MENIKAH

1587 Kata
Setelah ku lontarkan kata-kata pedasku, mungkin di sanalah mereka mulai semakin membenciku. Aku tak peduli dengan semuanya, kedatanganku di sini hanya membuat mereka merasa senang. Karena mereka terus mengintimidasiku. Tapi aku baru sadar, bahwa ucapanku juga tak kalah menusuknya dari ucapan mereka. Ucapanku mampu membuat mulut mereka terdiam, lalu setelah ku lontarkan ucapan itu, aku pergi meninggalkan ruang makan itu. Steve mengejarku, dia menghiraukan teriakan ibunya yang melarangnya pergi. “ Irene...” teriaknya. Aku terus mempercepat langkahku pergi keluar, dia menarik tanganku. Sekarang aku dan dia berdiri di depan pagar rumahnya yang besar. “ Irene tunggu aku” kata Steve memohon. “ apa ada hal yang ingin kau katakan?” tanyaku santai seolah tak hatiku masih baik-baik saja. “ Irene...” desisnya. “ aku memang mengambil aset besar itu. Vincent dan aku tak sengaja bertemu, aku mendengar bahwa dia sangat membenci keluargamu. Dia menginginkan yayasan besar itu, saat itu aku butuh uang. Vincent mengajakku bekerja sama, tapi dia bodoh. Dia masuk penjara, lalu yayasannya di ambil alih olehku” kataku menjawab pertanyaan sebelum dia mengulang pertanyaan. “ tidak..Aku tidak memedulikan soal itu” Ketus Steve, Aku menatap matanya yang berkaca-kaca, dia menunduk dan mengucapkan kata maaf dengan lemah lembut. “ soal ibu dan ayahku, maafkan ucapan mereka. Aku tak menyangka kondisinya aku menjadi buruk seperti ini” Bodoh! mengapa Steve harus sebodoh ini. Dia tak peduli aku juga menyakiti perasaan ayah dan ibunya. Tapi ini bagus, dia terlalu mencintaiku sampai dia dibutakan oleh sifatku yang jauh dari kata baik ini. Kini dia mendekatkan tubuhnya, tangannya di rentangkan, dia hendak memelukku. Namun, aku mendorong tubuhnya. “ jangan mendekati wanita sepertiku, aku tidak mau kau menyesal di kemudian hari” ujarku sambil membuang muka. Steve tetap tekad ingin memelukku, dia mendekat dan memeluk tubuhku dengan erat. Dia berbisik di telingaku, “ tak peduli seberapa jahat dirimu Irene, aku akan terus menyukai mu” bisiknya pelan. Bibirnya tersenyum tipis, aku bahagia dia memiliki cinta yang besar untukku. Ada kemungkinan dia bisa meninggalkan orang tuanya, aku tau cara merusak mental nyonya Zoe perlahan-lahan. “ saat kau pergi ku pikir aku akan kehilanganmu Irene, aku takut kau akan menjauhiku. Aku takut ucapan orang tuaku menyakiti hatimu” Ujarnya pelan. “ bagaimana jika aku menjauhimu” tanyaku pada Steve. Dia memelukku lebih erat lagi, “ jangan bicara seperti itu. Bahkan membayangkannya aku tak sanggup” Aku memeluk mengusap punggung Steve, “ jangan takut kehilanganku. Kau tidak akan pernah merasakan itu. Aku juga tidak akan membuatmu merasakan kehilangan atas diriku” Aku memejamkan mataku, tiba-tiba Steve melontarkan kata-kata yang membuat mataku membulat. “ kalau begitu, ayo kita menikah” ajaknya pelan. Walau dia mengucapkan kata itu dengan pelan, tapi ucapannya membuat jantungku hampir tak berdetak lagi. Aku hanya tak menyangka, bagaimana aku bisa menempuh hidup baru bersama orang lain? “ a-apa?” ucapku. Steve melepas pelukannya, “ kau tidak mau menjadi istriku?” Hatiku berkata tidak, tapi di lain sisi pikiranku berkata iya. Peluang itu membuatku lebih mudah untuk mencuci otak bocah ini. Aku berdehem, “ a-aku hanya tak pernah mendengar pria mengucapkan kata-kata seperti ini sebelumnya” “ baguslah, aku pria yang mengucapkan pertama kali untukmu” katanya mulai semangat lagi. Aku masih terus berpikir panjang, “ apa kau tak mau menikah denganku?” tanya Steve memaksa. “ baiklah, ayo kita menikah. Bahkan jika kedua orang tuamu tak merestuiku, aku akan menikah denganmu” Jawabku tegas. Steve menutup mulutnya karena terlalu gembira. “ a-apa kita akan tinggal bersama?” kata nya gugup. “ entahlah, aku akan pulang.” seru ku bertingkah tak peduli di hadapan Steve. Aku pergi meninggalkan Steve, namun dia mendekapku dari belakang. “ terimakasih untuk semuanya. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu” bisiknya lagi. Nafas hangatnya membuat sekujur tubuhku turut hangat, tangannya mengikat perutku. Aku tak menyangka dia menjadi sedekat ini kepadaku. Hidungnya menyentuh ke pipiku, aku dengan spontan memejamkan mataku lagi. Aku menyukai pelukan seperti ini. “ aku pulang dulu” ketusku pelan dengan tiba-tiba aku melepas pelukannya walau hatiku sebenarnya bahagia. “ aku akan mengantarmu” jawabnya menarik tubuhku lagi. “ berhenti, jangan membuat orang tuamu semakin membenciku. Aku pulang dulu” sentakku seperti biasanya. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya, menghindari salah tingkah ini. Rasanya jantungku seperti benar-benar berhenti berdetak. Siapa dia? mengapa membuatku menjadi seperti ini? Di lain sisi, Steve tersenyum melihat langkahku yang cepat nan imut. “ karena kau seperti itu, aku jadi makin mencintaimu” gumamnya dengan senyuman yang tak di duga terlukis di bibirnya. *** Hanya beberapa detik yang lalu, Steve sumringah di hadapan Irene. Namun sekarang dia masuk ke dalam rumahnya dengan tatapan garang. Kedua orang tuanya masih duduk di meja makan. Mereka menyoroti putra mereka yang masuk dengan wajah memerah, Kemudian Steve berdiri di antara keduanya. Membuat mereka berdua sama-sama menatap ke wajah Steve. “ aku kecewa, ayah dan ibu berlaku seperti itu di hadapan Irene” kata Steve pelan sambil mengalihkan pandangannya. “ bisakah kalian menerima Irene? memangnya perempuan seperti apa yang kalian cari?” “ apa yang ibu dan ayah lakukan ini untuk kebahagiaan mu Steve, Ibu tak ingin kau menderita karena wanita itu” titah nyonya Zoe. “ lalu, apa dengan kalian mencarikan aku wanita aku akan bahagia? aku yang akan merasakan kebahagiaan itu bu.” Ibunya seketika berdiri tegak di hadapan Steve, “ Ibu tak tau, apa yang kau lihat dari wanita itu? apa yang membuat mu menjadi seperti ini Steve” Teriak bu.Zoe sambil menggoyang-goyangkan tubuh anaknya. Steve menghentikan ibunya, “ Irene benar, kalian selalu terpacu pada harta. Apa masalahnya jika aku mencintai Irene?” “ kau lebih memilih wanita jalang itu daripada ibumu sendiri?” teriak nyonya Zoe sambil mengeluarkan air matanya. Steve menghempaskan ibunya yang terus menggoyang-goyangkan tubuhnya, “ jangan menyebut di sebagai jalang bu. Aku tidak menyukainya” “ apa panggilan yang pantas untuk memanggil dirinya? wanita jalang? perampas? atau wanita sampah?” teriak nyonya Zoe lagi. “ aku tak menyukai itu semua bu. Bisakah kalian memberiku kebahagiaan sekali saja? terkadang aku berfikir apakah aku tak layak untuk bahagia? mengapa kalian selalu membiarkan ku sendirian? kalian selalu sibuk mencari harta benda. Sampai kalian lupa bahwa kalian memiliki seorang putra” teriak balik Steve. splass Tamparan keras itu mengisi seluruh isi ruangan, Air mata Steve berkumpul di pelupuk matanya. Tangannya meraba pipi yang telah di tampar oleh telapak tangan ayahnya itu. Wajah Steve mulai bergetar, dia menolehkan wajahnya ke wajah ayahnya. “ Sepertinya kau salah paham Steve? ibu dan ayahmu bekerja juga untuk mencukupi kebutuhanmu. Kau sepertinya akan belajar menjadi anak yang tau diri” Sahut Zacklee kemudian dia melangkahkan kakinya untuk pergi. “ aku akan merencanakan pernikahan bersama Irene, Kalian harus bersiap-siap” kata Steve pelan. Ucapan itu membuat langkah ayahnya terhenti. Dia melanjutkan langkahnya lagi, seolah dia mengabaikan ucapan yang keluar dari mulut sang putra. Nyonya Zoe memegangi pipi anaknya, dia merasa kasihan. Akan tetapi, Steve lebih memilih untuk pergi ke kamarnya, dia menutup pintu kamarnya dengan keras. *** Aku memikirkan bagaimana rencanaku kedepannya ketika aku dan Steve akan menikah. Tapi mungkin, aku harus meminta restu pada bibi dan paman Lay terlebih dahulu. Paman Lay dan bibi Tiffany nampak tengah duduk di ruang tengah. Mereka berkumpul sembari menyantap beberapa kudapan. Paman menatapku yang mengubah penampilan, “ wahhh gaun itu cocok denganmu Irene” puji nya tersenyum. “ tidak, ini sama sekali tidak cocok untukku” jawabku sambil menghempaskan tubuhku ke sofa. “ Bagaimana, apa makan malammu bersama keluarga Zacklee sudah selesai?” kata Paman sembari menyantap kudapan itu. Aku membuka mataku yang terpejam karena lelah, “ apa Tiffany yang memberi tahumu?” tanyaku. Paman mengangguk, “ tentu saja. Bukankah ini salah satu rencana mu?” sahutnya lagi. Aku pun turut mengangguk, lalu tiba-tiba aku duduk dengan tegap. “ ada sesuatu yang harus aku katakan pada kalian” kataku datar. “ apa?” tanya Tiffany penasaran. *** Louis kembali ke paviliunnya, dia bertanya-tanya mengapa kakaknya datang ke rumah itu. “ Irene benar-benar gila” Di sisi lain, dia juga begitu marah. Ketika Dia mendengar nyonya Zoe dan Zacklee mengintimidasi Irene. Dan di lain sisi, ia pun juga takjub akan keberanian Irene melawan mereka berdua dengan tenang. Zacklee membuka pintu Louis tanpa mengetuknya terlebih dahulu, dia menyerobot masuk dengan tampang marah dan berdiri di depan Louis. “ ada apa Zack?” tanya Louis saat menatap wajah tuannya. “ kalian benar-benar berteman kan?” Tanya nya lalu mengernyitkan alis. Louis berdiri dengan tenang, “ tentu saja kami berteman.” “ lalu mengapa kau tak memberitahuku soal dia?” kata Zacklee lagi. “ apa kau pikir aku akan dengan mudah mendapat informasi soal Irene? Dia selalu tertutup. Bukankah Irene sudah memberitahumu bagaimana latar belakangnya?” jawab Louis. Zacklee mengepalkan tangannya, urat-urat di tangannya timbul. Tangannya kian bergetar lalu hidungnya mendengus kesal. “ hahahahahahahahah” teriak Zacklee tertawa jahat. “ jika kau sampai bermain-main denganku, lihat apa yang akan aku lakukan untukmu Louis” ancam Zacklee mengedepankan wajahnya ke hadapan Louis. Louis tersenyum tipis, “ jika aku bermain-main denganmu, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan” katanya pelan. Zacklee mengalihkan pandangannya dan keluar dari ruangan Louis sambil menutup pintu dengan keras. Louis terus menatap kepergian tuannya, “ cihhh b*****h itu” umpat Louis. *** Aku mengontrol nafasku dengan pelan, ini adalah pertama kalinya aku meminta restu untuk menikah dengan seorang pria meskipun aku hanya memiliki secuil cinta untuknya, tapi mengapa dadaku sedikit berdebar hari ini. “ ayo Irene, mengapa kau tak bicara?” tanya Tiffany yang sudah penasaran. Aku berdehem dengan pelan, “ aku.....akan menikah” Tiffany dan Paman Lay membulatkan kedua mata mereka, dengan kompak mereka terkejut dan berkata dengan serempak. “ APA?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN