“Habis ini belok ke kanan ya, Kak?" Tanya si supir ketika mendapati sebuah pertigaan. Gita yang masih fokus melihat manekin yang baru saja ia bawa kemudian memperhatikan ke depan dan setelah ia mengamati ternyata memang bangunan tempat dirinya tinggal sudah terlihat.
“Benar bang, tinggal belok saja lurus dikit nanti sudah ketemu.” Jawab Gita dengan memberikan instruksi.
“Baik, Kak.”
Sampailah taksi online itu di depan sebuah apartemen dengan terdiri dari 3 tower bangunannya yang menjulang tinggi.
“Kak, ini apakah saya harus masuk ke dalam atau biar berhenti di sini saja sehingga tak perlu bayar parkir.” Tanya sang supir lagi menimang-nimang, karena biasanya ketika dia berhenti di sebuah bandara, stasiun atau tempat umum lain, beberapa penumpangnya akan memilih berhenti di jalan saja agar tak perlu menambah bayar parkir.
“Emmm… Bagaimana ya, bang. Soalnya saya membawa barang segede ini.” Kata Gita sembari nyengir menunjukkan manekin yang sedari tadi di sampingnya.
“Oh iya. Ya sudah, berarti ini saya masuk saja begitu ya dan berhenti di depan lobby?”
“Ya bang, tak apa nanti biar saya yang bayar parkirnya.”
“Baik, Kak.”
Sampailah mereka di depan lobby, Gita lalu mengeluarkan manekinnya dari dalam taksi online tersebut dan memberikan selembar uang lima ribuan untuk parkir dan biaya masuk si supir tadi.
“Sebentar Kak, kembaliannya.” Si supir itu menahan Gita untuk tidak melanjutkan untuk pergi dan si supir tampak mengaduk-ngaduk sesuatu dalam tas selempang miliknya.
“Bang, tidak usah, kembaliannya buat abang saja.” Kata Gita karena ingin cepat-cepat sampai ke kamarnya. Rasanya ia sudah risih dengan kondisi badan dan bajunya setelah dari TPU terlebih karena ia juga membawa manekin yang tampak mencolok itu.
“Wah, terima kasih, Kak.”
“Sama-sama.” Balas Gita. Gadis itu berbalik lalu menuju ke lobby, disana sudah ada Pak Jeremy sedang kedapatan tugas menjaga pintu masuk. Gita menundukkan kepala untuk menyapa satpam yang berusia sekitar 50 tahunan itu dan si satpam pun juga menyapa balik dengan ramah.
"Pulang awal, neng Gita?" Tanya Pak Jeremy..
“Tidak pak, saya hanya sebentar saja mau meletakkan manekin ini ke kamar, baru setelah itu balik lagi ke kantor.”
“Begitu rupanya, itu bonekanya tampaknya berat sekali, saya bantu, neng?” kata Pak Jeremy sembari mendekat ke arah Gita.
“Tak usah, Pak. Terima kasih, ini enteng kok tidak seperti yang terlihat.” Balas Gita tak ingin menyulitkan orang lain.
“Baik kalau begitu, Neng. Selamat beraktifitas kembali.”
“Iya, terimakasih. Bapak juga.”
Pak Jeremy adalah satpam yang sangat ramah dan sekaligus menjabat sebagai satpam senior di apartemen ini. Gita sangat mengenal sosok Pak Jeremy, dia adalah orang yang pertama kali membantu Gita saat pindah ke apartemen ini. Membantu membawakan barang-barangnya dari atas ke lantai tempatnya tinggal dan memberitahukan peraturan dan tempat-tempat penting di sana, sebelumnya memang Gita sudah pernah kesana untuk deal-dealan dengan si pemilik apartemen, hanya sekali dan itupun tak lama karena si pemilik harus segera pergi ke suatu tempat, Gita hanya diminta untuk tau lebih jelasnya ke bagian resepsionis. Minggu berikutnya setelah selama itu dia tinggalnya di kos-kosan biasa, akhirnya ia pindah ke kamar di sebuah apartemen! Sesuatu yang selalu diimpikannya. Saat itu Pak Jeremy dengan telaten dan sabar membantu Gita, jadi tak heran jika gadis itu dan pria paruh baya itu saling kenal.
Gita berjalan lagi menggotong manekinnya menuju ke pintu kaca lobby bangunan itu, untungnya pintu itu didesain dengan bisa buka tutup secara otomatis ketika ada seseorang yang mendekat dalam jarak beberapa meter dari pintu itu. Jadi Gita tak perlu repot-repot meletakkan manekin nya dulu lalu membuka pintunya, dia hanya tinggal nyelonong saja masuk melewati lobby lalu ke arah lift berada.
Nah, di bagian ini mungkin kita sedikit kesulitan karena dia harus membawa manekin dan juga harus menyentuhkan kunci card kamarnya ke sensor lift, tapi untungnya lagi ada beberapa rombongan wanita yang Gita ketahui juga penghuni di apartemen tersebut sedang memasuki lift yang sama dengannya melihat dia tampak kerepotan membawa benda yang besar seperti boneka itu, salah satu orang tersebut menanyakan lantai di mana Gita ingin menuju.
"Lantai 30, mbak." Balas Gita.
Lalu wanita dengan long dress warna ungu menekan angka 6 dan setelah itu 30. Gita yakin para wanita itu akan menuju kolam renang apartemen ini yang memang berada di lantai 6.
"Terimakasih." Kata Gita dengan menundukkan kepala lagi. Para wanita itu tersenyum.
Ting!
Seketika angka 30 terlihat jelas saat pintu lift terbuka. Syukurlah lift kali ini tidak penuh jadi aku bisa segera sampai ke kamarku. Hanya cukup berbelok ke arah kiri lalu melewati sebuah lorong yang kanan kirinya berisikan kamar-kamar yang sebagian besar masih kosong itu tepat di tengah-tengah kita berhenti lalu menyandarkan boneka manekin nya di tembok dan membuka pintu sendiri. Ternyata bisa aja, lagipula dia tidak berharap akan ada orang yang membantunya kali ini. Ia lalu membawa masuk manekin itu ke dalam kamarnya dan meletakkannya begitu saja di pojok dekat balkon.
Gita buru-buru mencari seragamnya yang lain di antara tumpukan baju yang terlipat namun tidak rapi, lantaran ia sering mengambil baju-bajunya dengan tergesa-gesa. Gita tak juga kunjung menemukannya, akhirnya ia menaruh satu-satu baju-bajunya ke atas kasur.
“Ketemu!” Girang Gita setelah menemukan seragam keduanya berada terselip di antara warna serupa. Gita lalu membawa seragam itu masuk ke kamar mandi dan meletakkannya di rak tertinggi. Ia melepaskan semua baju kotornya dan dibiarkan begitu saja tergeletak di lantai di luar kamar mandi. ia memang tak ada waktu untuk menempatkan baju-baju kotornya itu di tempat seharusnya dan dengan segera ia mandi secara cepat kilat, hanya butuh waktu 10 menit saja, menyeka air di seluruh badannya dengan handuk dan ketika sudah memastikan tak ada air yang menempel, handuk itu kemudian dilempar begitu saja ke atas kasur melalui kamar mandi yang terbuka. Lalu ia menggunakan seragamnya yang bersih.
Gita memastikan penampilannya sudah rapi. Ia mematutkan wajah di cermin sekenanya. Menyisir rambut model bob miliknya, memberi krim siang ke wajahnya setelah itu menaburkan bedak ke wajahnya, polesan lipstik warna peach kemudian menyemprotkan eau de parfum dengan aroma powdery ke seluruh pakaiannya. Ia memakai parfum jenis ini supaya wanginya bisa tahan lama untuk sekitar 6 jam kedepan saat ia pulang dari kerja. Setelah penampilannya sudah cukup oke, ia pun berdiri dan berbalik menatap keadaan kamarnya.
“Oh My God, so messy! Ah nanti sajalah pas pulang aku bereskan.” Janjinya saat mengedarkan pandangan matanya ke seluruh kamar. Saat itu juga, pandangannya berhenti ke arah manekin Evgen. Tubuh boneka itu masih telanjang tak ada satupun baju yang melekat. Gita berinisiatif mengambil sebuah kaos oversized dan celana pendek longgar miliknya di dalam lemari, ia pun berjalan mendekati benda itu dan memakaikan pakaian yang dibawanya untuk dikenakan manekin Evgen. Untuk kaosnya pas, namun celananya mungkin terlihat kurang sesuai, Gita kemudian menilai keseluruhan tampilan benda itu dan memandang boneka itu dengan takjub.
“Kau luar biasa manekin.. Kau tampan sekali. Aku yakin kau akan menjadi model yang sempurna untuk gaun-gaun rancanganku!” Kata Gita puas. Selesai mengagumi manekin itu, Gita melirik ke jam dinding yang ada di atas televisi tempelnya. Hampir jam sebelas siang!
“Astaga! Aku harus segera kembali!” Gita langsung mengambil langkah seribu untuk segera keluar kamar dan menguncinya lalu melesat ke titik tempat dimana ia bekerja. Butik Tuan Kim.
Kini manekin Evgen sendirian di dalam kamar Gita. Gadis itu hidup di sebuah kamar apartemen berukuran paling kecil, yaitu tipe studio dengan biaya sewa yang cukup murah yaitu sepertiga dari gajinya, hanya selisih sedikit jika ia menyewa kamar kos. Bayangkan betapa murahnya bukan?!
Kenapa bisa begitu murah? Sebenarnya ada alasan tersendiri untuk itu memang. Meski dia tinggal di kamar apartemen yang cukup bagus sama seperti kamar-kamar lain dalam gedung apartemen itu, tapi ada hal yang membuat orang-orang enggan untuk menyewanya selain Gita tentunya. Rupanya usut punya usut, penghuni kamar apartemen yang sekarang Gita huni itu sebelumnya ditemukan meninggal di dalam kamar setelah beberapa hari tak ketahuan dan membusuk di dalamnya, sehingga hal itu menjadikan momok tersendiri bagi siapa saja yang berniat menyewa kamar itu jika mendengar cerita seramnya. Namun, saat tau dari tetangga yang kamarnya paling ujung, Gita memang sempat bergidik di awal mendengar ceritanya, tapi lama-lama ia terbiasa, toh dia sudah terlanjur menyewa kamar apartemen itu selama setahun dengan uang tabungannya, dapat kamar bagus dan bersih sehingga tak nampak sama sekali bekas ada orang meninggal disana, juga letaknya yang strategis dan dekat dari tempatnya bekerja. Hal-hal itu membuat Gita mengabaikan rasa takut di awalnya. Toh jiwa dari penghuni sebelumnya tentu sudah di tempat lain. Dan ia tak begitu mengkhawatirkan makhluk-makhluk tak kasat mata jika semisal ada dan tak mengganggunya maka semua aman terkendali.
Manekin Evgen ini diletakkan di tempat yang layak sekarang, berbeda sekali dengan tempat dirinya berada sebelumnya. Manekin itu di pojok kamar yang bersebelahan langsung dengan balkon. Meski teronggok di pojokan begitu saja, namun manekin Evgen bisa bernafas lega. Ia merasa tubuhnya sangat bersih dan segar kembali meski belum seutuhnya.
Gita sudah sampai di depan butik tempatnya bekerja. Meski dekat sekitar satu kilometer jaraknya dan bisa berjalan kaki dari apartemennya ke butik milik Tuan Kim, tapi tadi gadis itu memilih untuk naik ojek online saja, bagaimanapun ia harus segera sampai ke tempatnya sekarang berada dengan secepat mungkin.
“Nanas!” Panggil Gita ketika sudah sampai di ruang kerjanya dan menemukan Nana yang sedang mondar-mandir di depannya. Orang yang dipanggil menoleh, gadis yang usianya sepantaran Gita itu sumringah melihat siapa yang sudah datang dan wajahnya kemudian juga berubah menjadi asam dalam waktu tak berselang lama.
“Nana! Awas aja kalau panggil Nanas nanas mulu!” Protes gadis berambut panjang sebahu itu.
“He he he, Gimana? Tuan Kim nyari aku?” Tanya Gita.
“Ah iya! Dari kamu pergi juga udah nanyain mulu, khawatir soal tuh catatan, sana buruan ke ruangannya, suruh nyampaikan kalau kamu datang buat suruh segera kesana.”
“Oke. Aku siap.” Balas Gita memasang badan tegap.
“Siap?”
“Siap jika nanti kena omel lagi..” Jawab Gita pasrah.
“Ha ha ha, sabar ya, sudah resiko jadi cewek ceroboh!” Hardik Nana tak membantu.
“Ih resek kamu! Bukannya nyemangatin juga malah ngatain!” Gita lalu berlalu melewati rekan kerjanYa itu.
"Yaudah, Git?" Panggil Nana.
Gita berbalik, "Kenapa?"
"Fighting!" Kata mana menyemangati kita dengan menunjukkan kepalan tangan sebelah kanannya.
"Ih nggak butuh udah telat! Bye! Aku mau nemuin raja monster dulu." Sahut Gita seraya berlalu meninggalkan Nana yang cekikikan geli.
"Semoga beruntung!" Balas Nana lagi dan tak ditanggapi Gita.
Sesampainya di depan ruangan bosnya itu Gita tak langsung masuk, tapi ia merapikan kembali seragam dan juga tatanan rambutnya lagi, takut-takut apabila tadi ketika menaiki motor ada sesuatu yang acak-acakan pada dirinya, setelah memastikan dari pantulan kaca ruangan tersebut dan sudah rapi, ia pun segera mengetuk pintu.
"Masuk!" Suara berat khas Tuan Kim mempersilahkan. Suaranya masih terdengar normal. Gita deg-degan apakah lelaki itu akan masih bernada sama ketika melihat dirinya yang datang.
"Permisi, Bos. Saya Gita yang tadi.." Belum sempat tuliskan kalimatnya Tuan Kim sudah terlebih dahulu memotong pembicaraannya.
"Yah, kamu! Sini aku sudah menunggu kamu dari tadi, lama sekali!" Tuan Kim tampak mendongak dengan tatapan kesal ke arah Gita.
Tuh kan benar! Aku bakal kena damprat!
"Maaf Bos, tadi saya harus meneliti 1 box mobil sampah di tempat pembuangan sampah umum. Dan saya harus membuka satu persatu plastik sampah yang ada di sana." Gita mengakui.
"Tapi ketemu kan? Aku tidak mau ya waktu yang sudah terbuang lalu kau juga tidak bisa menemukannya." Kata Tuan Kim.
Yaelah! Ini orang negatif thinking mulu.
"Ketemu, ketemu kok Bos. Ini saya sudah bawakan catatan saya tadi." Kita lalu menyodorkan selembar kertas kecil yang ia temukan tadi dengan penuh perjuangan ke arah bosnya itu.
"Kamu itu dari tempat sampah?" Tatap Tuan Kim dengan penuh selidik.
"Iya benar Bos seperti yang sudah saya katakan tadi ini sudah ketemu silahkan diperiksa." Balas Gita dengan nada lembut meski hatinya kesal bukan main.
"Kamu mau menyerahkan catatan seperti itu yang baru saja melalang buana di tempat sampah kepadaku? Serius?!" Nada tinggi Tuan Kim sampai menyeruak keluar ruangan.
"Eh iya maaf Boss, saya salin terlebih dahulu." Bales kita setelah sadar apa kesalahannya.
"Yaudah sana ganti di catatan yang proper, dan ingat waktu selama kamu pergi tadi diganti lembur hari ini." Perintah Tuan Kim yang seketika membuat Gita melongo.
"Tapi…"
"Tapi apa? Tidak bersedia?" Tanya Tuan Kim gusar.
"Ah tidak Boss, saya akan laksanakan kok. Permisi…" Gita lalu keluar dari ruangan bosnya itu dengan muka cemberut.
Nana melihat temannya itu baru saja keluar lalu datang menghampiri, "Kenapa?"
"Aku disuruh lembur! Huh!" Dengus Gita berlalu ke arah meja kubikelnya.