16.Mengajaknya

1369 Kata
** Hari ini piketnya zidni untuk membereskan meja-meja di tempat mengaji. rizal dan hamdan ikut berangkat terlebih dahulu dengan zidni ke tempat mengaji malam ini, serta ikut membantu sedikit. Seperti biasa rizal selalu melihat pada jendela atas terlebih dahulu sebelum masuk, tapi tidak menemukan alika disana, lantas diapun masuk kedalam. Saat masuk kedalam zidni dan hamdan mengisyaratkan rizal untuk tidak berisik, dan membereskan meja-mejanya dengan pelan. zidni menunjuk pintu pembatas yang tidak tertutup rapat pada rizal setelah mengisyaratkannya untuk tidak berisik. rizalpun mengangguk mengerti, serta ikut membantu zidni dan hamdan membereskan meja-meja sebentar. Setelahnya mereka bertiga mendekat pada pintu, berniat menguping dan mengintip sedikit. "Al, kamu nggak ganti pakek kerudung ?" tanya yaya, lalu duduk di dekatnya. Alika menggeleng, "Nggak akhh, lagi males. biar nanti langsung aja ambil wudhu lagi, kalau mau sholat." jawab alika. "Kamu juga, via ?" ujar yaya lagi pada via, yang duduk di belakangnya. Via hanya cengengesan, "Hehhe.., sama, lagi males juga." jawab via. yaya hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban mereka. Alika dan yaya duduk dengan membelakangi pintu dan sudah membawa meja kecilnya juga terlebih dahulu. "Ssut.. al, alika!" panggil hamdan sedikit berbisik. alika langsung melihat pada yaya, begitu juga dengan yaya. yaya mengangkat bahunya tidak tahu, kala alika menatapnya seperti bertanya. Yaya langsung saja menyingkabkan tirainya sedikit untuk melihat siapa yang memanggil alika. "Apa ?" tanya yaya saat melihat bahwa hamdan yang memanggil alika. "Nanti malem ngeutrek, kata rizal. mau nggak ??" kata hamdan. jelas saja alika langsung menengok pada yaya, yayapun sama, langsung menengok pada alika. Yaya langsung mengisyaratkan pada alika, bertanya dengan dagunya. "Gimana ?" tanyanya. alika mengangkat bahunya dan menggeleng. "Gak tahu." dengan isyarat juga, tidak dengan suaranya. Yaya kembali menengok pada hamdan dan bertanya, "Kemana rizalnya ?" tanyanya. Hamdan tidak menjawabnya, melainkan mengarahkan tangannya menunjuk, bahwa rizal sedang mengintip alika di balik celah pintu di sebelahnya. "Tinggal dateng aja, kalo emang gentle." kata yaya pelan. Langsung saja alika memprotesnya dengan desisan dan menimpuk yaya pelan. "Iishh!.." protesnya seraya menimpuk bahu yaya. Yaya hanya cengengesan, "Gak papa kali al." kata yaya santai. Via pun ikut menggodanya juga, "Ekhem! ekhem!!, Ciee.." kata via sembari tersenyum geli. "Ishh!,kamu juga!, diem yah!" alika menunjuk via dengan kesal dan memutar bola matanya, karena memang via suka gencar menggodanya. yaya dan via hanya terkekeh saja melihat alika. Alika menghela nafasnya pelan, dia tidak tahu harus merespon seperti apa ungkapan rizal itu, bahwa rizal menyukai dirinya. karena memang ungkapan itu sering di dengarnya dari laki-laki lain juga. dan itu hanya keisengan para lelaki saja untuk menggodanya. padahal nyatanya tidak seperti itu. jadi alika mencoba untuk biasa saja dengan ungkapan rizal yang katanya menyukainya. alika tidak mau terbawa suasana pada ungkapannya dan dengan dorongan teman-temannya itu untuk mencoba saja hubungannya dengan rizal. Kenapa enggak ?, kata via seperti itu, toh hanya pacaran saja. Yaya kembali melihat pada hamdan, "Udah, sana sanah!" yaya mengusir hamdan sembari mengibaskan tangannya dari depan pintu itu dan langsung menutupnya. Ceklekk.. Tak lama setelah itu para laki-laki yang lain mulai berdatangan, begitu juga dengan perempuan. semuanya sudah turun dan mengajipun dimulai sampai selesai. ** Setelah selesai mengaji alika dan via langsung saja membereskan meja-meja membantu nani yang kebagian piket hari ini. lalu setelahnya mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat isya dan sehabis sholat, alika dan via mengambil al-qur'an dan akan tadarusan terlebih dahulu sebentar. Alika telah selesai tadarusan terlebih dahulu dan menyimpan al-qur'annya di susul dengan via. Alika berbaring menyamping di atas sajadah berhadapan dengan via. via pun mengikutinya juga, berbantalkan dengan tangannya. "Teh.." panggil via. "Hmmh ?" alika menjawabnya dengan gumaman sambil melihat pada via. "Aku mau tanya deh." kata via. "Tanya apa ?" tanya alika. "Kenapa.." via menggantungkan perkataannya, "Akhh, nggak jadi deh!" ujarnya. Alika mengerutkan dahinya, "Kenapa ?, kok nggak jadi ?" tanyanya. Via menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bingung aku, nanyanya gimana." jawabnya. "Emangnya mau nanya apasih ?" tanya alika penasaran. "Nggak tahu akhh, nggak jadi." jawab via. "Mau nanya kok susah amat yah ?, malah bingung mau nanyanya gimana." batinnya. "Ikhh.., aneh deh kamu." kata alika sembari terkekeh pelan. via cengengesan, "Ya, abisnya bingung, mau nanyanya gimana." katanya. alika hanya menggelengkan kepala heran, seraya menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya via ingin menanyakan tentang, kenapa tidak mencoba menerima saja ungkapan rizal padanya dan alasan kenapa tidak menerimanya ? tetapi dirinya malah bingung harus bertanya seperti apa dan mulai darimana. Alika dan via, tak terasa berbaring disana hingga terlelap begitu nyenyak dan ditambah tidak ada yang membangunkannya, hingga tengah malam. ** Yaya yang berada di atas, terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. yaya melenguh kecil seraya meregangkan badannya, lalu mengusap matanya pelan dan mengerjapkannya. "Yaa allah.. aku ketiduran, sampe lupa buka mukena." gumamnya. menghembuskan nafasnya, lalu mengarahkan pandangannya ke sekeliling dan tidak menemukan alika disana. "Alika kemana yah ?, kok nggak ada ?" tanya pelan pada diri sendiri. "Akhh, nanti aja deh. keburu kebelet nanti." monolognya. yayapun beranjak ke kamar mandi untuk buang air kecil. Pada saat di tangga, yaya menyipitkan matanya, "Apaan tuh, putih-putih ?" samar-samar yaya melihatnya. lalu yaya berjalan kembali mendekati saklar karena lampu memang sudah di matikan. dan ingin memastikan apa yang dilihatnya tadi. Tek.. lampu sudah menyala. yaya kaget melihatnya, "Yaa allah.., mereka ketiduran disini ?" kata yaya, saat melihat alika dan via, yang samar-samar dilihatnya tadi sedang tertidur disana. yaya melihat pada jam yang menunjukan pukul 11, malam. yaya menghela nafasnya, "Nggak ada yang bangunin lagi." lanjutnya. Lantas yaya langsung membangunkan mereka. "Al.. al.." lalu beralih pada via, "Via.. vi.., bangun." sembari mengguncangkan bahu alika dan via. "Hei, bangun.. pindah.. jangan pada tidur disini, dingin nanti." kata yaya, sembari mengguncangkan bahu mereka. Via melenguh pelan dan membuka matanya perlahan, "Kok aku disini ?" tanyanya setengah sadar, dengan suara serak khas bangun tidur. "Aku nggak tahu." jawab yaya. via menguap dan menutup mulutnya dengan tangan, lalu kembali terpejam dan mencari posisinya yang nyaman. "Jam berapa ya ?" tanya alika dengan mata terpejam. alika sempat membuka matanya sebentar dan melihat yaya yang membangunkannya. "Jam sebelas." jawab yaya. Alika mengerjapkan matanya, "Jam berapa ??" tanyanya lagi memastikan, sembari melihat pada yaya. "Jam sebelas.. alika.." kata wanda gemas. Alika terlonjak kaget dan langsung bangun, duduk dari tidurnya dan membulatkan matanya, "Hah! jam sebelas !?" tanyanya kaget.sama halnya dengan via, dia pun ikut terlonjak kaget seraya duduk. yaya mengangguk santai sembari menjawab, "Iya. jam sebelas." jawabnya. Alika dan via saling berpandangan, "Kita ketiduran disini !?" tanyanya berbarengan. alika menghela nafasnya lelah, "Kenapa nggak bangunin dari tadi ya ?" tanyanya menatap yaya. "Yee.. aku juga ketiduran di atas tadi, sampe lupa buka mukena." jelas yaya, sembari menahan, keinginannya untuk buang air kecil. "Ini juga kebangun karena pengen pipis. udah yah, udah kebelet inih.." kata yaya, lalu segera berlari ke kamar mandi, menuntaskan keinginannya. "Sholat dulu yuk, teh ?" ajak via pada alika. "Ayo." jawab alika. alika dan via beranjak ke kamar mandi, mengambil air wudhu untuk sholat sunnah tahajud. karena memang mereka sudah tidur tadi. yaya pun ikut untuk melaksanakan sholat sunnah tahajud bersama alika dan via di bawah. Alika dan via sudah selesai sholat sunnah, sudah kembali ke atas dan alika akan tidur di dekat via hari ini. sudah bicara juga pada yaya, karena biasanya memang selalu bersamanya. karena di rasa alika sudah lama tidak tidur di dekat saudaranya itu, jadi hari ini alika ingin tidur bersamanya. Sementara yaya masih berada di bawah. sebelum yaya menyentuh saklar lampu di bawah, penutup jendela terbuka perlahan. yayapun langsung melihat pada jendela dan disana ternyata ada zidni, rizal dan hamdan. yaya perlahan mendekat pada jendela, karena rizal menyuruhnya mendekat, mengkode dengan tangannya. "Apa ?" tanya yaya berbisik. "Alika udah tidur belom ??" tanya rizal. berbisik di celah-celah jendela dan menempelkan telinganya pada jendela, mendengarkan apa yang di katakan yaya. yayapun sama halnya seperti itu. Yaya menggeleng, "Belom. masih bangun kayaknya di atas." kata yaya. "Bantuin gue dong." pinta rizal. Yaya mengangguk, "Oke!" jawabnya, sembari menggerakan jarinya membentuk huruf O dan tersenyum. "Gue tunggu di pintu." kata rizal. "Tapi aku nggak bisa janji. takut alikanya nggak mau." kata yaya. Rizal menghela nafasnya, "Gak papa. gue ngerti kok." lanjutnya. mereka saling berbisik di jendela. Rizalpun menggerakan tangannya, bahwa dia akan menunggu di depan pintu, yaya mengangguk menjawabnya dan rizalpun segera beranjak. sementara zidni dan hamdan hanya diam saja, mendengarkan mereka berdua di sampingnya rizal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN