Hann Aku mendapat kabar bahwa Nala meraih peringkat dua nasional. Nian bukan main! Juara nasional! Tak bisa kubandingkan dengan juara kampiun sepak bola antar tetangga yang pernah kuraih dulu. Aku memang bangga sekaligus ciut. Dalam benakku, aku bertanya, “Nah, Hann, sekarang, apa yang bisa kamu lakukan?” tanya batinku meronta-ronta. Kini bisa kamu bayangkan; itu adalah prestasi tertinggi siswa tahun ini, Alisa memberitahuku soal ketika kami bertemu di sela-sela liburku di tahun kedua. Orang-orang akan bangga memilikinya, sekolah akan kagum dengannya, dan guru-guru akan senang padanya. Para murid akan segan padanya. Dan siapa pun itu, mereka akan menghormati Nala, termasuk aku. Aku mengatakan selamat pada Nala atas hasil yang ia raih kemarin. “Terima kasih,” timpalnya ramah sambil te

