14.Acara makan bersama

1463 Kata
Happy reading guyss?? Jangan lupa tap love dan komennya?? Semuanya sedang menyiapkan bahan-bahannya untuk makan-makan, seperti mencuci beras, memotong bawang merah dan cabai kecil-kecil dan yang lain-lain lagi, sementara yang laki-laki sedang menyiapkan kayu bakar untuk arangnya, untuk membakar ikannya nanti. "Ya, coba liat deh mereka, udah jadi apa belum arangnya ?" ujar ibunya wanda pada yaya. karena mereka sedang berada di dapur. "Iya bi." jawab yaya dan berjalan keluar untuk melihat mereka yang sedang membakar kayu di samping halaman rumah wanda. "Udah jadi belum arangnya ?" tanya yaya pada mereka. ketiga cowok itu langsung menengok pada yaya. "Bentar lagi ya." rizal yang menjawab. Yaya mengangguk. "Okhh.." kata yaya. "Nanti kalau udah panggil yah. aku kedalem dulu." lanjutnya. Rizal mengangguk. "Oke." katanya. lalu yaya pun masuk kembali kedalam dan memberi tahu ibunya wanda kalau sebentar lagi arangnya sudah jadi. alika dan wanda hanya mendengarkan saja. Beberapa saat kemudian, setelah di rasa arangnya sudah bisa dipakai, rizal menyuruh hamdan untuk memberi tahu bahwa arangnya sudah siap di pakai kepada para perempuan di dalam. "Udah cukup kayaknya." kata rizal, lalu melihat pada hamdan. "Kasih tahu gih dan, udah bisa di pake arangnya." ujarnya pada hamdan. hamdan pun menjawab "Oke." dan berjalan ke dapur menghampiri ibunya dan yang lain. "Bu. udah siap itu arangnya." kata hamdan pada ibunya. Ibunya pun langsung menengok padanya. "Udah ?" tanyanya lagi. hamdan mengangguk. "Yaudah bawa nih ikannya. sama pemanggangannya juga sekalian." kata ibunya. hamdanpun menerimanya dan berjalan keluar. mereka pun ikut berjalan keluar dan membawa sebagian peralatan yang di perlukan. "Makannya mau di luar apa di dalem ??" tanya ibunya wanda pada mereka semua setelah berada di luar.. mereka pun saling pandang meminta pendapat yang lain. "Di luar aja yuk ?" kata wanda pada yaya saat melihatnya. yaya pun beralih melihat pada alika. "Kamu al ?" tanya yaya pada alika. "Aku ikut aja." jawab alika. Beralih pada hamdan. hamdan pun bertanya pada rizal dan zidni. "Kalian gimana ?" tanyanya. "Gue sih terserah, ikut aja." kata zidni. rizal pun ikut mengangguk, bahwa jawabannya sama seperti zidni. "Oke." kata hamdan, setelah mendengar jawaban dari mereka. "Kayaknya lebih enak di luar deh." ujarnya lagi. "Nah, betul tuh!" ucap wanda senang. "Boleh juga." kata yaya menimpali. "Berarti di luar yah ?" kata ibunya wanda. mereka kompak mengangguk dan menjawab iyaa. "Yaudah kalo gitu. ibu ambil tikernya dulu." kata ibunya wanda. "Biar aku bantu bi." kata alika langsung beranjak berdiri dan mengikuti ibunya wanda kedalam. bukan apa-apa sebenarnya alika agak canggung bila berkumpul bersama mereka, karena rizal dan zidni baru baginya, belum terlalu akrab seperti yang lain. Sementara yang lainnya sedang menyiapkan ikannya untuk di bakar dan mengolesinya dengan kecap. alika kembali keluar dan menggelar tikarnya bersama ibunya wanda sekalian membawa wadah-wadah yang sudah di siapkan tadi di dapur dan lalaban-lalaban yang lainnya juga. "Nasinya belum mateng, nanti aja di bawanya yah al." ujar ibunya wanda, saat berada di dapur dan melihat bahwa nasinya belum matang. Alika mengangguk, "Iya bi, ikannya juga kan belum mateng." kata alika. "Yaudah kita keluar aja dulu. nanti di ambil lagi nasinya kalo udang mateng." ujar ibunya wanda. alikapun mengangguk dan mengikuti ibunya wanda berjalan keluar. Setelah 15 menit kemudian ikannya pun sudah matang semua dan siap di makan. nasinya pun sudah alika ambil sedari tadi dan sekarang sudah siap untuk makan-makan bersama. "Alhamdulilah selesai juga. sekarang tinggal makan." ucap wanda senang. Semuanya pun menikmati makannya dan sesekali bercanda. berbeda dengan alika dia hanya ikut menimpali saja seadanya. Setelah selesai makan mereka semuanya langsung membereskan bekas mereka makan dan mencuci piring-piring dan peralatan lainnya tadi, karena cuaca di rasa mulai gerimis. Mereka sedang duduk selonjoran di lantai beralaskan tikar dan bersandar pada kursi di ruang santai, setelah membereskan semuanya hingga rapih. sementara ibunya wanda sudah kembali ke kamarnya untuk istirahat. rizal dan zidnipun ikut menginap untuk malam ini, tidak jadi pulang di karenakan sedang hujan lebat di luar sana. "Deras banget ujannya." ucap wanda pelan setelah melihat keluar dari jendela di balik tirai. "Ya gak papa atuh, hujan itukan berkah." kata yaya dan alikapun mengangguk membenarkan. "Ya iya.. maksud aku nggak gitu loh teh." ucap wanda membela diri. Alika langsung menyela untuk menengahi mereka, "Syuuutt.. udah-udah, jangan di perpanjang lagi." kata alika menyela ketika yaya akan membalas ucapan wanda tadi. yaya cemberut ketika alika berkata seperti itu dan melihat wanda yang meleletkan lidahnya mengejek padanya. alika menggelengkan kepalanya dengan kelakuan kedua temannya itu. masalah kecil seperti itu saja mereka harus berdebat, seperti anak kecil saja. "Gak papa nih, gue sama zidni nginep di sini malam ini ?" tanya rizal, melihat pada hamdan dan wanda, lalu beralih pada yaya. "Ya gak papa lah zal, kayak sama siapa aja sih." kata wanda, melihat pada rizal, "kamu kan sodaranya teh wanda, otomatis sodara kita juga dong. iyakan ?" lanjutnya, dan melihat pada hamdan dan yaya. hamdan dan yaya kompak mengangguk membenarkan ucapan wanda. "Emangnya nggak ngerepotin nih ?" kata zidni merasa tidak enak, "kitakan udah makan, terus di tambah nginep lagi." lanjutnya. "Udah, biasa aja kali." kata yaya, "bibi juga nggak bakal keberatan, malahan tadi dia nyuruh kalian buat nginep kan ?" tanyanya, rizalpun mengangguk. "Bahkan alika juga sering nginep disini, iyakan al ??" lanjutnya. alika mengangguk membenarkan. "Iyaa. justru ibu malahan seneng loh, kalo kalian nginep disini." kata wanda ikut menimpali, "Yaa kalian tahukan kalo ayah memang jarang pulang. jadi gak papa, gak usah nggak enakan gitu." lanjutnya sembari tersenyum pada rizal. Hamdan menepuk bahunya sekali, tersenyum dan mengangguk pada rizal. rizalpun membalasnya dengan senyuman, akhirnya rizal sedikit bernafas lega sekarang karena takut dirinya akan merepotkan. Akhirnya mereka semua menginap malam ini dan melanjutkan obrolannya dengan biasa dan sesekali bercanda dan tertawa. Di tengah obrolan mereka, alika pamit pada yaya untuk ke kamar mandi sebentar, "Ya, aku ke kamar mandi dulu bentar yah." kata alika, yayapun mengangguk. Alikapun beranjak ke kamar mandi untuk menyelesaikan keinginannya. sebelum alika keluar dari kamar mandi dia menyempatkan untuk bercermin sebentar dengan cermin berukuran sedang yang ada di sana dan membenarkan kerudungnya. ketika akan membuka pintu kamar mandi, tak sengaja alika melihat ada kecoa melintasinya, sontak alikapun langsung berteriak sembari memejamkan matanya karena kaget sekaligus takut. "Aaaakhhh!!!!..." teriaknya. Mereka yang berada di ruang santai dan paling dekat dengan kamar mandi langsung menengok pada asal suara. yaya dan wanda saling berpandangan sesaat dan buru-buru untuk melihat alika yang berada di kamar mandi, sementara ketiga laki-laki itu menyusul di belakangnya. "Pasti ada kecoa." ucap hamdan pelan setengah berbisik yang hanya bisa di dengar oleh rizal dan zidni saja. rizal hanya melihat sekilas pada hamdan dengan wajah bingungnya. "Kenapa hamdan bisa ngomong gitu ?" batinnya. "Ada apa al ?" tanya yaya, sembari mengetuk pintunya yang masih tertutup itu. "Iya al, ada apa ?, buka pintunya." ucap wanda menimpali. Sementara alika yang didalam menjerit ketakutan, mendengar suara yaya dan wanda mengetuk pintu langsung saja dia meminta tolong, "Yaya, wanda tolongin..!!" kata alika berteriak dari dalam. "Iya ada apa sih al ??" tanya yaya sabaran, "Buka pintunya, ada apa, cepet !??" Alika membuka pintunya dengan nafas yang tidak beraturan dan segera berlari ke belakang yaya meminta perlindungan darinya. "Itu ada kecoa ya, iikhh..!! hah.. hah.." alika memegang kedua lengannya dan bergidik ngeri serta menggelengkan kepalanya. benar saja dugaan hamdan itu. Sementara rizal dan zidni yang tidak tahu bahwa alika takut dengan kecoa hanya bengong saja. hamdan dan wanda hanya menggelengkan kepala sembari menghela nafasnya lelah, tanda mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Yaya langsung menepuk jidatnya, "Plak!!.. ,ya ampun al.." kata wanda gemas, melihat pada alika yang berdiri di belakangnya. "Kirain ada apa, ternyata cuman ada kecoa doang ?" ucap yaya tidak percaya. "Lagian nih ya. badan kamu kan gede, sedangkan kecoa kecil. masa masih takut aja sih sama kecoa ?" lanjutnya. "Iikhh! aku tuh nggak takut yah sama kecoa." kata alika membela diri. "Ya terus apa ?" tanya yaya. "Yaa-yaa.." ucap alika terbata dan bergidik ngeri membayangkannya, "Ikhh! aku tuh, cuman geli aja tahu ngeliatnya. apalagi kalo kena badan kita. Iiiikhh!!" alika mengusap kedua lengannya, memejamkan matanya sekilas dan bergidik ngeri, menggelengkan kepalanya. yaya hanya menghela nafasnya lelah sembari menggelengkan kepalanya melihat alika. alika bahkan tidak sadar bahwa ada rizal dan zidni disana yang melihat tingkahnya itu, hingga tak sengaja alika melihat ke belakangnya dan melebarkan matanya serta bibirnya kaget, mengedipkan kedua matanya beberapa kali karena bingung dan langsung tersenyum canggung ke arah rizal dan zidni, lalu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan merutuki dirinya sendiri. "Alikaa.. kenapa kamu bisa lupa sih! kalau ada mereka juga disini !? aaakhh!! jadi malu sendirikan kamu! hhaaaaa....! ibuu...!!" teriaknya frustasi dalam hati. Setelah insiden alika yang berteriak itu karena takut dengan kecoa itu, mereka semuanya memutuskan untuk pergi tidur saja karena hari sudah semakin malam. yaya dan alika tidur di kamarnya wanda, sedangkan rizal dan zidni tidur di kamarnya hamdan. Maaf kalau ada salah-salah kata atau typo yah guys..tolong di review kalau ada???:-D:-D
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN