-Qila's POV-
***
Ini hari minggu, aku masih punya libur sebelum besok kembali masuk kuliah. Axel mengajakku pergi hari ini. Kondisiku juga sudah lebih baik, sudah tidak merasakan sakit dan tubuh sudah tidak terlalu lemas. Mungkin efek kemarin aku istirahat seharian di kosan. Hanya tidur, makan, menonton.
Aku tidak tahu kemana Axel akan mengajakku pergi. Dia hanya bilang acaranya santai dan aku bisa memakai baju casual. Jadi aku putuskan menggunakan celana jeans hitam dengan kaos putih polos. Simple dan nyaman. Untuk tempat ponsel dan dompet, aku memilih sling bag ukurang kecil.
Melirik jam, Axel mengabarkan jika dia akan datang dalam waktu tiga puluh menit lagi. Setiap aku bertanya kemana kita akan pergi, dia selalu bilang rahasia dan itu cukup membuatku penasaran. Tempat pilihan Axel selalu berhasil membuatku senang dan kali ini aku benar-benar penasaran.
Menunggu Axel, aku duduk di tempat tidur, membuka aplikasi i********:. Aku orang yang jarang mengupload sebuah foto, lebih sering berada di posisi penikmat foto orang lain.
Melihat update terbaru dari Bunga, aku jadi penasaran. Aku klik namanya dan langsung profilnya terbuka. Followers Bunga meningkat cukup banyak dari yang terakhir aku tahu. Sepertinya dia berhasil menjadi mahasiswa baru hits di kampusnya.
Keluar dari profil Bunga, aku kembali men-scroll sambil sesekali berhenti ketika melihat produk baru atau apapun yang menarik. Hingga notifikasi dari Axel muncul, dia sudah ada di bawah.
Segera aku meraih tasku, memakai sandal tali atau bisa disebut juga dengan sepatu-sandal. Aku keluar dan mengunci pintu terlebih dahulu baru setelahnya turun.
Axel tersenyum melihat kedatanganku dan aku balas tersenyum. Hari ini dia cukup tampan, well, mungkin lebih tepatnya setiap hari dia memang tampan.
"Kita memakai kaos yang sama, kau mengikutiku" canda Axel sambil menyerahkan helm.
Aku langsung melirik kaos yang Axel pakai lalu milikku, kami sama-sama menggunakan warna putih. Tapi Axel menggunakan jaket sebagai outer.
"haruskah aku ganti baju?" tanyaku juga sebagai canda sambil memakai helm.
"tidak perlu. Terlihat lebih baik seperti ini" balas Axel.
Aku hanya tersenyum, lalu menaiki motor. "kita mau kemana?" tanyaku saat perlahan motor bergerak.
"rahasia" jawab Axel sedikit lebih kencang.
Aku memukul pelan punggungnya, lalu memutuskan diam dan berpegangan ke ujung jaket Axel.
***
Sampai di parkiran. Aku masih belum tahu dimana dan mau apa. Aku turun dari motor, lalu membuka helm. Axel juga turun, dia mengulum senyum sambil melihatku.
"lihat ke belakang" suruh Axel.
Aku langsung berputar, sesuai perintah Axel. "Namsan?" tanyaku kemudian sambil menatap Axel.
"yes. Aku tahu, selama ini kau belum pernah jalan-jalan. Hari ini aku akan menjadi tourguide mu. Setidaknya kau harus upload satu foto dan memberi tahu jika kau sedang di Korea"
Aku tertawa mendengar penjelasan Axel. Pertama dan terakhir adalah saatu aku bersama Grace, aku belum sempat melakukan eksplor lagi.
"ayok" ajak Axel kemudian.
Aku mengangguk senang. Lalu melangkah bersama Axel. Menaiki undakan tangga yang cukup banyak.
"lelah?" tanya Axel.
"aku mengangguk"
"mau istirahat atau aku gendong?"
"tentu saja istirahat" jawabku, tidak mungkin aku memilih opsi gendong. Memang aku anak kecil? Menaiki tangga cukup banyak sambil menggendongku akan membuat Axel patah tulang. Aku tidak seringan kapas.
Axel tertawa, kami lalu berhenti sebentar untuk mengobati lelah.
Setelah tenaga kembali terkumpul, kami lanjut melangkah hingga akhirnya berhenti di tempat gembok. Lebih tepatnya gembok cinta. Karena akan aneh jika Namsan tapi tidak ke gembok cinta. Begitu menurut orang-orang.
"ingin memasang?" tanya Axel.
Aku mengangguk
"denganku?" tanya Axel lagi.
"dengan ibuku" jawabku kemudian lalu tertawa pelan.
"aku kira denganku" sahut Axel lagi sambil menggaruk belakang kepalanya.
Aku membeli gembok dan spidol. Menulis namaku dan bunda, mungkin jika aku punya pacar, aku akan menulis nama pacarku. Sayangnya belum ada.
Selesai menulis, aku memasang gembok tersebut, lalu memotretnya untuk aku kirim kepada bunda.
"berdiri disana, aku akan memotretmu" suruh Axel.
Aku patuh, berdiri dengan latar gembok-gembok yang terpasang lalu tersenyum menatap kamera.
"sudah" ucapku. Aku memang tidak terlalu suka di foto. Malu lebih tepatnya.
Axel tertawa pelan. "nanti aku kirim" ucapnya kemudian. Dia memang memotret dengan ponsel miliknya.
Selesai di Namsan, Axel kembali membawaku berkeliling, bahkan aku juga sempat berfoto bersama beberapa patung boneka idol yang berjajar di jalan Gangnam. Hingga akhirnya kami berhenti di sebuah cafe untuk makan siang yang bisa dikatakan cukup terlambat.
Aku memesan makaroni panggang dan Axel spageti. Sedangkan minum, kami berdua memesan lemon ice.
"sudah lelah?" tanya Axel.
"lumayan, tapi tidak begitu." jawabku.
Axel mengangguk "masih ada satu tempat lagi"
Aku menatap Axel terkejut, masih ada? rasanya seperti aku sudah mengelilingi seluruh kota Seoul. "kemana?" tanyaku.
"rahasia"
Aku menghela napas "lagi, rahasia" ucapku dengan lesu dan Axel hanya tertawa.
Pesanan datang, kami langsung memakannya sambil sesekali mengobrol.
***
"terima kasih sudah mengajak ku ke konser ini, aku senang" ucapku sambil menatap Axel. Tempat terakhir yang kita kunjungi adalah sebuah cafe untuk melihat live music.
Axel tertawa, mengusap kepalaku. Membuat aku sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Axel. Ini pertama kalinya ada laki-laki yang mengusap kepalaku. "jangan berlebihan. Kita hanya ke cafe untuk melihat penampilan mereka. Bukan ke stadion, hall atau venue besar dengan ribuan penonton" sahutnya kemudian.
Aku tersenyum. Hatiku tiba-tiba merasa aneh, lebih tepatnya ada perasaan asing "terserah, aku tetap akan bilang kalau itu konser. Konser VVIP" balasku.
Axel kembali tertawa, laki-laki itu memang mudah tertawa bahkan dengan hal kecil. Entah selera humornya yang buruk, atau malah aku?
"bagaimana kalau kopi?"
"iya?!"
"wajahmu lucu kalau sedang kaget dan bingung. Maksud ku bagaimana kalau sekarang kita minum kopi? Jangan langsung pulang. Keberatan?" tanya Axel lagi.
Aku lihat jam yang melingkar di tanganku "tidak masalah jika nanti kamu antar aku pulang"
"setuju. Tentu saja akan aku antar pulang, bahkan sampai kedepan pintu"
Aku tertawa pelan, lalu kembali memakai helm. Sepanjang jalan, aku aku dan Axel hanya diam. Membiarkan Axel fokus melihat jalan. Semenjak aku di Korea, ini kedua kalinya aku jalan-jalan di malam hari. Ramai. Itu yang aku lihat. Orang Korea dan turis bercampur memenuhi jalanan. Pertama dengan Grace dan yang kedua tentu saja dengan Axel. Hanya saja, dengan Grace tidak sampai semalam ini.
"kenapa kita tidak membeli kopi di cafe tadi?" aku bertanya saat turun dari motor dan membuka helm. Kami telah sampai.
"kopi disana tidak enak. Tapi coklat nya juara" jawab Axel juga sambil melepas helm.
Aku mengangguk setuju, es coklatnya memang enak. "aku setuju, es coklat terbaik yang aku minum"
"kalau begitu, nanti kita kesana lagi" ucap Axel dan lagi, mengusap pucuk kepalaku hingga rasa asing itu kembali muncul. Aku kenapa? apa sakit? atau masih efek datang bulan?
Aku langsung menatap ke arah lain, selain perasaan aneh, aku merasa wajahku panas. Apa aku juga salah memakai skincare? tapi kenapa baru terasa saat ini? Bunda, aku kenapa?
"ayo masuk" ajak Axel kemudian.
Aku mengangguk, berjalan bersama Axel memasuki cafe. Aku meminta Axel yang memesan karena aku tidak begitu tahu tentang kopi.
Dimeja tersedia dua minum ice coffe dan dua slice cake, satu cokelat dan satu red velvet. Kami duduk di dekat jendela, melihat orang berlalu lalang. Tidak sedikit kami juga melihat pasangan yang sedang di mabuk asmara dan saling berciuman.
"dasar tidak tahu tempat" kesal Axel
"ku pikir kau sudah biasa melihatnya"
Axel menggeleng. "aku memang sering melihatnya, tapi sampai saat ini, aku tidak terbiasa" ucapnya, pandangannya lalu kembali menatap keluar jendela "jika mengecup singkat menurutku wajar. Tapi berciuman hingga mengganggu orang lewat. Itu menjijikkan" wajah Axel benar-benar terlihat tidak suka dengan pasangan yang baru saja selesai berciuman dengan waktu yang, well. Cukup panjang. Sepertinya pasangan itu akan melanjutkan langkah menuju hotel.
"kau suka K-Pop?" tanya Axel mengganti topik
Aku mengangguk "suka. Kau tidak lihat? selama live music tadi aku sangat menikmatinya"
Axel tertawa dan aku tersenyum lebar "ada satu grup yang kau idolakan atau bergabung dengan salah satu fandom?" tanyanya lagi.
Aku menggeleng "tidak ada satu. Jika aku sedih aku akan mendengarkan lagu milik grup A dan jika aku senang aku akan mendengarkan lagu milik grup B. Atau apapun itu, selagi menurutku bagus, aku mendengarkan dan ya, Aku tidak masuk suatu fandom. Aku terlalu multi dan terlalu sibuk" jelas ku lalu tertawa pelan.
"ku dengar fandom-fandom itu sering bertengkar"
Aku mengangguk "dan aku tidak tertarik melakukan hal itu. Urusanku sudah terlalu banyak dan aku tidak ingin menambah beban pikiranku dengan melakukan hal itu jika aku bergabung dengan fandom. Meskipun mereka juga melakukan hal baik"
"poin itu juga tidak bisa di hilangkan. Tidak selalu fandom itu bertengkar"
Aku mengangguk, menyesap es kopi milik ku. Sepertinya aku harus setuju dengan Axel yang bilang bahwa kopi disini adalah kopi terbaik. Aku tidak mengeryi kopi. Jadi kopi terbaik versiku adalah kopi yang saat aku minum dan aku langsung suka tanpa berkomentar. Itu terbaik menurutku.
"Kau tahu? tahun 1997 Korea Selatan mengalami krisis ekonomi. Banyak konglomerat yang bangkrut. Tingginya pengangguran dan perceraian bahkan tidak ada inverstor yang masuk karena hal tersebut. Korea memiliki citra buruk. Hingga akhirnya presiden Kim Dae Jung memberikan dana khusus untuk membangun sebuah kantor yang mengurus konten budaya dengan anggaran cukup besar setiap tahunnya demi kembali membangun citra Korea lebih baik lagi dan berhasil. Korea Selatan berhasil membayar hutang mereka ke IMF jauh sebelum jatuh tempo. Tiga tahun lebih cepat. Oleh karena itu, kebudayaan adalah salah satu prioritas di negara ini. Bahkan untuk memulihkan Kpop, pemerintah juga menyediakan dana cukup besar sekitar satu triliun. Luar Biasa." Jelas Axel dengan begitu lancar.
Aku kagum dengan penjelasan Axel. Aku tidak terlalu banyak mengetahui hal itu. Sepertinya orang-orang yang menjelek-jelekan budaya Korea harus mengetahui itu. Orang yang mereka nilai buruk adalah salah satu prioritas negara dan salah satu alat membangun ekonomi. Luar biasa.
"pengetahuan mu luas" jujurku.
Axel tersenyum lebar "aku membaca itu, buku dari Euny Hong. Buku yang ibuku beli beberapa tahun lalu" ponsel Axel kemudian bergetar. Axel segera maraihnya "temanku akan ikut bergabung, semoga kau tidak keberatan" Axel menatapku seolah tengah meminta izin.
Aku tersenyum lalu menggeleng "aku tidak keberatan" jawabku kemudian.
"dia sudah sampai" tidak sampai tiga detik, sebuah suara cukup keras langsung menjadi fokus aku dan Axel.
"Haiiii!!!" tubuh Axel terdorong ke depan saat orang yang di maksud datang. Menyapa kami sambil memukul tubuh Axel cukup keras.
"sial. Kau terlalu keras memukul!" protes Axel sedangkan orang tersebut hanya tertawa lalu duduk di dekat Axel. Di hadapanku.
"kenalkan, dia Qila dan Qila, ini Dokhwa" Axel mengenalkan kami.
Aku dan Dokwha saling berjabat dan menyebutkan nama.
"Qila. Kau lihat wajahku yang tampan? Asal kau tahu. Aku ini orang yang hampir debut menjadi member EXO dan BTS. Kau tahu mereka bukan? Mereka terkenal saat ini." Dokhwa bertanya. Berbicara dengan cepat dan penuh semangat.
"wow!, kau seorang trainee perusahaan?" aku balik bertanya, cukup terkejut.
"jangan percaya, dia hanya pernah ikut audisi dan langsung gagal" sahut Axel sambil mengibaskan tangannya.
Dokhwa mendelik, lalu memukul kepala Axel hingga laki-laki itu protes. "hei! Itu sama saja aku hampir menjadi anggota mereka, hanya saja aku gagal saat audisi. Mungkin jika berhasil aku tidak lagi mau berteman denganmu dan sekarang sedang melakukan tour konser keliling dunia!" protes Dokhwa kepada Axel.
Aku yang mendengar hanya menahan tawa. Well, Dokhwa sepertinya menyenangkan.
"bukan begitu Qila?" tanya Dokhwa tiba-tiba.
Aku gelagapan, menahan tawa lalu mengangguk.
"lihat, pacarmu saja setuju"
Axel langsung tersedak mendengar ucapan Dokhwa, sedangkan aku hanya diam. Pacar? aku bukan pacar Axel.
"kau kenapa? Qila pacarmu kan?" tanya Dokhwa pada Axel.
"bukang, aku bukan pacarnya. Kami hanya berteman" aku menyahut.
Dokhwa langsung tertawa kencang, sambil sesekali memukul lengan Axel. Sedangkan Axel hanya menampilkan wajah cemberut. Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Aku hanya mengatkan hal yang jujur. Axel bukan pacarku, begitupun sebaliknya.
"apa aku salah bicara?" tanyaku kemudian.
Tawa Dokhwa semakin kencang, bahkan beberapa pengunjung cafe melihat ke arah kami. Axel juga terlihat semakin kesal, dia langsung memukul kepala belakang Dokhwa. "berhenti tertawa, atau ku lempar kau"
Dokhwa langsung menggerakkan jarinya di depan mulut, seolah sedang mengunci tawanya. "sorry, itu terlalu lucu" jawab Dokhwa kemudian.
"kau memiliki darah campuran?" Dokhwa kembali bertanya kepadaku.
Aku mengangguk "Indonesia dan Korea" jawabku.
"Indonesia? Bali? Yogjakarta?"
"kau tahu?" Axel bertanya pada Dokhwa.
Dokhwa mengangguk dan memukul dadanya dengan sombong "tentu. Aku pernah kesana"
"tapi aku tidak tinggal disana, ditempat yang kau sebutkan. Bali dan Yogyakarta. Aku dari Bandung" sahutku.
"Bandung?" Dokhwa kembali bertanya dan aku mengangguk.
"akan aku cari tahu. Tapi, senang bertemu denganmu"
Aku tersenyum dan kembali mengangguk. "apa kita di kampus yang sama?"
"tidak, aku berbeda kampus. Aku dan Axel berteman saat di senior high school." jawab Dokhwa. "oh iya, bagaimana sahabatku? apakah menyebalkan? akan terdengar aneh jika sahabatku adalah orang yang tidak menyebalkan"
Aku tertawa pelan, lalu menatap Axel sebentar. Laki-laki itu tengah cemberut mendengar pertanyaan Dokhwa. "Axel baik, dia sama sekali tidak menyebalkan" jawabku dengan jujur.
Aku kembali menetap Axel, kali ini laki-laki itu mengulum senyum. Seolah puas dengan jawaban yang aku beri. Aku tidak bohong. Axel memang baik bukan?
"baiklah. Tapi tolong beritahu dia agar dia tidak menyebalkan kepadaku, juga tolong agar dia mengurangi rasa percaya dirinya yang selalu bilang bahwa dia lebih tampan dariku"
"hei! aku memang lebih tampan. Itu fakta." protes Axel.
"fact or f-u-c-k?"
"fact!!!" tegas Axel "La, aku tampan bukan?" Axel kemudian bertanya kepadaku.
Aku mengangguk.
"lihat! Qila setuju"
"kalau aku, aku tampan bukan?" kali ini Dokhwa yang bertanya.
Aku kembali mengangguk. Tidak mungkin aku menggeleng, sama saja aku meledek wajah seseorang. Bukankah laki-laki semua tampan dan perempuan semua cantik?
"lihat! Qila juga setuju!" Dokhwa tidak mau kalah.
Aku semakin bingung di buatnya, dihadapkan pada perdebatan aneh benar-benar membuat bingung.
"tetap aku yang lebih tampan" sahut Axel.
"jangan membual. Jelas aku yang lebih tampan"
"bisa kalian berhenti?" pintaku
Axel dan Dokhwa langsung menatapku, membuatku langsung menelan ludah.
"bukankah perdebatan itu terdengar aneh?" aku bertanya dengan canggung.
"maaf Ila, aku tidak aneh. Hanya Dokhwa yang aneh" jawab Axel cepat.
"tidak. Kau yang aneh" sangkal Dokhwa.
Tuhan, mereka kembali berdebat.
***
Bersambung