Happy reading guy's...
Cek typo nyaa yah..
**
Pada saat para santri laki-laki kembali ke depan toko, untuk mengangkut lagi alat-alat bangunan, fadil nyeletuk, "Eh! lo semua pada liat gak, tadi ?" tanyanya, sembari tangannya menunjuk semua orang. jangan lupakan senyum jahilnya. fadil memang terkenal yang paling suka jahil disana dan orangnya juga cepat akrab dengan siapapun itu. umurnya seumuran dengan rizal.
"Yang pakaian dalem itu, kan ?" tanya zidni.
Fadil menjentikan jarinya, "Nah! betul itu!. haa hhaa hhaa.." tawanya. semuanya ikut tertawa. "Mereka gak sadar sama bajunya yang tergeletak tadi." kata fadil lagi. "Kira-kira, itu baju punya siapa yah ?" tanyanya, sembari terus tertawa.
"Mereka semua pada panik gitu tadi, pas sadar bajunya gak di tutupin. haa hha haa.." kata rafi menimpali.
"Waktu kita nyapa mereka juga, kayak canggung gitu jawabnya." kata zidni sembari tertawa.
"Malu kayaknya mereka."
Sedangkan rizal, dia tidak memperhatikan yang lain. dirinya hanya fokus melihat pada alika yang membuang muka pada saat anak laki-laki lewat tadi. rizal terkekeh dan tersenyum geli, kala mengingat bagaimana alika tadi, yang terlihat malu dan juga pipinya yang memerah.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya sampai selesai. setelahnya kembali ke pondok, karena sudah mendekati waktu sholat ashar dan akan mengaji lagi.
**
Hari ini, setelah selesai mengaji pagi, teras pondok perempuan mulai di robohkan. para anak santri laki-laki dan juga banyak para bapak-bapak yang di sekitar sana ikut membantu, merobohkannya dan merenovasi teras. di saat ada waktu luang rizal selalu mencuri pandang pada alika. seperti sekarang, rizal mengintip ke dalam dari jendela yang di ujung. melihat ke dalam dan kebetulan ada alika disana. langsung saja rizal mengetuk kacanya.
Tok.. tok.. tok..
Alika langsung menengok pada jendela dan mendapati rizal sedang tersenyum manis padanya. lalu alika memalingkan mukanya, kembali menunduk dan menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis. apa aku harus terima dia ?, pikirnya. alika langsung menggelengkan kepalanya, membantah apa yang sedang ada di pikirannya.
"Alika, udah deh! kamu jangan mikir yang aneh-aneh ikhh! kamu nggak boleh ke ganggu. kamu harus diem! okey!!" batinnya. alika menghela nafasnya pelan dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Ya, alika sedang menulis 'Nadoman', latin arab, atau yang bisa di sebut (Sholawatan).
Alika ingin melihat, sampai mana perjuangan rizal untuk mengejarnya. meskipun bang manaf bilang bahwa rizal seperti serius padanya, tetapi tidak tahu bagaimana nantinya. apa akan berhenti atau terus mengejarnya? kalau alika tidak menjawab perasaannya.
Nana melihatnya, "Uhukk! uhukk!." pura-pura terbatuk, "Duh! seret nih, tenggorokan aku." sembari memegang tenggorokannya dan tersenyum geli, melirik pada alika di sampingnya.
"Yaudah, minum sana." kata alika santai. fokus menulis, tanpa melirik sedikitpun pada nana. alika tahu, nana pasti sedang menggodanya. sama seperti yaya dan via yang sering sekali menggoda alika.
"Iya, ini juga mau ambil air minum." ucapnya. nanapun beranjak ke dapur mengambil air minum. sebenarnya dirinya juga merasa sedikit haus. lalu nana kembali ke dalam dengan membawa segelas air. kali aja alika juga mau minum, pikirnya.
"Mau minum nggak al ?" kata nana, seraya duduk kembali di sebelah alika dan menyodorkan air minumnya.
Alika menoleh pada nana, "Boleh ?" tanya alika dan sembari menerimanya.
Nana mengangguk, "Boleh. sengaja bawa buat kamu."
Alika tersenyum, "Makasih yah."
Nana mengangguk, "Mmhh.." jawabnya.
Setelah minum alika menyimpan gelas di sampingnya, lebih tepatnya di tengah-tengah mereka. merekapun kembali melanjutkan menulisnya. jangan tanya yaya dimana ?, karena dia sedang membantu teh elih membuat jamuan untuk yang sedang bekerja sekarang.
Selang 20 menit rizal kembali mengetuk kaca, karena melihat alika masih berada disana.
Tok,tok,tok... rizal berlalu begitu saja setelah mengetuk kaca. hingga sekitar 10 menit kemudian, rizal kembali mengetuk kaca.
Tok,tok,tok...
Ketika alika menengok rizal langsung saja melengos pergi. "Selalu aja gitu! hiehh!" batinnya gemas. "Kalo sampe sekali lagi kayak gitu lagi, aku bakalan tutup itu jendela." alika memutar bola matanya malas, lalu kembali melanjutkan menulisnya.
Nana yang berada di samping alika hanya terkekeh geli saja melihat kelakuan rizal seperti itu.
Tok,tok,tok...
Dan benar saja selang 20 menit rizal kembali mengetuk. alika langsung menengok pada jendela dan mendapati rizal sedang melambaikan tangannya. hanya tangannya saja yang terlihat.
"Ishh! kayak nggak ada kerjaan banget deh, ngetuk kaca terus dari tadi! nggak tahu apa, orang lagi fokus ?" mendengus kesal dalam hatinya.
"Pindah ke atas yuk, na." ajak alika.
"Kenapa ?" tanya nana bingung.
"Risih tahu nggak lama-lama kayak gitu terus. nggak jelas."
"Nggak jelas gimana ?" tanya nana lagi. "Bukannya jelas yah kalau rizal suka sama kamu?, kenapa malah jadi nggak jelas ?" kata nana, sembari tersenyum geli.
Alika mencebikkan bibirnya, "Ikhh! Ya, nggak gitu juga kali naa. Udah yuk! Pindah ke atas aja nulisnya." ajak alika.
Nana hanya pasrah, mengikut saja apa kata alika, "Yaudah ayok."
Nana dan alika pun membereskan buku-bukunya dan segera berjalan ke atas. Tidak lupa alika menutup jendelanya terlebih dahulu.
**
Disisi lain, rizal sedang beristirahat sekarang, bersama yang lainnya juga. Rizal tersenyum, mengingat kelakuannya tadi dan membuat alika.. risih mungkin ??. Karena melihat jendelanya sudah tertutup sekarang.
Zidni yang melihat rizal tersenyum sendiri merasa heran. Ada apa dengan temannya itu, sampai senyum-senyum sendiri begitu ??. Lantas zidnipun langsung bertanya.
"Dari tadi gue lihat lo senyum-senyum terus. Kenapa lo ?"
"Gue ?" tanya rizal sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Iyalah! Siapa lagi kalo bukan lo ?" zidni memutar bola matanya malas.
"Oh.. Gue nggak kenapa-kenapa." jawab rizal santai.
"Emang lo nggak liat tadi ?" tanya fadil, menengok pada zidni. Karena rizal berada di tengah-tengah mereka.
Zidni menggeleng tidak tahu, karena dia tidak memperhatikan kelakuan rizal tadi.
"Dia abis ngintipin si alika dari jendela. Sampe jendelanya di tutup sekarang tuh." menunjuk dengan dagunya sembari tertawa pelan.
Zidni mengangguk paham, "Pantesan aja senyam-senyum terus dari tadi."
**
Malam hari sehabis mengaji, para santri laki-laki kembali bekerja. Tetapi bedanya sekarang hanya anak santri dan para orang tua santri saja yang ikut bekerja. Ya, karena target pembangunannya hanya dua hari saja. Karena memang waktunya yang sedang senggang dan cuacanya mendukung.
Sekarang sedang sibuk-sibuknya, karena akan memulai mengecor dan sedang memasang kayu dan besi untuk menahan adukan semennya.
Suara palu memukul-mukul paku pada kayu saling bersahutan dan ramai dengan celotehan-celotehan lainnya.
Rizal sekarang berada di atas, sedang merangkai besi-besi dengan kawat. Hanya beberapa orang saja yang berada di atas. Tak sengaja matanya melihat pada jendela kecil di sampingnya, dan ternyata ada alika disana sedang tiduran bersama yaya dan via. Tampaknya mereka sedang bercanda karena melihat mereka tertawa. Rizal tersenyum melihatnya. Dirinya bisa melihat alika sangat dekat meskipun terhalang tembok, tetapi dirinya bahagia melihat alika tertawa seperti itu. Ingin sekali dirinya yang bisa membuat alika bahagia seperti itu.
Manaf yang melihat rizal seperti terdiam langsung menengok padanya. Ya, yang berada di atas adalah manaf, Rizal dan Aji.
Setelah tahu rizal sedang apa, Manaf mengangakat sudut bibirnya tersenyum miring, "Oh... ternyata dia lagi liatin alika. Dasar bocah!" batinnya terkekeh.
"Woy!" manaf menyenggol lengan rizal pelan.
Rizal sedikit kaget, "Eh? Iya bang?"
"Kenapa lo ngelamun ?" tanya manaf, pura-pura tidak tahu.
Rizal menggeleng pelan, "E-enggak kenapa-kenapa kok bang." jawabnya terbata. "Akhh! ketahuan gak ya, gue?" tanyanya dalam hati.
"Beneran lo ?" tanya manaf menyelidik, "Atau.. lo lagi ngeliatin sesuatu?, Alika mungkin ?" tebak manaf tepat sasaran.
Rizal kaget, "Hah?" rizal terkekeh dan memegang lehernya canggung.
"Ketahuan kan lo." batinnya.
"Santai aja kali." ujar manaf menenangkan, "Tapi awas aja ya lo, kalau nyakitin alika!" ancamnya kemudian.
Rizal langsung menggelengkan kepala tanpa bersuara sedikitpun.
"Udah woi, lanjut kerja lagi." tegur aji, sembari menggelengkan kepalanya. Memang yah, temannya itu kalau sudah menyangkut tentang alika pasti selalu debat, pikirnya.
Merekapun kembali melanjutkan pekerjaannya. Di sela-sela pekerjaannya rizal selalu melirik-lirik pada alika dari jendela, yang tirainya sedikit terbuka itu.
Dan ini kesempatannya, di saat manaf dan aji turun untuk mengambil sesuatu. Kini hanya dirinya seorang diri.
Rizal melihat alika seperti sedang mendengarkan apa yang di katakan oleh yaya dan senyumnya terbit seketika. Dua kata yang di pikirkan rizal saat ini. 'Sangat manis', pikirnya. Tak terasa senyum alika mampu membuatnya ikut tersenyum hanya dengan melihatnya saja. Lantas rizal langsung mengetuk kacanya.
Tok,tok..
Alika langsung menengok pada jendela, masih dengan senyuman manisnya. Hingga pandangan mereka bertemu beberapa detik tanpa ada yang berkedip. Rizal memasang senyumnya semanis mungkin saat alika melihat padanya.
Deg!
Jantung alika berdetak sangat cepat. Antara kaget dan berdebar, melihat rizal mengulas senyum yang sangat manis padanya. Lalu alika segera menutup jendela yang sedikit terbuka tirainya dan langsung terdiam.
Alika mengatur nafasnya, menghirup dan membuang nafasnya perlahan untuk menormalkan detak jantungnya yang dag-dig-dug.
"Aaakhh!!... Lama-lama aku meleleh kalau begini terus!" batinnya berteriak.
Alika menahan senyumnya malu-malu serta pipinya yang memerah, semerah tomat. Inginnya ia berteriak mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya. Tetapi itu tidak mungkin terjadi, tahu sendiri alika seperti apa.
***
Jangan lupa tap Love dan jejak Komen nyaa yaa guy'ss..
#Salam kenal..