INTIMIDASI

1589 Kata
Suara Klakson mobil Steve mulai terdengar di telingaku. Aku sibuk memasang gaun sederhana untuk pertama kalinya. Kemudian ku rotasikan sepasang mataku ke arah luar. Aku berlari mendekat ke jendela dan menatap Steve dari kejauhan. Ini adalah kali kedua, Aku datang ke rumah Steve. Namun, ini adalah kali pertama aku datang ke rumahnya layaknya wanita. “ sebenarnya ini menyebalkan, tapi ini salah satu langkah untuk menghancurkannya” gumamku pelan. Aku membuka pintu kamarku dengan pelan, bibi Tiffany tampak keluar dari kamarnya. Dia melihatku yang tampil rapi dengan gaun cantik yang ku kenakan. “ wahhh siapakah ini, apa ini Irene yang ku kenal?” katanya takjub sambil melontarkan pujian. Aku membuang muka, “ jangan menipuku Tiffany, aku tidak cocok dengan gaya pakaian seperti ini” ucapku tak percaya diri. “ tidak, kau sangat cantik. Apalagi dengan rambut menggerai, kau terlihat seperti dewi” jawabnya. “ aku pergi dulu, Steve sudah menungguku” sahutku. Tiffany kebingungan, “hendak pergi kemana kau?” tanya nya penasaran. Aku melangkah dan berbisik di telinganya, “ makan malam bersama musuhku” bisikku lalu aku melangkahkan kakiku ke luar. Saat aku membuka pintu, Steve berdiri tegap di balik pintu itu. Dia tersenyum dan menatap penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. “ aghh cantiknya” katanya lagi-lagi takjub dengan mata berbinar. Aku menghela nafas panjang, sangat anti dengan pujian-pujian orang-orang yang selalu menilaiku cantik. “ ayo kita berangkat” ajakku dengan komuk datar. Steve mengangguk, dia berjalan menuju mobilnya dan membukakan pintu mobil untukku. Tapi aku merasakan perbedaan pada Steve, mengapa dia tak seperti biasanya? Bahkan sekarang, saat dia menyetir mobilnya pun dia sama sekali tak mengeluarkan kata-kata apapun untuk memulai obrolan denganku. Aku melirik ke arahnya, dia juga melirik seolah dia menyadari bahwa aku diam-diam mencuri pandang kepadanya. “ hmmm apa kau sudah siap bertemu keluargaku?” tanya nya kaku. Aku mengangguk, “ tentu saja” jawabku singkat. Steve tersenyum, tapi senyuman itu sedikit berbeda dari senyuman manis nan lebar yang biasa di layangkannya untukku. “ apa ada yang mengganggumu? mengapa kau tampak pendiam hari ini?” tanyaku pelan dengan pandangan lurus ke depan tak melihat ke arah wajahnya. Steve menolehkan kepalanya kepadaku, “ a-apa? a-aku? tidak aku tidak apa-apa” ujarnya terbata-bata. “ hmm, bisa di mengerti. Kau punya sesuatu kau sembunyikan dariku.” kataku. “ tidak Irene, aku tidak seperti itu” Jawabnya berusaha mengelak. “ kau tau kan jika kau mencoba menyembunyikan apapun dariku?” “ a-apa?” Ucap Steve singkat dengan raut wajah kusam. “ aku....akan membunuhmu” jelas ku sambil mengalihkan pandangan tajamku ke arah Steve. Steve menghela nafas berat, “ memang ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu” tukasnya. Aku terdiam, namun aku tetap menatap tajam ke arahnya. “ ini mungkin tidak penting, tapi itu sedikit mengangguku. Kau....bukan pemilik rumah sakit yang terkenal itu kan? rumah sakit Oxford?” tanya Steve dengan nada bicara yang penuh dengan kehati-hatian. Kenapa dia bertanya seperti itu secara tiba-tiba? pertanyaan itu membuatku diam membeku. Bagaimana pikirannya bisa menjurus ke pertanyaan itu? sebenarnya apa yang terjadi padanya? Namun aku berusaha untuk tetap tenang, menjadi orang yang kaku hanya membuatnya tak bisa memercayaiku lagi. Mungkin kericuhan yang semalam ku dengar di telepon itu adalah kericuhan yang memang di sebabkan olehku. Akankah keluarga Steve tau bahwa aku yang memang menjadi perebut aset besar itu? Dia menghentikan mobilnya, lalu menghadap ke arahku yang masih diam membisu. “ tidak, tidak. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Baiklah, kita lanjutkan saja perjalanannya” Aku menggenggam tangan Steve, “ keluargamu akan menanyakan ini padaku?” Steve diam khawatir, lalu dia menjawab,“ i-iya.” “ aku akan menjawabnya nanti, saat makan malam bersama keluargamu. Jangan membuat mereka menunggu” jawabku tenang sambil melepas tanganku yang menggenggam pergelangan tangannya. Seketika mobil Steve perlahan-lahan mulai tiba di hadapan rumahnya. Semua pengawal berjejer menjaga di depan rumah Zacklee. Aku keluar dari mobil, mataku sibuk mencari letak keberadaan Louis. Steve nampak tak begitu antusias, wajahnya terus mengukir kekhawatiran. Aku masuk ke dalam rumah megah Steve. Beberapa pembantu sepertinya memang di sediakan untuk makan malam ini. Datanglah nyonya Zoe dengan lagak sombongnya ke hadapanku, dia menatap penampilanku yang berbeda. Mungkin pikirannya berkata, mengapa aku dengan tiba-tiba menjadi feminim seperti ini. “ selamat datang lagi, di rumah kami Irene” ucapnya sok akrab. Steve masih berdiri di sampingku, aku memberikan senyuman manis kepada nyonya Zoe. “ terimakasih telah mengundangku nyonya” sahutku pelan sekaligus anggun. Matanya terus memancarkan aura tajam, “ aku memang sengaja membuat acara seperti ini. Ini adalah acara yang ku nanti-nantikan, baik bagiku dan suamiku” jelasnya memberikan nada penekanan di setiap gaya bicaranya. Suara depakan sepatu terdengar di telingaku, suara itu membuat nyonya Zoe berpaling. Berdirilah seorang pria di sampingnya, dia adalah Zacklee. Zacklee memberi senyum seolah dia mengintimidasiku. Di belakang Zacklee juga muncul adikku Louis. Dia terkejut karena kedatanganku, namun aku tetap diam dan berdiri tenang. “ apa kau yang bernama Irene?” tanya Zacklee sambil merapikan bajunya sok necis. Bibirku kembali menebar senyuman indah, “ ya. Aku Irene” jawabku memberi nada penekananan saat menyebut namaku sendiri. Zacklee hanya menyeringai, “ ahhh bagaimana kalau kita makan malam saja.” celetuk Steve menghentikan suasana yang sangat dingin ini. “ Louis, bagaimana kalau kau ikut makan malam bersama kami?” ucap Zacklee memberi ajakan kepada Louis. Louis yang mengangguk dengan spontan mendongakkan kepalanya. “ a-apa?aku? tidak. Aku bisa makan di paviliun” tukasnya menolak. Zacklee menepuk pundak Louis, “ ayolah, kau seharian bekerja untukku. Mari ikut makan bersama kami, dan pasangan Steve” Louis memasrahkan diri, sekarang kita duduk di meja makan. Suasana tak begitu cair, aku sudah menduga akan terjadi suasana seperti ini. Louis tak henti-hentinya menatapku walau dia menyantap makanannya berkali-kali. Lalu Zacklee, Dia orang pertama yang membuka obrolan di meja makan. “ mengapa kalian berdua saling menatap? apa....kalian berdua memiliki sebuah hubungan khusus?” tanya Zacklee memantauku dan Louis. Aku seketika menatap tajam ke arah Zacklee, Steve pun menatap ke arah ayahnya. Dia meneguk air dengan pelan sambil tertegun. “ kami saling kenal” jawabku santai. Zacklee menopang kedua tangannya ke dagu, “ apa kalian teman? kerabat? atau bahkan saudara kandung?” ucapnya lagi. Apa-apaan pria ini, mengapa dia bersikap seperti dia mengetahui semua rahasiaku? mungkin saja dia sudah mulai curiga bahwa aku dan Louis adalah saudara. Vincent Morgant, pasti dia yang sudah berusaha mengadu domba antara aku dan Zacklee. “ teman, kami adalah teman” celetuk Louis setelah menelan makanannya. “ ahhh rupanya kalian adalah seorang teman” jawab Zacklee terkekeh pelan. Nyonya Zoe meletakkan garpu dan sendoknya ke piring. Dia menatapku dengan senyum yang sangat mengintimidasi. “ oh ya Irene, apakah kau hidup sebatang kara? aku penasaran kepadamu, apakah kau memiliki keluarga? apakah keluargamu masih lengkap? Dan darimana asalmu, keluarga konglomerat mana yang menjadi keluargamu?” “ ibu” ketus Steve hendak menghentikan ucapan ibunya. Nyonya Zoe menepuk pundak Steve, dia terus menerobos ucapannya tanpa rasa bersalah. “ Steve tidak pernah bercerita bahwa dia bertemu keluargamu. Ataukah sebenarnya kau memiliki keluarga tapi kau mengaku hidup sebatang kara?” Telingaku sedikit panas mendengar ocehan wanita yang gila harta itu. Keluarga ini memang sedikit miris. “ aku hidup....” “ ahh aku yakin kau adalah putri dari keluarga konglomerat. Bukankah kau sekarang memegang aset besar rumah sakit Oxford?” Kata Zacklee memotong ucapanku. “ butuh waktu yang lama untuk membangun rumah sakit megabintang itu, tapi aku tak menyangka Irene, kau bisa mendapatkannya dengan mudah. Aku juga tak mengerti bagaimana kau bisa mendapatkan aset besar itu? aku tidak tau dengan apa aku harus menyebutmu.” kata Zoe sambil mengusap bibirnya dengan pelan. Dia mengalihkan pandangannya ke arahku, “ apakah aku harus menyebut dirimu sebagai perampas?” imbuhnya sambil mengangkat alis kanannya. “ ibu” ketus Steve yang hendak menghentikan ibunya lagi. Louis terdiam, tanganku mengepal dan bergetar. Aku menunduk mendengar semua ucapan mereka. Sudah ku duga, mereka mengundangku hanya untuk merendahkan dan mengintimidasiku. Aku menatap ke arah keduanya, lalu aku tersenyum tipis agar mereka menganggap bahwa aku sama sekali tak terkecoh dengan ucapan sadis mereka. “ Tak peduli seberapa miskin dan kaya aku. Aku yakin putramu menyayangiku apa adanya. Aku hidup bersama paman dan bibiku. Tapi sepertinya, aku beruntung. Walaupun orang tuaku meninggal, tapi setidaknya aku tak memiliki orang tua seperti kalian” ujarku tenang. Keduanya saling menatap, “ aku juga tak mengerti bagaimana Steve menahan tekanan dari orang tuanya yang selalu mencari harta benda. Seharusnya pacarku bisa menikmati kasih sayang orang tuanya dengan sangat banyak. tapi sayang, ekspetasinya tak sesuai dengan realitanya.” “ beraninya ka...” ketus nyonya Zoe “ Dan satu lagi, jika kau bertanya. Apakah aku pemilik rumah sakit besar itu? jawabannya adalah iya. Bukankah itu yang kalian cari? mencari menantu yang berasal dari keluarga konglomerat? bagaimana denganku? aku merampas aset besar itu demi menjadi menantu idaman yang kalian inginkan. Sekarang aku hidup bergelimang harta, apakah itu cukup?” tegasku menyerang balik ucapan mereka. Steve menganga mendengar jawabanku. Louis pun mendongakkan kepalanya, dia tak percaya aku akan melawan setegas ini. “ sudah ku duga kau memang perempuan yang tak punya malu Irene” jawab Nyonya Zoe dengan raut wajah kesal. Aku berdiri dengan keras, kursi menggeser ke belakang. Tak lupa aku tetap memasang wajah sumringahku, “ Sepertinya makan malam ini sudah selesai. Seperti yang kau bilang nyonya, makan malam yang kau tunggu-tunggu membuatku begitu terkesan. Tapi jika boleh aku memberimu saran, jangan terlalu banyak bertanya soal siapa aku? dan jangan sibuk mencari tahu soal aku. Kau harus memerhatikan putramu sendiri, tanyakan padanya, apakah selama ini orang tuanya berhasil memberinya kasih sayang?” imbuhku panjang lebar. Aku melangkahkan kakiku pergi keluar, Steve mengejarku dari belakang. “ Irene....”teriaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN