Kembali ke jaman modern..
500 tahun berlalu ke masa modern. Manekin Evgen yang tak karuan tergeletak di tempat sampah, setelah pemilik akan dirinya yang sebelumnya dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal yang masuk tanpa permisi ke rumah seorang kakek tua yang selama hampir seabad sudah menjaga manekin Evgen. Saat keturunan dari kakek tua itu datang dan membersihkan rumah dari semua bekas darah dan kekacauan lain, mereka menemukan manekin Evgen lalu membuangnya karena dikira ia adalah benda rongsokan yang tak guna, karena itulah ia sekarang berakhir di tempat paling menjijikan yang tak pernah Raja Evgen tapaki, hingga ia nantinya melihat seorang gadis muda bernama Gita yang akan menjadi awal kebangkitan sang Raja.
Pagi itu setelah seorang pemulung yang melewati kakinya tersandung karenanya. Pemulung yang masih muda itu lantas membuat sumpah serapah dan mengetahui diri sang raja yang dalam bentuk manekin tersebut.
“Oalah, setan! Ini ya yang sudah menghalangiku!” Kata si pemulung seraya menendang kaki manekin Evgen.
Aduh! Berani-beraninya kau! Pekik Evgen kesakitan pada area kakinya, meski sakit bahkan ia pun tak bisa sekedar mengelus kakinya itu. Evgen kemudian merasakan jika si pemulung menyingkirkan dirinya dengan kakinya secara kasar sekali lagi, lalu mengubur sebagian badannya dengan tumpukan sampah di sekitarnya. Membiarkan badan bagian atas dan kepalanya tetap terlihat.
“Jangan sampai menyandung orang lagi!” Ucap si pemulung sekali lagi sebelum meninggalkan Evgen dalam posisi yang tak sanggup ia sendiri bayangkan, meskipun sekarang ini begitulah dirinya. Ia kini berada di zaman dimana Raja Evgen bukan lagi seorang raja. Ia tidak lagi di elu-elukan maupun mempunyai sesuatu hal semacam kekuasaan lagi. Ia juga tidak mengenakan pakaian mewah khas kerajaan, tidak ada dayang-dayang, tidak ada prajurit maupun penasehatnya, tak ada Selir Dayana yaitu ibunya yang selalu ia prioritaskan. Yang ada kini hanyalah mantan seorang raja dan kini sudah menjadi seonggok boneka manekin yang lusuh, tak terurus, bau, dan terbuang. Dulu mungkin ketika ia menjadi seorang raja banyak rakyat yang bahkan mau memohon-mohon dan mencium kakinya hanya untuk meminta belas kasihan atau pun ampunan kepadanya, tapi lihat sekarang, boro-boro mencium kakinya, malahan yang ada kini ia justru ditendang oleh seorang pemulung yang apabila di zamannya mungkin si pemulung hanyalah rakyat rendahan yang hina dimata Evgen.
Hey manusia hina, kau tidak tahu siapa aku? Aku ini seorang raja! Bisa-bisanya kamu memperlakukanku seperti ini! Lihat saja, jika aku sudah kembali ke bentuk semula, aku akan merajammu atau bahkan memenggal kepalamu! Lalu aku letakkan kepalamu di atas altar, agar burung burung pemakan bangkai bisa memakan dan mematuki matamu! Teriak jiwa Evgen meronta-ronta yang tentu saja tak ada seorangpun yang bisa mendengar protesnya.
Nyatanya pemulung yang sudah tersandung karena kaki dalam bentuk boneka tersebut kini justru mengubur dirinya dengan sampah-sampah busuk yang berada di sekitar mereka. Semakin mengenaskanlah kondisi diri Evgen.
Aaaa!!! Sialan kau Penyihir Tua! Teriaknya lagi dan lagi dalam hati dan tentu saja tak seorangpun yang bisa mendengarnya, sekeras apapun Evgen mencoba berkata. Ya, Evgen hanya bisa mendengar apa kata hatinya sendiri di dalam tubuh bonekanya. Selama beratus-ratus tahun ia telah mengalami kondisi dirinya yang memprihatinkan seperti itu, belum lagi menyaksikan berbagai kejadian selama jiwanya dalam tubuh boneka tersebut, meski sudah memakan waktu beratus-ratus tahun namun sampai saat ini dia masih belum bisa menerima nasib buruk yang menimpanya.
Dasar wanita penyihir sialan! Evgen masih saja menyalahkan wanita yang sudah mengutuknya menjadi sebuah boneka manekin itu. Meski ia belum bisa menerima takdirnya, tapi dia paham kenapa semua ini bisa terjadi, tentu saja karena atas dasar kekejamannya sendirilah yang membuat dia harus menerima kutukan dari wanita yang sudah ia hukum mati dengan cara keji itu.
Hingga setelah sejam sejak ia terkubur, sebuah kejadian tentang drama seorang gadis ceroboh mengalihkan perhatian Evgen. Gadis itu mula-mula berteriak untuk memanggil seseorang yang sedang mengendarai ikan mobil khusus sampah. Evgen bisa mendengar semuanya jika si gadis yang bernama Gita itu rupanya kehilangan sesuatu dalam tumpukan sampah yang tadi sempat diangkut oleh petugas kebersihan di depannya. Jelas wajah kepanikan dari Gadis itu bahwa ia harus menemukan benda itu secepat mungkin. Peluh sudah membasahi seluruh badannya hingga membuat cap tersendiri di bajunya yang berwarna cerah. Ada adegan tawar menawar antara petugas kebersihan dengan Gita untuk turut membantu. Setelah berusaha menolak dan tak berhasil, akhirnya gadis itu mau juga dibantu.
Gadis yang menggelikan malu-malu tapi mau juga pada akhirnya. Jiwa Evgen tersenyum mengejek.
“Ada ciri-ciri khusus tidak, Neng?” Tanya si supir petugas kebersihan itu yang kemudian dijawab Gita soal ciri-cirinya..
“Ada bang, kalau sampah dari toko kami biasanya berupa kain, kertas atau bungkus makanan dan minuman cepat saji.” Mata Gita tak lepas dari memeriksa plastik-plastik itu.
“Memang ada yang terbuang ya di sini?” Tanya si petugas kebersihan sembari terus mencari..
“Iya, catatan penting, Bang.”
“Oalah…”
Namun, belum sempat mereka menemukan barang yang dicari, si supir sudah keburu mendapat panggilan yang mengharuskannya pergi dan tak meneruskan membantu Gita. Dengan berat hati pemuda itu melajukan mobilnya dan meninggalkan Gita sendirian, meskipun Gadis itu sendiri sudah mengatakan merasa terbantu oleh petugas kebersihan itu.
Entah ide dari mana, tiba-tiba Evgen membuat sugesti tersendiri untuk membantu Gita. Mula-mula ia seperti merasakan bahwa bungkusan plastik teratas adalah plastik yang dicari-cari gadis itu. Kemudian ia memfokuskan pandangannya ke plastik tersebut dan terus mengatakan pada benda itu dari jarak yang tidak terlalu jauh untuk bisa menggelinding ke bawah.
Hai kau bungkusan yang ada di atas sana, bergeraklah… bergerak.. Evgen mencoba menajamkan penglihatan dan pikirannya fokus pada satu titik saja. Ayo,kau menggelindinglah.. Benar saja, entah karena memang sedang ada angin yang lewat atau karena sugesti dari Evgen sendiri benar berhasil, tampak plastik yang berada di posisi paling atas itu bergerak-gerak sebelum kemudian menggelinding dengan bebas dan mendarat tepat di samping manekin Evgen. Tentu saja lelaki itu seakan tidak percaya pada kemampuannya sendiri dan dia beberapa saat kemudian berpikir ini pasti karena sebuah kebetulan saja.
Wah! Apakah aku baru saja melakukannya? Benar! Katanya dalam hati dengan rasa bangga. Untungnya Gita tadi sempat melihat plastik itu menggelinding, karena merasa ia tak boleh melewatkan satupun plastik maka ia pun turut memeriksa plastik yang berada di dekat manekin itu lalu membukanya. Dan ia terkejut, karena rupanya plastik itu adalah berisikan sampah dari butik tempatnya bekerja, segera dengan cara beringas ia kemudian mengacak-ngacak isi dari plastik itu dan menemukan apa yang ia cari. Secarik kertas tempel yang berisikan data-data ukuran dari klien Vvip-nya. Gita terlonjak kegirangan di tengah-tengah tempat sampah yang bau itu.
Ya, cepat segera bawa aku bersamamu gadis ceroboh… Aku sudah cukup lama di tempat hina ini. Bawalah… Evgen memberi sugesti pada orang yang sedang bahagia di depannya itu.
“Wah, beruntung sekali aku. Jadi, karena harta karun ini yang membuatku harus mengalami kesialan harus kehilangan catatan dan berakhir mengais-ais tempat sampah, ternyata semua ini untuk menemukan benda ini…” Gita memandangi setiap detail boneka manekin yang sedang dipegangnya.
“Hmm.. mungkin karena lusuh di tempat sampah makanya kondisi manekinnya kayak gini.. Ah! Tapi tenang saja, tinggal dibersihkan pasti akan bagus lagi! So, it's worth it!” Lanjut Gita lagi. Dengan susah payah akhirnya gadis itu membawa manekin Evgen keluar dari TPU sana. Ia membawa manekin itu ke kran air dan membersihkan benda itu sekenanya terlebih dahulu. Untungnya, disana juga ada sabun yang disediakan yang sebenarnya digunakan untuk mencuci tangan saja, namun setelah Gita menoleh keadaan sekitar tak ada siapapun, gadis itu dengan segera menekan wadah sabun cuci tangan itu hingga mengeluarkan cairan yang lumayan kental dan banyak sekali tertuang di atas tangannya, kemudian Gita mulai menyabuni seluruh badan boneka manekin yang sejak saat itu sudah menjadi miliknya.
“Tuh kan, benar. Baru sedikit saja dibersihkan hasilnya sudah cukup memuaskan!” Gita mengamati lagi manekinnya. Ia begitu takjub, rupanya tak hanya keren, muka dari manekinnya ternyata juga tampan!
“Wah, aku baru tahu ada wajah manekin setampan ini, buatan dari mana ya ini? Wajahnya tak seperti manekin-manekin lain yang selama ini kutemui.” Kata Gita lagi sembari terheran-heran.
“Bahkan wajah manekin ini jauh lebih tampan dari manekin-manekin milik si Boss he he he.” Bangganya. Saat itu juga ponselnya berbunyi. Buru-buru Gita meletakkan manekin itu dengan hati-hati dan mengangkat telpon yang ternyata dari Nana, sahabat dekat sekaligus rekan kerjanya yang tadi memberi tahu kemungkinan catatan tempelnya jatuh ke sampah.
“Git, kamu dimana? Aku khawatir tau. Masih belum ketemu?” Tanya Nana langsung mencecar pertanyaan.
“Baru saja. Benar-benar di tempat sampah. Aku sekarang masih di TPU tau.”
“Hah? Gila.. aku tak bisa membayangkan. Yaudah, kamu cepat kembali kesini!”
“Hei, tidak semudah itu! Penampilanku tidak karuan, aku baru saja dari pusat tempat sampah, ingat. Aku harus ke apartemen dulu untuk mandi dan ganti seragam dulu.”
“Iya juga ya, pasti kamu sekarang bau nggak ketulungan. Iuh!”
“Enak aja!”
“Yaudah, buruan gih sana pulang dulu. Aku akan laporan ke Boss kalau kamu udah berhasil nemuin tuh catatan. Dia udah uring-uringan dari tadi.”
“Oke siip, makasih. Sampaikan juga jika aku butuh bersih-bersih dulu sebelum kembali.”
“Iya.”
“Oke, bye Nanas sayang.”
“Hei tanpa S ya!”
“Haha iya Nana… S”.
Klik! Gita buru-buru menekan tombol merah pada layarnya, tak memberi Nana ruang untuk protes lagi. Ia amat lega. Kemudian Gita kembali mengangkat bonekanya dan menamatinya sekali lagi, tak hanya jauh lebih baik penampakannya tapi sekarang jadi wangi karena aroma strawberry dari sabun cuci tangan yang Gita tuangkan hampir setengah botol sendiri ke manekin itu.
“Semakin dilihat-lihat kau memang semakin tampan!” Puji Gita dengan wajah merona. Ia kemudian geleng-geleng kepala. “Sudah, sudah! Aku tak boleh banyak ngelamun! Aku harus segera kembali, atau kalau tidak si Boss bakal memotong gajiku!” Tentu saja gadis itu tak mau jika gajinya harus dipangkas, dia butuh mengumpulkan banyak uang untuk menunjang mimpi-mimpinya kelak. Menjadi seorang desainer terkenal. Pastilah butuh banyak modal.
Gita mengangkat manekin itu lagi setelah sempat memesan taxi online yang akan membawa mereka ke apartemen yang disewanya. Lima menit kemudian sebuah taxi berhenti di depan gerbang TPU. Gita yakin benar itu adalah kendaraan yang dipesannya jika dilihat dari spesifikasi dan plat nomor yang tertera di aplikasi ponselnya tadi.
“Pak, sebelah sini!” Panggil Gita melambaikan tangan kanannya. Si sopir rupanya langsung melihatnya, terbukti taxi tersebut langsung menghampirinya.
“Dengan Kak Gita?” Tanya sopir itu setelah membuka kaca jendela mobilnya. Wah, pemuda lagi! Sepertinya hari ini sedang bertabur laki-laki muda di sekitarku.
“Benar, Bang. Dengan saya sendiri.” Balasnya sembari meralat memanggil si supir itu yang tampaknya jauh jika ia sebut sebagai Bapak-bapak.
“Mau saya bantu memasukkan barang bawaannya, Kak?” Tawar pemuda itu seraya akan beranjak melepaskan sabuk pengamannya.
“Eh, nggak usah, Bang. Saya bisa sendiri kok.” Tolak Gita seraya membuka pintu mobil dan masuk bersama harta karun yang tadi ditemukannya.
“Baiklah. Ini ke tempat sesuai aplikasi ya?”
“Benar, Bang.” Tambah Gita. Beberapa detik kemudian taxi itu melaju meninggalkan TPU.
Setelah ini sepertinya kehidupannya Evgen akan berubah, setelah ia bertemu dengan Gita. Gita, seorang yang hidup biasa namun berbakat soal fashion. Melihat ada manekin tak bertuan, jiwa hematnya seakan dapat ide untuk membersihkannya dan memperbaikinya nanti, dan akan menjadikannya model untuk setiap baju yang ia buat.
Rupanya Gita merasa beruntung hari itu. Di dalam taxi, gadis itu masih sering memandang dengan kagum manekin yang diletakkannya dengan posisi terduduk di sebelah Gita. Jika dilihat sekilas, Gita tampak sedang bersebelahan dengan sosok pria atau bahkan pasangan yang sedang duduk bersama dan berdekatan. Ia benar-benar seperti menemukan harta karun di tempat sampah ketika menemukan manekin dari sang mantan raja itu. Gadis itu tahu betul berapa kisaran harga manekin temuannya itu hanya dengan melihat dari bahan, struktur, dan baut-baut yang berada di lengan manekin pria itu. Bisa-bisa ia harus merogoh setidaknya setengah dari gaji bulanannya hanya untuk membeli sebuah manekin seperti itu. Jika baru maksudnya. Ia merasa telah membuat sebuah keputusan besar dan berharga setelah membawa manekin itu. Lumayan, pikirnya bisa jadi tempat display gaun rancangannya.