Keluarga

2172 Kata
Sesuai dengan ucapan Axel sebelumnya, hari ini Qila kembali di jemput. Hanya saja, Qila tidak menyiapkan sarapan karena Axel membawanya. Axel bilang, makanan yang dia bawa langsung dimasak oleh ibunya sendiri. "apa tidak merepotkan?" tanya Qila sambil memindahkan lauk yang dibawa Axel. "tidak, ibuku memang suka memasak. Akan sangat senang ketika semua masakannya habis. Tapi aku tidak menjamin rasanya" Qila hanya tersenyum "masakan ibu akan terasa lebih enak meskipun rasanya sederhana" balasnya. "aku setuju kalau itu." Setelah siap, keduanya memulai sarapan. "Oh iya, boleh aku bertanya?" Tanya Axel sambil mengunyah makanan di mulutnya. Qila mengangguk "silahkan" "boleh aku tahu siapa orang yang sudah menukar isi minuman milkmu? apa aku kenal?" tanya Axel. "Haneul. Masih satu kelas dengan kita" Axel mengangguk "iya, aku tahu. Beberapa hari dia memang bersama kamu. Tapi kenapa? apa kalian bertengkar?" "tidak tahu, malam itu Haneul hanya memintaku untuk menemaninya, dia membelikan aku sprite dan dirinya bir. Saat aku minum, rasanya berbeda dari yang aku tahu. Aku pikir itu sprite rasa untuk negara Korea. Tapi ternyata Haneul menukarnya dengan bir" jelas Qila. Axel mengangguk "kau tidak bertanya alasannya?" "belum, aku terlanjur kecewa" Keduanya kemudian melanjutkan sarapan. Selesai sarapan, Axel kembali mencuci piring sedangkan Qila mandi dan bersiap. Tidak terlalu lama, mereka keluar lalu berangkat menuju kampus. Di kelas, Qila sudah merasa lebih nyaman. Axel memang membawa pengaruh baik dalam hal sosialisasinya. Qila sudah berani mengakat wajah dan memperhatikan sekeliling. Sesekali juga mulai membalas sapaan meskipun masih canggung. Kelas dimulai, Qila juga mulai merekam. Mecoba fokus, Qila mencatat poin-poin penting atau bahasa yang belum di mengertinya. Hingga kelas selesai, Qila menghela napas sedih saat melihat catatannya. Masih banyak kata yang dia kurang ketahui. Dia harus meningkatkan jam belajarnya. "kenapa?" tanya Axel saat melihat wajah Qila nampak murung. "masih ada beberapa kata yang tidak aku mengerti" jujur Qila. Axel tertawa pelan, bukan meledek "jangan sedih. Sekalipun murni orang Korea, mereka juga pasti mengalaminya. Ketika kamu di Indonesia, kamu juga pasti menemukan beberapa kata yang tidak kamu mengerti, padahal itu bahasa Indonesia , bahasa pertamamu, bahasa sehari-harimu. Jadi normal saat sekarang kamu bilang bahwa ada beberapa kata yang belum kamu mengerti" jelas Axel. Qila tersenyum, ucapan Axel rasanya membuat semangat Qila meningkat. "kau cocok menjadi motivator" canda Qila. Axel kembali tertawa "itu terlalu sulit" "coba saja dulu" "tidak. Mereka bisa berada dalam jalan sesat" "termasuk aku" "kecuali kamu" Qila hanya tertawa pelan. Kembali memasukkan barang-brang miliknya kedalam tas. "bagaimana kalau minum kopi?" tanya Axel. Qila menatap Axel tidak enak, lalu kepalanya menggeleng pelan "aku akan ke perpustakaan. Aku sudah ada janji" jawab Qila. Semalam, Grace menghubunginya. Qila juga menceritakan kesulitan yang di alami dalam hal belajar dan siang ini dia janji bertemu dengan Grace di salah satu perpustakaan. "janji? dengan siapa?" "teman dari Indonesia" Axel menghela napas "baiklah, perlu aku antar?" "tidak, aku akan naik bus agar terbiasa dan hapal" tolak Qila, kali ini dia benar-benar tidak ingin merepotkan Axel. "baiklah. Kalau terjadi sesuatu, hubungi aku" Qila mengangguk "terima kasih" jawabnya lalu tersenyum. Axel balas tersenyum, lalu keduanya keluar dari kelas. Axel bahkan menemani Qila di halte, menunggu bus yang akan Qila naiki lalu pergi saat bus itu datang. *** Qila tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada Grace yang baru datang. "maaf telat" "tidak apa, aku juga belum lama datang" jawab Qila. Dia memang baru sekitar lima menit menunggu Grace. "gue-lo aja kali ya La, biar enak dan akrab" Qila mengangguk, sejujurnya dia kurang nyaman karena Grace lebih tua. Tapi lebih tidak nyaman kalau dia menolak. "jadi bagaimana? kita mengobrol dulu sebelum masuk. Lo tahu sendiri kalau di dalem pasti gak bakal boleh ngobrol. Bisa di usir" lanjut Grace. "gimana apanya nih?" Qila balik bertanya. "kuliah lo, lancar gak?" "lancar, cuma masih kendala sama beberapa kata yang gak gue tahu artinya" "normal. Gue juga gitu kok, bahkan sampe sekarang. Selama lo ngerti garis besar yang dosen lo omongin. Masalah teratasi. Gue bahkan dulu sempet ambil kelas bahasa satu tahun" "iya, catetan gue jadi lumayan banyak banget jadinya. Belum lagi sama les nya juga" Grace tertawa "yoms, yang penting jangan dibikin stress. Terus gimana sama lingkungan. Aman? gak ada yang bully kan?" "syukurnya gak ada, cuma kalau temen, emang belum banyak. Gue kan gak pinter buat kenalan" Grace kembali mengangguk "gak apa-apa, selama lo nyaman dan gak ada yang bully, itu cukup. Tapi lo juga jangan ansos, kalau ada yang mulai kenalan, lo balas juga." "iya, siap" "udah yuk, kita masuk. Gue banyak banget tugas, perlu banyak referensi jadinya" ajak Grace kemudian. Keduanya kemudian masuk ke perpustakaan. Lalu berpencar mencari buku sesuai kebutuhan masing-masing. Qila mendapatkan dua buku untuk mendukung mata kulaih yang menurutnya paling sulit. Dalam mata kuliah tersebut, setidaknya Qila harus menghapal dua bahasa. Satu bahasa Korea dan satu lagi bahasa Inggris, karena terdapat beberapa istilah dalam bahasa Inggris. Grace duduk di sebelahnya, buku yang didapanya lebih banyak. Qila mulai membaca dan mencatat, begitu juga dengan Grace yang mulai membaca dan sesekali mengetik di laptop yang dia bawa. Qila mengucek matanya, sudah terasa perih karena terlalu lama membaca dan terkena AC atau air conditioner. Dilihatnya jam yang ada di ponsel, ternyata sudah hampir empat jam dia berada di perpustakaan. Sebuah rekor untuk dirinya. "udah selesai La?" tanya Grace sambil bisik-bisik. Qila mengangguk, dia sudah jauh lebih mengerti tentang materi yang di sampaikan oleh sang dosen beberapa saat lalu. "balik yuk" ajak grace kemudian, masih berbisik. "ayok" jawab Qila. Keduanya kemudian bersiap. Qila mengembalikan buku yang dibacanya ke tempat semula. Tapi tidak untuk Grace, dia sudah terlalu malas. Disini, jika kita tidak mengingat letak buku, kita bisa meninggalakn buku tersebut di meja, nanti petugas yang akan menyimpannya kembali, daripada kita salah meletakkan buku tersesbut yang ada itu menambah pekerjaan untuk petugas karena harus mencarinya lalu meletakkan ke tempat semula. Untuk Grace, anggap saja dia lupa tempat buku-buku itu. "lo udah jalan-jalan kemana?" tanya Grace saat keduanya sudah melangkah keluar perpustakaan dimana langit sudah menggelap. "belum kemana-mana. Masih adaptasi mana sempet jalan-jalan. Paling belanja ke minimarket" "yaudah, sekalian aja sekarang. Kita ke Myeongdong, belanja" Grace menaik turunkan kedua alisnya. Qila tersenyum, lalu mengangguk, membuat Grace senang dan menarik Qila agar berjalan lebih cepat. Sampai di Myeongdong, suasana cukup ramai. Bukan hanya oleh orang Korea, tapi wisatawan asing juga. "ini jalan terkenal di Seoul, seperti yang lo liat, semua ada. Kosmetik sampe jajanan ada disini. Kalau jodoh, lo juga bisa papasan sama masyarakat +62" jelas Grace. Mulai mengeksplor Myeongdong, Qila dan Grace masuk kedalam beberapa toko skincare, Qila membeli masker cukup banyak, sedangkan Grace membeli bedak dan lipstik. Karena Qila merasa tidak ada yang perlu dia butuhkan lagi, Qila memilih untuk membeli beberapa jajanan. Dia tidak tinggal di Korea dalam satu hari, jadi dia tidak akan menghabiskan banyak uang hanya untuk hari ini. Masih ada waktu cukup panjang untuknya, kalau dia ingin dan butuh, dia bisa kembali lagi nanti. Qila tengah memakan hotteok, pancake khas Korea. Ada beberapa macam isian untuk hotteok, mulai dari gula, sirup, kacang hingga madu dan kali ini Qila membeli untuk isian gula dan kacang. Saat tengah memakan jajanannya, ponsel Qila bergetar. Dirogohnya kantong celana untuk melihat siapa yang menghubungi, dan ternyata Axel menghubunginya. "Ila, where are you?" tanya Axel langsung saat Qila sudah menekan tombol hijau dan baru menempelkan ponsel tersebut ke telinga. Karena Axel memiliki darah campuran Kanada, sesekali dia memang suka menggunakan bahasa Inggris. "Myeongdong, why?" tanya Qila balik. "dengan siapa?" Axel kembali bertanya, dengan bahasa Korea. "dengan teman" "kau bilang akan ke perpustakaan" "iya, setelah selesai kami ke Myeongdong. Ada apa?" "kau masih lama?" tidak mejawab, Axel malah balik bertanya. "tidak juga, mungkin sebentar lagi pulang" "tunggu, aku akan kesana" "tapi untuk ap-" Ucapan Qila belum selesai dan Axel sudah menutup panggilannya. Mata Qila kemudian membulat saat melihat banyak pesan yang masuk dari Axel. Karena terlalu fokus, Qila jadi tidak sadar jika ada pesan masuk, ponselnya juga sedang dalam mode getar.  "siapa?" tanya Grace yang sejak tadi sesekali mengamati. "temen. Katanya mau kesini" "ogitu, bagus deh. Jadi lo pulang ada temennya. Ada yang mau lo beli lagi?" Qila menggeleng "engga deh, cukup dulu. Bingung mau beli apa lagi, belum ada yang dibutuhin banget" Grace mengangguk "oke kalau gitu. Temen lo masih lama?" "gak tahu, kenapa Grace?" "gue kalau balik duluan gak apa-apa?" Grace balik bertanya. "gak apa-apa Grace, silahkan aja." "beneran?" Qila mengangguk "beneran, gak apa-apa. Sok aja kalau mau pulang duluan" "okedeh kalau begitu. Tapi nanti lo kabarin gue kalau udah nyampe kosan ya" "siap. Nanti gue kabarin" "okedeh Qil, bye" "bye. Hati-hati" "lo juga, hati-hati nunggu disini" "sipp" Grace pergi, dan Qila mencari tempat paling nyaman untuk menunggu Axel, dan setelahnya, dia langsung mengirim pesan kepada Axel tentang dimana keberadaannya. Sepuluh menit Qila menunggu, Axel dengan motornya berhenti tepat di hadapan Qila.  "maaf menunggu lama" ucap Axel sambil menyerahkan helm untuk Qila. "maaf sudah merepotkan" balas Qila sambil menerima helm dari Axel. "tidak. Aku memang sedang berada di sekitar sini" Qila mengangguk, lalu menaiki motor sambil memegang pundak Axel seperti biasanya. "sudah?" "sudah" jawab Qila sedikit lebih keras. Axel menganggk, lalu mulai menjalankan motornya. Seperti biasa, Qila akan berpegangan pada ujung jaket Axel jika Axel mengendarai dengan kecepatan sedikit lebih tinggi atau sedang menyalip kendaraan lain agar terhindah kemacetan. Motor Axel bukan motor sejuta umat rakyat +62 yang bisa berpegangan di besi belakang jok atau yang tidak berpegangan juga aman, gak mudah oleng. "kita makan malam dulu" Axel sedikit berteriak agar suaranya terdengar. "apa?" tanya Qila sambil memajukan sedikit tubuhnya ke Axel. "kita makan malam dulu" ulang Axel lebih keras lagi. "iya" jawab Qila kemudian. Dia kembali memundurkan tubuhnya. Axel menghentikan motornya tepat dihadapan sebuah restoran. Qila membaca nama restoran tersebut langsung membulatkan matanya. Restoran Indonesia!" "jadi kita akan tetap duduk dimotor?" tanya Axel, menggoda Qila yang belum juga turun. Qila langsung tersenyum malu, dia senang sampai tidak sadar untuk turun. "maaf" ucapnya setelah turun dari motor. Axel tersenyum lebar "tidak masalah, mau selama apapun kamu duduk, aku tidak masalah. Hanya perut kita saja mungkin yang akan meraung" ucapnya sambil turun dari motor Qila tertawa pelan, lalu membuka helm dan menyerahkan kepada Axel. "ayok" ajak Axel kemudian. Qila mengangguk, mengikuti langkah Axel. Senyumnya langsung terbit saat aroma masakan Indonesia tercium dan memenuhi seuluruh dalam restoran. Seyum Qila tidak luntur bahkan setelah mereka memesan. Matanya terus mengedar, melihat sekeliling restoran. Rasa rindunya terhadap tanah air cukup terobati. "kau senang?" tanya Axel. "sangat. Terima kasih sudah membawaku kesini" Axel ikut tersenyum lebar "disini kau aman memilih makanan" "iya, sekali lagi. Terima kasih" Ponsel Qila berdering, setelah mendapat panggilan dari Axel, dia kembali mengatur mode suaranya. Kali ini sang bunda yang menghubunginya. "assalamualaikum Ila, sayang" "waalaikumsalam bunda" "Ila dimana?" "Ila lagi makan bun" "dirumah? atau di luar?" "di luar bun, Ila makan diluar" "makan apa? hati-hati La kalau makan diluar, pastikan halal" "iya bunda, Ila lagi makan di resto Indonesia sekarang" "iya? syukur deh, kalau disana insyaallah aman" "iya bunda, bunda sudah makan?" "belum, bunda lagi mau siap-siap ke rumah nenek. Nanti makan bareng sama nenek aja" "ogitu, salam buat nenek juga ya bunda." "iya sayang. Oh iya, kamu makan sama siapa? sendirian?" Qila melirik Axel sebentar "engga, Ila sama temen kok bunda" "ciyeee, laki-laki yang kemarin di ceritain?" "iya" jawab Ila yang entah kenapa merasa malu. "yaudah, kamu makan yang lahap ya. Bunda tutup teleponnya" "iya bunda" "dah sayang" "dah bunda" Qila meletakkan ponselnya di meja setelah sambungan telepon dengan sang bunda selesai.  "dari Indonesia?" tanya Axel Qila mengangguk "iya, ibuku" jawabnya kemudian. "ibumu sehat?" "iya, sangat sehat" "baguslah. Apa ibumu kerja?" Qila kembali mengangguk "iya, ibuku kerja, seorang perawat" Pesanan mereka datang, senyum Qila semakin lebar. Dia memesan ayam goreng sambal ijo dan Axel memesan nasi goreng. Selesai berdoa, Qila langsung mengeksekusi makanan yang membuatnya menelan air liur. Wajahnya juga benar-benar senang saat rasa masakan tersebut ternyata sesuai ekspektasinya.  "enak?" tanya Axel, dia senang melihat wajah Qila  Qila mengangguk dengan semangat "enak. Ini benar-benar enak"  "baguslah. Aku tidak salah memilih tempat" "iya, kau memilih tempat yang benar" sahut Qila dan keduanya tertawa pelan. Melanjutkan makan, sesekali mereka akan tetap mengobrol agar tidak terlalu sepi dan aneh. Axel juga terkadang menceritakan bagaimana kondisi keluarganya yang menurutnya aneh tapi bagi Qila sangat hangat. Menceritakan bagaimana sosok ayahnya yang akan selalu kalah oleh sang ibu atau selalu bertingkah layaknya mereka adalah pasangan muda. Qila sesekali tertawa saat otaknya memvisualkan cerita Axel.  "kau pasti sangat menyayangi mereka" "tentu saja, meskipun terkadang mereka aneh, aku sangat menyayangi mereka" "bagus. Tetap harus seperti itu. Kau lebih beruntung daripada aku" Seolah tersadar, wajah Axel langsung berubah "maaf" "tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah" jawab Qila sambil tersenyum. "Kau bisa menganggap orang tuaku juga keluargamu, ku pikir mereka akan senang jika memiliki anak perempuan" goda Axel. Qila tertawa pelan "mungkin mereka akan lebih menyayangiku"  Wajah Axel dibuat seolah-olah dia sedih "lalu aku akan kabur dari rumah dan marah kepada mereka" Qila mengangguk "betul, kau harus kabur dan aku akan menjadi anak mereka satu-satunya"  "tidak" jawab Axel dan keduanya tertawa. Tidak ada yang begitu lucu, hanya berbicara dengan orang yang nyaman, tertawa akan terasa begitu mudah, tanpa atau dengan suatu hal yang lucu. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN