PERTEMUAN DUA KELUARGA

1496 Kata
Pertemuan, pertemuan, dan pertemuan. Hal itu yang memenuhi isi otakku, aku mainkan jariku sembari memikirkan rencanaku selanjutnya. Apapun yang terjadi, aku ingin menikahi Steve, karena dengan begitu aku bisa menjadikannya sebagai alat untuk mengontrol kedua orang tuanya. Setelah aku menelepon Louis, aku pergi menemui paman Lay dan Tiffany. Keduanya duduk di ruang keluarga seperti biasanya. Aku datang dan duduk menghadap ke hadapan mereka berdua. “ aku punya kabar gembira” ucapku senang, Keduanya saling menatap penasaran, “ kabar apa itu?” tanya Tiffany sambil mengangkat alis kanannya. “ kedua orang tua Steve akan datang kesini. Besok malam, kita akan mengadakan acara pertemuan dua keluarga untuk membahas dan menentukan tanggal pernikahanku” jawabku. Paman Lay tiba-tiba tertawa, “ kau benar-benar serius ya nak?” “ bagaimana tidak, jika aku bisa menikahi Steve aku bisa dengan mudah mengontrol orang tuanya. Aku akan menjadikan Steve alat untuk ancamanku” sahutku tersenyum. Paman menopang dagunya dengan telapak tangan kanannya, “ aku tak sabar, bertemu dengan seseorang yang pernah menjobloskanku ke penjara” kata paman meringis pelan. *** Zacklee menghempaskan korannya ke meja, dia berdiri karena emosi. “ apa katamu? kau ingin ayah dan ibu pergi menemui keluarga pacarmu?” Nyonya Zoe tersentak kaget karena suaminya tiba-tiba emosi, Steve berdiri dengan tegap di hadapan ayahnya. “ iya, aku ingin kalian menemui keluarga Irene. Bukankah, Irene sudah kesini menemui kalian?” kata Steve “ Steve, ibu dan ayah sudah menentang hubungan kalian. Mengapa kau selalu serius kepadanya hah?” celetuk nyonya Zoe. “ ibu akan menjodohkanmu dengan wanita lain, Ibu akan menjodohkanmu dengan youngha. Anak dari teman ibu yang juga ku anggap sebagai anak” imbuhnya pelan. Steve mengalihkan pandangannya ke arah ibunya, “ apa? bagaimana aku bisa menerima youngha? aku...tidak pernah mencintainya” Tegas Steve. “ Dia lebih berkelas daripada pacarmu itu, kau harus menuruti perintah ibu. Kau harus menemuinya.” jawabnya. “ ibu, aku sudah menganggap youngha seperti adikku sendiri. Bagaimana aku bisa menerimanya?” “ cinta akan tumbuh seiring waktu Steve, jangan terlalu terpaku terhadap pacarmu itu” ketus ibunya. Steve membuang nafas beratnya, “ baiklah! Tapi jika ibu ingin aku menemuinya, ibu dan ayah harus menemui keluarga Irene terlebih dulu” Zacklee semakin marah mendengar jawaban putranya, dia mengepalkan tangan dan mendengus kesal sembari menghadap ke arah Steve. Dia menatap mata putranya yang semakin membangkang itu, kemudian putranya pergi masuk ke kamarnya untuk menenangkan diri. “ anak itu” gerutu Zacklee kesal. *** Tiffany menyiapkan jamuan di ruang makan, Paman Lay bersiap-siap mengenakan jasnya. Tak ada foto-foto keluarga, aku tak mau mengumbar rahasiaku semudah itu. Aku menunggu kedatangan Steve di ruang tamu. Beberapa kali aku mengintip dan membuka gorden, namun pria itu belum saja tiba. Aku hendak berbalik badan, tiba-tiba suara klakson berbunyi membuat tubuhku terhentak karena terkejut. tok tok tok Aku sengaja berdiri di balik pintu, ku buka pintu rumahku menyambut kedatangan keluarga itu. Steve tersenyum manis saat menatapku, kedua orang tuanya berdiri di belakangnya dengan sinis. Begitupun Nyonya Zoe, dia merangkul tangan suaminya dengan erat. “ selamat datang di rumahku” kataku berusaha sopan. Steve masuk ke rumahku, kedua orang tuanya mengacuhkanku. Mereka menyerobot masuk mengikuti langkah Steve. benar-benar berengsek! “ bagaimana jika kita menuju ke ruang makan saja?” tanyaku pada Steve. “ tentu, baiklah ayo kita makan malam” jawabnya penuh lemah lembut. Sekarang kita berkumpul di tempat ini, ya ruang makan. Kedua orang tua itu hanya menatap tajam makanan yang di sajikan di hadapannya. Tak ada pergerakan dari kedua tangan mereka untuk menyentuh dan menghargai segala jamuan yang siapkan hari ini. Paman Lay turun dengan necisnya menjajaki anak tangga, Dia tersenyum menatap mata Zacklee. Sedang Zacklee, dia tercengang melihat kedatangan Lay yang tak di duga-duga olehnya. Paman duduk di kursi makan, dia merapikan jasnya. “ suatu kehormatan bisa bertemu dengan kalian ya?” ucap paman sok akrab, padahal aku tau dia pasti jijik mengucapkan kata-kata itu. “ Lay sudah datang, bagaimana jika kita mulai saja makan malamnya” sambung Tiffany. Steve tampak antusias menikmati makanan yang di sedikan oleh bibiku. Paman terus melirik ke arah Zacklee, dia tak henti-hentinya memancing kemarahan orang yang menjebloskannya ke dalam penjara. Paman menaruh garpu dan pisaunya dengan pelan, “ mengapa kalian tak menyantap hidangannya?” tanya paman. “ mengapa pria ini ada di sini? Irene, siapa pria ini?” tanya Zacklee pura-pura tak tau. Paman Lay tersenyum, “ aku adalah paman dari Irene” Zacklee menyipitkan matanya, “ apa ini sebuah permainan? mengapa ada pria yang hampir menembaki putraku di sini?” ujarnya dengan wajah kesal. Steve menunduk malu, “ sebaiknya jangan pernah membahas masalah itu lagi ayah” celetuk Steve menghentikan ayahnya. Zacklee tersenyum sinis ke arah Lay, “ rupanya kau sudah bebas setelah ku jebloskan kau ke dalam penjara ya?” imbuh Zacklee. Paman Lay bergelak dengan santainya, “ bagiku hidup di dalam penjara tak terlalu menyedihkan. Aku bahkan bisa bersenang-senang di dalam sana, apa kau pikir hidup di penjara bisa membuatmu menderita?” kata paman menyerang ucapan Zacklee. “ aku tak pernah paham, mengapa putraku terlalu terobsesi pada wanita ini. Yang bahkan pamannya saja pernah mencoba untuk membunuhnya” tukas Zacklee. Paman Lay menolehkan kepalanya ke arah Steve, “ aku...sudah melupakan hal itu ayah” desis Steve pelan. “ sebaiknya, kalian santap saja hidangannya. Kami begitu berusaha agar kalian bisa menyukai makanannya” kata paman, dia melayangkan senyuman pada orang tua Steve. Suasana kembali senyap, tidak ada adu mulut lagi antara keduanya. Hingga kegiatan makan malam pun usai. Nyonya Zoe melontarkan kata-kata untuk pertama kalinya. “ aku berencana ingin menjodohkan putraku dengan wanita lain” ucapnya menatap ke arahku dengan tatapan penuh kebencian. Aku tersenyum menghadapi ucapannya yang hanya ingin memancing amarah ku itu, “ aku...sudah menentukan tanggal pernikahannya” “ wahhh kapan kalian akan melaksanakan pernikahan itu?” sambung paman, yang semakin memancing amarah kedua orang tua Steve. “ lima hari kedepan, aku dan Steve akan menyiapkan segela sesuatu untuk menggelar pernikahan kita. Tepat hari minggu, kami akan menikah secara resmi” jawabku dengan suara lantang. Nyonya Zoe memukul meja, dia mulai meluapkan emosinya. “ kalian tidak bisa menikah tanpa persetujuan dari kami” “ tapi bagaimanapun itu, aku akan melanjutkan hubunganku dan Steve ke jenjang yang lebih tinggi” sahutku menyerang balik ucapan nyonya Zoe. “ ibu, aku hanya ingin menikah dengan Irene” celetuk Steve. Zacklee tiba-tiba tertawa dengan suara yang menggelegar, “ kau...telah di perdayai oleh mereka semua nak. Bagaimana kau bisa menikah dengan keluarga berandal seperti mereka?” “ kami akan menggelar acaranya di sebuah gedung. Aku harap kalian bisa datang dan merestui putra kalian” Ucapku berusaha mengalihkan ucapan Zacklee. Nyonya Zoe berdiri dari kursi makannya, “ Kami menentang keras hubungan kalian. Steve...ayo kita pulang” teriaknya menarik tangan Zacklee dan mengajak putranya. Nyonya Zoe melangkah pulang, “kalau begitu kita akan melanjutkan pernikahan, walau tanpa restu kalian sekalipun” ujarku. Kata-kata ku menghentikan langkah mereka, semua mata tertuju kepadaku. Bibir nyonya Zoe bergetar karena emosi nya yang terus membuncah. “ aku tidak akan mengemis restu kalian, seharusnya sebagai orang tua kalian mendukung apapun yang di membuat putra kalian bahagia.” imbuhnya dengan pandangan mata mengarah ke bawah. “ sebelum menjadi menantu, seharusnya kau tak usah mengatur kami seperti itu” jawab Nyonya Zoe. “ itu karena kalian terlalu menakan Steve. Aku sudah mencintainya, aku sudah siap memberinya kasing sayang yang tak pernah di beri oleh orang tuanya. Jika sebagai orang tua kalian saja tidak pernah memenuhi kewajiban kalian, bagaimana aku harus pantas menyebut kalian sebagai orang tua?” desisku. Steve menggandeng tanganku, “ aku tidak pernah meminta apapun pada ibu, sekarang aku hanya ingin menikah saja” Zoe hanya menghela nafas nya, dia pergi tanpa memberikan jawaban apapun pada Steve. Zacklee pun hanya menatap putranya itu, dia telah cukup menahan amarahnya selama ini. *** Zacklee dan Zoe masuk ke dalam mobil, keduanya tampak tengah emosional mengingat putranya yang tak pernah menuruti kemauan mereka. “ Kita... harus menyingkirkan perempuan itu Zacklee” kata nyonya Zoe menatap ke arah suaminya dengan mata berkaca-kaca. “ saat hari itu tiba, lihat saja. Aku berbuat apapun untuk menyakiti wanita itu” ungkapnya. *** Pamanku hanya tertawa tipis, dia sangat puas menyaksikan ujaran kebencian yang keluar dari mulut orang tua Steve. “ orang tuamu, tidak akan pernah merestuimu Steve” kata Paman pelan, dia berusaha menenangkan Steve. “ iya, aku tau itu” jawabnya singkat. Paman hanya terdiam, kemudian kepala Steve terdongak menatap ke arah paman. “ apa...yang menjadi alasan paman ingin menembakku waktu itu?” Pertanyaan itu seketika membuatku kaget, dia dengan berani menanyakan itu pada paman. “ bagaimanapun, orang tuaku menentang ini karena paman mencoba untuk membunuhku waktu itu kan?” Paman melempar apelnya ke meja, “ada sesuatu yang seharusnya kau tak ketahui. Jika kau tau itu, pasti kau akan tau juga alasanku ingin membunuhmu waktu itu” jawabnya. Paman kemudian berdiri dan beranjak pergi ke kamarnya, Steve menyoroti kepergian paman hingga bayang-bayangnya tak nampak lagi. “ Irene, apa kau mengetahui soal ini?” Aku tertegun mendengar ucapannya, “ apa yang menjadi alasan paman untuk membunuhku?” tanya nya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN