Sosok Baru

2160 Kata
Setelah sambungan telepon dengan sang bunda tertutup, ponsel Qila kembali berdering, kali ini Haneul yang menghubunginya. "Ila, bisa keluar sebentar?" Qila mengerutkan keningnya "kamu dimana?" "dibawah, di depan tempat tinggalmu" Qila langsung melangkah keluar, melihat ke bawah dan memang Haneul ada disana. "sebentar" sahut Qila lalu kembali kedalam untuk mengambil kunci kamar lalu setelahnya menyusul Haneul kebawah. "temani aku" pinta Haneul langsung. "kemana?" "mini market depan, aku ingin mengobrol" Qila mengangguk, lalu keduanya melangkah menuju mini market terdekat. "kamu tunggu disini, aku pesan minum dulu." suruh Haneul. Kembali mengangguk, Qila menunggu diluar, di kursi yang memang disediakan oleh pihak mini market. Cukup lama Qila menunggu hingga akhirnya Haneul datang dengan tangan penuh belanjaan. Minuman dan beberapa bungkus makanan ringan. "ini untukmu dan bir ini untukku" Haneul menyodorkan satu botol kecil sprite kepada Qila. Lalu membuka makanan ringan untuk dimakan bersama. "ada apa?" tanya Qila kemudian, dia merasa jika ada yang aneh dengan Haneul. Meskipun mereka baru beberapa hari dekat, tapi Qila tetap merasakannya. "tidak ada, hanya lelah" jawab Haneul lalu membuka kaleng bir miliknya. Meneguknya hingga matanya tertutup seolah merasakan rasa yang sangat asam. Tapi apa mungkin rasa bir memang asam? Qila tidak tahu, dia tidak pernah mencoba. "apa terjadi sesuatu yang buruk?" Qila kembali bertanya. "Hal buruk selalu terjadi setiap hari kepadaku" jawab Haneul lagi smabil tersenyum. Bukan jenis senyum senang, tapi senyum penuh luka. Qila menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Haneul, tangannya terulur dan mengusap punggung Haneul. "aku tidak pandai menghibur orang yang sedang sedih. Tapi kata ibuku, hidup tidak akan selalu sedih dan tidak akan selaluu bahagia. Hidup akan selalu mengalami sedih dan bahagia karena waktu terus berputar. Jika kamu merasa bahwa setiap harimu buruk, itu tidak akan selamanya, bisa saja besok kamu akan bahagia" jelas Qila. "benar begitu?" Haneul kembali bertanya. "aku percaya ibuku. Jadi kalau kata ibuku seperti itu, berarti itu benar" Haneul tertawa pelan mendengar jawaban Qila "kau benar-benar dekat dengan ibumu ya" "tentu, hanya ibu dan nenek yang aku punya di dunia ini" "ayahmu?" "tidak tahu dimana" jawab Qila. Haneul mengangguk, lalu kembali meneguk minumannya. Qila meraih sprite miliknya, membuka tutupnya lalu meneguknya. Rasa tidak biasa langsung menjalar di lidahnya hingga menyernyit dan menutup matanya. "apa sprite rasa baru?" tanya Qila sambil melihat botol sprite itu. "kenapa?" Haneul balik bertanya. "rasanya aneh, tidak seperti yang aku minum saat di Indonesia" "biar aku coba" Qila langsung menyerahkan botol sprite miliknya. Haneul langsung meminumnya, bereaksi sama dengan Qila. "tidak, rasanya masih sama kok, seperti yang biasa aku minum" Qila mengangguk "mungkin rasa di Indonesia berbeda dari Korea" ucap Qila. Beberapa negara terkadang memang mengubah cita rasa produknya untuk menyesuaikan pasar. Tapi karena Qila tidak menyukainya, dia memilih tidak meminumnya lagi. "tidak meminumnya lagi?" tanya Haneul. Qila menggeleng "aku tidak suka rasanya" Haneul hanya mengangguk singkat, lalu menghela napas kasara "baiklah, aku harus pulang sekarang" "baiklah. Hati-hati" "kau pergi lebih dulu, aku akan naik taxi dari sini" Qila mengangguk, lalu melangkah meninggalkan Haneul untuk kembali pulang. Sampai di kamar, Qila langsung bersih-bersih kemudian naik ke tempat tidur. Dia butuh istirahat, sama seperti Haneul, hati Qila juga sedang tidak baik-baik saja. *** Bangun pagi, salat subuh Qila kemudian memilih membuat sereal untuk sarapannya. Matanya masih bengkak bekas menangis semalam. Tapi tidak separah hari kemarin. Qila sarapan sambil membaca beberapa materi yang akan dibahas. Jika bahasa sehari-hari, Qila mungkin tidak mengalami kesulitan, meskipun masih ada beberapa kata yang cara pengucapannya membuat Qila sedikit salah pengertian. Tapi tidak banyak. Qila bisa lebih banyak belajar melalui drama atau lagu. Lain saat di perkulihaan, terkadang masih cukup banyak kata yang Qila belum tahu. Sama seperti halnya bahasa Inggris, bahasa sehari-hari mungkin akan lebih mudah daripada bahasa yang di gunakan dalam dunia pekerjaan. Oleh karena itu, Qila kemudian mengambil kelas bahasa untuk jangka 40 minggu, semacam les yang memang disediakan oleh kampus, tapi Qiana harus membayarnya. Karena beasiswa yang Qiana dapat, tidak menanggung biaya les bahasa. Beasiswa yang Qiana dapat juga bukan dari pemerintah, tapi dari kampusnya langsung.  Selesai sarapan, Qila pergi mandi dan bersiap. Kembali menggunakan kacamata untuk menyamarkan matanya, Qila kemudian keluar. mengunci pintu dan turun dari lantai dua. Qila menyapa Bibi Im yang sedang bermain dengan anjing miliknya. Melewati mini market, Qila memutuskan untuk membeli jus terlebih dahulu. Berdiri di hadapan jajaran minuman, Qila memilih jus jeruk. Matanya tidak sengaja melihat sprite. Mengerutkan kening, Qila merasa aneh. Sprite yang di minumnya semalam terlihat beda. Apa karena efek lampu jalan? karena penasaran, Qila akhirnya menyambil satu botol sprite lagi. "perlu aku pindahkan lagi isinya?" Qila mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan sang kasir. "maksud anda?" tanya Qila balik. Mini market sedang sepi, jadi di meja kasir tidak ada antrian. "semalam temanmu mengganti isinya dengan bir, apa sekarang perlu di ganti dengan jus jeruk?" Qila terkejut hingga beberapa detik dia terdiam. Hingga saat kesadarannya kembali, dia langsung membayar dua minuman tersebut. Kakinya terus melangkah hingga berhenti di halte. Menaiku bus menuju kampusnya, pikiran Qila penuh dengan pertanyaan untuk Haneul. Haneul tahu jika Qila seorang muslim, dia tahu jika Qila tidak memakan makanan haram dan juga minuman haram. Tapi kenapa Haneul dengan sengaja membuat Qila meminum minuman haram tersebut. Apa tujuan Haneul? Apa ini yang dimaksud Haneul dengan dirinya yang aneh? Sampai di kelas, kali ini Qila mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Haneul. Saat matanya melihat Haneul yang tengah duduk dengan tangan menopang kepalanya, Qila langsung menghampiri. "aku kecewa kepadamu" ucap Qila sambil meletakkan botol sprite di hadapan Haneul dan tanpa menunggu respon, Qila langsung berjalan ke belakang, tempat diamana dia biasa duduk. Qila menarik napas dalam dan perlahan mengembuskannya. Perkara rindu saja belum bisa diobati, kini tambah perkara lain. Menyebalkan. Perkuliahan dimulai, Qila memaksa dirinya sendiri untuk fokus. Dia tidak ingin membuat sang bunda kecewa dengan tidak fokus pada pendidikan yang tengah di tempuhnya. Perkuliahan selesai, Qila langsung merapihkan barang miliknya kedalam tas, dia tidak akan ke kantin. Dia akan pergi ke perpustakaan. Qila menyapa penjaga perpustakaan, lalu melangkah mencari tempat yang paling nyaman untuknya. Tempat paling sepi yang bisa menenangkan pikirannya. Memilih tempat paling pojok, Qila duduk di salah satu kursi, meletakkan tas nya di meja, Qila kemudian menelungkupkan wajahnya di meja. Baru beberapa saat Qila menelungkupkan wajahnya, tubuhnya langsung tersentak saat rasa dingin terasa di lehernya. Dengan cepat Qila mengangkat wajahnya. Sosok seorang laki-laki yang belum pernah Qila lihat sebelumnya tengah tersenyum lebar kepadanya. Baiklah, sosok dihadapan Qila inilah pelakunya, pelaku yang membuat Qila tersentak. Tapi siapa dia? "untuk kamu" ucapnya sambil menyodorkan satu kaleng minuman dingin yang dipakai mengagetkan Qila. Qila diam, hanya mengerutkan kening melihat kaleng minuman tersebut, dia takut hal kemarin malam kembali terjadi. "kamu tidak suka jus jeruk?" Tanyanya sambil menarik kembali minuman tersebut. "kamu siapa?" tanya Qila kemudian. Laki-laki itu tertawa pelan, menjaga agar tawanya tidak membuat keributan di perpustakaan. "Kamu tidak pernah melihatku?" laki-laki dengan wajah sangat tampan itu balik bertanya. Qila hanya menggeleng sebagai jawaban. "aku Axel. Axel Park. Kita satu kelas, aku duduk dibaris belakang. Kau tidak pernah melihat?" Lagi, Qila hanya menggeleng membuat pemilik nama Axel itu kembali tertawa tanpa suara. "jangan selalu menunduk, angkat wajahmu dan kau akan menemukan wajah tampan ku di hadapanmu" ucapnya dengan bangga. Well, dia memang tampan, Qila sudah akui itu. Tapi Qila tidak mengira bahwa laki-laki itu begitu percaya diri. Vibe seorang Park Chanyeol dari grup EXO Qila rasakan di sosok laki-laki tampan yang juga memiliki tubuh tinggi tersebut. Getar, percaya diri. "aku memperhatikanmu, dua hari ini matamu selalu sembab. Ada orang yang merundungmu?" Qila menggeleng "tidak ada" jawabnya pelan. "benar tidak ada?" Axel memastikan Kali ini Qila mengangguk "tidak ada" "baiklah. Lalu, kenapa kau menangis?" "hanya merindukan ibuku" jujur Qila. "bisa kita berbicara di luar?" Qila diam, lebih tepatnya ragu. Jika menerima, dia takut orang tersebut melakukan hal buruk. Tidak menerima-pun, Qila takut orang itu sakit hati dan melakukan hal buruk juga. "aku tidak akan melakukan hal jahat"  Axel seolah mengerti dengan keraguan Qila. "kita berbicara di tempat terbuka, kalau aku berbuat jahat, orang akan dengan mudah melihatnya" lanjut Axel lagi. Meyakinkan Qila. Qila akhirnya mengangguk, Axel tersenyum lalu bangun dari kursi. Menunggu Qila, mereka kemudian keluar perpuskaan bersama. Axel membawa Qila ke kursi dibawah pohon dekat lapangan sepak bola. Tempat yang benar-benar aman untuk Qila. "kita belum kenalan dengan benar, aku Axel Park" Axel tersenyum sambil menyodorkan tangannya. "Qila, Qila Anaia" ucap Qila sambil membalas jabat tangan Axel. "Kau bukan orang Korea, tapi wajahmu terlihat ada keturunan Korea. Apa aku salah?" Qila menggeleng "betul. Ibuku dari Indonesia, ayahku dari Korea Selatan" "kita sama, memiliki darah campuran. Ibuku dari Korea dan ayahku dari Kanada. Dua hari ini matamu sembab karena rindu ibumu, memang ibumu kemana? maaf kalau aku lancang" "ibuku di Indonesia. Aku tinggal sendiri disini. Aku kira tidak ada yang sadar jika mataku sembab" jawab Qila. "tidak tahu yang lain, apakah mereka sadar. Tapi karena aku selalu memperhatikan kamu, aku tentu saja sadar" "hah?!" "jangan berpikir buruk. Aku juga tidak tahu kenapa selalu memperhatikan kamu" Qila hanya mengangguk, tidak tahu harus menjawab apa lagi. "kau benar tidak mau?" Axel kembali menyodorkan minuman kaleng yang sebelumnya di tawarkan saat di perpustakaan. Qila menggeleng "terakhir, aku meminum sprite, tapi tapi seseorang menggantinya dengan bir" Mata Axel membulat "tapi ini jus jeruk asli" Qila tertawa pelan "aku tidak bermaksud melukaimu, hanya sedikit takut" "kau tidak meminum bir? kau sudah legal bukan?" "aku hanya makan dan minum yang halal" Axel mengangguk, tanpa dijelaskan dia sudah sangat mengerti "kau harus lebih hati-hati" "iya, aku akan lebih berhati-hati" Axel melihat jam yang melingkar di tangannya, kelas selanjutnya akan dimulai sepuluh menit lagi "ingin kembali ke kelas? sepuluh menit lagi akan dimulai" Qila mengangguk. Axel tersenyum lalu bangun "ayo. Kita ke kelas" ajaknya kemudian. Qila berjalan bersama Axel, laki-laki itu benar-benar tinggi. Qila bahkan hanya setinggi d**a laki-laki itu. Qila jadi membayangkan seberapa tinggi seorang Park Chanyeol. Apa lebih tinggindari Axel? Memasuki kelas, Qila duduk ditempat biasa, sedangkan Axel duduk di sebelahnya. Disudut lain, Haneul yang melihatnya hanya tersenyum samar. *** Kelas selesai, seperti biasa, Qila akan langsung pulang. "aku antar pulang" ucap Axel mengikuti langkah Qila keluar kelas. "tidak perlu, aku biasa naik bus" tolak Qila. "kali ini naik motor, dengan ku" Axel tetap berusaha. "aku tidak ingin merepotkan" "aku sama sekali tidak merasa di repotkan" "tapi-" "jangan mencari alasan lagi. Aku akan lebih senang jika kau jujur dan bilang kalua kita masih canggung untuk pulang bersama" Qila hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Rasanya aneh karena laki-laki yang baru dikenalnya hari ini langsung mengantarkan pulang. "aku hanya ingin kita lebih akrab. Bagaimana?" Axel menghentikan langkah, menatap Qila. Qila mengangguk ragu, dia tidak enak untuk menolak "baiklah" jawabnya kemudian, sedikit merasa terpaksa. Axel tersenyum lebar, lanjut melangkah bersama Qila menuju parkiran. "aku tidak membawa helm lain, aku akan mengendarai dengan hati-hati" ucap Axel. Qila mengangguk, beruntung dia menggunakan celana jeans. Axel kemudian naik ke motornya, "pegang ke pundak ku jika kau kesulitan" ucap Axel kemudian. Qila tersenyum singkat, lalu menaiki motor sambil memegang pundak Axel. Motor Axel memang cukup tinggi untuknya, tapi tidak untuk sang pemilik yang memang berkaki panjang. "Kita makan siang dulu, kau belum makan siang" ucap Axel saat mereka berhenti di salah satu cafe. Qila tidak bersuara, hanya langsung turun dari motor dan di susul Axel. "kau sedang jauh dengan keluargamu, jangan sampai kau sakit dan membuat mereka khawatir" lanjut Axel. "ayo" ajaknya kemudian. Qila mengikuti langkah Axel masuk kedalam cafe, kemudian duduk di hadapan Axel saat Axel sudah lebih dulu duduk. "tenang, tidak ada daging babi yang di jual disini." ucap Axel lalu menyodorkan menu kepada Qila. Qila membaca menu tersebut, lalu memilih memesan spageti dengan campuran ayam dan lemon tea untuk minum. Axel memilih memesan makanan yang sama, hanya untuk minum, dia memesan ice coffee latte. "bagaimana rasanya tinggal di Korea?" Axel membuka obrolan sambil menunggu pesanan mereka. "masih asing" jujur Qila. "sudah memiliki banyak teman?" Qila menggeleng "aku tidak pandai mencari teman." "kenapa?" "ketika ingin menyapa, aku takut dikira aneh" Axel tertawa pelan "memang ada orang yang akan berpikiran seperti itu, tapi ada juga yang tidak. Aku salah satunya. Aku akan senang jika kau menyapa" Axel kembali menyombongkan diri. "aku percaya" jawab Qila lalu tersenyum. "lalu bagaimana dengan materi belajar?" "aku harus belajar lebih giat, aku masih terkendala beberapa kata yang tidak ku mengerti" "mulai besok, aku akan duduk di sebelahmu. Kau bisa bertanya langsung jika ada yang tidak kau mengerti" "tidak, aku tidak mau merepotkan" "tidak ingin merepotkan atau kau memang tidak suka?" "bukan seperti itu, hanya saja-" "saja saja, kau bingung karena ada laki-laki yang datang dan begitu cerewet meminta ini dan itu kepadamu. Maaf kalau kau tidak nyaman" Axel memotong ucapan Qila dengan cepat. "aku benar-benar tidak ingin merepotkanmu, hanya itu." "tidak, aku yang menawarkan, jadi aku sama sekali tidak merasa di repotkan" "terima kasih" tulus Qila. Meskipun terasa aneh, dalam hati kecilnya kali ini Qila merasa bersyukur. Ternya masih ada orang lain yang mau menghampirinya dan berbicara dengannya lebih dulu saat dia sendiri takut memulai berkomunikasi dengan yang lain. Berharap agar Axel tidak melakukan hal buruk kepadanya seperti apa yang telah Haneul lakukan. Semoga. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN