13.Alika penakut

1383 Kata
Setelah membereskan semua dan ikan juga sudah di bersihkan untuk nanti malam mereka berempat (Yaya, alika, wanda dan hamdan) kembali ke pondok karena hari sudah memasuki waktu ashar dan mereka harus sorogan sore. "Nanti kesini laginya kapan teh ?" tanya hamdan pada yaya. mereka sedang dalam perjalanan ke pondok. "Abis sorogan sore nanti. kenapa emangnya ?" kata alika dan sesekali menengok pada hamdan yang ada di sebelah kanan wanda sedangkan yaya di sebelah kirinya dan alika berada di sampingnya. "Enggak kenapa-kenapa sih.." kata hamdan. "Gimana kalo nanti malem ajah. biar bareng abis sorogan malem, kan biasanya jam 8 juga udah selesai." lanjutnya. "Gimana yahh..?" ucap yaya bingung "Gimana al mau nggak ??" tanyanya pada alika. "Iya al, bareng aja, kan jadi rame. ada dia yang jagain kita." ucap wanda menimpali. hamdan pun mengangguk kala alika menengok padanya. "Kamu nggak mau kan kalo ketinggalan sorogan ?" tanya yaya lagi, karena alika belum juga memberikan jawaban. Alika terdiam sejenak menimbang-nimbang, nanti sore atau nanti malam. kalau malam alika takut tetapi kalau nanti sore pasti dirinya akan ketinggalan mengaji, pikirnya. Alika menghela nafasnya pasrah, "Yaudah deh, nanti malem ajah." jawab alika. "Tapi abis ngaji langsung pergi yah, jangan kemaleman." ucapnya lagi. "Siap kalo itu mah." kata yaya sembari tersenyum, wanda dan hamdan pun sama-sama tersenyum dan mengangguk. "Kalo gitu hamdan, nanti kamu tungguin kita di depan tempat ngaji cowok yah. kalo lewat pintu pasti udah di kunci." ujar yaya pada hamdan. "Siap teh." ucap hamdan sembari mengangkat tangannya memberi hormat dan terkekeh. Sejujurnya alika agak ragu karena takut, lagian dirinya juga yang tidak mau ketinggalan mengaji. tapi gak papa lah kan ada hamdan juga, jadi rame, pikirnya. Saat setengah perjalanan mereka, suara adzan ashar pun berkumandang. alika, yaya dan wanda memilih jalan kompas melewati sawah menuju pondok. sedangkan hamdan memilih lewat jalan biasanya saja, karena kalau ikut jalan kompas hamdan harus melewati halaman pondok perempuan terlebih dahulu. Setelah sampai di pondok mereka bertiga langsung saja mengambil air wudhu karena akan sholat ashar berjamaah, karena memang jarang kalau sholat ashar berjamaah, hanya di waktu-waktu tertentu saja kalau eceu sedang senggang. dan waktunya yang memang sedikit untuk mengaji. tak lama setelah sholat ashar mengaji pun dimulai, sampai selesai. Setelah selesai sorogan sore, alika dan yaya segera membereskan Al-kitab nyaa dan buru-buru naik ke atas mengambil handuk dan keperluan lainnya untuk mandi, karena tadi memang belum sempat. **** Di depan masjid, di anak tangga mereka sedang duduk-duduk menikmati hari senja, melihat matahari yang akan terbenam dan mengobrol ringan ala anak-anak cowok pada umumnya. "Eh, kalian mau pada ikut nggak ?" ujar hamdan pada rizal dan zidni. ya, mereka itu adalah hamdan, rizal dan zidni. sedangkan yang lain ada yang di dalam masjid dan ada yang di pondok juga. Sontak rizal dan zidni pun langsung menengok pada hamdan yang ada di sampingnya. "Ikut kemana ?" tanya rizal balik. zidni pun mengangguk membenarkan ucapan rizal. "Mau bakar-bakar ikan di rumah gue sama ibu." jawab hamdan. "Mau-mau aja sih.." kata rizal. "Emang di bolehin sama ibu lo ?" "Boleh lah. gue udah izin sama ibu." jawab hamdan. "Gimana ? kalian mau ikut nggak ?" tanyanya lagi. "Boleh-boleh aja sih." ucap rizal sembari mengangguk. "Lo gimana zid ?" tanya rizal pada zidni. hamdan pun mengangguk dan menunggu jawaban dari zidni. "Boleh." jawab zidni dan mengangguk singkat setelah beberapa saat memikirkan ajakan hamdan itu. kenapa tidak ?, pikirnya. kalau soal makanan dia tidak akan menolak. hahhaa. "Emang ikannya udah ada ?" tanya rizal seraya bersandar pada anak tangga dengan tangannya. "Udah dong!" jawab hamdan tersenyum senang. "Tadi siang mancingnya, gue bareng teh wanda." lanjutnya. "Berarti alika juga ikut dong ?" tanya zidni cepat, seraya melirik rizal yang berada di sampingnya, karena posisinya memang rizal berada di tengah-tengah mereka. "Ya ikut lah." jawab hamdan. "Nih yaa, gue kasih tau. dimana ada teh yaya disitu pasti ada alika." jelas hamdan. Jelas saja zidni langsung menggoda rizal. "Ciieee.." ucap zidni seraya menyenggol bahu rizal. "Ada alika tuuhh.. hahhaa.." ucapnya lagi dan menaik turun kan alisnya. hamdan pun ikut terkekeh. "Eh, diem lo ya nanti. awas aja lo ngomong yang macem-macem di depan alika." rizal memperingati zidni sembari menunjuknya. tetapi tak di pungkiri bahwa hatinya memang senang karena akan ada alika. lalu menaruh kedua tangannya di atas pahanya dan menyatukan kedua tangannya. "Iya iyaa.. gak percayaan banget sama gue." ucap zidni. "Ya mulut lo kan emang suka ember, kayak cewe." kata rizal sembari memutar matanya jengah dengan ucapan zidni. zidni hanya cengengesan saja rizal berkata begitu. ya karena memang kenyataan nya begitu. Mereka menyudahi obrolan mereka, karena sudah waktunya untuk sholat maghrib. dan hamdan juga sudah memberi tahu mereka bahwa akan menunggu ketiga para perempuan itu di teras tempat mengaji. **** Malam setelah mengaji, hamdan, rizal dan zidni sudah menunggu di teras depan. mereka kembali ke pondok sebentar untuk sholat isya terlebih dahulu dan sudah meminta izin pada bang manaf bahwa akan pergi ke rumah hamdan dan akan pulang setelah urusan mereka. manaf pun mengizinkannya. Yaya, alika dan wanda pun sama halnya dengan hamdan, rizal dan zidni, setelah mengaji mereka langsung menunaikan ibadah sholat isya terlebih dahulu. yaya juga telah izin kepada eceu bahwa akan menginap di rumah wanda nanti malam dan di antar oleh hamdan. eceu pun membolehkannya karena memang rumah wanda dekat tidak terlalu jauh dan memang akrab dengan ibunya wanda. jadi tidak perlu khawatir lagi, pikirnya. Yaya, alika dan wanda keluar dari pondok melewati tempat mengaji laki-laki sembari menjinjing sandalnya masing-masing. mereka juga melihat hamdan sudah ada di sana. mereka tertawa karena memang sedang bercanda. tapi seketika alika langsung berhenti tertawa kala melihat ada rizal juga disana bersama hamdan. alika langsung menunduk setelah tersenyum tipis pada mereka, karena malu tentang hari itu, dimana dia sedang berdandan di depan kaca dan dilihat oleh rizal. "Udah ??" tanya hamdan pada ketiga perempuan itu. "Udah." kata yaya. "Kalian gimana, udahkan ?" tanyanya balik. "Beres.." jawab hamdan. "Yaudah kita langsung jalan aja kalo gitu." ujar yaya dan berjalan terlebih dahulu. alika langsung saja memegang erat tangan yaya, alika nyengir saja saat yaya menengok padanya dan menggelengkan kepala. ketiga cowok itu pun mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk berjalan terlebih dahulu. Selama dalam perjalanan tidak banyak yang berbicara. terlebih alika, karena memang takut dan parahnya, wanda dan yaya terus menjahilinya dengan menakut-nakutinya hingga membuat alika hampir saja menangis dengan tingkah mereka. alika sangat kesal kepada mereka berdua. sudah tahu alika sangat penakut malah terus saja di jahili. "Heuhh!! awas aja yah kalian berdua!" ucapnya dalam hati. Sementara rizal yang melihat alika terus mempererat tangannya pada yaya dan terus di jahili oleh temannya itu mencoba untuk menahan tawanya itu. sedangkan hamdan dan zidni sudah terkikik melihatnya, malahan hamdan pun ikut menakuti alika. alika yang sudah dongkol pun mengeluarkan suaranya. "Kalian bisa pada diem gak sih!" kata alika dengan wajah kesal dan ketakutan. pikirannya bahkan sudah bercampur aduk antara kesal dan takut menjadi satu. "Lain kali aku gak mau yah, kayak gini lagi! kesel tau gak !? di ledekin terus sama kalian!" ocehnya. nadanya sedikit meninggi dan dari kata terakhirnya suaranya agak bergetar karena berusaha menahan tangisnya. rizal langsung saja menyenggol bahu hamdan supaya berhenti juga menjahili alika, hamdan pun langsung terdiam. "Iya iya deh.. maaf yah ?" kata yaya merasa bersalah juga telah menjahili temannya yang penakut itu. memeluknya dengan tangannya, mengusap bahunya dan mencoba menenangkannya. "Iya maaf yah, al ?" ucap wanda menimpali dan beranjak ke sisi alika di sebelah kirinya, ikut memeluknya juga. karena tadinya yaya yang berada di tengah dan sekarang menjadi alika yang di tengah. hamdan pun ikut meminta maaf pada alika. alika hanya mengangguk saja mendengar permintaan maaf dari mereka. mereka tidak tahu kalau alika akan sangat ketakutan seperti itu, hingga marah. Sebenarnya alika tidak marah mereka menjahilinya, karena alika pun suka menjahili mereka. karena ketakutan itu alika jadi kelepasan seperti sedang marah pada mereka padahal di dalam hatinya tidak seperti itu. Dan alika malu karena bukan hanya ada temannya yang berada di situ tetapi rizal dan zidni, bertambah malu lah alika kepada rizal. Mereka pun akhirnya diam selama dalam perjalanan mereka, tidak ada yang berbicara. akhirnya mereka pun sampai di depan rumahnya wanda dan kini alika bisa bernafas dengan lega karena sudah sampai. wanda pun memanggil ibunya bahwa mereka sudah sampai dan ternyata ibunya sedang berada di kamarnya. Maaf kalau ada salah-salah kata atau typo. Semoga kalian suka dengan ceritaku yang membosankan ini. Happy reading guyss??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN