Efek Sebuah Kutukan

1920 Kata
Eksekusi telah berakhir raja dan rakyat tahu bahwa Surva dan seluruh keturunannya sudah tiada dan  mereka tak pernah mengira bahwa Adriana masih memiliki seorang anak lain yang rupanya masih hidup setelah diselamatkan oleh sepasang saudagar kaya yang kebetulan atau secara takdir mereka menyeberang sungai saat keranjang yang berisi bayi Adriana lewat. Mereka buru-buru mengejar keranjang tersebut setelah sempat melihat apa yang ada di dalamnya, aliran arus yang deras hampir saja membuat mereka kehilangan kesempatan untuk meraih keranjangnya, untungnya di tengah-tengah sungai itu ada batu besar yang menahan keranjang tersebut untuk berhenti beberapa saat, dan saat keranjangnya akan kembali terbawa arus, sang saudagar kaya sudah berhasil duluan meraihnya. Tentu saja Saudagar yang ternyata tak pernah bisa memiliki keturunan itu pada akhirnya merasa sangat bersyukur dengan apa yang mereka jumpai. Mereka sangat gembira dan lekas-lekas membawa bayi beserta keranjang tersebut ke tepi sungai lalu memberikan pelukan karena saking terharunya. “Siapa yang tega membuang bayi di sungai? Ini sama saja dengan ingin membunuhnya.” ucap si lelaki tak menyangka. “Benar, disaat kita menantikan momongan tak juga diberi, sedangkan orang lain dengan mudah memiliki anak justru disia-siakan.” Tatap sang istri sedih ke arah wajah bayi yang tampak masih merah itu. “Kakanda, adinda ingin mengangkat anak ini. Cantik sekali..” Puji Istri dari saudagar kaya tiba-tiba. Rupaya kebiasaan mereka  jalan-jalan di sore hari untuk mencari udara segar di luar rupanya membawa mereka menemukan sebuah keberkahan lain kali ini. “Kakanda juga berpikir demikian, kita akan merawat anak ini. Mungkin ini cara Sang Pencipta memberikan kita seorang anak” Ucap sang saudagar mendukung. “Terimakasih, mungkin setelah pernikahan kita yang yang sudah lama dan tak diberi momongan membuat kita sedih, tapi lihat, sang pencipta amat bermurah hati mengirimkannya langsung kepada kita.” Kata Sang istri sembari menciumi pipi anak dari Adriana yang mereka temukan itu. “Kau benar adinda, kita sangat beruntung.” Begitulah, apa yang Surva dan keluarganya ucapkan rupanya terkabul. Ada doa dibalik ucapan saat dia dan keluarganya merasa terzalimi dan tak bisa berbuat banyak hal, nasib si bayi benar-benar sesuai yang diharapkan dan didongengkan ke Andreas tadi. Feodor dan Abrov sebagai dua orang pemuda yang dekat dengan keluarga Surva telah menyebarkan berita bahwa anak yang dikandung oleh Adriana telah gugur. Sebuah kebohongan putih yang harus mereka ambil demi keselamatan sang jabang bayi, meski konsekuensinya jika mereka ketahuan sebagai penyebar berita bohong, maka hukuman yang tak kalah menyeramkan juga akan diterima oleh keduanya. “Adriana baru saja kehilangan anaknya karena keguguran. Dan kini ia beserta seluruh anggota keluarganya telah berjumpa kembali dengan sang jabang bayi tersebut di alam yang sudah berbeda dengan kita. Semoga saja disana mereka diberi kedamaian.” Kata seorang penjual kopi di sebuah warung pinggiran pasar. “Ya, jauh meninggalkan dunia yang penuh kekejaman terhadapnya dan keluarganya. Pastilah mereka sekarang sudah tenang terbebas dari semena-menanya raja kita.” Sahut salah satu pengunjung warung kopi itu. “Mbok, akupun juga pengen gitu kadang-kadang, hidup di negeri ini sangatlah kejam, kadang kematian lebih bijak terdengar.” “Ngomong-ngomong kita juga harus hati-hati lo bicara seperti ini, takutnya jika saja ada mata-mata di sekitar kita dan memberitahu ke pihak kerajaan, nanti kita hanya diberi pilihan kematian sungguhan bagaimana? Kata seorang pria tambun yang tampak paling takut di antara para pengunjung. Lalu beberapa orang lainnya melirik ke sekitar masing-masing, “Masa iya ada mata-mata di sekitar kita? Kita kan mengenal satu sama lain.” Tak mungkin akan saling menghianati. “Jangan salah, mungkin kita mengenal luar kerabat atau teman kita lugu tapi kita tidak tahu dalamnya seperti apa. Kita juga harus berhati-hati dengan teman terdekat sekalipun bahkan keluarga.” Kata yang lain mengingatkan. “Wah, sungguh kita harus seperti itu?” “Ya nggak gitu juga sih, cuma hati-hati juga masih perlu.” “Lah kamu ini nakutin saja, kirain kamu orang yang jadi mata-mata, makanya mengatakan hal semacam itu ha ha ha.” Sahut yang lain nya. Tak hanya mereka saja yang membicarakan perihal tentang Surva dan keluarganya setelah dengan cara kejam dieksekusi di depan umum tadi siang. Kisah tentang mereka masih menjadi berita utama yang dibicarakan oleh seluruh penjuru negeri. jujur saja setelah kejadian itu mereka memang mulai merasa was-was dan terintimidasi sendiri akan bayangan-bayangan hukuman yang mengerikan jika mereka mulai berani bersuara akan ketidakbenaran yang terjadi dalam kerajaan, dan mereka juga percaya jika bayi Adriana sudah tiada, itulah yang kerajaan dan rakyat Vorogov yakini sampai nanti berabad-abad kemudian, mereka mengira Surva sudah tak ada lagi jalur keturunannya. “Bagaimana menurutmu Dazo, apakah setelah ini rakyat masih berani menentang segala aturan yang diterapkan?” Tanya Raja Evgen menyusuri jalan menuju singgasananya. “Tidak Yang Mulia, dengan kejadian eksekusi Surva dan seluruh anggota keluarganya justru bisa memberikan sebuah shock therapy untuk rakyat kita agar jangan sekali-sekali berani menentang Yang Mulia.” Balas Dazo dengan hormat. “Bagus! Apabila seperti itu maka tak akan sia-sia pengorbanan dari keluarga itu. Aku tak ingin ke depannya ada lagi rakyat yang melawan kekuasaanku. Aturanku adalah mutlak. Aku tak ingin siapapun menentangnya!” Ucap Raja Evgen dengan tegas. “Benar Yang Mulia, setelah ini saya juga yakin bahwa rakyat akan berbondong-bondong untuk disiplin membayarkan pajak-pajak mereka, serta menaati perintah yang Yang Mulia katakan.” Ucap Dazo dengan penuh hormat. “Baguslah, jadi sekarang aku tak perlu lagi mengkhawatirkan segala hal tentang rakyatku yang diam-diam mulai membangkang, aku yakin setelah ini mereka akan menyimpan baik-baik rasa takutnya terhadap diriku.” “Benar, Yang Mulia.” Kini sang raja dan penasehat kerajaan sudah berada di sebuah tempat tinggi di istana, tepatnya dalam sebuah balkon. Raja Evgen meraih pinggiran pagar dari balkon istana tersebut, ia kemudian menghirup nafas dalam-dalam sembari matanya berpendar melihat tatanan bangunan kerajaan secara keseluruhan dari balkon utama istananya. Langit masih tampak terlihat mendung, sehingga pandangan Raja Evgen masih terbatas, tidak sepenuhnya bisa melihat secara keseluruhan wilayah dari kekuasaannya. Ia kembali membayangkan tentang eksekusi yang ia perintahkan pada hari itu, dengan jelas ia mengingat bagaimana para penghianat yang sudah ia buat-buat itu menemui ajal mereka. Sebenarnya ia sendiri menyadari bahwa hukuman yang ia terapkan pada Surva dan keluarganya memanglah sangat kejam, namun Ia juga berpikir bahwa menganggap mereka adalah bentuk sebagai tumbal untuk kesejahteraan selama kepemimpinannya berlangsung. Raja Evgen tampak mulai menguap beberapa kali, “Baiklah Dazo, rasanya aku harus segera beristirahat.” Raja Evgen kemudian menuju pembaringannya dan mencoba memejamkan matanya. Sayangnya, sang raja tak juga kunjung terbawa ke alam mimpi. Ia lantas memutuskan untuk segera beranjak berdiri dari ranjangnya, kemudian mencoba membaca buku mengenai tentang syair-syair para pujangga yang memang ia gemari. Sudah berlembar-lembar halaman ia baca, namun nyatanya dirinya tak juga bisa tidur meskipun badannya terasa sangat lelah.  Ada apa denganku? Sebenarnya malam sudah semakin larut dan badanku sudah lelah semua, namun aku belum juga bisa tidur. Batin Evgen. Ia lantas berpikir untuk meminta seorang dayang memainkan kecapi untuknya. Dengan segera seorang gadis dengan wajah belia dan masih muda memasuki kamar sang raja beserta alat musik petik yang dibawanya. Gadis itu menyapa sang raja dengan penuh hormat , Sang raja kemudian menundukkan kepalanya untuk meminta si gadis segera memainkan sebuah musik yang mampu membuatnya tertidur. Mula-mula Si Gadis mengambil posisi untuk lebih nyaman ketika memainkan musiknya, denting nada yang keluar dari kecapi tersebut memang sangat merdu dan melenakan siapapun yang mendengarnya. awalnya memang menentramkan mendengar suara musik tersebut dan harusnya Raja Evgen bisa mengantuk, tapi nyatanya sudah hampir sejam Gadis itu memainkan musik sesuai yang ia mau, tapi tak cukup membantu untuk bisa membuatnya terlelap juga dan pada akhirnya dia meminta si Gadis itu untuk berhenti lalu kembali keluar. Raja Evgen mendengus kesal sendiri, karena tak juga bisa tidur lantas ia memanggil Dazo untuk segera memasuki kamarnya.Saat melihat pemuda itu baru tiba di pintu kamarnya, Raja Evgen sudah mencecar dengan keluhannya. "Dazo, kenapa dengan diriku? Aku sangat kelelahan hari ini, namun sudah berjam-jam aku tidak juga kunjung bisa tidur." "Apakah Yang Mulia ingin berjalan-jalan keluar terlebih dahulu, mungkin udara malam bisa menyegarkan pikiran dan membuat yang mulia rileks untuk segera bisa tertidur." Usul Dazo memahami betapa kalut rajanya. “Begitukah? Baiklah, ayo kita keluar!” Dengan segera sang raja memakai jubah kebesarannya, lalu ditemani oleh sang penasehat kerajaan yang setia mendampinginya, ia pun berjalan mengelilingi sekitar istana. Para penjaga yang tadinya sedang bercakap-cakap membicarakan soal eksekusi keji hari itu langsung gelagapan saat samar-samar dari kejauhan ada rombongan Raja sedang berjalan ke arah mereka, seketika penjaga yang berjaga di setiap pintu dan gerbang itu langsung mengambil posisi dan saat Raja mereka datang segera para penjaga memberikan hormat.  Raja Evgen tak menghiraukan para penjaga itu, ia justru masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sebentar kemudian ia berhenti dan menatap ke atas. Ia heran dengan cuaca malam itu. Sebelum ia menuju ke kamarnya tadi ia ingat jika malam tampak sangat indah namun ketika ia keluar kembali rupanya mendung menggelayut di langit-langit dan udara semakin lama semakin dingin menusuk tulang dan membuat rambut halus di tubuhnya berdiri. “Bukankah sekarang ini rasanya semakin dingin? Aneh sekali. Apakah akan turun hujan kembali?” Gumam sang raja. Dazo yang mendengarnya langsung menjawab, “Bisa saja Yang Mulia, namun mendung bukan berarti turun hujan atau sebaiknya Yang Mulia kembali saja ke kamar. Saya akan meminta para dayang untuk membuatkan minuman herbal dan menempatkan lilin aromaterapi yang bisa membuat Yang Mulia rileks dan cepat tertidur.” Usul Dazo yang setia setiap saat. Meski sebenarnya Dazo sendiri juga sudah mulai lelah, tapi karena tuntutan tanggung jawabnya membuat pemuda itu terbiasa menghadapi tugas dadakan seperti ini. Ia adalah penasehat kerajaan yang merangkap tugas apapun atas perintah Raja Evgen yang juga teman sedari kecilnya. “Baiklah, aku setuju, lebih baik kita segera kembali saja dan siapkan semua yang kau katakan tadi.” “Baik Yang Mulia.” Baru beberapa menit berjalan di luar, semua hal-hal yang diusulkan oleh Dazo segera dilaksanakan. Segala usaha ia kerahkan untuk bisa membuat sang pemimpin negeri ini bisa beristirahat, namun rupanya semua itu juga belum berhasil, malah anehnya lama-kelamaan badan sang raja kini mulai terasa panas dan serasa kaku di ujung kakinya. “Kenapa dengan badanku? Dazo, apa yang terjadi pada tubuhku? Cepat kau panggilkan tabib istana untuk segera ke sini!” Perintah Raja di seperempat malam dengan penuh kepanikan. “Baik, Yang Mulia!” Dengan secepat kilat Dazo berlari menyusuri lorong-lorong istana lalu keluar menuju perkampungan untuk menemui sang tabib yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari istana berada. Malam itu rupanya menjadi awal derita Raja Evgen, ia tak bisa tidur sejak hari itu. Benar saja, selang berhari-hari setelah eksekusi Surva, keanehan lain terjadi, seluruh badan Raja Evgen mulai sulit digerakkan dan lama-lama ia lumpuh karena sendi-sendi tulangnya terasa mengeras. Raja diktator itu bagaikan mayat hidup yang tak bisa apa-apa, dan lama-lama ia juga tak mampu berbicara. Ia tampak seperti mumi yaitu mayat yang sudah diawetkan. Tak ada yang bisa menyembuhkan Raja Evgen, sampai mereka mengaitkan kutukan Surva adalah penyebab dari awal derita Raja Evgen. Mereka mencoba berbagai cara salah satunya dengan instruksi Surva sebelum meninggal, dengan menyiasati kepemilikan mumi yang sudah berselubung boneka sampai berganti 7 kepemilikan, namun tak berhasil, mereka mencari keturunan Surva, namun tak satupun tersisa karena sudah dieksekusi semua. Mereka menyerah dan pada akhirnya mereka membuat sang Raja benar-benar seperti boneka yang trtonggok di atas ranjangnya. Kerajaan yang tak bisa memiliki seorang raja yang bahkan bergerak pun tak mampu untuk tetap memimpin, jadi sementara takhta diambil alih oleh saudara Raja Grigori yang tak lain Paman Raja Evgen sendiri. Seiring berjalannya waktu, hari, bulan, dan tahun tak ada perubahan juga pada Raja Evgen, akhirnya mereka menganggap sang raja tersebut sudah tiada dan meletakkan tubuh yang tampak diawetkan secara alami itu di sebuah peti khusus.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN