Seperti pagi-pagi sebelumnya, Qila akan bangun lalu salat subuh, kemudian sarapan baru setelahnya mandi dan siap-siap. Kali ini Qila sedang menyantap sarapannya, sereal cokelat dengan s**u ditemani buku mata kuliah hari ini. Tidurnya cukup nyenyak dan seperti biasa, dia selalu menghubungi bunda terlebih dahulu sebelum tidur.
Ponsel Qila bergetar, tanda panggilan masuk. Sebuah panggilan dari Axel. Qila segera menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel di telingan kanannya.
"halo Qila"
"iya, ada apa Axel?"
"aku di bawah, di depan tempat tinggalmu"
Sontak mata Qila membulat setelah mendengar jawaban Axel. "ka-kamu dimana?"
"dibawah, di depan tempat tinggalmu" ulang Axel.
"sedang apa?"
"menjemput kamu, bisa keluar sebentar?"
"aku belum siap" jawab Qila dengan cepat.
Axel tertawa pelan "keluar dulu" pinta Axel lagi.
Qila menghela napas, lalu menuruti ucapan Axel. Dia keluar kamar, lalu melihat ke bawah. Axel langsung melambaikan tangannya. "aku sudah izin kepada Bibi Im, aku akan berkunjung ke kamarmu" ucap Axel kembali membuat Qila terkejut.
"ta-tapi-"
"aku tidak akan melakukan hal buruk, percaya kepadaku" Axel memotong ucapan Qila sambil terus melangkah, menaiki undakan tanggga hingga sampai di lantai dua.
"good morning" ucapnya setelah di hadapan Qila.
"mo-morning" jawab Qila, tergagu.
Axel kembali tertawa melihat ekspresi Qila, dia memang mudah tertawa, sekalipun itu hal sederhana. "aku tidak melakukan hal buruk, kau bahkan bisa membuka pintumu selama aku di dalam, boleh aku masuk?" tanya Axel.
Dengan ragu akhirnya Qila mengangguk "n-ne" Qila kembali masuk, disusul Axel berjalan megikutinya.
"silahkan duduk" Tidak ada sofa ruang tamu, hanya kursi makan.
"kau sedang sarapan? maaf mengganggu" ucap Axel tidak enak saat melihat sereal milik Qila diatas meja.
"tidak masalah, kau sudah sarapan?" tanya Qila. Sejujurnya, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana, dia canggung. Dia belum pernah sedekat ini dengan laki-laki. Di Indonesia dulu, belum pernah ada laki-laki yang dekat dengannya. Axel adalah laki-laki pertama dan dia tidak tahu bagaimana bersikap kepada Axel. Dia benar-benar amatir.
Axel menggaruk belakang kepalanya "sebenarnya, aku ingin mengajakmu sarapan, baru kemudian ke kampus" jujur Axel. Selain mudah tertawa, Axel juga selalu bicara apa-adanya, meskipun sambil malu-malu.
"aku tidak punya makanan Korea. Tapi, mau aku coba masakkan sesuatu?" tanya Qila dengan nada tidak yakin.
Wajah Axel langsung terlihat senang, seperti anak kecil yang mendapat permen, Axel mengangguk semangat "jika tidak merepotkan"
"tapi aku tidak terlalu pandai memasak"
"tidak masalah, ibuku juga tidak pandai memasak, tapi aku tetap pandai menghabiskannya"
Qila tertawa pelan dengan jawaban Axel. Dia lalu mengangguk dan kembali bangun, berjalan ke dapur, tepat di belakang Axel. Dia masih memiliki nasi, juga memiliki bumbu instan nasi goreng.
Memindahkan nasi kedalam piring, Qila mencoba membuat agar nasi bisa lebih dingin saat dia gunakan untuk nasi goreng.
Lanjut menyediakan bahan lainnya. Telur, sosis dan daun bawang. Hanya itu yang ada di dalam kulkas. Qila kemudian memotong sosis menjadi bagian lebih kecil dan terakhir memotong daun bawang.
Qila kembali memeriksa nasi, setelah tidak terlalu panas dan Qila yakin tidak akan menggumpal, dia masuk ke tahap berikutnya, pengolahan.
Pertama memasukkan telur dan mengorak-ariknya. Kemudian memasukkan sosis yang telah dipotongnya, setelah cukup matang, lanjut memasukkan nasi dan daun bawang. Aduk hingga rata dan yang terakhir memasukan bumbu nasi goreng, diaduk lagi hingga benar-benar rata. Setelah melakukan tes rasa dan sudah sesuai, Qila langsung mematikan kompor. Memindahkan nasi goreng tersebut kedalam piring. Ini pertama kali dia memasak nasi goreng sejak dia di Korea.
Qila kemudian membawa piring berisi nasi goreng kehadapan Axel, menyiapkan alat makan untuknya dan juga toples berisi kerupuk ikan yang dia bawa dari Indonesia. Hanya kerupuknya, toplesnya dia membeli sendiri di Korea.
"semoga cocok dengan lidahmu" ucap Qila sambil kembali duduk di kursinya, dihadapan Axel.
Axel tersenyum dengan lebar "ini lebih dari cukup, aku akan mulai makan. Terima kasih untuk makanannya"
Qila mengangguk, memilih menunggu respon Axel setelah mencoba nasi goreng buatannya. "bagaimana? tidak enak?" tanya Qila kemudian.
Axel menggeleng "ini lebih dari enak. Aku suka"
"benar? kau tidak sedang berbohong?"
"aku tidak berbohong. Ini enak, aku tidak keberatan jika nanti kau membuatnya lagi" jujur Axel.
Qila tersenyum, lalu mengangguk. Menarik mangkuk berisi sereal miliknya, dia lanjut sarapan paginya dengan ditemani Axel. Baiklah, meskipun awalnya aneh, tapi sekarang terasa tidak buruk. Setidaknya, ada orang yang menemaninya makan. Itu menyenangkan.
Keduanya lanjut makan sambil sesekali mengobrol, Qila juga mulai memberanikan diri untuk lebih banyak bertanya, salah satunya bertanya tentang beberapa kata yang masih asing untuknya.
"kau sudah mandi?" tanya Axel setelah sarapan mereka selesai.
Mata Qila membulat, terkejut dengan pertanyaan Axel.
Axel langsung tertawa "maksudku, kau bisa pergi mandi dan aku yang akan mencuci piring"
"tidak, biar nanti aku yang kerjakan"
"aku bisa, cepat pergi mandi" canda Axel dengan nada suara seolah mengusir Qila.
Qila terpaksa menuruti, dia langsung berjalan menuju lemari, mengambil baju lalu underwear yang kemudian dia selipkan kedalam baju gantinya untuk dia bawa ke kamar mandi. Tidak ada sekat di ruangan ini dan Qila belum segila itu untuk mengganti pakaian di depan lemari dan menjadi tontonan Axel.
Setelah Qila masuk kedalam kamar mandi, Axel langsung mencuci piring dan teflon bekas Qila memasak nasi goreng untuknya. Dia juga mengelap meja makan agar kembali bersih. Tidak butuh waktu lama dia menyelesaikannya.
Menunggu Qila selesai, Axel hanya duduk dan memainkan ponselnya, meskipun tidak ada dinding pembatas, tapi Axel cukup tahu diri untuk tidak melangkah menuju area tempat tidur, dimana tempat tersebut jelas sebagai area pribadi milik Qila.
Qila selesai, dengan canggung dia keluar kamar mandi.
"jangan malu, kalau kau ingin make up dan lainnya, silahkan. Jangan sungkan, ini tempatmu" ucap Axel kemudian seolah tahu isi hati Qila.
Mengangguk singkat, Qila berjalan ke meja belajar sekaligus tempat menyimpan segala skincare miliknya. Mulai rutinitasnya, menggunakan skincare lalu memoleskan bedak tipis dan liptint agar dia tidak terlalu pucat. Dia melakukan semuanya dengan buru-buru, tidak enak membuat Axel menunggu sekaligus dia juga masih ada rasa malu dan canggung.
"siap?" Axel melihat Qila yang jauh lebih segar.
Qila mengangguk "sudah"
"baiklah, ayo kita berangkat"
Keduanya kemudian keluar, Qila mengunci pintu terlebih dahulu sebelum berangkat dan Axel menunggunya. Baru setelahnya mereka turun. Kali ini Axel membawa dua helm, dia menyerahkan helm berwarna hitam dengan beberapa garis berwarna pink.
"aku baru membelinya, buat kamu pakai" ucap Axel tiba-tiba saat Qila sedang memakai helm.
"terima kasih" ucap Qila. Dia tidak tahu harus menjawab apa selain itu.
Axel tersenyum lebar, lalu menaiki motornya dan di susul Qila.
"hati-hati! jangan mengebut!" teriak Bibi Im yang tiba-tiba keluar dari rumah.
Axel tertawa "siap. Kami berangkat bi" balas Axel lalu mulai menjalankan motornya. Sepertinya Axel termasuk orang yang mudah bergaul dengan siapapun.
***
"percaya diri, angkat wajahmu dan mulailah berani menyapa" ucap Axel saat keduanya berjalan menuju kelas dari arah parkiran.
"aku hanya bingung" sahut Qila.
"tidak perlu bingung" Axel tersenyum dan menatap Qila.
Qila hanya mengangguk, keduanya memasuki kelas. Axel menyapa beberapa orang, terdengar mereka cukup akrab.
"Qila, annyeong!" Qila langsung menatap orang yang menyapanya. Sosok laki-laki yang sebelumnya terdengar menyapa Axel.
"A-annyeong" jawab Qila sedikit gagu.
laki-laki itu tertawa pelan dengan respon Qila, bukan meremehkan, hanya merasa jika Qila lucu "sama seperti Axel, aku juga tidak menggigit dan aku Jaehan."
Qila tersenyum singkat lalu mengangguk "n-ne" jawabnya.
Axel yang tahu jika Qila masih canggung dan kurang nyaman, langsung mengajak Qila untuk pergi duduk, meninggalkan Jaehan yang bersiap menggombali mahasiswi lain yang baru masuk.
Kelas dimulain, kali ini matakuliah yang cukup sulit untuk Qila. Dibandingkan mata kuliah lain, sepertinya mata kuliah kali ini yang harus menjadi fokus utama Qila dan harus lebih banyak dipelajari.
"bagaimana?" tanya Axel setelah kelas selesai.
"sulit" jujur Qila.
Axel tertawa "kita bisa belajar bersama"
Selama pelajaran, Axel memang banyak membantu Qila. Dia juga berjanji akan menjelaskan beberapa kata yang Qila catat karena kurang mengerti.
"terima kasih" jawab Qila lalu tersenyum. Dia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Axel. Mungkin karena sifat Axel lah yang membantunya perlahan menghilangkan rasa canggung.
"tidak ada kelas lagi, keberatan jika aku mengajakmu pergi?"
"kemana?"
"coffe shop" jawab Axel langsung.
"tapi aku harus pergi berbelanja"
"tidak masalah, aku temani"
"aku-"
"tidak ingin merepotkan? kau tidak akan pernah membuatku merasakan itu, kau sama sekali tidak merepotkan" Axel memotong ucapan Qila.
Qila tersenyum "terima kasih"
"ayo kita pergi"
Tanpa malu dan canggung, Axel menamani Qila ke salah satu pasar. Qila mengetahui letak pasar dari bibi Im, menurut Bibi Im, harga di pasar jauh lebih murah dan bisa membantu menghemat uang.
Qila banyak membeli sayur dan buah. Ayam dan daging, dia tidak membelinya karena bingung harus dimasak seperti apa.
Dari pasar, Axel langsung mengantar Qila pulang dan karena Axel sudah sangat membantunya hari ini, Qila menawari Axel untuk makan siang yang sudah snagat terlambat.
Karena Qila masih dalam tahap belajar, dia tidak akan memasak yang sulit, selain dia ragu dengan rasanya nanti, dia tidak ingin membuang bahan makanan yang baru di belinya, juga, yang paling penting adalah dia tidak ingin menjadi tersangka tunggal karena membuat perut Axel sakit.
Qila memutuskan untuk membuat omelet mie instan dan sup kentang dengan wortel. Dia juga masih memiliki tempe kering balado untuk tambahan lauknya.
"kau memiliki adik?" tanya Axel yang sejak tadi hanya duduk. Karena Qila yang menyuruhnya tetap diam saat Axel menawarkan bantuan.
"tidak ada, aku anak satu-satunya" jawab Qila sambil membalikan omelet.
"sama sepertiku. Apa ibumu marah saat kau memilih kuliah di Korea? atau malah ibumu sendiri yang meminta?"
Qila menggeleng "ibuku sangat marah saat tahu aku berencana kuliah di Korea, aku bahkan hampir membatalkannya"
"lalu?"
"lalu ibuku berubah pikiran dan mendukungku"
"senang mendengarnya, lalu ibumu sekarang sendirian?"
Qila menghela napas "iya, ibuku sekarang sendirian. Tapi aku meminta agar sering-sering pergi ke rumah nenek" jawab Qila lalu meraih piring untuk omelet. Sayur juga sudah matang, mencari aman, Qilla tetap menggunakan bumbu instan.
"apa sekarang aku boleh membantu?" tanya Axel.
"silahkan" jawab Qila.
Axel tersenyum, segera bangun dan melangkah mendekati Qila.
"bisa tolong siapkan piring? untuk ku, tolong piring biasa, aku belum terbiasa menggunakan mangkuk nasi" jujur Qila.
"baik, aku siapkan" Axel membuka salah satu pintu kabinet. Mengeluarkan piring, sendok dan juga garpu. Lalu membawanya ke meja dan menatanya.
Qila memindahkan sayur kedalam mangkuk, untuk dia dan juga Axel. Lalu mengeluarkan tempe kering balado yang dia bawa dari Indonesia dan membawa nya ke meja makan.
Hingga tidak butuh waktu lama, makanan sudah tersusun rapih. lengkap dengan minum dan nasi yang sudah lebih dulu mengisi piring.
"hanya ini yang bisa aku sajikan" ucap Qila sedikit malu, mungkin menu ini sangat jauh dari menu yang ada di meja makan Axel.
Axel tertawa pelan "ini lebih dari cukup. Bisa kita mulai makan?"
"tentu, silahkan"
"ini apa?" Axel menunjuk tempe kering balado.
"itu tempe, tidak terlalu pedas"
Axel mengangguk, lalu menyendok tempe kering tersebut dan menaburkan keatas nasi hangatnya.
"ini enak!" ucap Axel setelah menelan kunyahan pertamanya.
Qila tersenyum senang, wajah Axel memang terlihat jika dia benar-benar suka.
"makan yang banyak"
Axel mengangguk, tanpa sungkan dia makan dengan lahap. Hingga potongan omelet dalam piring habis, begitu juga dengan tempe dan sayur, semua bersih.
"aku suka semuanya" jujur Axel dengan senyum lebar.
"aku senang semuanya habis" sahut Qila.
"terima kasih, semua enak"
"sama-sama. Terima kasih juga sudah banyak membantu hari ini"
"tidak masalah, sekarang aku bantu mencuci piring lagi"
Qila mengangguk, Axel mencuci piring dan Qila yang membersihkan meja. Lalu memotong buah untuk makanan penutup.
"sudah sangat sore, aku akan pulang" ucap Axel setelah memakan buah yang disediakan Qila, mereka juga mengobrol beberapa topik, film, buku maupun musik.
"besok aku jemput lagi, kunci pintunya" setelah berada di luar, didepan pintu kosan Qila.
"hati-hati" ucap Qila.
Axel tersenyum, lalu mengangguk. Dia pamit lalu turun. Qila mengunggu hingga Axel benar-benar pergi. Setelah sosoknya tidak lagi terlihat, Qila kemudian masuk dan mengunci pintu. Dia lupa jika belum salat. Bahaya!
***
"assalamualaikum Ila, sayang"
"waalaikumsalam bunda"
"gimana hari ini? lebih baik? sudah lebih nyaman?"
"baik bunda, Ila sudah lebih nyaman sekarang"
"kuliah kamu gimana sayang?"
"lancar bunda, cuma susah banget"
Sang bunda tertawa pelan "nanti juga bisa yang penting fokus dan di ulang lagi belajarnya"
"iya bunda. Bunda udah di rumah?"
"sudah sayang, bunda baru nyampe. Kamu udah makan?"
"sudah bunda"
"syukur kalau begitu. Gimana, udah nambah temen?"
"alhamdulillah bunda, satu orang laki-laki"
"laki-laki?"
"iya bunda"
"orangnya gimana? baik?"
"baik bunda, sopan juga. Dia banyak bantuin Ila"
"ganteng?"
Qila tertawa pelan"ganteng, kaya Chanyeol EXO bun" jawab Qila lalu kembali tertawa.
"bunda gak hapal personil EXO, bunda tahunya cuma Siwon"
"ya bunda kan emang gitu, semua grup penyanyi laki-laki disebutnya Super Junior"
"tapi bunda juga suka Jo In-sung"
"iya, Jo In-Sung sama Siwon. Kalau ayah, ganteng gak bun?"
"dulu siih ganteng kalau menurut bunda, gak tahu kalau sekarang. Jelek kali"
"bunda" rengek Qila.
Bunda kembali tertawa "loh, itukan mungkin aja La, namanya umur, siapa tahu ayah kamu udah keriput"
"bunda! emang dulu bunda nikah sama om-om?"
"engga. Ayah kamu lebih tua satu tahun dari bunda"
"ya berarti masih ada gantengnya lah"
"lebih ganteng Jo In-Sung sama Siwon"
"terserah bunda deh"
"La" panggil sang bunda dengan nada suara lebih rendah
"iya bunda"
"ingat pesan bunda ya, kalau memang ayahmu sudah punya keluarga, tolong jangan hancurkan. Ayah sudah menjadi bagian masalalu bunda, jangan kita rusak kebahagian mereka."
"iya bunda. Ila akan ingat itu" jawab Qila.
"sekarang Ila salat isya, setelah itu tidur ya"
"iya bunda"
"assalamualaikum sayang"
"waalaikumsalam bunda"
***
Bersambung