Bercerita

2206 Kata
Hari ini Qila dan teman-teman sekelasnya kembali bertemu dengan Dosen In Sung, sejak pertemuan terakhir, para mahasiswa lain memang selalu berharap agar Profesor Kim terus di gantikan oleh Dosen In Sung. Meskipun sejujurnya mata kuliah tersebut masih tergolong sulit untuk Qila hanya penyampaian Dosen In Sun lebih santai dan lebih mudah di mengerti. Hingga perkuliahan di tutup dengan tugas paper masing-masing mahasiswa. Dosen In Sung juga kembali menawarkan, jika mereka memiliki kesulitan, mereka bisa langsung bertanya. Qila sendiri berharap tidak ada kesulitan dalam pengerjaannya. "nanti kita kerjakan bersama" ucap Axel di sebelah Qila. Qila menoleh, lalu mengangguk "baiklah" "ayok, kita makan siang. Aku lapar" ajak Axel kemudian.  Qila bangun dari kursi, begitu juga Axel, keduanya keluar kelas. Tidak pergi ke kantin, Axel membawa Qila ke parkiran. "kita mau makan dimana? jangan bilang rahasia " tanya Qila sambil memakai helm. Axel tertawa "nanti kau akan tahu. Ayo" Axel menaiki motornya, disusul Qila seperti biasa.  Kurang lebih lima belas menit, motor berhenti disalah satu gerbang rumah. Axel mengendari motor lebih cepat kali ini. "rumah siapa?" Tanya Qila bingung sambil melepas helm.  "rumah ibu dan ayahku. Ayo" Mata Qila membulat, terkejut saat Axel menarik tangannya memasuki rumah. "Xel!" "tidak apa, ayo" Axel terus menarik Qila. Membuka pintu rumah lalu berteriak memberi tahu kedatangannya. "sayang, jangan berteriak- eh, maaf" ucapan wanita paruh baya yang Qila tebak adalah ibunya Axel langsung berhenti. tersenyum melihat Qila. "Mom, ini Qila. Qila ini ibuku, panggil dia nona Park, dia akan senang mendengarnya" canda Axel. Wanita paruh baya itu tertawa, lalu memukul lengan Axel. "jangan dengarkan anak nakal ini, aku terlalu tua untuk di panggil nona. Kau bisa panggil aku Bibi Park" ucapnya kemudian.  Qila tersenyum, lalu melakukan bow atau memberi salam dengan cara membungkuk. "kau berasal dari mana?" tanya Bibi Park dengan ramah. "dari surga" sahut Axel membuat Qila merasa aneh dan Bibi Park mendelik. "anak itu memang suka sekali mengganggu. Mirip ayahnya" bisik Bibi Park tapi dengan suara yang bisa di dengar Axel. "itu karena aku anaknya. Mom, aku lapar. Apa bisa kita makan siang sekarang?" tanya Axel kemudian. "tentu. Mom sudah masak. Ayo Qila, kita makan" Bibi Park merangkul bahu Qila, melangkah menuju ruang makan. "duduklah, temani anak nakal itu"  "apa ada yang bisa aku bantu?" Qila langsung bertanya, rasanya tidak enak jika hanya duduk dan melihat bahkan dia baru beberapa menit ada didalam rumah ini. Rasanya aneh dan canggung. Bibi Park tertawa pelan "tidak, kau duduk saja ya anak manis. Jaga agar anak nakalku tidak memakan meja karena kelaparan" candanya membuat Qila tersenyum lebar. Sekarang Qila tahu darimana sifat ramah Axel. Ibunya ternyata yang mewariskan.  "mom, aku bukan peliharaan Spongebob!" protes Axel dengan bibir cemberut. Benar-benar terlihat seperti bocah yang merengek. "jadi Qila berasal darimana?" ulang Bibi Park sambil membawa beberapa lauk ke atas meja. Karena Axel, pembicaraan nya dengan Qila tertunda. "Ibuku berasal dari Indonesia dan ayahku dari Korea" jawab Qila. "Wah , Indonesia. Di kota mana?" tanya Bibi Park lagi. Langkahnya masih bolak-balik untuk menyiapkan makanan. "Di Bandung"  "Bandung? sayang sekali aku belum pernah mendengarnya. Mungkin Qila bisa menceritakannya nanti" Qila mengangguk "tentu" jawabnya kemudian.  Selesai menata menu dan alat makan, Bibi Park kemudian duduk, menyendokkan nasi untuk Qila dan juga Axel. "itu daging apa mom?" tanya Axel. "itu daging sapi dan satu lagi daging ayam" jawab Bibi Park. Qila tersenyum, dia tahu bahwa Axel tengah memastikan makanan yang di sajikan ibunya adalah makanan halal untuknya.  "sapi dan ayam, apa tidak akan bertengkar?" canda Axel. "kalau begitu tidak usah makan" Axel langsung memberengut "dasar nona tukang marah. Aku kan cuma bercanda" "berhenti berbicara, cepat makan" suruh Bibi Park. " oh iya, mungkin masakanku akan terasa aneh di lidah Qila, tapi aku harap kau menyukainya" lanjut Bibi Park sambil tersenyum kepada Qila. "ini sudah lebih dari cukup, terima kasih" ucap Qila lalu tersenyum lembut.  Bibi Park balas terseyum, benar-benar seperti Axel yang mudah tersenyum, tertawa dan ramah. Bibi Park memasak udang goreng tepung yang diberi saus asam pedas. Lalu Japchae atau sejenis soun dengan potongan daging dan sayur, ada juga Andong Jjimdak atau semacam ayam kecap dan tentu saja ada juga Kimchi, asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Karena Qila asli orang sunda dan terbiasa memakan masakan yang bercita rasa asam, salah satunya sayur asam, dia jadi tidak memiliki masalah dalam memakan Kimchi. Pedas dan asam, cocok untuk lidah Qila.  "bagaimana rasanya tinggal di Korea?" tanya Bibi Park saat mereka sudah memulai makan. "sekarang sudah mulai terbisa, awalnya sulit dan sering merindukan rumah" jujur Qila. Bibi Park mengangguk "itu wajar, tinggal di tempat baru memang seperti itu. Nanti, kau malah bisa lebih nyaman disini daripada tempat tinggal aslimu"  Qila tersenyum "iya, bisa saja nanti aku lebih nyaman di Korea" *** Selesai makan, Qila dan Axel memakan buah sambil menonton televisi. Bibi Park melarangnya cepat pulang dan meminta Qila untuk nanti ikut makan malam. Qila tidak bisa menolak, akhirnya setuju. Bibi Park sendiri sudah kembali ke kamar, katanya dia tengah membaca novel dan ingin segera melanjutkannya lagi agar cepat selesai. Meletakkan garpu buah ke piring. Qila merubah duduknya jadi menghadap Axel. "aku ingin bercerita sesuatu" ucapnya kemudian. Axel langsung menatap Qila, dia juga mengubah duduknya menjadi saling berhadapan. "bercerita apa?" tanya Axel. Sejujurnya, jantungnya sedang berdetak lebih kencang dari biasanya. Takut jika Qila berbicara tentang apa yang selama ini Axel khawatirkan. Qila menarik napas dalam, lalu perlahan mengembuskannya. Rasa canggung kepada Axel sudah hilang, kini dia merasa dekat dan Axel akan menjadi orang yang akan dia percaya. "selain kuliah, sebenarnya ada alasan lain mengapa aku pergi ke Korea" Qila mulai bercerita. "karena kau di jodohkan? lalu kau kabur?" tebak Axel langsung.  Qila tersenyum lalu mengangguk "tidak, bukan itu"  Jawaban Qila membuat Axel langsung menghela napas lega. "baik, aku lanjutkan. Sebenarnya alasan lain untuk pergi ke Korea adalah untuk mencari keberadaan ayahku. Ayah dan ibuku berpisah saat aku belum pernah melihat wajahnya. Selama ini, aku merasa bahwa ibu saja sudah cukup. Tapi seiring berjalan waktu, melihat bagaiman interaksi anak dan ayah akhirnya rasa penasaran terhadap sosok ayah muncul. Kalau orang bertanya bagaimana sosok ayahku, aku bisa dengan mudah menjelaskannya. Itu karena aku hapal cerita dari ibuku. Kini aku ingin bisa menjelaskan bagaimana sosok ayah, tapi dengan penjelasan ku sendiri setelah bertemu langsung. Bagaimana wajahnya, tinggi tubuhnya, aku ingin menyimpannya di dalam otakku." jelas Qila. "lalu bagaimana, apa kau sudah bertemu?" tanya Axel. Qila menggeleng lemah "sulit, ibu dan ayahku berpisah karena suatu hal yang buruk. Tidak ada alamat, tidak ada foto. Hanya berbekal beberapa informasi yang ternyata tidak banyak membantu" "jadi kau sedang mencari ayahmu?" Kali ini Qila mengangguk "betul. Setidaknya aku ingin bertemu walau cuma satu kali. Dari jarak jauhpun tidak masalah." "kalau ternyata ayahmu sudah memiliki keluarga baru, bagaimana?" Qila tersenyum samar "tidak apa. Seperti yang aku bilang, melihatnya dari jarak jauh juga tidak masalah. Aku datang bukan untuk menghancurkan keluarga baru ayahku." Axel menghela napas lalu mengangguk "akan aku bantu. Kita cari bersama" "aku bercerita bukan untuk meminta bantuan" "dan aku tidak menawarkan bantuan. Aku mengajakmu mencari bersama" Qila berdecak "apa bedanya" Axel tertawa, hatinya terasa lega karena Qila menceritakan tentang urusan pribadinya. Rasanya senang merasa di percayai Qila. ***  Qila fokus mengerjakan papernya. Setelah mulai di kerjakan, ternyata cukup sulit. Buku yang di pinjam di perpustakaan masih belum cukup. Dia harus mencari lebih banyak sumber lagi. Axel memang mengajaknya untuk mengerjakan bersama, tapi selagi dia memiliki waktu senggang, tidak masalah jika di mulai menyicil. Mengingat tentang alamat email milik Dosen In Sung, Qila putuskan untuk mengirim email berisi beberapa pertanyaan. Selagi menunggu, Qila memutuskan untuk berhenti mengerjakan paper. Dia akan melanjutkannya nanti saat otaknya sudah bisa diajak kompromi lagi atau saat mendapat balasan dari sang dosen. Entahlah, lihat saja nanti. Berjalan ke dapur, Qila berencana membuat sesuatu. Belum memutuskan membuat apa, Qila terlebih dahulu melihat bahan yang ada. Hingga ponselnya berdering, Qila kembali berjalan ke arah kasur. Panggilan dari bunda. "assalamualaikum bunda" "waalaikumsalam sayang. Maaf bunda baru bisa hubungi kamu. Tadi bunda ada kerjaan" "iya bunda. Bunda jaga malam?" "iya, udah dua hari bunda jaga malam. Gimana, paket dari bunda udah di periksa?" "belum tadi Qila belum sempet. Kok cepet sih bun" Qila mendengar bundanya tertawa "bunda cerita sedikit. Paket yang sekarang kamu terima, itu bunda titip ke temen bunda. Di f*******: temen bunda update kalau dia mau ke Korea. Temen lama dulu pas bunda kerja. Akhinya bunda titip deh ke dia, ada orek tempe, kentang kering sama teri balado juga. Kalau paket yang bunda kirim cuma jajanan sama mie instan, sisanya nanti kamu belanja aja ya La"  "ogitu, okedeh bunda. Makasih ya" "iya sayang. Gimana kuliah, lancar?" "lancar Bun, nenek gimana kabarnya?" "nenek sehat, kangen sama kamu katanya. Nanti kalau bunda nginep, kita video call ya" "iya bunda. Siap" ponsel sang nenek memang bukan smartphone, hanya ponsel jadul yang digunakan untuk telepon dan kirim pesan. Sang nenek terlalu malas menggunakan ponsel canggih. Cukup televisi dan sinetron sebagai hiburannya. Tidak perlu f*******: atau i********:. "bunda, jangan lupa kalau jaga malem harus bawa baju hangat" "iya Ila, bunda bawa kok" "bunda juga sering-sering nginep ke rumah nenek" "iya, setiap dua tiga hari sekali bunda pati nginep. Ila juga jaga kesehatan. Bunda gak mau kalau kamu sampe sakit. Rajin belejar boleh, tapi jangan terlalu di forsir. Kalau kamu sakit, bunda cuma bisa nangis disini." "siap bunda. Liburan nanti, Ila pokoknya pengen pulang ya bun" "boleh. Harus dong. Tapi jangan bawa jodoh dulu ya, nanti nenek jantungan" goda sang bunda. "apasih bunda, orang Ila gak punya pacar" "loh, Axel emang bukan pacar kamu? bunda kira udah pacaran" "bukan. Axel temen aku kok, kita cuma temenan" "kasian amat. Jadi cuma hubungan tanpa status?" "bunda, status kita tuh teman!. Gak ada status gimana" "iya deh, iya. Salam nanti ke Axel ya." "iya bunda, nanti aku bilangin" "bunda tutup dulu ya La, ada kerjaan" "oke bunda. Semangat ya bun" "iya sayang. Kamu istirahat dan jangan begadang." "siap. Assalamualaikum" "waalaikumsalam" Meletakkan ponselnya di kasur. Qila kemudian meraih gunting, dia akan membuka paket dari sang bunda. Paket tersebut sebelumnya di titipkan kepada Bibi Im dan Bibi Im kemudian mengantarkan kepada Qila. Qila tersenyum saat melihat isi paket, terselip juga surat yang ditulis langsung oleh sang bunda 'Untuk anak bunda tersayang, sekarang cuma masakan bunda yang bisa ketemu kamu, liiburan nanti bunda yang bakal langsung ketemu kamu. Jaga kesehatan selalu ya sayang, salat jangan lupa. Bunda sayang kamu' Terharu, Qila kembali mengambil ponselnya, memotret isi paket dari sang bunda beserta suratnya. Dia lalu mengirimkan foto tersebut kepada sang bunda ditambah emotikon hati yang banyak. Dia juga menguploadnya di i********:. Foto pertama yang dia upload sejak tinggal di Korea. Di i********: dia juga hanya menulis caption singkat  'aku selalu sayang bunda' sebagai pelengkap.  Like pertama muncul dari Axel disusul dari yang lain. Qila kemudian keluar dari i********:. Baru saja akan meletakkan ponsel, ponselnya sudah berdering. Panggilan video dari Axel. "Ilaaaaa" panggil Axel kecang. "yes" sahut Qila. "tempe. Aku mau tempe. Sisakan untukku" Qila tertawa, teringat jika Axel sangat suka tempe kering buatan sang bunda. "tidak, aku sudah janji akan memberikannya kepada Bibi Im" jawab Qila berbohong. "tidaaaak. Jangan! berikan saja kepadaku" protes Axel. "Bibi Im bagaimana?" "bilang saja tidak ada" "kau menyuruhku berbohong?" "tidak, hanya tidak usah bicara yang jujur" Qila tertawa, begitu juga Axel. "pokoknya aku mau" lanjut Axel lagi. "baiklah" "besok kita sarapan bersama. Aku akan datang lebih pagi" "jangan terlalu pagi" "baiklah. Sekarang, kau sedang apa?" "aku baru selesai membuka paket" "lalu?" "lalu aku akan merapihkannya" "kemudian?" "memasak cemilan" "cemilan apa?" "tidak tahu, aku belum memeriksa bahannya" "baiklah, aku tutup ya. Jangan tidur terlalu malam" "baiklah" "good night" "good night" Setelah sambungan video terputus. Qila kemudian meletakkan ponselnya di meja. Dia membuka kulkas, menemukan buah-buahan yang sudah sedikit tidak segar. Daripada busuk dan tidak di makan, akhirnya Qila memutuskan untuk membuat salad buah. Fokus membuat salad buah, Qila melihat jam ternyata sudah cukup malam. Segera dia memasukkan salad buah yang sudah selesai kedalam kulkas. Lalu pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi.  Meraih ponselnya di atas meja makan, Qila kemudian naik ke atas kasur. Dia harus segera tidur agar tidak terlambat bangun. Qila terlebih dahulu membuka email, ternyata sang dosen membalasnya dan meminta untuk besok mereka bertemu agar sang dosen bisa memberi penjelasan lagi.  Qila membalas email tersebut, tidak lupa dia juga berterima kasih karena sang dosen karena mau menyempatkan waktu.  Cukup mencari sang ayah saja dia mengalami kesulitan dan susah menadapat titik terang, jangan sampai pendidikannya mengalami yang sama. Bisa-bisa Qila mati muda.  *** Note Untuk paket yang dititip mama Qila, aku hanya menyantumkan masakan yang sekiranya memang boleh dibawa masuk ke Korea Selatan. Untuk olahan hewani memang ada larangan. Kalau dalam prateknya 'ada kok yang bawa rendang' itu bisa saja terjadi, entah bagaimana caranya. Aku hanya mengacu kepada informasi dari website KTO atau Korea Tourism Organization. Dimana di website tersebut di cantumkan apa yang dilarang di bawa. Hewan: anjing, kucing, burung, dll. Produk ternak: Daging sapi, babi, ayam, bebek, sosis, ham, dendeng, daging kaleng, daging rebus, produk olahan daging sapi (kari), dll. Produk hewani: Tanduk, tulang, bulu, dll. Produk s**u: s**u, keju, mentega, dll. Telur dan produk telur: Telur ayam, telur burung, putih telur, bubuk telur, dll. Makanan hewan peliharaan, camilan, vitamin, dll. Jadi kalau ikan ateri balado insyaallah aman ya guyss. Oh iya, kalau melanggar aturan ini bisa denda sampai 10 juta won. Cukup besar ya.  *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN