8.Ketahuan

1260 Kata
Selamat Membaca... ***** "Blaaamm!!! " rizal pun kaget dengan pintu yang terbanting keras, matanya melotot melihat zidni yang menepuk bahunya. cepat-cepat rizal berlari keluar sambil menyeret tangan zidni untuk ikut dengannya. "Elo ngapain sih!! ngagetin gue!!?" ujar rizal kesal, berbicara dengan pelan pada zidni. "Kalau gue ketahuan gimana..??" ujar rizal lagi dan tidak menyadari bahwa ada hamdan disana. "Eh! kalau bukan gue yang nyadarin elo gimana ?? malu lo ketahuan ngintip sama yang lain." ujar zidni sok bijak. "Ya enggak usah ngagetin gue juga kali! bisa-bisa jantungan gue! elo lihat kan tadi si yaya sampe ngecek segala kan jadinya. untung aja gue cepet-cepet nyeret lo keluar." ucap rizal masih rada kesal. "Gue nepuk pundak lo itu pelan yahh.. elo nyaa aja yang terlalu fokus ngintipin si alika" ucap zidni membela diri. sedangkan hamdan hanya melongo saja mendengarkan perdebatan mereka seperti tidak menyadari bahwa ada orang lain di dekatnya. "Elo suka sama alika zal !??" lontar hamdan menyadarkan mereka yang sedang berdebat itu. sontak rizal langsung mengalihkan pandangannya pada hamdan. "Astahgfirullah! sejak kapan lo disini ??" tanya rizal kaget, karena tidak menyadari bahwa hamdan sudah ada di dekatnya sedari tadi. "Udah dari tadi kali." jawab hamdan. "Berarti lo denger semua yang gue omongin sama zidni dong !?" tanya rizal. hamdan mengangguk santai dan tersenyum geli melihat reaksi rizal yang ketahuan dirinya menyukai alika. "Dia kesini bareng gue." ujar zidni santai. "Waahhh.." rizal menggeleng tak percaya. "Belum juga apa-apa udah ketahuan mereka!! bisa di olok-olok gue sama tuh 2 bocah! akhh elaaahh..!!" batinnya berteriak. "Eh, lo belum jawab pertanyaan gue tadi!" ucap hamdan pada rizal. "Udah-udah,!" rizal mengibaskan tangannya. "Mendingan kita masuk sekarang yang lain udah pada mau kesini tuh." ujar rizal menunjuk yang lain dengan dagunya dan melengos masuk lebih dulu. zidni dan hamdan pun ikut masuk. "Gue tanya serius ini ??, Lo beneran suka sama alika ??" cecar hamdan pada rizal. "Iya iya! puas lo!!" jawab rizal kesal. hamdan terkikik geli. "Gue saranin sih yaa, lo itu harus extra sabar buat ngedeketin alika." ujar hamdan. "Kenapa emangnya ??" tanya rizal penasaran. zidni yang berada di sebelah rizal pun mencondongkan badannya bergumam dan mengangguk ingin tahu. "Jiaaahh pada kepoo..!! hahhahhaa.." hamdan tertawa mengejek, puas. "Yee.. nie bocah! ngeledek lo yaa!" ucap rizal sedikit kesal dan menjitak kepala hamdan pelan. "Aahh.." hamdan meringis kecil sambil cengar-cengir tidak jelas karena dapat menjahili rizal. "Iya nih bocah, gue juga jadi kepo nihh.." ucap zidni. "Ngapain lo kepo !??" tanya rizal tidak suka menengok pada zidni. "Yaaelaahh.. gue gak akan gebet si alika, santai aja kali.. Lagian jadian juga belom sensi amat sii lo!" ujar zidni sembari terkekeh pelan melihat sikap rizal barusan. "Udah-udah, nanti lagi ceritanya. tuh yang lain udah pada masuk." ujar hamdan berbisik. belajar mengaji pun di mulai sampai selesai. ***** Setelah selesai mengaji alika dan yaya membereskan barang-barang nyaa kedalam laci meja kecil dan menumpukan meja-meja itu agar tersusun rapih dengan meja yang lainnya juga. "Haahh.. udah beres juga. sekarang tinggal istirahat." ucap yaya sembari menepukan tangannya puas dan berkacak pinggang. alika dan yaya berpandangan, terkekeh bersama setelah menyelasaikan pekerjaannya. "Laper al.. beli cemilan yukk, ke warung. mumpung masih sore, belum malem banget." ujar yaya mengajak alika. alika nampak ragu untuk mgengiyakan ajakan yaya, karena alika orangnya penakut. "Enggak bisa besok aja ya.?" tanya alika takut. "Aku laper al, gak kasian apa sama aku ?? stock cemilanku abis." ujar yaya memelas. "Haahh.." alika menghela nafas nya. "Yaudah deh. tapi ajak wanda dulu siapa tau dia mau ikut." akhirnya alika luluh melihat wajah memelas yaya. seketika yaya langsung tersenyum semringah. "Oke! aku ke atas dulu!" jawab yaya semangat dan segera berlari ke atas mengajak wanda. alika hanya menggelengkan kepala melihatnya. Alika pun ikut ke atas untuk mengambil uang di dalam dompetnya, sekalian bertanya kepada yang lain apakah ada yang ingin menitip atau tidak. "Wanda ikut ke warung yukk beli cemilan ??" ajak yaya pada wanda. "Lagi males akhh teh, titip aja yahh.." ucap wanda. "Yahh.. yaudah deh." ucap yaya. "Ada yang mau nitip gak ?? aku sama alika mau ke warung nihh..??" tanya yaya sedikit berteriak pada yang lain. mereka pun saling bersahutan ingin menitip, yaya pun menuliskan titipan mereka semua agar tidak lupa karena banyak macamnya. ***** Sedangkan di lain tempat, ketiga para laki-laki itu langsung menyimpan barang-barangnya setelah selesai mengaji dan duduk bertiga di luar masjid. "Maksud omongan lo tadi apa ??" tanya rizal langsung setelah mereka duduk, zidni pun mengangguk mengiyakan. "Santai dulu.., gak sabaran banget sii." ucap hamdan tersenyum miring meledek rizal yang sangat penasaran. "Makin ngelunjak lo yah!" ucap rizal kesal. "Gue jitak tau rasa lo!" ucapnya lagi sembari mengangkat tangannya seperti hendak menjitak hamdan. "Eeeeehh!! santai dulu, iya ini gue cerita sekarang." ucap hamdan sembari mengangkat tangan menahan tindakan yang akan di lakukan rizal padanya. "Yaudah apa emangnya ??" tanya rizal lagi. "Jadi gini alika itu orangnya pendiem gak banyak ngomong, apalagi kalau sama cowok. dulu juga sama gue waktu awal-awal kenal dia diem mulu, kalo sekarang mah udah beda. tapi kalo udah kenal deket dia cerewet, bisa bobrok malahan. jadi kalo sekalinya diem ya diem aja, kalau udah cerewet minta ampun deh. tapi kalo sama 2 sahabatnya itu kayaknya enggak deh! dia biasa-biasa aja." ucap hamdan. sebenarnya alika dan hamdan seumuran, lahir di tahun yang sama jadi hamdan memanggil alika dengan namanya saja tetapi lebih muda hamdan, sedangkan dengan yaya dan wanda beda 2 tahun, lebih tua yaya dan wanda. "Terus nih ya! kata teh wanda, alika ada pawangnya disini, jadi kalau ada yang goda'in alika atau ngejahilin alika, ngebuat alika risih dia langsung maju." ucap hamdan lagi. "Kata siapa lo ??" zidni menyela ucapan hamdan. "Kata teh wanda, soalnya dia sering cerita sama ibu, jadi gue tahu. dan lo tahu siapa pawangnya !??" ujar hamdan melihat rizal dan zidni bergantian. yang ditanya pun hanya menggeleng. "Bang manaf!" ucap hamdan lagi. yah, karena manaf senior disana jadi sering di panggil abang oleh junior-juniornya. "Oookhh.." ucap rizal dan zidni serempak sambil mengangguk mengerti, seperti biasa saja. "Kalian berdua udah tahu ??" tanya hamdan heran melihat mereka bergantian karena terlihat biasa saja. "Kalo bang manaf saudaranya si alika mah kita juga udah tahu." ucap zidni santai. rizal pun mengangguk. setelah pembicaraan itu zidni mengajak hamdan dan rizal untuk nongkrong di toko, karena tadi dia melihat manaf pergi ke toko setelah mengaji. mereka pun pergi bersama. **** Yaya dan alika sudah turun kebawah untuk ke warung dan akan meminta izin dulu kepada teh elih. "Ya kamu di depan yah." ucap alika mendorong yaya kedepannya. "Eh, enggak. aku di depan aja deh. eh nanti kalau munculnya di depan gimana ?, kamu di depan aja deh ya." ucap alika lagi, sibuk sendiri mendorong yaya untuk di depannya. yaya hanya memutar bola matanya malas. "Udah deh! jangan ribet kita jalannya barengan aja." ucap yaya merasa sedikit kesal karena alika yang parno'an. "Udah ayo!" ucap yaya lagi dan menggandeng alika untuk pergi, alika pun mengiyakannya. merekapun masuk untuk meminta izin sekaligus mengambil kunci warung karena sebelum waktu maghrib toko sudah tutup. "Permisi.. tehh.." ujar yaya. "Iya ada apa ya ??" tanya teh elih. "Mau izin ke warung teh ??" ucap yaya, alika berada di sampingnya. "Oh.. yaudah sana, kunci nya udah di bawa sama manaf tadi, ada manaf yang jagain toko." ucap teh elih. alika bernafas lega karena ternyata ada abang nya disana. "Iya teh." jawab yaya. merekapun keluar lewat pintu belakang rumah teh elih, karena pintu depan pondok sudah di kunci. "Pelan-pelan jalannya ya ikhh! gelap tahu." ucap alika takut. alika menggandeng erat tangan yaya karena takut. "Iya iyaa.." ucap yaya malas. mereka berjalan ke toko melewati pinggir kolam ikan. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN