18.Interogasi

1485 Kata
Happy reading guy'ss.. ** Beberapa hari sudah berlalu. sampai sekarang alika belum juga memberi jawabannya pada rizal, tentangnya yang ingin menjalin hubungan dengan alika. Alika tidak tahu harus berbuat apa, ia bingung dan bimbang juga untuk mengungkapkannya. sejujurnya alika mulai ada rasa terhadap rizal, lantaran rizal terus saja membuktikan ucapannya pada malam itu, tentang perasaanya. Alika ingin bercerita tentang kegalauannya itu pada yaya, tetapi dia malu untuk membicarakannya. karena rizal adalah saudaranya yaya. alikapun bercerita tentang perasaannya itu pada via, karena dia bimbang dan galau memikirkannya, dan alika harus berbuat apa sekarang. "Vi, aku harus gimana sekarang yah ?" ucap alika. alika dan via sedang duduk di bangku luar setelah mengaji al-kitab sore. menikmati hari senja yang sangat sayang untuk di lewatkan, karena pemandangannya yang sangat indah. "Ikuti kata hati aja teh. aku lihat juga rizal orangnya baik dan dia juga sodaranya yaya. udah pastikan, yaya nggak mungkin ngedukung hubungan kalian kalo emang rizal nggak baik buat teteh." kata via. "Ya aku tahu itu. tapi aku nggak mau aja kalo nantinya kayak yang lain, cuma iseng doang. kamu juga tahu sendirikan kayak gimana dulu-dulu." ujar alika galau. "Aku tahu teh. tapi teteh liat aja deh, sampai sekarang dia masih ngejar-ngejar teteh, masih berharap sama teteh. kalo cuman iseng nggak mungkin kan, dia masih ngejar-ngejar teteh ?, meskipun teteh bersikap seolah gak perduli sama dia." kata via, memberikan pendapatnya, sembari melihat pada alika yang di sampingnya. Alika menghela nafasnya, melihat lurus kedepan dengan tatapan bingungnya. alika harus meminta pendapat pada bang manaf, karena dia satu-satunya orang yang selalu mendengarkan curhatan alika dan orang yang selalu membantunya mencari solusi saat alika galau. oleh karena itu manaf sangat menyayangi alika seperti adik kandungnya sendiri dibandingkan dengan via dan saudara-saudara yang lainnya. begitupun dengan manaf, kala dirinya mempunyai masalah, selalu bercerita pada alika agar hatinya merasa lebih lega daripada dia pendam sendiri dalam hati. ** Hari ini, kebetulan sekali bumbu dapur telah habis dan tak sengaja alika mendengar nani membicarakannya. jadi, alika menawarkan dirinya untuk pergi ke toko membeli bumbu-bumbu yang telah habis bersama dengan via. Saat dalam perjalanan menuju ke toko alika berkata, "Vi, nanti kamu nyari belanjaanya duluan yah. aku mau ngomong dulu sebentar sama bang manaf." kata alika, sembari melihat pada via. Via menengok pada alika dan tersenyum, "Iya.. aku ngerti kok." ucapnya. alikapun membalas senyumannya. Mereka telah sampai di toko, alika menghela nafas lega karena hanya ada manaf sendiri di toko. mereka menyapa manaf terlebih dahulu, setelahnya alika mengisyaratkan pada via bahwa dirinya akan berbicara dulu dengan manaf, via pun mengangguk menjawabnya. "Mm.. bang ?" ucap alika, setelah berada di dekat manaf. "Ada apa dek,?" tanya manaf langsung. karena manaf tahu, kalau alika ke toko berdua saja dengan via pasti ada sesuatu yang akan di bicarakan alika. "Duduk dulu." kata manaf. menunjuk bangku di sampingnya menyuruhnya alika duduk terlebih dahulu. alikapun duduk. Alika menunduk sebentar karena malu akan bercerita pada manaf tentang hal sepele,tetapi mau bagaimana lagi ?. hatinya belum tenang kalau belum bercerita pada abangnya itu. karena kebiasaan mungkin ?. Alika mengangkat pandangannya dan melihat pada manaf, lalu bercerita tentang kegalau'annya. tentang rizal yang menyatakan perasaannya dan memintanya menjadi pacarnya. lalu tentang keraguannya yang takut hanya iseng saja bahwa rizal menyukainya dan tentang yang lainnya. alika menceritakan semua yang dia rasakan. Manaf mendengarkannya dengan baik sembari tersenyum tanpa menyela sedikitpun ucapan alika. justru dirinya senang kalau alika mau terbuka dan sering cerita padanya. karena di antara saudaranya yang lain hanya alika yang sangat dekat dengannya dan yang selalu menghiburnya dikala dirinya galau, sama seperti alika. karena itulah manaf sangat menyayangi alika seperti adik kandungnya sendiri. Alika menghembuskan nafasnya lega setelah bercerita panjang lebar kepada manaf. "Haahh.." "Udah selesai ceritanya ?" tanya manaf dan alika mengangguk menjawabnya serta tertawa kecil. "Jadi, menurut abang gimana ?" tanya alika. "Mm.." manaf nampak berpikir sebentar, "Kalo abang liat sih, dia emang beneran suka sama kamu. kayaknya dia serius. anaknya juga lumayan baik, rajin lagi." kata manaf memberikan pendapatnya. "Tapi balik lagi ke kamu. mau apa enggak ?, itu terserah kamu. abang ngedukung aja keputusan kamu." lanjutnya sembari tersenyum menenangkan. "Abang emang yang terbaik!" kata alika sembari tertawa dan mengacungkan jempolnya. manafpun ikut tertawa melihatnya. "Seru banget kayaknya, yang lagi curhat." celetuk via sembari terkekeh. berjalan mendekat ke arah mereka. "Daripada galau-galau'an. iya nggak ??" kata manaf, sembari menaik turunkan alisnya meledek alika. "Bener banget tuh, bang!. hha hha hha.." via dan manaf tertawa senang menggoda alika. "Abang.. ikhh!!" rengek alika, raut wajahnya menunjukan antara malu dan kesal menjadi satu. mereka berdua memang senang sekali menggodanya. "Iya deh iyaa.. enggak." ucap manaf dan terkekeh pelan. Alika dan via kembali ke niat awalnya tadi, 'belanja bumbu', via langsung membayarnya pada manaf, karena semua bahan sudah di kumpulkan olehnya tadi. pada saat mereka berjalan keluar dari toko, ada mobil pickup sedang parkir di depan toko. lantas via langsung bertanya pada manaf, sekiranya tahu. "Mobil siapa tuh ?" tanyanya, "Kok mobilnya parkir disini bang?" lanjutnya. "Itu mobil yang bawa alat-alat bangunan kayaknya." jawab manaf, sembari melihat mobil itu. "Punya siapa bang ?" tanya via lagi dan menengok pada manaf. "Itu alat buat renovasi teras pondok cewek jadi loteng." jawab manaf. Via mengangguk, "Okhh.." sedangkan alika di samping via, hanya menyimak saja percakapan mereka. setelahnya mereka kembali ke pondok. ** Sehabis sholat dzuhur anak laki-laki di suruh oleh kang ali untuk mengangkat, besi, semen dan alat-alat yang lainnya ke halaman pondok perempuan. Rizal tiba lebih dulu sendiri, dan sekarang sedang duduk berhadapan dengan manaf. karena sebelumnya manaf menyuruhnya datang terlebih dahulu sendiri. * "Abis ini, Lo langsung pergi ke toko duluan sendiri, sebelum yang lain. ada yang mau gue omongin sama lo." ucap manaf, setelah selesai mengaji. "I-iya bang." ucap rizal terbata, karena bingung sekaligus kaget, tiba-tiba manaf mengajaknya berbicara. tidak biasanya bang manaf seperti itu, hanya berdua pula, pikirnya. * Mereka duduk berhadapan. rizal agak was-was dengan apa yang akan di bicarakan oleh manaf, "Berasa lagi di interogasi gue." batin rizal. "Gue gak mau basa basi. langsung ke intinya aja." ucap manaf, terdengar serius, "Lo bener-bener suka sama alika atau lo cuman mau main-main sama alika, isengin dia ??" tanyanya tegas. langsung to the poin. Rizal kaget mendapat pertanyaan langsung seperti itu dari manaf, "Enggak bang, enggak! gue beneran suka sama alika!." jawabnya cepat, tanpa ada keraguan. sedetik kemudian, dia menyadari ucapannya itu. rizal tersenyum dengan canggung pada manaf, setelahnya dan memegang lehernya. "Beneran ??" tanya manaf lagi sembari menyipitkan matanya. Rizal mengangguk cepat, "Beneran bang." jawabnya, agak sedikit gugup. "Oke!. gue dukung hubungan kalian, kalo lo emang serius. tapi awas aja, kalo lo cuman mau isengin dia!." kata manaf tegas. "Enggak bang." ucap rizal pelan. mereka menghentikan obrolannya, karena yang lain sudah datang untuk mengangkut alat-alat pembangunan. * Setelah selesai mengaji dan tadarusan terlebih dahulu sebentar, alika keluar hendak mengambil jemurannya yang sudah kering. mumpung masih panas cuacanya, pikirnya. alika mengambil jemurannya, setelahnya berjalan ke bangku, hendak melipat bajunya disana. setelah duduk, alika bertanya pada wanda, "Belum pulang juga, wan ?" tanya alika. "Iya nih. mau pulang, tapi cuacanya lagi panas banget gini, jadi males." jawab wanda sembari cemberut dan menopang dagunya dengan tangannya. alika mengangguk mengerti. disana juga ada yaya dan nana yang duduk di bangku. mereka mengobrol ringan disana. Alika telah selesai melipat bajunya, karena hanya beberapa setel saja bajunya, ketika nana berkata, "Eh!, itu anak-anak cowok lagi pada ngapain ?" ucap nana sembari menyipitkan matanya, melihat ke arah sana, "Kayaknya pada mau kesini deh." tebak nana. alika melihat ke belakang, karena posisi duduknya menghadap pada nana dan yaya. sedangkan mereka berdua menghadap ke halaman rumah teh elih, otomatis langsung terlihat persimpangan jalan di depan sana. mereka buru-buru membenarkan kerudungnya, karena memakainya asal tadi, sekarang menjadi rapih. "Okhh.., iya mereka mau kesini. bawa alat-alat pembangunan. kata bang manaf, mau renovasi teras ini jadi loteng." kata alika santai. belum menyadari bajunya yang tergeletak di sampingnya. "Al! al!, baju dalem kamu cepetan tutupin!." ucap yaya kaget, saat melihat baju-baju alika. pada saat para anak cowok sedang dalam pertengahan jalan. bisa saja mereka melihat baju-baju alika yang ada di sampingnya itu. "Hahh!!" lalu alika melihat kesamping, "Eh! iyaa!!" ucapnya kaget. Nana dan wandapun sama, tak kalah kagetnya dari yaya, "Cepetan al!" kata wanda. "Iya cepetan al!" nana ikut menimpali dan membantu alika. "Yaa allah..!!, kok aku sampai lupa sih! sama baju aku sendiri!." rutuknya. buru-buru alika mengambil bajunya dan menyimpannya di depannya, serta menutupinya dengan sarung miliknya yang telah dilipat tadi. Pada saat anak-anak cowok melewati mereka berempat yang sedang duduk di bangku. para anak cowok menyapanya terlebih dahulu, dan mereka menjawabnya dengan canggung. sedangkan alika memalingkan wajahnya ke arah lain. tidak berani melihat pada mereka dan badannya sedikit gemetar, karena kaget. "Semoga aja mereka gak liat baju aku tadi!, mana ada rizal lagi!. Akhhh...!!" teriaknya frustasi, dalam hati. sembari memejamkan matanya erat dan menggigit bibir bawahnya. pipinya memerah karena malu, serta jantungnya deg-degan tidak karuan. alika buru-buru masuk ke dalam, serta membawa baju-bajunya tadi. saat melihat para anak cowok telah kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN