-Typo-
***
"La, bagaimana dengan paper? bisa kita mengerjakan besok?" tanya Axel, kami baru selesai kelas.
Aku mengangguk "tentu. Tapi kita butuh cukup buku untuk referensi"
"kau punya?"
"punya beberapa, tapi masih kurang"
"kalau begitu, aku mau cari dulu. Baru besok kita kerjakan bersama"
"Xel, aku mulai mengerjakan" Aku tersenyum lebar kepada Axel.
"kau curang" jawab Axel pura-pura marah.
Qila tertawa pelan "aku bosan, jadi aku mulai mencicil"
"baiklah, asal nanti kau kerjakan punyaku"
"mana bisa! punyaku belum selesai!" protes Qila.
"suruh siapa mengerjakan lebih dulu"
Qila berdecak "kau menyebalkan"
Axel tertawa, tangannya lalu mengacak rambut Qila. Perlakuan itu kembali menimbulkan rasa aneh dalam diri Qila. Apa Axel memiliki penyakit menular? kenapa hanya dia yang bisa membuat Qila merasa hal aneh dalam dirinya.
"hey!"
Qila mengerjap saat Axel memanggilnya dan melambaikan tangan dihadapan wajahnya.
"memikirkan apa?" tanya Axel.
Qila menggeleng "tidak ada"
"jangan berbohong"
"kapan aku pernah berbohong?" tanya Qila dengan wajah protes.
Axel tersenyum geli "iya, kau tidka pernah berbohong. Lalu, bagaimana jika sekarang makan cake?"
Qila menggeleng pelan, lalu memasukkan ponselnya kedalam tas, dia bangun dari kursi begitupun dengan Axel. Keduanya berjalan menuju pintu. "aku ada janji hari ini" tolak Qila.
Axel mengerutkan keningnya "janji? dengan teman Indonesia?"
Qila kembali menggeleng "bukan, dengan Dosen In Sung"
"Dosen In Sung?" Axel memastikan.
"iya, aku mengirimnya email karena mengalami kesulitan dalam pembuatan paper. Kami berjanji untuk bertemu hari ini"
"boleh aku ikut?"
Qila mengangguk mantap "tentu. Kau juga mahasiswanya"
"baiklah, lets'go"
Dipertengahan jalan menuju parkiran, ponsel Axel berdering. Mereka berhenti melangkah dan Axel menjawan panggilan tersebut.
"yes Mom"
"bisa antarkan mama ke rumah sakit?"
"rumah sakit?" teriak Axel secara tidak sadar.
Qila ikut terkejut karena ucapan Axel.
"iya, teman mom ada yang sakit, jadi mom akan kesana. Temani mom, kau sudah selesai kelas bukan?"
Axel menghela napa lega, dia menatap Qila sambil tersenyum. "ku pikir mom yang sakit, baiklah. Aku pulang sekarang"
"oke. Mom tunggu"
"baiklah"
"Ibuku hanya akan menjenguk temannya di rumah sakit. Ibuku sehat" Axel langsung berbicara pada Qila setelah menutup panggilan dengan snag ibu.
Qila menghela napas lega "aku pikir Bibi Park yang sakit"
"Tidak, bukan. Lalu, apa tidak keberatan jika aku tidak ikut denganmu? aku harus mengantarkan ibuku" tanya Axel sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"tidak, aku akan pergi sendiri"
"benar?"
Qila mengangguk "iya, jadi sekarang pulanglah, salam untuk Bibi Park"
Axel tersenyum, lalu mencubit pipi Qila "baiklah, nanti aku hubungi" ucapnya lalu pergi ke arah motornya berada.
Qila masih diam, merasakan rasa aneh itu lagi. Sepertinya dia harus bertanya kepada sang ibu, dia takut itu penyakit berbahaya.
***
Qila turun dari taxi di depan salah satu cafe. Dosen In Sung sendiri yang mengajaknya bertemu di tempat tersebut. Hari ini dia tidak pergi ke kampus, dia harus berada di kantornya. Qila hampir lupa jika Dosen tamu tersebut juga seorang pengusaha.
Memasuki cafe, Qila mengedarkann pandangannya. Sang dosen belum datang, jadi dia yang akan mencari tempat duduk. Qila memesan minum dan sepotong cake, lalu duduk di kursi yang menurutnya nyaman.
Tidak butuh waktu lama pesanan Qila datang, dia meminum matcha milk pesanannya. Dia juga mengecek ponselnya, takut ada pesan dari sang dosen.
Sepuluh menit menunggu, Qila melihat sang dosen memasuki cafe lalu mengedarkan pandangan hingga matanya berhasil melihat Qila. Dosen In Sung mengangguk singkat, lalu memesan sesuatu baru setelahnya melangkah ke Qila.
Qila bangun, memberi salam kepada snag dosen dan mempersilahkannya.
"maaf menunggu lama, aku harus rapat terlebih dahulu"
Qila tersenyum sopan "tidak masalah"
"baik, namamu Qila? betul?" tanya sang dosen.
Qila mengangguk "betul pak, nama saya Qila."
"baiklah, jadi ada yang belum kamu mengerti dan ingin kamu tanyakan?"
Qila berdehem sebelum memulai berbicara. Rasanya begitu gugup, hingga akhirnya dia menjelaskan apa yang belum dia mengerti dan dia tanyakan kepada In Sung.
In Sung juga mendengarnya dengan baik, menjelaskan lebih detail dan menjawab segala pertanyaan yang di ajukan oleh Qila.
"jadi, masih ada yang belum kamu mengerti?" tanya Insung.
Qila menggeleng pelan "tidak, terima kasih atas penjelasan dan waktu anda"
"tidak masalah" jawab In Sung santai lalu meminum minumannya yang datang saat dia dia dan Qila mulai berdiskusi. "oh iya, kamu bukan asli orang Korea?" In Sung kembali bertanya.
Qila mengangguk "iya, sayang berdarah campuran. Maaf jika bahasa Korea saya masih begitu buruk atau terdengar aneh"
In Sung tertawa pelan, bukan tawa yang merendahkan "tidak, tidak terdengar aneh, hanya sedikit lucu"
Qila hanya tersenyum malu mendengarnya.
"Siapa yang orang Korea? ayahmu atau ibumu?"
"ayah, ayahku dari Korea"
"lalu ibumu? dari Amerika? Jepang? atau China?"
Qila menggeleng "ibuku dari Indonesia" jawabnya.
"Indonesia?" tanya In Sung sambil mengerutkan kening.
"iya, dari Indonesia. Apa bapak tahu?"
"tentu, saya tahu Indonesia. Bali?"
Qila tersenyum lalu mengangguk "betul, Bali is a part of Indonesia" jawab Qila.
"berapa bahasa yang kau mengerti?"
"tiga?" jawab Qila sedikit ragu "Indonesia, Inggris dan Korea" lanjutnya kemudian.
"aku memiliki yayasan, aku pikir tidak perlu dijelaskan lagi yayasan apa, karena di kelas aku sudah menjelaskannya. Jika kau mau, sesekali kau bisa datang dan membantu disana. Aku pikir itu bisa sedikit membantu kuliahmu."
Qila tersenyum mendengar penawaran tersebut "tentu, aku akan datang sesekali kesana. Terima kasih sudah memberiku izin"
In Sung tersenyum singkat, lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya "aku harus pergi, masih ada pekerjaan lain yang menungguku"
Qila mengangguk, lalu bangun dan membungkuk, memberi salam.
Sang Dosen telah keluar cafe, Qila kembali duduk dan menyantap kue yang sejak beberapa lalu dia abaikan. Tidak mungkin dia makan kue tersebut saat sang dosen tengah serius menjelaskan. Itu tidak akan sopan.
Qila membuka kamera ponselnya, lalu memotret kondisi mejanya, dimana ada kue, minuman, buku catatan dan pena. Lalu mengirim foto tersebut kepada sang bunda. Mengabarkan apa yang sedang dia lakukan dan bertanya apa yang sedang sang bunda lakukan.
balasan datang saat Qila tengah menyuapkan potongan kue kedalam mulutnya. Sambil tersenyum, Qila meletakkan sendok kecil ditangannya dan beralih meraih ponsel, membuka balsan dari sang bunda.
Wajah Qila langsung cemberut, memberikan banyak emoticon tangis saat melihat sang bunda yang mengirimnya foto masakan yang akan dibawa ke rumah sang nenek.
Sang bunda membalas emoticon tangis Qila dengan emoticon tertawa dan meminta agar Qila sabar hingga waktu liburan tiba.
Qila kembali menjawab, dia mengatakan jika sudah tidak sabar menunggu waktu liburan. Dia juga mengirim pesan kepada sang nenek. Lalu meminta sang bunda menghubunginya saat sudah ada di kediaman sang nenek agar Qila bisa melakukan video call.
Selesai berkirim pesan dengan sang bunda, Qila kembali memakan kuenya yang sudah tinggal setengah. Sambil dia merapihkan barang-barangnya kedalam tas.
Notifikasi berbunya, sang bunda menandainya di postingan i********:. Segera Qila buka dan ternyata sang bunda mengupload foto yang Qila kirim, kondisi mejanya saat ini dengan tambahan caption. 'Semangat sayang, kamu hebat. Selalu menjadi kebanggaan bunda'.
Qila mengulum senyum, lalu memberikan komentar banyak hati di postingan tersebut.
***
Sampai di kosan, Qila langsung bersih-bersih dan mandi. Malam ini dia ingin membuat katsu yang diajarkan sang bunda. Tapi baru saja dia membuka kulkas, ponselnya yang berada di atas kasur berdering, segera Qila menghampiri dan menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari Axel.
"La, Where are you?"
"Aku di kamar"
"aku kesana sekarang" ucap Axel lalu menutup panggilannya.
Qila mengerutkan kening, lalu kembali meletakkan ponsel di kasur dan kembali ke dapur untuk memasak. Qila memarinasi d**a ayam dengan bawang putih dan lada dan garam sebelumnya, Qila juga sudah memukul-mukul dulu d**a ayam tersebut. lalu menyiapkan dua jenis tepung untuk menutupi ayam nantinya. Lanjut mengocok telur sebagai perekat.
Setelah waktu marinasi cukup. Qila memasukkan ayam tersebut ke wadah berisi tepung teriugu, lanjut memasukkan kedalam telur yang sudah di kocok dan terakhir ke tepung roti. Sambil menunggu minyak panas, Qila mengulang hingga dua potong d**a ayam tersebut selesai.
Minyak panas, Qila memasukkan ayam yang sudah tertutup tepung roti secara perlahan. Dia tersenyum bangga dengan hasil kerjanya yang semakin baik. Setidaknya, saat bertemu sang bunda dia bisa memamerkan kemampuannya yang sudah semakin meningkat tersebut.
Ayam sudah hampir matang dna pintu kosan Qila di ketuk. Segera Qila buka dan sosok Axel berdiri di hadapannya. "masuk, aku sedang memasak" ucap Qila sambil kembali ke hadapan kompor. Dia mengangkat dua potong d**a ayam tersebut saat warnanya sudah menandakan kematangan.
"masak apa?" tanya Axel yang duduk di meja makan, memperhatikan Qila.
"katsu. Kau sudah makan?" tanya Qila balik.
"di rumah sudah, disini belum"
Qila berdecak "dasar. Untung aku membuat dua"
Axel tertawa pelan, dia bangun dari kursi lalu membantu menyiapkan alat makan.
"aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" ucap Axel sambil mengunyah makanannya
Qila mengerutkan keningnya "kemana?"
"rumah sakit" jawab Axel.
"rumah sakit? siapa yang sakit?"
Axel menggeleng "tidak ada"
"lalu kemana kau mau mengajakku kesana?"
"memastikan sesuatu"
"memastikan sesuatu?" ulang Qila.
Axel mengangguk, lalu kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya hingga mengembung.
"apa?" Qila begitu penasaran.
Axel memberi kode untuk dia menelan makanan terlebih dahulu baru menjawab. "kau ingat rumah sakit dimana ibumu dulu bekerja?" tanya Axel kemudian setelah tidak ada lagi makanan dimulutnya.
Qila mengangguk.
"kau tahu alamatnya?"
Lagi, Qila mengangguk.
"aku akan mengantarmu atau mengajakmu kesana"
Mata Qila membulat "kau serius?" beberapa hari lalu, Qila memang telah mendapat alamat rumah sakit tempat sang bunda bekerja. Jaraknya cukup jauh dan baru berencana kesana saat akhir pekan nanti.
"serius, tadinya aku ingin mengajakmu saat siang"
"apa tidak akan kemalaman?"
Axel menggeleng "tidak akan. Setelah makan kita pergi"
Qila mengangguk. Keduanya kemudian melanjutkan makan hingga selesai.
"kau bersiap, ini biar aku yang rapihkan" ucap Axel.
Qila langsung mengambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi. Seperti biasanya, tampilan simple. Celana jeans dengan atasan kaos dan kali ini ditutupi oleh jaket cukup tebal. Ponsel dan dompet Qila masukkan kedalam sling bag dan memilih sepatu kets sebagai pelengkap.
"siap?" tanya Axel setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Qila mengangguk dan Axel tersenyum.
"ayok"
Qila mengikuti Axel keluar, mengunci pintu lalu turun kebawah. Sampai di bawah, Qila mengerutkan kening karena tidak melihat motor Axel.
"karena perjalanan cukup jauh, aku membawa mobil" ucap Axel seolah mengerti dengan kebingungan Qila.
"kupikir kita akan terbang" canda Qila lalu berjalan menuju mobil Axel.
Axel tertawa, lalu masuk kedalam mobil dan si susul Qila.
"aku bukan Aladin" sahutnya lalu memasang sabuk.
Axel kemudian memasukkan alamat tujuan mereka ke dalam GPS lalu mulai menjalankan mobil.
"bagaimana pertemuanmu dengan Dosen In Sung?" tanya Axel dengan mata fokus menatap jalan.
"berjalan lancar. Pertanyaan dan keraguanku sudah terjawab semua"
"baguslah, jadi kau bisa mengerjakan tugasku"
"tidak mau! kerjakan saja sendiri" tolak Qila.
Axel tertawa "baiklah-baiklah. Aku akan kerjakan sendiri"
"itu baru bagus"
"perjalanan kita akan sedikit lebih lama, kalau kau mengantuk, kau bisa tidur"
"Baiklah, tapi saat ini aku belum mengantuk" jawab Qila.
Qila kemudian menyalakan radio, tentu saja izin kepada Axel terlebih dahulu. Suasana mobil jadi lebih ramai, sesekali mereka juga bernyanyi bersama hingga akhirnya Qila lelah dan tertidur.
Axel memanggil Qila dengan suara pelan, karena Qila tidak merespon. Axel memberanikan diri menepuk pelan pundak Qila sambil terus memanggilnya.
"La, bangun" ucap Axel dengan suara pelan.
Qila mengerjapkan matanya. Lalu menatap Axel yang juga tengah menatap dirinya.
"ayo bangun, sudah sampai"
Qila mengangguk, lalu emngedarkan padangan keluar mobil. Mereka sudah ada di parkiran. Qila melepaskan sabuk pengaman. Mengucek matanya agar kesadarannya penuh.
"ayo turun" ajak Axel.
Qila membuka pintu, turun dari mobil begitu juga Axel. Setelah mengunci pintu, Axel melangkah ke Qila. "ayo" ajaknya kemudian sambil menarik tangan Qila.
Qila hanya diam dan mengikuti langkah Axel, dia juga tidak protes saat kini tangannya tengah di genggam Axel. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah meja.
Axel menanyakan keberadaan suster yang merupakan teman ibu Qila tersebut. Berharap jika sang suster masih bekerja di rumah sakit dirumah sakit tersebut.
"disini ada dua perawat bernama Lee Jin Ah" ucap sang petugas di balik meja tersebut.
"umurnya sekitar empat puluhan. Dia teman ibuku. Mungkin sudah belasan tahun dia bekerja disini" kini Qila yang bersuara. Sayangnya dia tidak memiliki foto sahabat bundanya tersebut.
"oh perawat senior Lee"
Mata Qila membulat, berharap kedatangannya membuahkan hasil.
"dia ada di lantai lima, bagian penyakit dalam. Kalau tidak ada, berarti jam kerjanya sudah selesai"
Qila tersenyum lebar mendengarnya, lalu mengucap terima kasih sebelum melangkah pergi ke lantai lima.
"semoga orang yang tepat" ucap Axel sambil menekan tombol lift.
Qila mengangguk "aku juga berharap begitu"
"kau gugup?"
Qila tersenyum "sedikit gugup"
Sampai di lantai lima, Axel dan Qila kembali berjalan ke meja resepsionis.
"kami mencari perawat senior Lee Jin Ah" ucap Axel setelah memberi salam.
"Kalian siapa?"
"anak dari temannya. Apa dia ada?"
"sebenatar, kami cek dulu"
Axel mengangguk, sedangkan Qila merasa gugup.
"Perawat senior Lee ada, tapi sedang ada yang di kerjakan. Kalian bisa menunggu jika ingin"
Axel menatap Qila, meminta keputusan. Qila mengangguk, setuju untuk menunggu.
"baiklah, kami akan menunggu" jawab Axel.
Axel dan Qila kemudian di tunjukkan pada kursi yang bisa mereka tempati sambil menunggu suster Lee. Sambil menunggu, Qila mencari foto sang bunda. Nanti dia akan memperlihatkan kepada perawat Lee untuk memastikan. Lagi-lagi Qila berharap jika dia akan mendapat titik terang dalam pencarian sang ayah.
***
Bersambung