Dalam wilayah kerajaan Vorogov, terdapat sebuah hutan belantara yang amat lebat dan ditumbuhi berbagai macam pepohonan serta tanaman yang di dalamnya mengalir sungai yang amat panjang yang akan bermuara ke laut. Hutan tersebut letaknya cukup jauh dari istana, biasanya orang-orang yang melarikan diri akan menuju ke arah hutan tersebut. Memang disana cukup nyaman untuk dijadikan tempat persembunyian meskipun banyak sekali binatang buas yang mendiami hutan tersebut, namun dalam hutan tersebut juga terdapat banyak sumber makanan untuk para pelarian bisa bersembunyi berapa lama sekalipun. Sungai yang berada di dalam hutan belantara tersebut memang sangat segar dan di sekitarnya juga sangat rindang karena kanan kirinya terdapat berbagai macam pohon-pohon lebat yang tinggi, sehingga akses panas matahari bisa dihalangi oleh dedaunan, meskipun suasananya terasa teduh di dalam hutan tersebut, tapi karena Adriana dan keluarga kecilnya sudah berlari cukup lama membuat mereka merasa kembali kelelahan dan merasakan gerah, dari celah-celah pepohonan mereka bisa menyaksikan saat awal pelariannya matahari masih teduh saat pagi dan kini sudah mulai turun hingga menampakan cahaya yang menyelimuti cakrawala berwarna keemasan, itu tandanya kemungkinan mereka sudah berlari selama berjam-jam lamanya.
“Kruyuk kruyuk!”
Terdengar bunyi yang berasal dari dalam perut Andreas, sembari terus berlari bocah kecil itu memegangi perutnya yang terasa lapar.
Adriana yang tadi sempat mendengar suara keroncongan putranya itu kemudian berhenti. Sang suami pun juga turut berhenti, “Apakah ada masalah?” katanya seraya membenahi posisi menggendong putri kecilnya.
“Sepertinya kita tidak bisa seperti ini terus, kita memang harus istirahat dulu dan setidaknya menyantap sedikit makanan karena kita sedari tadi hanya minum saja bukan?” balas Adriana masih dengan nafas terengah-engah.
Damian menengok kebelakang, sepertinya juga dia dari tadi tidak menyaksikan para prajurit mengejar mereka. “Mungkin saja mereka memang tidak mengetahui bahwa kita lari ke sini, baiklah lebih baik kita berhenti sejenak, aku akan mencari makanan untuk kita bisa makan.” Ujar lelaki tersebut lalu menyerahkan bayi dan keranjang yang dibawanya ke samping tempat Adriana duduk.
“Baiklah, kami tunggu disini.” balasnya.
Saat Damian beranjak pergi untuk mencari sesuatu yang bisa mereka makan, Andreas justru mengikuti bapaknya itu. “Andreas ikut ya, Pak!”
“Baiklah, kamu bantu Bapak mencari buah-buahan dan kayu kering di sekitar sini. Kita akan mengganjal sementara dengan buah tersebut, nanti bapak akan coba mencari ikan di sungai itu untuk mengenyangkan perut kita.” Kata bapaknya memberi instruksi.
“Baik, Pak!” dengan patuh Andreas mulai mencari dengan teliti buah-buahan yang bisa mereka makan, untungnya karena sedari kecil dia memang hidup di dekat hutan, ia bisa banyak tau buah seperti apa saja yang bisa dimakan. Beruntung, banyak juga rupanya tanaman-tanaman liar yang berpotensi bisa dijadikan makanan untuk bertahan hidup selama dalam pelarian, seperti jenis beri-berian. Andreas mulai memetiknya lalu menyerahkan kepada kedua orang tuanya untuk sementara mengganjal perut, setelah itu ia membantu untuk mencarikan ranting-ranting kayu yang banyak tersebar disana. Sang Bapak tampak berusaha menangkap ikan dengan cara memindahkan batu besar untuk diletakkan di sebuah arus sungai yang kecil, lalu menatanya sedemikian rupa untuk dijadikan perangkap, saat ada ikan yang berenang ke arah sana, suami Adriana itu menghadang dari depan dan menangkap ikan yang seukuran telapak tangannya. Ada 2 ekor yang bisa ditangkap, lumayan pikirnya untuk mengisi perutnya dan keluarga kecilnya. Setelah itu ia mulai memotong bambu yang banyak tumbuh di pinggiran sungai dengan parang yang selalu tersemat di balik pakaiannya, kemudian ia mulai memotong sebuah bambu itu lagi menjadi potongan-potongan sekitar 40cm dan lebar sekitar seperempat dari panjang bambu yang tadi dipotong tersebut. Lelaki itu mulai berjongkok dan menempatkan posisi bambunya untuk digesek-gesekkan dengan cepat dan terus-menerus di atas ranting dan rumput kering yang ditata Andreas tadi. Dengan mengerahkan tenaga yang cukup kuat dan cepat, akhirnya sebuah percikan api muncul yang kemudian mulai membakar rumput kering dan mengeluarkan asap. Api pun menyala. Mereka mulai memanggang ikan dengan alat seadanya, menusukkan sebilah bambu ke mulut ikan hingga tembus ke perutnya dan membolak balikan di atas api tersebut sampai setengah matang. Memang tak benar-benar matang, ini dilakukan untuk mempersingkat waktu memasak saja dan asal bisa dimakan. Mereka memang tak pernah memakan hewan mentah, jadi setidaknya setengah matang bisa cukup membantu untuk mereka menelan makanan tersebut.
Baru saja mereka menyantap setengah ikan yang ada, tiba-tiba saja dari jarak yang tak terlalu jauh di tempat mereka berada, Damian melihat para prajurit hampir mendekati tempat mereka beristirahat.
Mau tak mau pelarian mereka harus berhenti sampai disini saja. Meskipun Damian mungkin masih bisa melarikan diri, tapi tidak dengan kondisi istri dan anak-anaknya, mereka semuanya terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, belum lagi istrinya yang baru saja melahirkan tentu saja perutnya masih terdapat luka di dalamnya. Ia tak mungkin meninggalkan keluarganya sendiri. Mata Adriana tampak berkaca-kaca dan juga seperti tampak pasrah. Sang suami sudah yakin benar bahwa mereka akan segera tertangkap, namun entah bagaimana tiba-tiba saja terbersit dalam pikirannya setidaknya ada dari mereka yang bisa selamat. Ia melihat bayi yang digendong Adriana dan beralih ke keranjang yang berada di sebelah istrinya itu, saat itu juga ia mulai paham maksud dan rencana dari ibu mertuanya meminta mereka membawa serta keranjang bayi tersebut.
“Adriana, biarkan abang melakukan hal ini.” Dengan segera dia mengambil bayi yang ada dalam gendongan Adriana, Damian lalu meletakkan bayi tersebut dalam keranjang tersebut.
“Apa yang akan kau lakukan, Bang?” Meski penasaran ia membiarkan suaminya mengambil begitu saja putrinya.
Tak segera menjawab istrinya sang suami justru malah turun ke sungai , lalu menghanyutkan keranjang yang berisi bayinya ke permukaan sungai hingga lama-lama keranjang tersebut menjauh dari tempatnya berada.
“Bapak, adek Pak..” Teriak Andreas histeris pada Damian.
“Abang, apa yang kau lakukan? Cepat kejar keranjangnya, keranjangnya mulai menjauh darimu!” Dengan susah payah Adriana berusaha mengejar keranjang yang tentu saja jauh dari jangkauannya yang berada di pinggir sungai. Bahkan wanita itu mencoba untuk masuk ke aliran sungai yang lumayan deras dan dalam, hingga pakaian bagian bawah sampai pinggul tergenang oleh air.
“Adriana, sudah berhenti. Percuma!” Pinta Damian yang sudah tampak putus asa.
Bukannya turut mengejar, sang suami justru mengatakan hal yang semakin membuat Adriana semakin kalut.
Bang Damian sudah gila! Batinnya sambil terisak dan berusaha meraih apapun yang ada disekitarnya untuk berpegangan. Adriana sadar betul, usahanya tampak sia-sia, bahkan kini keranjang yang membawa bayinya mulai menghilang terbawa arus yang deras. Saat itulah ia meronta-ronta bak anak kecil. Jiwanya serasa tersiksa.
Damian segera cepat-cepat menuju ke tempat Adriana dan berusaha meraih istrinya itu untuk segera menepi dan Andreas yang tampak tertegun menyaksikan kelakuan orang tuanya tersebut, namun beberapa saat kemudian segera sadar kembali dan membantu meraih tangan ibunya.
“Maafkan aku. Aku harus melakukan ini.” Ucap Damian dengan tatapan sedih dan pasrah.
"Bang apa yang kamu lakukan pada anak kita, bang? Dia anak kita!" Adriana masih meronta-ronta histeris pada suaminya dengan sangat lemah serta Andreas yang masih menangis memeluk ibunya. Linangan air mata Adriana membuat Damian tersayat-sayat. Ia lantas menangkupkan telapak tangannya ke pipi sang istri.
"Percayalah, ini adalah jalan terbaik untuk putri kita dan kurasa tujuan Ibu memberikan keranjang bayi itu adalah untuk ini." Damian berusaha memberikan pengertian.
Adriana masih belum menerima alasan itu, apa yang diucapkan oleh suaminya tersebut rasanya membuat pikirannya kosong. Bertubi-tubi hari ini ia mendapatkan kejutan-kejutan yang sangat menyiksa. Hanya beberapa menit setelah Damian menghanyutkan bayinya ke sungai beberapa prajurit tiba-tiba sudah semakin mendekat, dan Damian yakin benar bahwa para prajurit itu sudah menemukan jejak mereka dan melihat mereka, tak ada lagi kesempatan mereka untuk melarikan diri ,mengingat ia dan keluarganya sudah terlampau lelah menyusuri sungai ini seharian. Damian lantas memapah istrinya yang sudah tak berdaya itu ke tempat yang lebih nyaman.
"Kalian yang berada di sana, berhenti!" Perintah salah satu prajurit. Ada sekitar lima orang prajurit yang menghampiri Adriana dan keluarganya. Diteriaki seperti itu membuat Andreas ketakutan, bocah itu lantas secara refleks menarik kedua tangan orang tuanya untuk segera lari.
"Berhenti kalian!" Teriak prajurit itu lagi dan semakin mempercepat laju lari mereka.
"Sudah Nak, tidak apa-apa, kita berhenti terlebih dahulu." Pinta Damian. Anaknya meski ragu dan takut akhirnya mau menurut.
Mereka pun tak melanjutkan laju perjalanannya dan dengan mudah membuat para prajurit itu sampai menyusul dan mengepung mereka.
"Ada apa ini? Kenapa kalian mengejar kami?" Tanya Damian pura-pura bodoh.
"Kalian keluarga dari penghianat Surva bukan?!" Jawab salah satu prajurit utusan itu.
"Maksud kalian apa? Kami tak mengenal dengan nama yang kalian maksud." Jawab Damian berusaha mengelabui mereka. Adriana paham dengan maksud dan tujuan suaminya mengatakan demikian, meski ia sendiri tak yakin jika para prajurit itu akan dengan mudah percaya begitu saja dan melepaskan mereka.
"Jangan berbohong! Kalian pasti lah keluarga penghianat yang mencoba kabur!" Benar saja, para prajurit tak begitu langsung percaya.
"Sungguh kami bukan keluarga yang kalian maksud." Kini akhirnya Adriana turut andil berbicara. Maafkan aku, Ibu. Aku tak bisa membiarkan semua keluarga kita tertangkap, jika ini berhasil kami akan menyusun rencana untuk membebaskanmu, Ibu. Batin Adriana menguatkan dirinya untuk turut melakukan kebohongan putih ini.
"Jika bukan, lantas kenapa kalian berada di sini dan berlari saat kami meminta berhenti? Gelagat kalian sungguh mencurigakan." Kata prajurit yang lainnya.
"Kami baru saja dari desa seberang untuk menghadiri acara, namun ketika berusaha menyeberang sungai ini, rupanya sungai sudah meluap sehingga kami tadi sempat hanyut dan masih merasa panik sampai sekarang dan hanya ingin buru-buru pulang" Lanjut Adriana berakhting. Jujur, Damian sungguh terkejut dengan kemampuan istrinya ketika sedang terdesak seperti itu, rupanya wanita yang telah dinikahinya itu bisa memposisikan diri dengan segera, meski baru saja ia kehilangan anak yang telah dilahirkannya. Ia tau, sang istri melakukannya karena tak ingin kehilangan lebih banyak lagi orang yang ia sayang.
Para prajurit itu masih mencoba mencerna apa yang Adriana dan keluarganya katakan, mereka masih menimbang-nimbang kebenaran dari jawaban orang-orang yang mereka duga sebagai pelarian tersebut.
“Jika kalian tidak percaya, lihat saja pakaian kami, kami semua basah kuyup karena kejadian barusan.” Kata Damian berusaha lagi meyakinkan.
Para prajurit itu lantas menelisik kondisi dari orang-orang yang ada di depan mereka tersebut. Memang benar, mereka tampak tak karuan dengan pakaian yang basah kuyup. Para prajurit itu kemudian saling toleh satu sama lain.
“Baiklah, maafkan kami jika kami salah mengira orang.” Salah satu dari prajurit akhirnya merasa menyesal, “Kami sedang mencari anggota keluarga seorang pengkhianat yang sudah membuat wabah di negeri ini. Kami harus segera menangkap mereka. Lalu apakah kalian sempat melihat beberapa orang yang mencurigakan melewati sini?” Lanjut prajurit yang paling depan.
Rasanya lega ketika para prajurit itu justru menanyakan hal yang mereka tak duga-duga. Sebuah satu kesempatan itu digunakan Damian dengan secermat mungkin, “Ya, tadi aku sempat melihat dari kejauhan ada beberapa orang seperti lari ke dalam hutan sana.” Damian menunjuk ke lebatnya hutan belantara di kaki gunung.
“Benarkah kalian sempat melihatnya?” Tanya prajurit itu memastikan.
“Benar, saat kami mencoba melewati sungai ini dari arah seberang, kami lihat mereka buru-buru ke arah sana. Namun, kami kira mereka hanya sedang mengejar hewan buruan saja.” Tambah Damian.
“Sepertinya itu mereka!” Sought prajurit paling belakang.
“Baiklah, ayo kita kejar mereka!”
“Oya, terima kasih untuk informasinya dan maafkan kami karena salah mengira anda.” Kata prajurit paling depan yang tampak paling sopan berkata.
“Tentu saja, Tuan . Tak masalah bagi kami.” Balas Damian. Ia merasa lega luar biasa begitu pun dengan Adriana, rupanya para prajurit itu dengan mudah mereka kelabui. Prajurit-prajurit itu akhirnya berjalan dengan sedikit pelan-pelan karena kondisi di pinggir sungai yang penuh dengan lumut, mereka berjalan sembari membicarakan perihal pengajaran tentang keluarga Surva.
"Dasar Surva penghianat! Bahkan ketika wanita tua itu sudah kita tangkap, kita juga harus dibuat kesusahan karena keluarganya!" Kata Salah satu prajurit yang masih dalam jarak berapa meter saja dari Adriana dan keluarganya.
"Benar-benar penyihir laknat!" Timpal prajurit lain.
"Nenekku bukan penghianat!" Andreas yang tak tahu apa-apa soal kondisi genting tiba-tiba malah tersulut emosinya ketika ada segerombolan orang dengan terang-terangan mengatai nenek tercintanya, ia bahkan membuat pernyataan itu menjadi semakin jelas, "Nenekku adalah orang yang baik!".