Mereka sedang berbaring di ranjang bertiga di kamarnya hamdan menatap langit-langitnya.
"Lo kok bisa tau sih ? kalo alika takut sama kecoa ?" ujar rizal mengutarakan yang ada di fikirannya saat ini. karena dia sangat penasaran sedari tadi dan tebakan hamdan tadi itu benar tidak salah.
Hamdan mengerutkan dahinya, "Emangnya gue belum cerita yah, sama kalian ??" tanya hamdan balik.
"Gak tahu, gue lupa." kata rizal cengengesan.
"Sama." kata zidni, "gue juga penasaran deh ? kenapa lo bisa tau banget, tentang alika ? bahkan omongan lo yang tadi itu bener, pasti karena kecoa." lanjutnya.
Hamdanpun menjelaskan, "Gini yah. kalian liatkan tadi, gimana akrabnya ibu gue sama alika ?" rizal dan zidni kompak mengangguk. hamdanpun kembali menjelaskan, "Jadi si alika itu sering kesini, terus gue sering denger juga dari teh wanda, karena dia sering cerita sama ibu. bahkan alika juga udah akrab sama ayah gue yang notabene nyaa jarang pulang. mungkin karena ibu sama teh wanda sering cerita juga sih, sama ayah. dan nih yahh.. kalo alika nggak ikut kesini sama teh yaya itu, suka ditanyain sama ibu. "Alika kemana?? kenapa? kok nggak ikut?? lagi ngapain?" bisa kalian bayanginkan kayak gimana? karena memang kalo kemana-mana mereka suka bareng. cuman alika emang begitu, dia kalo ketemu sama orang baru itu kebanyakan diem. bisa kalian liat tadi kan gimana alika, dia cuman diem aja nggak banyak ngomong di depan kalian, karena baru kenal, sama kalian." jelas hamdan panjang lebar.
Rizal dan zidni menjadi pendengar yang baik, selama hamdan menjelaskan mereka hanya diam saja mendengarkannya dengan jelas tanpa menyela.
"Pantesan yah, tadi alika kayak ngehindar gitu dari kita." kata zidni.
"Dia pernah punya pacar nggak sih, sebelumnya ?" tanya rizal tiba-tiba, hamdan dan zidnipun langsung menengok padanya. "Kenapa ?" tanya rizal bingung melihat mereka bergantian. sedetik kemudian hamdan dan zidni langsung tertawa. bertambah bingunglah rizal. "Apaan sih kalian ?" tanyanya lagi. "Kepo lo!" kata zidni.
"Ya emangnya salah ?, gue kan cuma nanya." kata rizal.
"Kayaknya sih.. gak pernah. dari teh wanda juga gak pernah denger gue, kalo alika punya pacar." kata hamdan, "Ya kalau mau jelas tinggal lo tanya aja sama orangnya." lanjutnya.
Mereka mengakhiri obrolannya untuk pergi tidur karena hari sudah malam dan waktunya untuk istirahat.
Pagi harinya setelah menunaikan sholat shubuh alika dan yaya membantu bersih-bersih rumah terlebih dahulu, lalu setelahnya mereka kembali ke pondok karena akan mengaji alkitab pagi setelah berpamitan dengan ibunya wanda.
Pagi hari ini cuacanya sangat dingin karena semalam hujan deras dan jalananpun masih basah karena hujan semalam.
"Al ?" panggil hamdan saat dalam perjalan mereka menuju pondok. "Hhmm ??" alika menjawabnya dengan gumaman sembari menengok pada hamdan. hamdan langsung berjalan beberapa langkah lebih dulu dari mereka dan langsung bertanya pada alika.
"Lo punya pacar nggak ??" tanya hamdan. rizal dan zidni pun sampai kaget dan saling berpandangan sesaat, bahwa hamdan akan bertanya segampang itu tentang pacarnya. "Bisa-bisanya dia nanya gitu sama alika ?" batinnya rizal heran.
"Pacar !?" tanya alika bingung. yaya dan wanda sampai bingung dengan pertanyaan hamdan yang tiba-tiba bertanya seperti itu.
Hamdanpun mengangguk, "Iya." jawab hamdan.
Alika menggeleng ragu, "Kok nanyanya gitu ?" tanya alika heran.
"Iya, aneh banget kamu nanya gitu ?, biasanya juga gak pernah, kamu nanya kayak gitu sama alika." wandapun ikut menimpali, karena heran dengan adiknya itu.
"Ya, kan cuma nanya." kata hamdan.
Alika hanya terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya, "Emangnya nggak keliatan yah ?, lagian kamu juga pasti tahu jawabannya." ucap alika sembari tersenyum.
"Kalau lo masih jomblo, tuh! yang di belakang lo juga jomblo, haahhaa..." kata hamdan sembari tertawa. alika hanya terkekeh saja tak menanggapi, sedangkan wanda dan yaya langsung melihat ke belakang.
Zidni yang melihat yaya dan wanda menengok padanya, langsung menggelengkan kepalanya dan mengibaskan tangannya, pertanda bahwa bukan dirinya yang di maksud hamdan itu. sedangkan rizal terkekeh pelan dengan canggung pada yaya dan wanda, kala melihat padanya langsung saja rizal mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Yaya dan wanda saling berpandangan setelah melihat reaksi rizal seperti itu dan saling tersenyum. Obrolan mereka harus terhenti karena sudah sampai di persimpangan dekat warung dan berpisah jalan, disana.
Alika, yaya dan wanda masuk kedalam pondok dan langsung mengambil meja kecil yang biasanya mereka gunakan saat mengaji dan duduk di tempat biasanya. setelah mereka duduk yaya langsung bertanya pada alika, "Al, gimana kalo diantara rizal sama zidni ada yang suka sama kamu ?" tanya yaya pelan, karena anak-anak yang lain juga sudah ada yang di bawah. wandapun mendekatkan badannya ke arah alika, karena penasaran dengan jawabannya.
Alika mengerutkan dahinya, "Kalian ini kenapa sih ?, kok nanyanya pada aneh gitu. tadi hamdan, sekarang kamu." alika menggelengkan kepalanya heran.
"Ya tinggal di jawab aja sih, al." ujar yaya. "Iya ikhh!" wanda ikut menimpali.
"Gak tahu." jawab alika jujur. "Kok nggak tahu ?" tanya yaya dan wanda berbarengan.
Alika sampai mengerjapkan matanya beberapa kali heran dengan menatap mereka bergantian, karena mereka berdua kompak bertanya seperti itu. "Ya-aku harus gimana ? harus jawab apa ?" alika malah balik bertanya dan melihat mereka bergantian.
Yaya dan wanda tampak berpikir sebentar, "Kok jadi aku yang bingung yah ?" gumam yaya sembari menggaruk dahinya.
Wandapun menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, "Emang susah ngomong sama alika teh. kalau ngomong sama alika itu harus jelas, jelas, sejelas-jelasnya!" ujar wanda, agak sedikit kesal.
"Ikhh! udah deh! kalian ini kenapa sih ?, udah, mending kalian sekarang pada diem, bentar lagi mau mulai ngaji tuh." ucap alika. karena memang dia mendengar anak laki-laki mulai riuh berdatangan. yaya dan wanda pun hanya mendengarkan saja apa kata alika dan mengajipun dimulai sampai dengan selesai.
****
Setelah insiden hari dimana hamdan bertanya pada alika tentang pacarnya itu, rizal sekarang lebih sering memperhatikan alika diam-diam dan mulai menunjukan pada alika bahwa dirinya menyukai alika. seperti hari ini sebelum mengaji, dirinya berangkat terlebih dahulu dari yang lain. melihat pada jendela pondok wanita di atas yang dimana alika memang sering berdandan disitu sebelum mengaji dan membuka pintu pembatas tempat mengaji sedikit, mengintip dari sana apabila tidak melihat alika di jendela atas seperti biasa. itu sudah menjadi rutinitasnya rizal akhir-akhir ini.
Seperti sekarang ini, alika sedang berkaca di depan jendela membenarkan kerudungnya. hari ini alika tidak berdandan seperti biasanya karena sedang malas dan memang belum mandi. setelah membenarkan kerudungnya alika bersandar menyamping pada jendela dan di sebelahnya ada via yang berdandan disitu. rizal sedang memperhatikan alika dan bersandar pada tembok disana sedari tadi yang terlihat sedang bercanda dengan via. rizal tersenyum melihatnya.
Via yang melihat rizal sedang memperhatikan alika langsung saja menggodanya. hampir semua teman-temannya mengetahui kalau rizal suka pada alika. "Ekhemm! ekhemm!! ciee.. teh alika.. ada yang merhatiin tuh!" ujar via sembari tersenyum dan menunjuk rizal yang di bawah sana dengan dagunya.
Alika langsung saja melihat ke arah sana yang di tunjukan oleh via dan melihat rizal yang melambaikan tangan padanya, sembari tersenyum ketika alika menengok padanya. alika langsung saja bergeser kebelakang agar tidak terlihat dari luar dan menahan senyumnya malu-malu.
"Ciee.." goda via lagi. "Ikhh! apaan sih kamu!" ucap alika pura-pura kesal dan memukul paha via pelan.
"Udah terima aja teh." saran via, "Tiap hari loh. dia nangkring disana, buat ngeliat kamu." lanjutnya.
"Apaan sih! iikhh!" alika tidak mau mengakuinya.
"Udah.. jujur aja kali teh. kamu juga mulai suka kan, sama rizal ?" cecarnya via.
"Au akhh! kamu mah, gitu." alika memanyunkan bibirnya, "Mending aku turun aja kebawah, daripada sama kamu disini. hmmhh!" alika langsung memalingkan mukanya dari via pura-pura kesal padanya dan beranjak turun ke bawah.
"Yee.. bilang aja kamu malu, iyakan ?? wlee.." via masih menggodanya. alika balas menjulurkan lidahnya, "Wlee.. gak denger, wlee.." menutup bukakan telinganya, berpura-pura tidak mendengarnya dan tertawa.
Alika sampai di bawah langsung mengambil mejanya dan duduk di tempat biasa. yaya dan wanda yang biasa duduk di sebelahnya belum turun, jadi alika berinisiatif untuk memberaskan meja-mejanya yaya dan wanda beserta yang lainnya juga karena memang tempat duduknya tidak berpindah-pindah, selalu istiqomah.
"Mau beresin semuanya al ?" tanya nana.
"Iya na, sekalian aja. belum pada turun juga kan." jawab alika sembari mengangkat meja-mejanya.
Nanapun mengangguk, "Mm, yaudah aku bantu yah." ujar nana.
"Boleh." ucap alika senang. merekapun membereskan mejanya bersama-sama sembari mengobrol santai. setelah membereskan semuanya alika dan nanapun kembali duduk di tempat biasanya.
Sementara rizal yang melihat alika beranjak tadi, dirinya langsung masuk kedalam dan membereskan meja-mejanya. dan samar-samar dia mendengar alika yang akan membereskan meja. setelah selesai membereskan meja, rizal langsung saja menguping alika yang sedang mengobrol santai dengan temannya itu dan tersenyum mendengarnya.