Bagai tersambar petir kedua orang tua Andreas hanya melongo begitu saja mendengar anaknya berteriak sedemikian rupa. Mereka bahkan belum sempat mencegah ataupun memberi instruksi pada Andreas. Andreas benar-benar bocah yang sangat polos, dia mengatakan sesuatu dan blak-blakan jika tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Sudah bisa ditebak, para prajurit itu sangat awas telinganya, mereka kembali berbalik menghadap ke arah Andreas dan kedua orang tuanya dan segera mereka cepat-cepat menghampiri.
“Apa maksudmu, bocah kecil?” Sahut si prajurit.
Damian yang masih sempat syok reflek menutup mulut putranya tersebut dengan tangannya, sehingga Andreas tak bisa berbicara.
“Maaf, tadi dia asal bicara.” Kata Damian beralasan dan ia yakin kali ini tak akan lagi bisa lolos dari para prajurit itu.
“Tidak, aku benar-benar dengar jik bocah itu mengatakan jika neneknya bukan penghianat. Cepat singkirkan tanganmu!” Hardik si prajurit.
Andreas masih berusaha ingin menjawab para prajurit yang terus menghina neneknya itu, namun semakin ia berusaha keras untuk menjawab dan berusaha bicara, bapaknya justru semakin erat membukanya.
“Biarkan bocah itu berbicara!” Perintah prajurit itu dan kali ini dengan menyingkirkan paksa tangan Damian dari mulut bocah itu.
Akhirnya Andreas berhasil terlepas dari telapak tangan Damian.
“Kau mengatakan nenekmu bukan penghianat?” Si prajurit berusaha merendahkan badannya menyamai tinggi Andreas.
“Ya, nenekku itu sangat baik, dia bukan penyihir.” Jawab Andreas lugu.
“Nenekmu Surva?”
“Benar, Nenekku Surva yang baik.”
Seketika Damian dan Adriana lemas. Kali ini benar-benar tamat riwayat mereka. Pelarian berakhir sudah sampai di sana.
“Ha aha ha! Jika nenekmu jahat, mungkin kau satu-satunya yang baik di keluargamu.” Kata prajurit paling depan sembari mengusap kepala Andreas.
Prajurit yang lain berjalan pelan ke arah Damian, “Mungkin kau bisa menipu kami, tapi rupanya anak kalian yang justru mengatakan kejujuran. Tamat riwayat kalian penghianat!” Ujar prajurit itu dengan tatapan puas dan sinis. Pasangan suami istri itupun tak bisa berkutik lagi, percuma, mengelak dan lari pun kini mereka tak bisa.
“Cepat bawa mereka!” Perintahnya kemudian. Damian dan Adriana didorong-dorong untuk cepat-cepat berjalan menyamai langkah para prajurit yang memang sudah terlatih itu, dan untuk Andreas, para prajurit itu membawa mereka dengan menggendong ke belakang badan para prajurit secara bergantian, hal itu dilakukan hanya sekedar untuk bersenang-senang saja lantaran karena bocah itu membuat mereka tidak tertipu daya untuk melakukan pencarian yang lebih lama dan jauh lagi.
Mereka harus segera cepat-cepat sampai istana sebelum hari menjadi semakin gelap, terlebih tak ada alat bantu penerangan yang mereka bawa.
Suara serangga menjelang malam saling bersahut-sahutan, seakan meminta kedelapan orang yang sedang melewatinya untuk bersemangat dalam mempercepat langkah mereka. Pun nyamuk-nyamuk mulai bertebaran mengitari mereka dan beberapa bahkan ada yang hinggap lalu mulai menghisap darah. Benar-benar serangga yang mengganggu. Mereka semua tak betah berlama-lama di dalam hutan lebat itu. Sepanjang perjalanan, para prajurit itu mengutuk kebodohan mereka sendiri.
“Pantas saja kita selamanya hanya dijadikan kroco-kroco seperti ini, karena perbedaan kita dengan atasan kita itu sangatlah terlampau jauh. Kita terlalu mudah dibodohi oleh para penghianat-penghianat ini.” Tiba-tiba salah satu prajurit dengan badan jakung mulai membuka bahan obrolan.
“Sial memang dua orang ini, bisa-bisanya kompak mengelabui kita!” Balas prajurit yang lain.
“Untung saja ada bocah cilik ini yang mau jujur.” Puji yang sekarang mendapat giliran menggendong Andreas, “Kamu benar-benar sangat membantu orang tua mu, Nak.” Tambahnya lagi.
“Iya benar, membantu orang tuanya untuk cepat menuju ke surga.” Sahut prajurit lain. Kemudian mereka saling tertawa terbahak-bahak.
"Paman, tolong turunkan aku. Aku ingin berjalan bersama Bapak dan Ibuku." Andreas lama-lama merasa tak nyaman digendong oleh para prajurit itu, sedangkan ia juga menyaksikan ibu dan bapaknya berjalan dengan sekali didorong-dorong dari belakang dengan tak manusiawi.
"Heh dasar bocah! Sudah kamu tuh ya enak-enak digendong malah mau jalan, memangnya mau kamu diperlakukan seperti kedua orang tuamu itu?" Hardik dengan nada kasar salah satu prajurit.
"Ku ingin bersama bapak dan ibuku saja!" Kata Andreas berusaha memberontak. Kedua orang tuanya lalu saling menoleh dan menghadap ke arah anaknya yang masih dalam gendongan salah satu prajurit itu.
"Sudah Nak, kamu di situ saja ya, kan bapak dan ibumu juga bersama kamu sekarang." Kata Adriana dengan lembut kepada anaknya tersebut agar tenang.
"Tapi Ibu, kenapa mereka memperlakukan ibu dan bapak seperti itu? Aku tidak suka melihatnya." Kata ris berusaha protes ada perlakuan orang-orang asing yang membawa mereka. Seketika para prajurit yang mendengar itu sontak kembali tertawa.
"Nak, sungguh kami tidak apa-apa kamu tenang saja ya." Ini Damian turut ikut membuat anaknya tak berfikir berlarut-larut tentang kondisi mereka yang sudah terlanjur tertangkap itu.
"Siapa bilang kalian berdua boleh bicara? Tutup mulut kalian dan cepat saja berjalannya, aku ingin cepat-cepat segera sampai istana lalu pulang, memang ya dasar kalian ini para pengkhianat bisa-bisanya kabur, kalian kira kalian bisa begitu saja dengan mudah bersembunyi?" Protes prajurit yang merasa sudah lelah bekerja seharian ini.
"Maafkan kami.." Balas Adriana dan Damian bersamaan sembari mempercepat laju jalan mereka.
"Dibilang jangan bicara!" Prajurit yang ada di belakang Damian lalu menendang pinggul lelaki itu, seketika Damian hampir saja terjerembab, untungnya ia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Kalian jahat!!!" Jerit Andreas tak terima jika kedua orang tuanya diperlakukan secara keji seperti itu. "Aku ingin turun saja! Aku ingin bersama kedua orang tuaku, kalian benar-benar jahat, aku tidak mau bersama kalian lagi!" Rupanya Andreas masih terus saja memberontak hingga ia membuat kewalahan prajurit yang mendapat giliran menggendongnya. Akhirnya prajurit itu kemudian mencubit paha Andreas dengan sangat keras, sehingga menimbulkan memar di kulit kencang nya. Andreas saat itu juga langsung mengaduh, namun bukannya merasa kasihan dengan erangan kesakitan bocah itu, justru si prajurit itu kembali mencubitnya berulang-ulang.
"Rasakan ini, jika kau tidak bisa diam akan aku siksa kau lebih parah lagi!" Kata prajurit itu berusaha mengancam Andreas agar tetap tenang.
Adriana yang tidak tega melihat anaknya diperlakukan seperti itu pun memohon-mohon kepada mereka untuk tidak melakukannya lagi, ia bahkan sudah mulai berlinangan air mata karena perlakuan yang diberikan orang dewasa itu terlalu membuatnya sakit hati demi melihat derita anaknya.
Melihat hal itu para prajurit bukannya merasa iba, namun mereka justru semakin tertawa terbahak-bahak. Memang benar, rupanya hati nurani para prajurit itu sudah tertutupi oleh fitnah yang sudah menyebar yang membuat nama baik keluarga Surva tak hanya buruk, namun perlakuan orang-orang tersebut menjadi sangat kejam terhadap mereka.
"Ini pembalasan awal karena kalian sudah berani membuat negeri ini menjadi kacau balau, ini mungkin tak seberapa jika dibandingkan ulah Surva yang sudah membuat banyak orang menderita dengan wabah yang disebarkannya. Meski mungkin kalian tidak melakukannya, tapi secara tidak langsung kalian tak bisa mencegah Surva untuk berbuat semena-mena dengan kekuatan yang dimilikinya, seharusnya anggota keluarga bisa mencegahnya untuk tidak melakukan hal keji itu terlebih dahulu. Jadi, terima saja takdir kalian, anggap saja ini adalah hukuman tak seberapa setelah yang semua kalian lakukan terhadap negeri ini!" Kata-kata seorang prajurit yang paling tinggi berkata dengan berapi-api.
"Asal kalian tahu, temanku ini baru saja kehilangan istrinya yang terjangkit wabah penyakit yang disebarkan Surva secara keji di negeri ini, belum lagi anggota keluarga lain dari kami yang masih terus berjuang untuk kesembuhan wabah yang belum ada obatnya, bahkan Raja kami sebelumnya pun masih belum bisa sepenuhnya sembuh, Surva benar-benar membawa petaka yang amat dahsyat!" Tambah teman prajurit tadi.
"Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu, itu semua hanya fitnah belaka!" Akhirnya Adriana merasa sudah cukup mendengar semua kebohongan yang dikatakan oleh para prajurit itu, telinganya terasa panas ketika orang-orang itu membicarakan tentang ibunya dengan tidak benar.
"Kalian mau ngelak bagaimana lagi? Barang bukti bahkan sudah ditemukan di bawah rumah kalian!"
"Ada seseorang yang berusaha memfitnah kami, aku yakin itu. Asal Kalian tau saja, ibuku adalah orang yang sangat peduli dengan orang lain, dia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu, apalagi tentang wabah yang telah menyerang negeri ini, itu sudah sebagian dari takdir!" Adriana masih berusaha membela Surva.
"Cuih! Jika kalian memang benar, lalu kenapa kalian berusaha kabur dari kami, itu semakin menunjukkan bahwa kalian memang merasa bersalah dan ingin bersembunyi kan?!"
"Tentu saja kami berusaha kabur, kalian berusaha menangkap kami meskipun kami tidak salah." Balas Adriana lagi.
"Ah, sudah diam! Ngomong dengan para penghianat memang beda, terus aja kalian membela diri kalian masing-masing, hukum akan tetap terus berjalan. Terima saja hukuman yang akan kalian dapatkan setelah ini!" Kata prajurit yang sedikit buncit perutnya.
"Sudah cepat kalian berjalan! Aku ingin segera berkumpul dengan keluargaku!" Kata prajurit lain memperingatkan.
Di dalam istana yang sangat megah terlihat Raja Evgen sedang duduk di singgasananya, di depannya terdapat para menteri yang meskipun hari sudah malam, tapi rupanya mereka tampak masih saja sibuk membahas tentang aturan perpajakan baru, tentu saja pajak-pajak itu tak akan pernah ramah kepada rakyat Negeri Vorogov. Sebenarnya beberapa dari para menteri itu ada yang tidak setuju dengan penerapan pajak baru, dalam hati mereka justru sangat menjunjung tinggi arti dari keadilan dan ingin meringankan beban dari para rakyat kecil yang anggap saja seperti sudah jatuh tertimpa tangga, mereka sudah terserang wabah penyakit yang susah disembuhkan, namun juga harus membayarkan pajak yang sangat mencekik mereka. Tapi rasa takut mereka ternyata jauh lebih besar daripada rasa kemanusiaan yang mereka miliki. Pada akhirnya selalu sama saja, apa yang dimau oleh sang raja nyatanya akan disetujui oleh para menteri itu. Mereka tak berani membangkang atau kalau tidak mereka dan keluarganya akan bernasib tragis seperti yang sudah-sudah. Baru setelah satu jam kemudian pembicaraan mereka berakhir. Terdengar pengawal menginformasikan bahwa sang raja meninggalkan ruang singgasananya. Setelah pintu dari ruangan tersebut tertutup, para menteri yang tadinya tertunduk akhirnya kembali tegap dan mereka saling berbisik-bisik, tentu saja apa yang mereka bisikan pastilah sesuatu yang sebenarnya apa yang mereka selama membahas perpajakan tadi mereka pendam.
Saat sang raja akan kembali ke tempat peristirahatannya, saat itu juga Dazo si penasehat kerajaan datang menghampirinya, “Lapor Yang Mulia, Surva dan keluarganya sudah berhasil ditemukan dan mereka sekarang sudah berada di sel tahanan.”
“Bagus, aku salut dengan cara kerja kalian. Biarkan mereka di sana terlebih dahulu, aku akan mengumumkan besok hukuman yang akan mereka dapatkan.”
“Baik yang mulia.”
Benar saja, jauh dibawah kerajaan terdapat sebuah ruangan yang sangat besar yang di dalamnya berisi banyak sel-sel penjara, tempat para tahanan dikurung atau pun menunggu waktunya mereka dieksekusi. Di dalam penjara yang sangat lembab dan dingin tersebut rupanya Surva yang sudah lebih dulu masuk penjara akhirnya dipertemukan kembali dengan keluarganya. Rupanya para sipir cukup baik, mereka memberikan satu ruang besar sehingga satu keluarga itu bisa bertemu dan bercakap-cakap kembali meskipun bayang-bayang eksekusi di depan mata tanpa mereka ketahui.
“Nenek!” Teriak Andreas sembari menghambur ke pelukan wanita tua yang sudah ia rindukan tersebut.
“Andreas, Adriana, Damian? Kenapa kalian justru ke sini? Kalian tertangkap?” Tanya Surva masih tak percaya.
“Maafkan kami ibu, sepertinya ini memang takdir kita, kami sudah cukup berusaha keras untuk melarikan diri namun hal-hal tak terduga terjadi.” Kata Adriana sembari melirik ke arah suaminya, mereka tidak ingin memberitahukan perihal soal karena ketidaktahuan Andreas lah yang menyebabkan mereka akhirnya tertangkap.
Surva memang bahagia bisa melihat keluarganya lagi, namun kebahagian itu hanya sejumput kecil karena sebagian besar hatinya merasa sangat sedih, kecewa dan merana ketika tahu keluarganya menghampirinya bukan di rumah melaikan di dalam sel penjara. Itu tandanya tamatlah sudah riwayat mereka.