menarik tanganku masuk ke mobilnya. Taman, ya benar. Arah yang menjadi tujuannya sekarang adalah taman. Steve mengajakku duduk di bangku yang tersedia di taman. Aku hanya terdiam dan tak melontarkan satu kata pun untuknya. “ maafkan aku” ujar Steve, Kepalaku yang menunduk seketika mendongak ke arah Steve, aku tak menyangka ucapan itu akan keluar dari bibir manisnya setelah dia tau bagaimana sikap pamanku padanya dulu. “ mengapa kau harus mengatakan itu?” tanyaku padanya. Steve tersenyum tipis, “ tidak, aku hanya ingin mengatakan itu padamu” “ seharusnya kau tak perlu menemuiku lagi” ketusku. Steve terdiam, dia termenung sebentar. “ mengapa kau harus berbicara seperti itu?” “ kau seharusnya marah saja, bukankah pamanku sudah berbuat jahat padamu?” kataku pelan. Steve tiba-tiba memegangi kedua pundakku, dia bicara padaku secara tulus. “ aku...harus bertanya kepada pamanmu, mengapa dia melakukan itu kepadaku. Tapi kau harus tau, aku menyukaimu. Aku tidak akan berhenti menyukaimu hanya karena masalah itu” Aku terdiam, mengapa dia harus sesabar ini. “ anu, apa kau marah?mengapa kau menangis waktu itu?” tanyaku. . Steve menunduk, “ sejujurnya, pamanmu membuat temanku meninggal. Peluru itu mengenai temanku, dia juga bekerja sebagai bodyguardku” Ada banyak hal besar yang di lewatinya. Tekanan dari orang tuanya, kematian sahabatnya, semuanya dia lewati sendirian. Ku pikir hanya aku saja yang mengalaminya.masalah paling rumit, tapi masalah yang lebih pelik rupanya juga terjadi, bahkan menimpa orang terdekatku sendiri. Aku mengusap pundak Steve berkali-kali, “ terimakasih” jawabku sambil memalingkan wajahku. “ kalau begitu, kita selesaikan masalah ini dan bicarakan soal pernikahan kita” imbuhku menatap kedua mata Steve. “ Bawa orang tuamu ke rumahku” kataku tegas. Semua keluarganya sudah mengetahui itu, sekarang waktunya aku mempertemukan paman dan ayah Louis. Aku tak sabar, bagaimana terkejutnya Zacklee saat menatap mata orang yang dahulu pernah mencelakai putranya. Steve tersenyum, dia mengangguk pelan menyetujui ajakanku. “ ayo, kita pertemukan semua keluarga kita” jawabnya. *** Irene telah tiba di rumahnya, Steve melambaikan tangannya mengucapkan selamat tinggal kepada kekasihnya itu. Saatnya Irene membicarakan masalah ini kepada Louis. Dia mengambil ponselnya dan menelepon adiknya itu. Louis tengah merebahkan tubuhnya ke ranjang, dia menerima telepon dari kakaknya. “ halo Louis? bagaimana harimu?” tanya Irene pada Louis. Louis merelaksasikan lehernya, “ baik-baik saja” “ Keluarga Steve akan segera bertemu dengan paman” katanya. Louis membulatkan matanya, dia spontan mengambil posisi duduk. “ Apa Steve yang mengajak keluarganya untuk bertemu dengan paman?” “ aku” “ apa? kau sudah gila? bagaimana jika keluarga itu mengetahui soal siapa kita?” bisik Louis pelan, dia tak ingin suaranya terdengar ke arah Luar. “ Steve sudah mengetahui jika paman orang yang pernah menembaknya dulu” Serunya. Louis menghela nafasnya, dia terdengar lelah. “ aku tidak tau apa yang harus ku lakukan” “ lagipula aku akan segera menikah, setelah ini aku tak perlu di hantui dengan rasa ingin balas dendam bukan?” kata Irene. “ Irene, ingat selalu. Kau harus ingat kejadian saat itu, jangan pernah memberi hatimu pada siapapun itu. Lagipula kau kakakku, aku tak ingin ada hal yang terjadi kepadamu” kata Louis panjang lebar, dia merebahkan tubuhnya lagi ke ranjang. “ jangan khawatir, aku akan segera menyelesaikan dendam ini” ujar Irene. Louis menutup telepon, percakapan itu telah selesai. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, Louis dengan sigap mengarahkan pistol ke arah pintu. Visco masuk ke dalam paviliun, dan menurunkan pistol yang di arahkan oleh Louis. “ jadi kau adalah saudara Irene?” ucap Visco ke hadapan Louis. Louis merotasikan bola matanya ke bawah, dia tak tau Visco menguping pembicaraannya saat dia tengah mengobrol bersama Irene lewat telepon. Louis mengarahkan pistolnya lagi, “ aku temannya” jawab Louis tegas. Visco melirik ke arah pistol yang di pegang oleh rekan pengawalnya itu, dia duduk di samping Louis. “ aku tau kau saudaranya, tak perlu berbohong. Aku...tidak akan mengatakan semuanya pada siapapun” Louis menoleh ke arah Visco, dia tak mengerti mengapa pria itu berubah secara mendadak. “ aku sudah bilang, aku hanya temannya” ketus Louis. “ anak kecil yang kau selamatkan dari kecelakaan itu adalah putriku. Dia belahan jiwaku, aku sudah menanti kehadirannya sejak lama.” ujar Visco, Dia tersenyum dan melanjutkan ceritanya lagi. “ saat itu, Istriku di vonis tak bisa memiliki bayi oleh dokter. Tapi dia selalu bilang, bahwa keajaiban itu ada. Aku menunggu kehadiran Minny begitu lama. Itulah mengapa, aku sangat menyayangi anak itu” imbuhnya. Louis menurunkan pistol nya perlahan-lahan, “ jadi Minny itu putri mu?” Visco mengalihkan pandangannya ke arah Louis, tak ada api kebencian lagi di matanya. Dia mengangguk, “ Minny bilang, kau sudah menyelamatkan nyawanya.” “ dia hampir tertabrak mobil saat itu” jawab Louis. “ tuan Zacklee ingin mencari latar belakangmu, dia memerintahku untuk mencari tau siapa itu kau. Dia mencurigaimu” Tukas Visco. Louis mengernyitkan keningnya, “ jadi dalangnya adalah Zacklee ya” “ aku...tidak akan memberitahu soal rahasimu kepada Zacklee, aku sudah dengar pembicaraanmu bersama Irene, kakakmu. Aku memiliki hutang budi kepadamu, aku berjanji aku tidak akan memberitahu soal masalah ini” Ucap Visco tulus. Louis mengangguk pelan, Visco beranjak berdiri dari ranjang Louis. “ terimakasih telah menyelamatkan Minny” Desisnya tersenyum ke arah Louis. Louis akhirnya lega, akan tetapi dia tak boleh lalai seperti ini. Bagaimanapun, dia tak bisa seenaknya memercayai orang. Louis, harus hati-hati!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN