Teman Bunda

2086 Kata
Hampir dua jam Axel dan Qila menunggu, hingga akhirnya seseorang berdiri di hadapan mereka dan mengerutkan kening melihat kehadiran keduanya. "kalian siapa?" tanya wanita paruh baya tersebut kepada Axel dan Qila. Keduanya segera berdiri, memberi salam kepada orang yang mereka tebak sebagai orang yang mereka tunggu. "saya Qila Anaia. Dari Indonesia" ucap Qila memperkenalkan diri. "saya Axel." lanjut Axel. "ada perlu apa? kalian kenal saya?" wanita paruh baya itu kembali bertanya. "maaf, apa benar anda perawat Lee Ji ah?" tanya Axel. Wanita paruh baya itu mengangguk sebagai jawaban. "maaf mengganggu waktu anda. Apa adan kenal dengan Amira Tari? perawat dari Indonesia yang belasan tahun lalu bekerja disini?" Qila balik bertanya dengan penuh sopan santun. "Aku mengenal satu perawat dari Indonesia, tapi aku lupa nama lengkapnya karena aku buruk dalam mengucapkannya" jujur perawat Lee kemudian. Qila kemudian membuka ponselnya, mencari foto sang bunda untuk dia tunjukkan kepada sang perawat. "ini, perawat dari Indonesia, apa anda mengingatnya?" tanya Qila sambil menunjukkan foto sang bunda. Perawat Lee mengerjap, sudah belasan tahun dan pada wajah seseorang pastinya ada perubahan sedikit, apalagi sudah lama tidak bertemu. "bagaimana?" tanya Qila lagi. Perawat Lee tidak menjawab, hanya lebih dokus menatap foto orang yang diperlihatkan, hingga tiba-tiba mata perawat Lee membulat, tanda dia terkejut dengan ingatan yang muncul di kepalanya. "Mila! itu Mila. Aku kenal dia, kami dekat" jawab suster Lee kemudian. Ada rasa senang yang Qila rasakan, tapi juga merasa bingung. "Mila?" tanya Qila bingung. "begini, kau tahu, kadang kami kesulitan menyebutkan nama dari luar Korea dan beberapa orang memiliki penyebutan huruf 'R' kurang baik. Mungkin perawat Lee tidak kesulitan menyebut Mira jadi di ubah dengan Mila" jelas Axel. Perawat Lee tersenyum dan mengangguk "aku ingat, dia adalah Mila, tapi aku tidak ingat nama aslinya atau lengkapnya. Aku hanya selalu memanggilnya dengan Mila" Qila tersenyum senang mendengarnya. "aku adalah anaknya" "anaknya? benarkah?" ulang sang perawat dengan terkejut. Qila mengangguk "iya, aku adalah anaknya, anak dari perawat Mira" jawab Qila. Perawat Lee langsung meraih pundak Qila, menatap wajah Qila lalu tubuh Qila hingga kebawah, setelahnya, dia menangkup pipi Qila dengan sebelah tangan. "kau sudah sangat besar. Kau tumbuh dengan sangat baik. Bagaimana kabar ibumu?" tanyanya sambil melepas tangan di pipi Qila. Qila tersenyum "ibuku baik..." "panggil aku bibi." "baik, ibuku baik bi" "sekarang dia dimana? apa ada di Korea juga?" Qila menggeleng "tidak, ibuku ada di Indonesia" "jadi kalian sekeluarga pindah ke Indonesia. Bagaimana ayahmu? apa dia betah tinggal disana?" Qila langsung menatap Axel getir. "bi, keberatan jika kita pindah? kita mencari tempat lebih nyaman untuk mengobrol" ucap Axel kemudian. "tentu. Aku hampir lupa. Kalian tunggu disini, aku harus berbicara dulu dengan seseorang." Qila dan Axel mengangguk, lalu perawat Lee kembali pergi. Berbicara dengan seseorang, sepertinya memberitahu kemana dia akan pergi atau semacam permintaan izin. "ayo, kita berbicara di kantin. Kita bisa sambil minum. Kau sudah makan?" perawat Lee merangkul Qila, mereka berjalan menuju lift. "sudah, kami sudah makan" jawab Qila. Perawat Lee menekan tombol lift. "kau sedang berlibur?" tanyanya lagi. Qila menggeleng "tidak, aku sekarang kuliah disini" "woah. Hebat. Jangan sungkan datang kepadaku, atau berkunjung ke rumahku." "terima kasih Bi" jawab Qila lalu tersenyum lebar. Mereka turun dari lift, berjalan memasuki kantin. Perawat Lee dan Qila langsung duduk sedangkan Axel yang memesan minuman. "bagaimana tinggal di Korea? sudah merasa nyaman?" Qila mengangguk "sudah jauh lebih nyaman" jawab Qila. "baguslah. Setelah kita bertemu, sering-seinglah bertemu lagi, atau kau menginap di rumahku" "terima kasih Bi" Alea kembali tersenyum sambil menjawab. Axel datang dengan tiga minuman. Dia meletakkan sesuai pesanan lalu duduk di samping Qila. "thank you" ucap perawat Lee. "Bi, ada yang aku ingin tanyakan" tanya Qila langsung. "silahkan. Akan aku jawab" "terima kasih. Jadi, apa bibi tahu ayahku?" Kening perawat Lee langsung mengerut, heran dengan pertanyaan Qila "ayahmu? Ahn Dongmin?" perawat Lee balik bertanya. Qila mengangguk "iya, ayahku Ahn Dongmin" "memang apa yang terjadi? bukankah kalian tinggal bersama di Indonesia?" Qila mengngeleng "hanya aku dan ibuku yang tinggal di Indonesia. Ayah dan ibu berpisah sebelum aku lahir. Aku datang untuk mencari ayahku" "maaf, aku tidak tahu jika ibumu dan ayahmu berpisah. Aku datang saat mereka menikah. Aku pikir mereka baik-baik saja hingga saat ini" ucap Bibi Lee dengan wajah bersalah. "tidak apa. Tapi bibi, apa kau tahu informasi tentang ayahku? atau kalian pernah bertemu meskipun tidak sengaja" Bibi Lee menggeleng "aku tidak pernah bertemu dengannya. Seperti yang ku bilang, aku kira kalian tinggal bersama. Tapi aku dengar, dulu dia memiliki perusahaan. Kau sudah kesana?" Qila menggeleng "perusahaannya sudah bangkrut" jawabnya dengan suara lemah. "bagaimana denga nenek dan kakekmu? kau sudah mencarinya?" tanya perawat Lee lagi. "kakek? nenek?" ulang Qila. "iya. Setahuku, ayahmu dari kalangan chaebol (istilah bahasa untuk konglomerat). Mereka memiliki perusahaan besar. Tapi jujur aku tidak tahu perusahaan apa." jelas perawat Lee. "baiklah. Terima kasih sudah meluangkan waktumu Bi. Nanti akan aku coba mencari nenek dan kakek" Perawat Lee tersenyum sambil mengangguk "jangan sungkan untuk hubungi aku. Kau akan aku anggap sebagai keluargaku. Datanglah ke rumah dan kita makan bersama" Qila balas tersenyum "terima kasih bi. Boleh aku meminta nomor ponsel bibi?" "tentu" jawab perawat Lee lalu menyebutkan nomor ponselnya. Dia juga langsung meminta Qila untuk menghubunginya. "akan aku simpan" ucapnya kemudian saat nomor Qila sudah muncul di layar ponselnya. Qila mengangguk "sekali lagi, terima kasih untuk waktunya. Maaf jika kami mengganggu. Kami akan pulang sekarang" "tidak masalah. Aku senang bertemu anak sahabatku" "Bi, kami pamit" ucap Axel kemudian. Perawat Lee mengangguk "baiklah, kau bawa kendaraan pribadi?" Axel mengangguk. "aku bawa mobil" "berkendaralah dengan hati-hati. Jika kau mengantuk, berhenti dulu sebentar" "baik bi" Keduanya kemudian keluar rumah sakit dan memasuki mobil. "kau lelah?" tanya Axel sambil memasang sabuk pengaman. "tidak. Kau yang lelah. Kau yang menyetir" jawab Qila. Axel tertawa pelan, lalu mulai menjalankan mobilnya "aku tidak merasa lelah. Kita langsung pulang?" Qila mengangguk "iya, kecuali kau ingin mengajak ku ke suatu tempat" "apa itu sebuah kode?" "tidak" Axel kembali tertawa pelan "nanti kalau ada waktu, besok kita harus mengerjakan tugas dari Dosen In Sung." "tentu" sahut Qila. Dia mengeluarkan ponselnya lagi. Tangannya mengetik pesan kepada sang bunda, menanyakan apakah sang bunda sudah tidur atau masih berjaga di rumah sakit. Saat ini di Korea sudah jam sebelas malam sedangkan di Indonesia jam sembilan. Perbedaan waktu dua jam antara Korea dan Indonesia. Nama sang bunda muncul di layar ponsel Qila. Segera Qila tekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ila, ada apa? di Korea udah malem. Kamu baik-baik aja?" tanya sang bunda khawatir. "baik bunda. Ila gak apa-apa." "syukurlah. Terus ada apa La?" "gini bunda, Ila mau tanya. Hari ini aku abis ketemu temen bunda, perawat Lee atau Bi Lee" "oh ya? gimana? dia sehat?" suara sang bunda begitu antusias. "sehat bunda. Aku nanya ke Bi Lee tentang ayah. Sayangnya Bi Lee gak punya info apapun. Tapi Bi Lee ngomong tentang nenek sama kakek yang punya perusahaan. Bunda tahu perusahaan apa?" Sang bunda menghela napas "gak tahu, bunda gak tahu perusahaan apa, yang bunda tahu perusahaan itu memang cukup besar" jawab sang bunda. Seolah ada lampu di kepalanya, Qila langsung menjentikkan tangannya "nama. Qila mau tahu nama kakek sama nenek" "Nama kakekmu Ahn Suk Hwan, nenekmu Eun Jin" jawab sang bunda. "oke. Bunda. Makasih ya" "iya, kamu sekarang dimana?" "di jalan bun" "sama siapa? Axel?" "iya bunda, sama Axel" jawab Qila sambil melirik Axel. "loadspeakernya La, bunda mau bicara" suruh sang bunda. Qila menekan tombol loadspeaker, lalu sedikit mendekatkan ponselnya kepada Axel. "ibuku ingin berbicara" ucap Qila. Axel tersenyum, lalu mengangguk. Matanya masih fokus menatap kedepan. "halo. Axel? can you hear me?""yes, Its Me. Annyeong haseyo, Axel imnida" jawab Axel. "I heard you are used to speaking English, so listen up" Axel tertawa pelan "oke, madam" sahut Axel. "Thank you for protecting Qila. Drive carefully. See you" "see you, madam" "bunda, udah?" tanya Qila kemudian. "udah. Gitu doang" Qila tertawa pelan "yaudah, aku tutup ya bunda" "iya sayang. Semangat, ingat ya, pendidikan jangan sampe di abaikan" "siap bunda. Qila ingat kok" "oke. Dah sayang" "dah bunda" Qila menutup panggilannya dengan sang bunda, lalu memasukkan ponsel kedalam tasnya. Dia menatap Axel yang pandangannya tetap fokus pada jalanan "sama seperti apa yang ibuku ucapkan. Aku juga akan berterima kasih. Terima kasih kau sudah banyak membantuku" tulus Qila. Axel tersenyum, dia melirik Qila sekilas, sebelah tangannya lalu terulur dan mengusap kepala Qila "ucapan terima kasih diterima" balasnya. Qila tersenyum, lagi-lagi perasaan aneh itu muncul. Sepertinya dia harus segera bertanya kepada sang bunda. Dia takut jika itu semakin parah. *** Selesai kuliah, Axel dan Qila sepakat mengerjakan tugas paper mereka di perpustakaan. Berjam-jam mereka fokus dengan tugas mereka. Qila yang sudah setengah mengerjakan bisa selesai lebih dulu, sedangkan Axel tinggal menyelesaikan bagian akhir. Setidaknya, bagian sulit sudah di lewati. Qila juga sesekali membantu Axel. "ayo kita makan tteokbokki. Aku ingin yang pedas. Otakku sudah panas karena tugas" Qila tersenyum sambil merapihkan barang-barangnya kedalam tas "oke" sahutnya kemudian. "Lets go" ajak Axel sambil menarik tangan Qila keluar perpustakaan. Langit sudah gelap. Jam sudah menunjukkan pukul delapan, itu artinya mereka sudah hampir empat jam ada di perpustakaan. Luar biasa. Axel menghentikan motor tepat di kedai tteokbokki. Qila segera turun dan melepas helmnya, begitu juga dengan Axel. Keduanya kemudian masuk dan memesan. "Apa minggu ini kau sibuk?" tanya Qila "tidak. Ada apa?" Axel menjawab kemudian balik bertanya. "aku ingin pergi ke yayasan milik Dosen In Sung, kau mau ikut?" "tentu" jawab Axel langsung Qila tersenyum lebar, lalu menyuapkan tteokbokki, begitupun dengan Axel. Keduanya makan sambil bercanda dan sesekali saling meledek. Hingga sebuah panggilan menghentikan tawa Qila. "Bunga?" Qila cukup terkejut melihat teman satu sekolahnya dulu. "wahhhhh. Gue kira setannya Qila. Gak nyangka beneran ketemu lo disini" ucap Bunga lalu duduk di samping Qila. Begitupun dengan teman-teman Bunga yang lain. Sepertinya teman kuliahnya, karena tidak ada yang Qila kenal. Qila hanya memberikan senyum tidak ikhlasnya. "lo beneran kuliah di Korea? kaget gue, masih gak percaya gitu. Gue kira lo ngayal" Bunga bertanya dengan hebohnya. "hmm" respon Qila. "eh kenalin. Ini Qila. SI Cilok. Cina lokal. Temen satu sekolah gue dulu" lagi, dengan hebohnya Bunga mengenalkan Qila. Kembali Qila memberikan senyum tidak ikhlasnya kepada teman-teman Bunga. Bukan senang karena bertemu dengan teman, Qila malah kesal. "ya ampun. Gue tuh masih percaya gak percaya gitu. Kaya beneran? lo kan gak pinter-pinter banget ya Qil. tapi kok bisa? kaget gue. Eh sorry, itu cuma pendapat gue ya. Gak maksud buruk" lanjut Bunga. Qila diam, tidak merespon. Tapi keinginan muncul untuk menumpakan kuah tteokbokki ke wajah Bunga. Bunga menatap Axel. Matanya membulat karena terkejut "Who is he, Qil? ganteng kaya Chanyeol EXO. Dia gak bisa bahasa Indonesia? kenalin lah sama gue. Punya kenalan ganteng kok diem-diem aja. Takut demen sama gue?" ucap Bunga percaya diri lalu tertawa. "pacar gue" jawab Qila ketus. Lagi-lagi membuat Bunga dan teman-temannya yang sedari tadi memang diam-diam menatap Axel terkejut. "bohong lo?!" "lah, urusan lo apa Nga?" "ya engga sih, cuma menurut gue, masih cantikan gue. Lo mah gak cantik-cantik banget, modal putih doang. Kalau gak putihmah lo jelek, kok bisa ada cowok ganteng nyantol " "itukan menurut lo!" ketus Qila. "kok lo sewot! itukan pendapat. Opini!" "dih, belajar lagi lo! bedain mana pendapat, opini sama mengejek!" tegas Qila. Dia lalu bangun, memberi kode kepada Axel agar ikut bangun. "ayo kita pergi" ajak Qila kemudian. "udah di bayar nih. Kalau mau, ambil aja!" ucap Qila menunjuk tteokbokki miliknya dan Axel kepada Bunga sebelum berjalan keluar. "Who Is she?" tanya Axel sambil menyerahkan helmnya. "teman sekolahku dulu" jawab Qila dengan wajah cemberut. "mereka berbicara buruk?" Qila mengangguk "aku benci dia. Selalu meledekku" Axel mengusap pipi Qila "jangan sedih, biarkan saja. Ingin makan es krim?" Qila kembali mengangguk, membuat Axel tersenyum "ayo" ajaknya kemudian naik keatas motor dan di susul Qila. Selama perjalanan, tanpa Qila sadari jantung Axel berdetak begitu cepat dan tidak karuan. Tanpa Qila tahu, sebenarnya Axel sedikit-sedikit mulai belajar bahasa Indonesia, dan kata pacar? dia tahu artinya itu. Mendengar Qila mengatakan kata pacar, jujur saja. Kaki Axel langsung terasa seperti jelly saat itu juga. Sampai di kedai es krim, Axel menahan agar bibirnya tidak tersenyum. Demi apapun, rasanya seperti ada taman bunga di dalam tubuhnya. "kau kenapa? sakit?" tanya Qila yang aneh dengan wajah Axel. Axel menggeleng, tersenyum lebar kepada Qila "aku baik. Aku sehat. Ayo masuk" Axel menarik Qila memasuki kedai es krim. Senyumnya masih tercetak lebar, tidak takut jika giginya kering atau orang menatapnya aneh. Selama bukan Qila yang menatapnya aneh, dia tidak masalah. "ayo kita pesan" ucap Axel penuh semangat, sedangkan Qila hanya mengerutkan kening. Apa Axel begitu cinta dengan es krim hingga begitu semangat? pikir Qila. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN