Sudah tiga hari sejak Surva dan keluarganya ditangkap. Setelah beberapa waktu dijebloskan ke dalam penjara yang dingin, akhirnya pihak kerajaan dengan segera mengumumkan perihal hukuman yang diterima Surva dan seluruh keluarganya tersebut.
Surva sedang mendongengkan cucunya, Andreas, tentang perihal seorang bayi yang dihanyutkan orang tuanya ke sungai lalu si bayi mendapatkan kebahagiaan setelah bertemu seseorang yang sedang menyebrang. Itu dilakukannya untuk membuat Andreas merasa tenang setelah kehilangan adiknya yang dihanyutkan oleh Bapaknya ke sungai saat itu.
“Sang bayi kecil itu akhirnya bertemu dengan sepasang saudagar kaya dari negeri seberang yang kebetulan tidak memiliki anak, diambillah bayi dalam keranjang tersebut dan dirawat sampai besar hingga si bayi mampu meneruskan usaha dagang orang tua angkatnya.” Kata Surva di akhir cerita.
“Jadi, adikku nantinya akan bertemu dengan orang baik dan hidup menjadi seorang putri saudagar kaya, Nek?” Tanya Andreas yang merasa antusias menghubungkan kisah yang ada di dongeng buatan Surva dengan kejadian yang baru beberapa hari dialami adik bayinya.
“Nenek percaya akan seperti itu. Kita berdoa saja untuk adikmu ya.” Bimbing Surva.
“Hmm, pasti Nek.” Balas Andreas semangat, bahkan saking polosnya bocah itu, ia tak merasa sedih ataupun takut meski dalam penjara sekalipun, berkumpul bersama keluarganya lah yang membuat dimanapun bocah itu berada kehangatan akan selalu terasa meski di tempat terburuk sekalipun.
“Kau suka dongeng dari Nenek kali ini?” Tanya Surva lagi.
“Sangat suka, Nek. Aku juga ingin Nenek mendongengkan cerita baru terus setiap hari.”
“Ha aha ha, begitu. Baiklah, cucuku. Nenek sepertinya harus banyak-banyak mencari inspirasi.”
Andriana dan Damian cukup terharu menyaksikan tingkah nenek dan cucu itu. Surva memang biasa mendongengkan Andreas banyak cerita terutama saat waktu sebelum tidur. Dongeng adalah hiburan teristimewa untuk putra mereka. Ketentraman keluarga itu tiba-tiba berpendar sesaat kemudian gerombolan prajurit beserta sipir penjara datang ke tempat sel dimana Surva dan keluarganya berada. Melihat kedatangan mereka yang lalu membuka kunci sel, ketiga orang tersebut senang, terutama Andreas yang tampak kegirangan, “Mereka ingin membebaskan kita, akhirnya kita akan keluar dari tempat ini!”
Surva tak langsung menanggapi ucapan dari cucunya itu, ia pun heran apakah kini ia akan dibebaskan bersama keluarganya?
“Kalian semua keluar!” Perintah salah satu sipir yang menjaga para tawanan.
“Apakah kami sudah dibebaskan?” Tanya Damian.
“Apa kalian bermimpi, heh? Jelas-jelas barang bukti berada di rumah kalian. Bisa-bisanya menanyakan hal yang mustahil. Kalian keluar justru untuk mendapatkan hukuman!”
Mendengar pernyataan penjaga sel tersebut seketika Andreas ngeri, ia lalu memepetkan badannya pada ibunya yang langsung mengelus kepala putranya itu.
“Bawa mereka semua!” Perintah penjaga sel paling depan kepada anak buahnya, masing-masing satu prajurit maupun sipir mendampingi setiap tahanan untuk keluar.
“Akan dibawa kemana kami semua?” Tanya Surva tak mau kalah.
“Kalian nanti akan tahu sendiri! Sekarang kalian siapkan saja kata-kata terakhir untuk diucapkan nantinya.” Perintah salah satu prajurit yang membawa Damian.
Tentu saja Surva dan keluarganya terkejut mendengar kalimat barusan, “Apa maksudmu berkata seperti itu?”
“Hukuman telah diputuskan, dan kalian akan dieksekusi siang ini juga.”Tambah prajurit tasi lagi.
Seketika Adriana lemas Ia pun bersimpuh di tanah mendengar keputusan yang tak masuk akal itu, ia berharap bahwa Ini semua adalah mimpi.
“Ibu! Kau tak apa? Teriak Andreas histeris menyaksikan Adriana jatuh dan tampak lemas seperti itu.
“Keputusan macam apa itu? Ini semua tidak adil! Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu! Ini pasti ada seseorang yang memfitnah kami!” Damian yang biasanya tenang kini memberontak tak tinggal diam. Ia berusaha ingin membantu istrinya bangun, namun para sipir dan prajurit itu tidak memberinya kesempatan dan malah semakin menekan kedua tangannya.
“Terkutuk kalian! Istriku baru saja kehilangan anaknya, dia masih terluka dan tak berdaya. Aku hanya ingin membantunya bangun, namun kalian bahkan tak memperbolehkan!” Teriak Damian lagi, “Lepaskan aku!” Lelaki itu makin tak terkendali saat melihat istri dan keluarganya menderita seperti itu. Karena Damian tak juga kunjung diam, akhirnya salah satu sipir menendang perutnya dengan sekuat tenaga bertubi-tubi hingga keluar darah dari dalam mulutnya.
“Abang!” Teriak Adriana.
“Menantuku..” Ucap Surva dengan suara lemah.
“Bapak!!!” Jerit histeris Andreas.
Mereka tak kuasa menahan air mata menyaksikan lelaki itu menerima perlakuan yang sangat kasar nan keji dari para orang-orang yang membawa mereka.
“Seharusnya kalian tak usah banyak omong! Kalian akan menerima perlakuan yang lebih daripada ini, tidak ada hak untuk para penjahat seperti kalian dikasihani! Gara-gara kalian negeri ini mendekati kehancuran!” Para sipir dan prajurit itu berkata pada apa yang mereka ketahui saja dan perintahkan.
“Apakah kalian sebodoh itu mempercayai begitu saja bahwa kami penyebab wabah itu ada?” Tanya Surva tak habis pikir.
“Percaya maupun tidak percaya yang jelas Raja sudah menyatakan keputusannya dan menandakan kalian memang benar-benar bersalah!” Balas prajurit itu.
“Raja kalian benar-benar konyol! Kalian sudah bodoh mau begitu saja mempercayai hal tak masuk akal seperti itu.” Kata Damian dengan setengah sadar.
“Sudah tak perlu banyak omong! Cepat bawa saja mereka semua segera!” Mereka pun dipaksa dibawa keluar dari tempat tahanan tersebut, bahkan Adriana yang masih bersimpuh di tanah dipaksa untuk segera bangun dan berjalan bahkan seperti diseret. Andreas yang menyaksikan bapak dan ibunya diperlakukan seperti itu menangis histeris dan meronta-ronta sepanjang perjalanan.
Orang-orang berkerumun memadati sepanjang jalan dari istana ke tempat dilaksanakannya eksekusi mati. Tak ada perkecualian, siapapun boleh menonton para tahanan yang diarak dalam kereta terbuka.
Sejujurnya, banyak rakyat yang kecewa dengan sikap terburu-buru Raja Evgen yang terkesan ingin segera melenyapkan Surva tanpa menyelidiki lebih matang kasus boneka voodoo itu. Tak tanggung-tanggung, Sang Raja ingin melenyapkan Surva dan keluarganya dengan cara eksekusi mati! Lapisan masyarakat menyangsikan jika Surva adalah otak dibalik wabah yang sedang melanda negeri mereka. Berbagai spekulasi mulai bermunculan dan dengan cepat menyebar ke masyarakat.
“Mak Surva bukan orang seperti itu!” Kesal seorang penjual kue beras dengan sedikit berbisik, namun cukup terdengar oleh dua orang ibu-ibu yang berada di sebelahnya.
“Tentu saja bukan, Mak Surva tak akan pernah melakukan hal itu, selama ini ia selalu membantu orang-orang dengan kekuatannya yang dimilikinya.” Balas wanita paruh baya dengan perawakan gemuk.
“Ya, ini pasti fitnah! Paling juga si Raja j*****m itu yang melakukannya!” Sahut wanita yang berbadan ideal.
“Hush!” Kompak penjual kue beras dan wanita gemuk tadi.
"Awas kualat loh jika ngatain Raja. Langit bisa marah." Hardik Wanita gemuk itu lagi.
"Eh, Bu. Orang bakal kualat kalau yang dikatain itu raja yang bijak, nggak neko-neko, memakmurkan rakyatnya. Lah ini, rajanya kaya iblis gitu, zalim minta ampun, kurasa dia yang bakal kena hukum dari langit!" Celoteh wanita berbadan ideal menggebu.
“Neng, lebih baik jaga suaranya pas bicara, eneng nggak mau kan jadi tahanan juga karena ngomong sembarangan di tempat umum gini?” Si penjual kue memperingatkan.
“Iyaloh, masalahnya tidak cuma kamu saja yang dieksekusi mati jika berani menentang raja baru, tapi juga seluruh anggota keluargamu. Mau?” Tanya si wanita gemuk sekalian menambahi.
“Ih, amit-amit!” Balas wanita ideal bergidik ngeri membayangkan.
“Makanya…” Mereka bertiga pun kembali fokus melihat keramaian yang terjadi.
Mereka adalah sekian dari banyaknya orang yang sedang membicarakan nasib buruk yang menimpa Surva dan keluarganya dan betapa zalimnya raja mereka.
Pintu gerbang istana kerajaan terbuka lebar, tampak rombongan prajurit dari kerajaan keluar, derap langkah kuda semakin mengidentifikasikan bahwa apa yang orang-orang tunggu akhirnya muncul. Barisan prajurit berkuda datang lebih awal, di belakangnya ada sebuah kereta terbuka besar yang ditarik oleh empat ekor kuda dengan seorang prajurit sebagai kusirnya. Di atas kereta itu terdapat kerangkeng besi berbentuk persegi, apa yang di dalam kerangkeng itulah yang para orang-orang ingin lihat. Sebagian mereka memandang arak-arakan itu dengan simpati dan berharap eksekusi dibatalkan. Namun apa daya, mereka hanyalah rakyat biasa yang tak memiliki wewenang apapun. Mereka menatap sedih sejumlah orang yang tampak berdesak-desakan di dalam kerangkeng besi tersebut. Bahkan tampak salah satu tahanan masih anak-anak, ia ketakutan dan jari-jari kecilnya berpegangan pada jeruji besi kereta itu, sepasang suami istri yang merupakan orang tua dari anak itu tampak mencoba menenangkan anaknya.
“Ibu, aku takut.” Ucap Andreas dengan pakaian yang compang camping. Seluruh badannya bergetar sejak ia diseret keluar dari penjara istana dan dimasukkan ke dalam kerangkeng bersama dengan seluruh anggota keluarganya. Sang Ibu yang sebenarnya juga ketakutan karena akan mendekati ajal menjadi tegar demi putra kecilnya dan kemudian memeluknya.
“Apa sebenarnya salah kita dan akan dibawa kemana kita , Ibu?” tanyanya.
Adriana menahan tangisnya mendengar pertanyaan Andreas. Damian sang suami lalu membantu istrinya untuk menjelaskan secara halus pada anak mereka.
“Nak, apa kau merasa takut menyaksikan ini semua?” Tanya Damian dengan masih lemah setelah sempat dipukul para sipir.
Melihat pemandangan yang miris dan menyayat hati itu, seseorang mulai menyemangati mereka dan yang lainnya terdorong untuk ikut-ikutan.
Surva dan seluruh anggota keluarganya tak bisa berkutik, meski begitu saat melihat bagaimana reaksi orang-orang yang mereka kenal tampak datang di antara rakyat lain yang berdesak-desakan dan turut menyemangati mereka sudah membuat terharu tersendiri. Bahkan rakyat tau siapa Surva dan keluarganya. Cukup lama mereka diarak di dalam sebuah kereta terbuka dengan kondisi yang memprihatinkan, bahkan anak Surva yang baru melahirkan dan kehilangan bayinya harus diperlakukan sama. Mereka diarak ke seluruh penjuru negeri Vorogov sebelum akhirnya dipenggal dengan Guillotine, alat pancung mengerikan. Sebelum dieksekusi, Surva diberi kesempatan untuk mengatakan kata-kata terakhirnya, yang tak diduga justru kata terakhirnya adalah berupa kutukan yang ditunjukkan kepada Sang Raja lalim, Evgen.
Ia mengutuk Raja Evgen akan menjadi sebuah boneka yang tak bergerak untuk menebus kekejamannya, semua akan berakhir ketika boneka itu berpindah kepemilikan yang ke 7 dan menemukan seseorang yang mampu menyelamatkannya dari kutukan, Raja Evgen akan memiliki waktu tertentu untuk bisa bergerak dan kembali ke wujud manusianya. Kutukan itu akan sepenuhnya hilang apabila Raja Evgen di masa depan mampu menjadi penolong orang-orang tertindas terutama seseorang dari keturunannya. Raja Evgen hanya tersenyum sinis mendengar celoteh orang tua yang sudah mendekati ajalnya itu, ia tak begitu menanggapinya, karena baginya sendiri ia tak begitu percaya hal-hal yang tak masuk akal. Setelah itu ia memerintahkan algojo untuk mengeksekusi Surva dan seluruh keluarganya tanpa meninggalkan satu orangpun. Rakyat yang melihat itu amat sedih namun tak bisa berbuat banyak selain mendoakan apa yang diinginkan Surva terkabul.