Seorang gadis menangis di sudut koridor rumah sakit. Tak ada satu orang pun yang menolongnya. Perban yang membalut kepala dan tangannya terlihat masih mengecap bekas darah di sana. Air matanya tak juga kering setelah hampir tiga jam dia menangis. Di sisi lain, ada seorang anak laki-laki yang hanya berdiri, memakai baju pasien, dengan wajah pucat pasi. Dia terlihat sangat iba melihat anak gadis itu. Ingin mendekat, namun seorang suster yang menjaganya mencegah. "Maaf," ujarnya lirih. Seolah ikut merasakan kesedihan yang dialami gadis itu. Dia perlahan meninggalkan gadis itu dengan berpegangan pada besi infus yang menyalur pada lengan kanannya dengan satu tangannya masih dipegang oleh suster. *** Kai terbangun segera. Matanya terbuka lebar, keringatnya membasahi seluruh tubuh besarnya. Na

