20. Menahan malu

1347 Kata
Happy reading guy's.. ** Rizal terkekeh pelan melihat respon Alika, yang langsung menutup tirainya. Sedangkan Alika masih terdiam sembari tangannya memegang d**a sebelah kirinya yang berdebar dengan kedua tangannya. Dan merasakan pipinya yang terasa memanas. Sedangkan Yaya yang sibuk bercerita tidak menyadari pergerakan Alika, tidak ada maksud apa-apa dan hal aneh, hanya pergerakan biasa saja, pikirnya. Dan tidak mendengar bahwa ada yang mengetuk kaca, karena suasana yang ramai dan dirinya sendiripun sedang sibuk bercerita. Tetapi karena menyadari Alika tidak merespon dirinya serta terdiam langsung menengok pada Alika yang berada di sampingnya dan bertanya, "Kamu kenapa al ?" Via pun langsung menengok pada Alika, karena pertanyaan Yaya. "Hah ?, E-enggak papa." ucap alika terbata. "Emangnya kenapa ?" tanya alika, mencoba biasa saja. Pura-pura tidak mengerti. "Ya-abisnya kamu diem, kayak lagi ngelamun." "Enggak kok!, Aku lagi dengerin kamu." jawab Alika cepat. Yaya menyipitkan matanya melihat pada Alika. "Beneran." kata Alika meyakinkan. Tetapi Yaya tidak percaya begitu saja. "Yaudah kalo gitu." Alika bernafas lega. Tetapiii... "Aku tadi lagi ngomongin apa coba ?" tanya Yaya menantang. Seketika Alika menahan nafasnya dan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Hehhee.." Alika terkekeh canggung serta menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan menggeleng pelan, sebagai jawabannya. Karena Alika tidak menyimak apa yang sedang di bicarakan oleh Yaya tadi. "Tuh, kan! Pasti ada sesuatu." tebak Yaya, sembari menunjuk alika dengan telunjuknya serta menyipitkan matanya. "Enggak ikhh, beneran deh." kata alika. "Haahh..." Yaya menghembuskan nafas panjang, "Yaudah kalo gak mau cerita." Alika meringis pelan,melihat pada Yaya. Tidak enak juga pada Yaya. Karena biasanya Alika selalu bercerita pada Yaya, tetapi kali ini tidak. "Maaf yah Ya, bukannya aku gak mau tapi malu aja kalo aku cerita sama kamu. Mungkin nanti aku bakalan cerita, tapi nggak sekarang. Karena perasaanku masih Abu-abu" Kata alika dalam hati, sambil memperhatikan Yaya. Entahlah, Alika tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya merasa bahwa dirinya sebenarnya juga menyukai Rizal, tetapi mulutnya tidak berkata sepatah kata apapun. Biarkan saja mengalir, pikirnya. Karena kalau memang Rizal benar-benar menyukainya dengan tulus, pasti akan memperjuangkannya kan ?. Alika bukanlah tipe yang kalau menyukai sesuatu atau seseorang akan dengan gamblang berkata 'aku suka sama dia/aku suka sama itu', tidak seperti itu. Alika hanya mampu memendamnya dalam hati saja. Kalau sudah merasa bingung dengan hatinya, maka Alika akan berbicara pada Manaf dan menceritakan apa yang sedang hatinya rasakan agar hatinya menjadi lebih tenang dan ada sedikit pencerahan. ** Paginya, acara mengaji tetap berjalan dengan baik meskipun sedang ada pekerjaan. Seperti biasa Alika mandi terlebih dahulu sebelum mengaji di mulai, karena kalau mandi sehabis mengaji maka akan ribet karena sedang ada pekerjaan, pikirnya. Dan pastinya akan ada lawan jenisnya yang berlalu lalang di depan pondok. Kita tidak tahu siapa yang bisa-bisa saja melihat dirinya tidak memakai baju ketika keluar dari kamar mandi. Itu tidak akan bisa terhindarkan. Selesai berdandan dan merapihkan baju serta kerudungnya, Alika tidak langsung turun kebawah. Dirinya akan menunggu Yaya, yang belum selesai dengan kegiatannya rutinnya di pagi hari. "Al, tungguin bentar lagi yah ?" ujar Yaya tanpa melihat pada Alika, karena sedang sibuk sedang memakai bedak dan memoles bibirnya dengan lipstick, tipis-tipis serta lipgloss. "Iya, ini aku tungguin," ujar alika bersandar pada tembok sambil memperhatikan Yaya yang sedang sibuk dengan kegiatannya. Hingga beberapa menit kemudian Yaya telah selesai dan dirasa dirinya sudah rapih, lalu Yaya berdiri mengajak Alika untuk turun kebawah. Alika mengangguk dan mengikuti langkah Yaya yang hendak turun kebawah. Meja semua telah di rapihkan oleh anak-anak yang lain, yang kebagian piket hari ini. Yaya dan Alika langsung duduk di tempat biasa mereka. Tanpa Alika sadari, di balik pintu ada seseorang yang sedang mengintipnya dari celah-celah pintu dan menguping sekalian. Bibirnya terangkat membentuk senyuman, karena yang di tunggu-tunggunya sudah tiba. Bahkan sebelum Alika turun kebawah, seseorang itu sudah terlebih dahulu berada di balik pintu. Siapa dia ?? Tak lain dan tak bukan adalah seorang Rizal. Siapa lagi kan, kalau bukan dia yang sering memperhatikan Alika. Betul tidak ? Sebelum tempat mengaji semakin ramai, Rizal buru-buru duduk di balik meja tempat biasanya. Entah kenapa, Rizal sangat suka melihat Alika diam-diam di waktu pagi. Karena bisa melihat senyuman alika yang sangat manis menurutnya dan itu sangat natural. Tidak selalu menunduk dan terdiam ketika bertemu dengannya. Kalau dipikir-pikir dirinya seperti penggemar rahasia saja, pikir Rizal. Mengingat senyum Alika membuatnya ikut tersenyum dan membuat hatinya berdebar. Tak lama setelah itu, anak-anak yang lain mulai berdatangan dan mengaji pun di mulai sampai dengan selesai. Setelah selesai mengaji dan makan, Alika, Yaya dan Via di panggil oleh Teh Elih. Merekapun segera masuk kerumah teh Elih, setelah merapihkan pakaiannya. "Yaya, kamu tolong bantuin saya masak yah." Ujar teh Elih pada Yaya. "Iya teh.." jawab Yaya. "Alika sama Via, tolong jagain toko yah," pinta teh Elih. Alika dan Via mengangguk menjawabnya. "Ada Inay juga disana nanti yang bantuin kalian," Alika dan Via mengangguk mengerti dan menjawab iya. "Udah pada makan belum ?, kalo belum makan dulu sini," ajak teh Elih. "Kita udah makan kok teh." Jawab Via sopan. "Mau langsung ke toko ajah ??" "Iya teh, langsung ke toko ajah." "Yaudah kalo gitu." Alika dan Via pun berpamitan dengan teh Elih untuk pergi ke warung. Berhubung di luar sedang ada pekerjaan dan tidak bisa untuk dilewati, Alika dan Via, terpaksa harus melewati tempat mengaji anak laki-laki. Di luar teras juga ada beberapa anak laki-laki yang berkumpul hendak bekerja. Alika bergerak gelisah ketika tahu bahwa ada para santri laki-laki berada di teras. Dan itu bukan hanya satu atau dua orang, pikirnya. "Vi, jangan jalan sini deh kayaknya," ujar alika. Jujur saja alika merasa kurang nyaman bila bertemu lawan jenisnya, segitu ramainya. Kalau hanya dua atau tiga orang itu tidak masalah baginya. Tetapi ini ramai-ramai begini ??, pikir Alika. Memikirkannya saja membuat Alika ketar-ketir dilanda gugup. "Ya-terus mau kemana lagi teh ?" balas Via bingung. Agak aneh memang saudara satunya ini, pikir Via. Padahal mereka kan tidak akan melakukan apa-apa terhadap Alika ? "Yang penting jangan jalan situ deh. Mau lewatnya gimana coba ?, rame gitu di depan," kata Alika lagi, menghela napas pelan. "Masa kita harus lewat ruang tamu rumah teh Elih ?? Apalagi kalau lewat belakang dari dapur Eceu ?" jelas Via, karena memang dapur Eceu dengan dapur teh Elih tepat bersebelahan hanya terhalang oleh kamar mandi saja. "Terus,, pasti di belakang juga masih ada anak-anak cowok yang lain, yang belum kesini. Apalagi ada teh Elih di dapur yang lagi masak. Kan nanti jadi pertanyaan," lanjutnya. "Iya juga sih...," lirihnya. Alika mengatur nafasnya mencoba untuk rileks. "Haahh...," Alika menghembuskan nafasnya, "Yaudah. Tapi jangan tinggalin aku yah ?" pinta Alika. "Emangnya aku mau kemana teh ?, sampe mau ninggalin kamu segala." Via menggelengkan kepalanya heran. "Yaudah iya, tapi jangan cepet-cepet jalannya," kata alika, "Eh! tapi jangan lama-lama juga jalannya." Potong alika ketika Via hendak berbicara dan melangkah. "Iya! iyaa! Ikhh!,, ribet amat deh!" kata Via sembari memutar bola matanya malas. Untung aja, dia sodara aku. Kalau bukan!, udah aku bungkam mulutnya dari tadi!, pikir Via gemas. Ketika Via baru saja berjalan dua langkah, Alika seger memegang baju Via dari belakang, dengan tangan kanannya agar tidak tertinggal. Sementara tangan kirinya membawa sandal jepit yang akan di pakainya nanti. Via hanya menggelengkan kepalanya saja dengan kelakuan kakak sepupunya ini. Terserahlah, pikirnya. Merekapun berjalan keluar, membuka pintu perlahan dan menutupkannya kembali. Tidak lupa Via dan Alika mengucapkan kata permisi terlebih dahulu dengan sopan saat melewati para santri laki-laki. Merekapun mempersilahkan Alika dan Via untuk lewat. Alika semakin mempererat pegangannya pada baju Via, seolah takut tertinggal. Ketika baru saja beberapa langkah setelah memakai sandalnya. Entah bagaimana Via tersandung, tetapi tidak sampai jatuh. "Aduh!.." ucap Via pelan, "Astaghfirullah aladzim.." gumamnya. Alika meringis pelan melihatnya. Pasti ini gara-gara ulahnya, pikir Alika. Ketika itu pula banyak para santri laki-laki yang menggoda Alika dan Via. "Biasa aja dong neng, jalannya." "Biasa aja kali neng, jangan grogi" "Jangan gugup gitu, nggak akan kita makan juga kok." Lalu keluar tawa pelan dari mereka. Seperti itulah kira-kira yang tertangkap indra pendengarannya Alika dan Via. Alika menahan malu dengan menundukkan pandangannya kebawah. Bahkan Alika merasakan pipinya yang sedikit memanas. Sementara Via mencoba biasa saja, meskipun sebenarnya dirinya juga agak sedikit malu. Karena di ledek para santri laki-laki. Berjamaah lagi, pikirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN