Nala Aku masih merenungi hari-hari terakhir minggu itu. Untuk beberapa bulan ke depan, kami memang tak bisa bertemu untuk sementara waktu. Tapi kami sering bersurat. Setidaknya seminggu sekali, ia mengirimiku sepucuk surat dari Ratzenberg. Di depan suratnya, selalu saja tertera daun-daun kering sebagai pengantar. Kali ini adalah giliran tanaman paku yang dikeringkan dan direkatkan di badan surat. Lalu di minggu-minggu selanjutnya, ia lebih sering menyematkan daun-daun pinus. Walau aromanya tidak sekuat mawar dan melati, tapi aku tidak membenci aroma pinus. “Sesekali kamu harus mengajakku bermain di taman-taman pinus,” tulisku di salah satu surat balasannya. Oh, senang rasanya memiliki teman lelaki seperti Hann. Mengingat di sini, aku tidak memilikinya sama sekali. Di antara

