Nala Johan datang kepadaku tak lama. Ya, dia datang lagi padaku sambil mengucapkan selamat setelahnya. “Terima kasih,” timpalku. Dan atas prestasiku, ia mengundangku untuk minum kopi di dekat lobi hotel tempat kafe kecil itu berada bersama saudara sealmamater, adik tingkatnya dari Moruz, Marie. “Aku tunggu nanti malam,” kata sang juri itu. Aku kembali mengangguk. “Baiklah. Terima kasih atas undangannya.” Empat jam sebelum pesta itu, aku termenung lagi di depan cermin kamar. Tiba-tiba sekelebat ingatan muncul. Kadang aku merasa, setelah kepergian ayah, aku seperti tidak memiliki pendukung siapa pun lagi selain dirinya. Dan bagiku, ayah tak tergantikan. Jika dulu aku cukup senang karena setidaknya ada seseorang di sampingku, justru sekarang aku tak me

