Qila fokus membaca, hari ini dia harus kembali bertemu dengan mata kuliah yang menurutnya paling susah. Mengetahui kesulitan itu, Qila selalu berusaha untuk membaca terlebih dahulu sebelum dia berangkat kuliah.
Seperti biasanya, Axel akan menjemputnya dan mereka berangkat bersama. Tapi kali ini Axel memberinya kabar jika dia akan datang sedikit terlambat. Tidak seperti biasanya yang akan datang lebih awal untuk sarapan bersama.
Sambil membaca, Qila sesekali menggigit roti yang dia beri selai cokelat. Hingga ponselnya berdering, memunculkan nama Axel dilayar.
"aku sudah dibawah, ayo berangkat" ucap Axel langsung.
"baik, sebentar" Qila menjawab lalu menutup telepon dengan Axel. Memasukan buku kedalam tas, termasuk ponsel. Roti yang belum habis dia bawa dengan tangan kirinya. Keluar kosan, mengunci pintunya lalu berjalan cepat turun kebawah.
"sedang sarapan?" tanya Axel saat Qila sudah ada di hadapannya dengan tangan yang memegang roti yang tinggal sedikit.
Qila mengangguk "sambil membaca" tambahnya.
Axel tersenyum, menyerahkan helm kepada Qila dan tanpa aba langsung mengigit roti dari tangan Qila hingga perempuan itu tersentak, terkejut.
"untukku saja" ucap Axel sambil mengedipkan sebelah matanya.
Qila hanya tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya, lanjut memakai helm dan ketika siap, dia langsung menaiki motor. Mereka berangkat dengan Axel yang mengendari motor tidak terlalu kencang.
Sampai di parkiran, Qila turun lalu melepas helm dan memberikannya kepada Axel. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan tumbler atau botol minum kepada Axel.
"kau makan roti tapi belum minum" ucap Qila.
Axel tersenyum dan menerimanya "ternyata kau pengertian juga" canda Axel lalu minum.
"aku menghabiskan setengahnya" Axel menunjukkan air yang tinggal setengah botol lagi.
Qila tertawa, lalu meraih botol tersebut "namanya di minum, pasti berkurang"
Axel ikut tertawa, keduanya kemudian melangkah bersama menuju kelas.
Hampir dua minggu bersama Axel, Qila merasa banyak perubahan perasaan. Salah satunya adalah dia yang sudah tidak takut atau sungkan lagi saat didalam kelas. Dia sudah berani menyapa orang terlebih dahulu. Axel juga yang mengajarinya.
"coba besok mulai menyapa lebih dulu, sapa orang yang biasanya menyapa kamu" ucap Axel.
Awalnya memang akan merasa takut, takut malah di lihat aneh. tapi setelah di coba, respon orang itu membuat Qila senang. Tidak melihat aneh, malah balas menyambut lebih hangat.
Tapi hingga saat ini, hubungan dengan Haneul masih tidak ada perubahan. Qila memilih diam, rasanya masih kecewa saat di khianati oleh orang yang baru kau coba jadikan sebagai kepercayaan.
Duduk di tempatnya, Qila merasa gugup. Berdoa agar materi bisa terserap baik oleh otaknya. Selain itu, dosen di mata kuliah ini juga lebih tegas dibandingkan dosen di mata kuliah lain. Menambah kegugupan Qila.
"tenang saja. Hari ini dosen tamu yang datang" ucap Axel yang tahu jika Qila tengah gugup.
Qila langsung menatap Axel yang ada di sampingnya "maksudmu?"
"Kau tidak ingat? minggu lalu Prof Kim bilang, jika minggu ini ada dosen tamu yang menggantikan dirinya dalam beberapa pertemuan"
"benarkah?" Qila cukup terkejut dengan informasi dari Axel.
"tentu, aku tidak pernah berbohong, kau tahu itu. Kau lupa?"
Qila mengangguk "aku sama sekali tidak mengingat ucapan Prof Kim"
"Jangan terlalu tegang. Lebih santai. Materi tidak akan mudah kau mengerti jika terlalu tegang" ucap Axel.
Hampir sepuluh menit, Profesor Kim datang bersama satu orang pria yang Qila tebak sebagai dosen tamu.
Dari wajah, pria itu tidak terlalu tua tapi tidak terlalu muda juga. Seperti ahjussi (paman) dalam drama korea. Sudah berumur, tapi tidak nampak menua.
Profesor Kim membuka perkuliahan, mengenalkan pria yang akan mengisi perkuliahannya. Bukan hanya sebagai pengajar, pria tersebut ternyata seorang pengusaha dan pemilik yayasan sosial, bergerak dalam melindungi anak-anak yang mengalami kekerasan. Hingga ketika Profesor Kim mengatakan pria itu bernama In Sung, Qila langsung menggigit bibir dalamnya. Menahan tawa atau senyum lebar. Ingatan saat dia dan ibunya melakukan panggilan suara dan berdebat mengenai pria tampan. Jo In Sung dan Choi Siwon adalah dua pria pria kebanggaan sang ibu. Sayangnya, In Sung yang dihadapan Qila, bukanlah In Sung yang sang ibu idolakan.
Profesor Kim keluar, kelas diambil alih oleh Dosen In Sung. Berbeda dengan pembawaan Profesor Kim, Dosen In Sung lebih santai. Semester ini adalah pertama kalinya dia menjadi dosen tamu.
Hingga waktu terus berjalan dan perkuliahan harus selesai. Beberapa mahasiswa lain langsung mengeluh, meminta dosen In Sung agar selamanya mengajar dan menggantikan Profesor Kim. Dosen In Sung hanya tertawa pelan dan bilang bahwa itu tidak mungkin, dia sudah memiliki banyak kesibukan saat ini.
"jika masih ada yang kalian tidak mengerti dengan penjelasan saya, kalian bisa mengirim email atau menghubungi saya secara langsung" ucapnya sebelum keluar dari kelas.
Qila menghela napas lega. Materi yang di sampaikan cukup banyak yang dapat dia mengerti.
"ada yang belum kau mengerti?" tanya Axel.
"hanya beberapa kata yang aku belum tahu artinya" jujur Qila.
"kita bisa membahasnya nanti"
Qila mengangguk, lalu memasukkan buku catatan dan ponselnya kedalam tas.
"kita makan siang. Hari ini kita akan pulang sore" ajak Axel.
Keduanya menuju kantin, Qila kembali hanya memakan roti dan jus strawberry.
"kau benar-benar seperti akan menjadi seorang model" sindir Axel karena porsi makan Qila yang benar-benar sedikit.
Qila tertawa pelan "aku bahkan terbiasa tidak makan dari pagi sampai sore, selama satu bulan" ucap Qila membuat mata Axel membulat sempurna karena terkejut.
"jangan berbohong. Aku hampir percaya"
"aku tidak berbohong! setiap tahun, aku akan berpuasa. Selama satu bulan, dari pagi sampai sore" jelas Qila.
Axel memundurkan duduknya hingga punggunya menempal pada sandaran, "wow, luar biasa. Bravo" ucap Axel sambil mengacungkan dua jempolnya.
"bahkan anak kecil juga melakukannya"
"aku bahkan akan langsung merengek kepada ibuku jika sedikit merasa lapar"
"sekarang aku tahu, kenapa kau bisa memiliki tubuh tinggi"
"aku banyak makan" bangga Axel.
Qila tertawa pelan "lanjutkan makan mu, akan kurang enak jika sudah dingin"
Selesai makan, mereka istirahat sebentar sebelum akhirnya kembali ke kelas. Masih ada satu matakuliah yang harus mereka hadapi.
***
"langsung pulang?" tanya Axel sambil menyerahkan helm kepada Qila.
Qila mengangguk, lalu memakai helm "iya, aku ingin langsung istirahat. Tubuhku begitu lelah"
"kau sakit?" wajah Axel terlihat khawatir.
"tidak, hanya butuh istirahat"
"kalau begitu, ayo. Kita harus segera pulang" Axel langsung naik keatas motornya.
Qila tersenyum, lalu naik ke atas motor. "seperti biasa saja, tidak usah ngebut"
"okay, lets go" Axel mulai menjalankan motornya.
Setelah beberapa saat mereka bergabung dengan pengguna jalan raya lain, Axel akhirnya menghentikan motor tepat di depan tempat tinggal Qila.
Qila turun denga pelan, perutnya kini terasa sakit. Sepertinya dia akan datang bulan.
"terima kasih" Qila menyerahkan helm sambil tersenyum.
"wajahmu pucat"
"tidak apa-apa. Aku ke atas dulu"
Axel mengangguk "hubungi aku jika terjadi sesuatu"
Qila mengangguk, lalu meninggalkan Axel, dia harus segera kedalam kamarnya.
Membuka sepatu dengan cepat lalu melemparkan tas nya dengan sembarang, Qila langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Perutnya terasa semakin melilit. Tubuhnya juga sedikit demam. Hingga akhirnya dia tertidur sambil menahan sakit.
Dering ponsel membangunkan Qila. Perutnya masih terasa sakit tapi tidak sesakit sebelumnya. Melirik sekitar, Qila mencari keberadaan tasnya. Sambil meringis, Qila kemudian turun dan berjalan menuju meja makan, tempat dimana tas nya berada.
Ponselnya terus berdering, Qila duduk di kursi agar mengurangi rasa sakit lalu mengeluarkan ponselnya. Axel menghubunginya.
"hallo La"
"hallo" jawab QIla dengan suara pelan.
"La? are you okay?" suara Axel berubah khawatir.
"hanya sakit perut" jawab Ila.
"perlu ke dokter?"
"tidak, hanya sakit perut karena datang bulan. Xel, aku tutup ya, aku harus ke toilet"
"baiklah, kabari aku jika butuh bantuan"
"iya, terima kasih"
Setelah menutup sambungan, Qila langsung pergi ke kamar mandi, sepertinya darahnya sudah keluar. Beruntung Qila sudah menyiapkan pembalut,jadi dia tidak perlu keluar lagi untuk membeli.
Setelah bersih-bersih sekaligus mandi, Qila langsung memakai piyama. Dia tidak akan pergi keluar lagi. Untuk makan malam, dia akan membuat mie goreng saja nanti.
Mengisi air hangat kedalam tumbler, Qila lalu menempelkannya ke perut, mencoba meredakan nyeri yang dia rasa. Setelah terasa lebih baik, Qila memilih untuk menonton film di laptopnya. Mencoba mengalihkan rasa sakit dan tidak nyaman yang dia rasakan.
Film sudah di pertengahan, pintu kosan Qila di ketuk cukup kencang membuat Qila terkejut. Turun dari tempat tidur, Qila berjalan menuju pintu.
"Qila, ini aku. Axel"
Qila membuka pintu, Axel berdiri di hadapannya dengan wajah terlihat cemas.
"are you okay?" tanya Axel langsung
"yes, I'm okay"
"boleh aku masuk?"
Qila mengerjap "yeah, tentu." jawab Qila lalu bergeser, memberikan jalan untuk Axel masuk. Baru setelah Axel masuk, Qila menutup pintu.
"aku tidak tahu apapun. Tapi aku membeli apa yang ibuku bilang" Axel meletakkan kantong plastik diatas meja makan.
Qila mengerutkan keningnya "untukku?"
Axel mengangguk "iya, untukmu"
Qila membuka plastik tersebut. Matanya membulat saat menemukan beberapa bungkus pembalut. "kau yang membeli ini?"
Axel menggaruk kepala belakangnya "iya, aku yang membelinya"
"terima kasih. Kau pasti malu"
Axel tersipu "iya, aku cukup merasa malu saat di depan kasir"
Qila tersenyum, kembali memeriksa isi kantong plastik. Selain pembalut, ternyata ada cokelat juga. "terima kasih" ucap Qila tulus. Dia benar-benar tersentuh dengan apa yang Axel lakukan.
"kau sudah makan malam?" tanya Qila kemudian.
Axel menggeleng "belum" ucapnya kemudian.
"Aku ingin membuat mie, kau mau?" tawar Qila.
Axel mengangguk dengan semangat "tentu"
"baiklah, tunggu dulu. Aku akan memasak sekarang"
"terima kasih"
Axel melihat sekeliling, matanya menemukan laptop menyala diatas kasur. "kau sedang menonton?" tanya Axel kemudian.
Qila menoleh sebentar "iya, tadi aku sedang menonton"
"boleh aku bawa laptopnya kesini?" Axel menunjuk meja makan.
Qila mengangguk "silahkan"
Axel tersenyum, lalu belajan ke arah kasur Qila, meraih laptopnya dan kembali ke meja makan. Meletakkannya disana.
Sedangkan Qila, kini dia tengah memasukkan potongan sayur kedalam air mendidih. Lanjut membuka bungkus bumbu dan menuangkannya ke piring besar. Selanjutnya memasukkan mie. Karena dia tidak suka tekstur mie yang terlalu lembek, jadi tidak butuh waktu lama untuk Qila mengangkatnya, meniriskan lalu mencampur dengan bumbu didalam piring.
Mie goreng selesai. Lalu membawanya hadapan Axel.
"wow, wangi" Axel menghirup wangi mie.
Qila tersenyum, membawa piring lain, sendok juga garpu untuk dia dan Axel "silahkan" ucap Qila sambil meletakkan piring dan alat makan tersebut ke Axel.
Axel menyendokkan mie ke dalam piringnya "wanginya beda dengan yang biasa aku makan" ucap Axel.
"ini bukan produk Korea" ucap Qila.
"pantas" Axel meniup mie yang ada di garpunya, lalu melahapnya. "ini enak!" Axel mengacungkan jempolnya kepada Qila.
Qila hanya tertawa pelan melihatnya. Mie goreng memang lebih jago dari penggombal ulung. Dia selalu berhasil menarik hati orang lain, bahkan di pertemuan pertama.
***
Hari sabtu, waktunya untuk Qila di kosan seharian. Karena tubuhnya juga masih lemas efek datang bulan, hari ini dia hanya ingin tidur dan makan. Tapi mungkin kalau bosan, dia akan melakukan aktifitas lain.
Axel semalam pulang setelah lima belas menit selesai makan. Dia tidak mungkin membiarkan Axel tinggal terlalu malam. Meskipun Bibi Im tidak melarang dan memperbolehkan, tetap saja Qila tidak mungkin melakukan itu.
Meraih ponselnya yang berada di samping bantal, Qila mengirim pesan kepada sang bunda, di Korea sudah pukul tujuh, di Indonesia berarti baru pukul lima pagi dan bundanya pasti sudah bangun.
Tidak lama ponsel Qila berdering, bukan membalas pesan, sang bunda malah menelepon Qila.
"assalamualaikum bunda" sapa Qila, suaranya masih serak, khas bangun tidur.
"waalaikumsalam sayang, gimana perutnya? masih sakit?" tanya sang bunda. Qila memang memberi tahu sang bunda perihal sakit perutnya lewat pesan barusan.
"udah engga bunda, semalem aku kompres terus pake air anget. Cuma badang lemes banget"
"hari ini libur kan? istirahat aja di kamar"
"iya bunda, Ila gak mau keman-mana kok"
"air putih jangan lupa. Banyakin minum"
"iya bunda, siap"
"oh iya, minggu depan bunda mau kirim paket ya. Ada cemilan, sambel, pokoknya yang pasti lolos pengiriman, bunda kirim"
"terima kasih bunda. Tapi bun, lain kali bunda yang kesini langsung ya"
"iya, kalau bunda bisa cuti lama. Bunda usahakan. Itu juga kalau dapat izin dari nenek"
Qila tertawa, begitu juga sang bunda. Mereka sangat tahu sebenci apa sang nenek kepada hal mengenai Korea. Dibanding sang bunda, neneknya Qila lah yang mengalami trauma. Jika sang bunda dulu hancur, maka neneknya jauh lebih hancur. Melihat anak kesayangannya di usir begitu saja oleh sang mertua. Hati ibu mana yang tidak sakit melihatnya.
"yaudah, bunda tutup dulu ya. Bunda mau beres-beres sekalian masak buat sarapan"
"jadi kangen masakan bundaaaa" rengek Qila.
"sabar, udah ya. Kamu juga jangan lupa sarapan"
"iya bunda"
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam, bunda"
Bangun lalu duduk bersandar ke kepala tempat tidur, Qila sedikit meregangkan tubuhnya. Diam sejenak memikirkan menu sarapan yang mudah. Dia sedang malas makan sereal. Teringat telur yang ada di kulkas, Qila akan memasak dadar telur. Dadar telur, nasi hangat dan kecap rasanya sudah cukup nikmat untuk pagi ini.
Turun dari tempat tidur, Qila langsung ke kamar mandi. Mencuci wajahnya dan gosok gigi. Lanjut ke dapur, Qila membuka kulkas, melihat isi kulkas lalu mengeluarkan telur. Mengocok telur, Qila lanjut menggorengnya, dia hanya menambahkan sedikit garam saja di telur tersebut.
Menunggu matang, Qila menyiapkan nasi, lalu memindahkan telur ketika matang tepat keatas nasinya. Membuka kabinet di depan kepalanya, Qila mengeluarkan kecap, menuang ke atas nasi dan telur. Sempurna. Sangat Indonesia bagi Qila.
Sambil memakan sarapannya, Qila teringat dengan rumah sakit tempat dimana bundanya dulu bekerja. Dia harus kesana. Bagaimanapun, perjuangannya belum selesai ini belum seberapa. Masih terlalu dini untuk menyerah.
***
Bersambung