Setelah pertemuan dengan Bunga, Qila terus merasa kesal. Dia merasa bahwa saat itu Bunga sedang berusaha merendahkan dia di hadapan teman-teman kampusnya. Kesal, tentu saja. Mana dibilang gak cantik dan modal putih doang. Dia manusia atau bukan sih? kok kaya gak ada otak dan nuraninya gitu loh jadi orang.
Menatap wajahnya di cermin, Qila memoleskan liptint di bibirnya. Tidak masalah jika tidak menggunakan bedak, tapi masalah jika tidak menggunakan pewarna bibir. Bisa-bisa dia disangka sakit atau bahkan mayat hidup karena pucat.
Ponsel yang berada di hadapannya menyala, notifikasi pesan muncul. Axel sudah datang dan menunggu di bawah. Segera Qila memasukkan barang bawaannya kedalam tas lalu memakai sepatu, dia harus cepat karena tidak ingin Axel menunggu lama. Hari ini mereka akan pergi ke yayasan atau lembaga milik Dosen In Sung. Qila sudah menghubungi sang dosen dan sang dosen memperbolehkan Qila berkunjung kapanpun.
Setelah mengunci pintu, Qila segera turun. Menyapa Bibi Im yang kebetulan sedang ada di luar.
"Qila! masih punya mie?" tanya Bibi Im menghentikan langkah Qila.
"ada, Bibi Mau?" tanya Qila kemudian.
"nanti malam. Nanti malam aku minta satu"
Qila tersenyum, lalu mengangguk "baiklah"
"yasudah. Kalian hati-hati!" sahut Bibi Im sedikit berteriak. Qila mengangguk, Axel juga menyapa Bibi Im sebelum mereka memasuki mobil. Tidak seperti biasanya yang selalu membawa motor, kali ini Axel mengendarai mobil.
"apa tempatnya jauh?" tanya Qila sambil memasang sabuk pengamannya.
"tidak terlalu. Motorku sedang di bengkel" jawab Axel dan mulai menjalankan mobilnya.
Qila mengangguk, lalu meminta izin untuk menyalakan radio agar suasana mobil bisa lebih ramai.
"kau suka anak kecil?" tanya Axel, mobil yang dikendarainya sudah bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.
"suka. Mereka lucu" jawab Qila sambil tersenyum lebar.
"kamu juga lucu, meskipun bukan anak kecil"
"apa?" Qila menatap Axel yang tengah menyetir. Memastikan pendengarannya.
"apa?" tanya Axel balik. Dia menatap Qila saat mobil berhenti karena lampu merah.
"kau tadi bilang apa?" tanya Qila lagi.
"yang mana?"
Qila berdecak "kau menyebalkan" kesalnya kemudian.
Axel tertawa, Qila benar-benar lucu jika kesal atau merajuk "kau lucu" ucap Axel kemudian.
"kau lucu, meskipun kau bukan anak kecil. Tadi aku bilang seperti itu" lanjut Axel mengulang ucapannya.
Qila diam, tidak tahu harus merespon seperti apa tapi dia merasakan wajahnya terasa panas.
Axel tersenyum melihat wajah Qila, dia kembali menjalankan mobil saat lampus udah kembali hijau.
"Xel. Menurutmu, saat liburan nanti lebih baik aku yang pulang ke Indonesia atau ibuku yang datang ke Korea?" tanya Qila setelah keduanya saling diam beberapa saat.
"tergantung"
"tergantung?"
Axel mengangguk "kalau kau ingin mendapat moment liburan yang pergi kesana-kesini, sepertinya lebih baik jika ibumu yang datang. Tapi jika kau ingin liburan yang santai dan yeah- tidak berjadwal dan sesuka hatimu. Lebih baik jika kau yang ke Indonesia" jelas Axel.
Qila mengangguk "kau, liburan mau kemana?"
"aku? bagaimana kau"
"aku?!" wajah Qila begitu bingung dengan jawaban Axel.
Axel tertawa. "Pergi ke Kanada, aku sudah bosan. Di Korea, juga sudah bosan. Mungkin aku akan mengikuti jadwal liburanmu"
"jadi kau berencana merecoki liburanku?"
"betuls sekali"
"hey! mana bisa! tidak boleh" protes Qila langsung yang hanya sebuah candaan.
"aku tidak meminta izin"
"aku melarang"
"kau tidak bisa melarangku"
Qila berdecak, melipat kedua tangannya di d**a dan membuang pandangannya keluar. Bibirnya mengerucut karena kesal. Dia kesal karena selalu kalah berdebap dengan Axel. Sedangkan Axel yang meliriknya, tertawa pelan. Semakin gemas kepada perempuan dia sampingnya.
Canggung tidak melakukan apapun, Qila akhirnya memainkan ponselnya. Masuk ke media sosial i********:, sudah beberapa hari ini dia tidak berseluncur disana. Qila kemudian berdecak saat melihat Bunga meng-upload foto baru dengan caption seolah tengah menyindirnya.
'ketemu temen sekolah di Korea. Sombong banget, udah kaya dia aja yang punya Korea. Gak boleh banget gue nyempein opini.'
Ya ampun, rasanya Qila ingin memaki orang tersebut. Padahal, sejak dulu Qila tidak pernah mencari masalah dengan Bunga dan teman-temannya. Dia orang yang lempeng. Tapi kenapa sih manusia itu seolah suka sekali mengusiknya. Benar-benar menyebalkan. Ratu drama.
"something happened?" tanya Axel yang mersa suasa mobil sedikit aneh meskipun ada suara radio. melirik Qila, Dia menemukan wajah Qila yang kini terlihat begitu kesal.
Qila mengangguk "ingat teman yang aku temui beberapa hari lalu? dia semakin menyebalkan" adu Qila kepada Axel.
"apa lagi yang dia lakukan?" tanya Axel.
"dia upload foto di i********:. Memberika caption yang seolah tengah menyindirku dan aku merasa dia memang menyindirku"
"biarkan saja, orang seperti itu akan senang jika kau merespon"
Qila mengangguk "oh iya, aku ingin mengatakan sesuatu"
"apa?" Axel menatap Qila sebentar lalu kembali fokus pada jalan.
"sebenarnya, saat malam itu. Mereka bertanya tentang mu. Lalu aku berbohong kepada mereka dan bilang jika kau adalah pacarku. Maaf"
Axel tertawa pelan, tangan kanannya kembali terulur dan mengusap kepala Qila (ingat, setir mobil di Korea letaknya ada di sebelah kiri) "tidak masalah. Aku tidak keberatan"
Qila ikut tersenyum "kau memang yang terbaik"
"tentu. Axel Park" ucap Axel dengan sombongnya. Dia malah senang. Lebih dari senang mungkin, berharap Qila lebih sering mengakui dirinya sebagai kekasih.
***
Qila dan Axel berhenti di depan bangunan dua lantai. Papan nama besar bertuliskan Beautiful Day menempel dengan kokoh. Bangunan tersebut terlihat begitu terawat. Di sampingnya ada taman bungu yang cukup luas dengan beberapa permainan. Pohon-pohon besar juga membuat suasana begitu sejuk.
Axel mengeluarkan kantong plastik dari dalam mobil. Di pertengahan jalan, Qila meminta Axel berhenti untuk membeli sesuatu. Tidak nyaman jika datang dengan tangan kosong. Alhasil, keduanya datang dengan beberapa cemilan.
Keduanya melangkah masuk dan langsung dibawa bertemu penanggung jawab, -mungkin semacam ibu panti-. Qila dan Axel mengenalkan diri, mereka di sambut dengan sangat baik. Ibu Seo, sebelumnya memang telah diberi tahu oleh sang pemiliki lembaga, In Sung, tentang kedatangan Qila dan Axel.
"aku senang jika ada anak muda yang datang" ucap Ibu Seo dengan senyum ramah.
"apa saja yang biasa di kerjakan disini?" tanya Axel.
"beragam. Kami melakukan sosialisasi, pendampingan sekaligus penanganan hukum serta pelindungan kepada anak-anak yang mengalami kekerasan. Kami juga melakukan terapi kepada anak-anak yang mengalami trauma, atau mencari keluarga baru untuk anak-anak yatim piatu. Intinya mencari jalan yang terbaik untuk mereka" jelas Ibu Seo.
"aku belum melihat seorang anakpun, apa mereka ada yang tinggal disini?" tanya Axel lagi.
"tentu saja, tapi sekarang ini waktunya untuk mereka istirahat. Mereka baru selesai memakan cemilan mereka. Saat ini ada sekitar empat belas orang yang tinggal disini. Beberapa diantaranya sedang kami lakukan terapi karena trauma. Beberapa ada yang menunggu calon keluarga baru mereka menjemput."
Qila dan Axel mengangguk "untuk orang tua baru, apakah mereka sendiri yang datang untuk mencari?" kini Qila yang bertanya.
"iya. Saat kami menangani kasus, kami juga memberitakannya. Beberapa keluarga terketuk hatinya dan datang untuk ikut membantu mengawal kasus tersebut atau menyatakan siap bertanggung jawab terhadap anak tersebut nantinya."
Telepon di ruangan Ibu Seo berdering, segera Ibu Seo mengangkatnya. Tanpa banyak berkata apapun, kemudian kembalu menutupnya.
"kami sedang melakukan penjemputan kepada seorang anak, mereka sudah akan tiba" ucap Ibu Seo. "ayo kita tunggu di depan" ajaknya kemudian.
Qila dan Axel mengangguk, mengukuti Ibu Seo untu menunggu di depan. Hingga hampir sepuluh menit menunggu. Mobil berwarna hitam berhenti. Turun seorang wanita yang lebih muda dari Ibu Seo.
Qila dan Axel memberi salam, wanita itu membalasnya. Lalu pandangannya beralih kepada Ibu Seo, dia menggeleng lemah. "tidak mau turun dari mobil. Di ketakutan" ucapnya kemudian.
Ibu Seo mengangguk, lalu melangkah mendekati mobil.
"ada apa?" tanya Axel
"Jaeha tidak ingin turun. Di takut dan akan mencakar orang yang memaksanya"
Tidak lama, Ibu Seo turun dari mobil. Dia juga menggeleng lemah dan suara tangis terdengar dari dalam mobil.
Beberapa orang bergantian membujuk, tidak ada yang berhasil. Bahkan dua orang wajahnya terluka karena cakaran. Tangis masih terdengar dari dalam mobil. Qila memutuskan mencoba setelah sebelumnya meminta izin.
Perlahan dia masuk kedalam mobil. Bocah itu tengah duduk dibawah, tehimpit jok penumpang depan dan belakangdengan kepala terbenam di kedua lutut yang dilipat.
"Halo Jaeha" sapa Qila dengan lembut.
Jaeha tidak merespon, dia tetap menangis.
"Hai Jaeha" Qila kembali mencoba.
Jaeha masih tidak merespon.
"anyyeong Jaeha" Qila tidak menyerah untuk mencoba.
"Kau ingin cokelat?" tanya Qila kemudian.
Jaeha tetap tidak merespon.
"permen?"
"mainan?
"bagaimana taman bermain? kau ingin kesana?" Qila terus berusaha.
Tangis Jaeha perlahan berhenti. Qila tersenyum senang mendengarnya. Sepertinya Jaeha mulai meresponnya.
"bagaimana? taman bermain sangat menyenangkan. Kita bisa bermain sepuasnya" lanjut Qila.
"Jaeha ingin naik apa? perahu besar? balon udara? kuda yang lucu?" Qila terus berbicara.
"Jaeha" Qila mencoba memanggil lagi saat tangis Jaeha kini benar-benar tidak terdengar.
Perlahan wajah Jaeha terangkat. Jantung Qila langsung seperti di tusuk ratusan pedang tajam. Terlihat beberapa memar biru di wajahnya, lebih parah adalah bagian mata. Ingin Qila menangis, tapi dia tahan. Wajah lucu itu, penuh dengan luka.
"ayo turun" ajak Qila dengan lembut, dia juga tersenyum hangat kepada Jaeha.
Jaeha menggeleng.
"kenapa? Jaeha takut?"
Jaeha mengangguk.
"tidak ada orang jahat disini. Semuanya orang baik. Aku berjanji akan membawa Jaeha ke taman bermain jika Jaeha mau turun dan Jaeha sudah sehat. Bagaimana?" Qila masih tersenyum hangat kepada Jaeha. Memberitahu jika dia dan orang diluar mobil yang tengah menunggu mereka bukanlah orang jahat.
"masih takut?"
Jaeha diam. Masih ragu.
Teringat sesuatu, Qila merogoh kantong celananya. Dia mengeluarkan satu permen dan menyodorkannya kepada Jaeha "ini sebagai janji"
Jaeha tidak langsung menerima. Qila masih tersenyum menatap Jaeha, dia mengangguk, meminta kepercayaan Jaeha.
Hingga akhirnya, perlahan tangan Jaeha terulur. Meraih permen di tangan Qila. Qila tersenyum.
"ayo kita turun" ajak Qila kemudian.
Jaeha masih diam. Ragu.
"mau aku gendong?" tawar Qila.
Jaeha mengangguk pelan. Senyum Qila tidak luntur, perlahan Qila membantu Jaeha untuk bangun. Kedua tangannya kemudian mendekap Jaeha dan membawanya keluar mobil. Jaeha menenggelamkan wajahnya di pundak Qila.
Semua tersenyum lega melihatnya, termasuk Axel. Ibu Seo memberi kode agar Qila mengikutinya. Qila mengangguk pelan lalu melangkah mengikuti ibu Seo dengan ditemani Axel yang melangkah disampingnya.
Mereka sampai di depan sebuah kamar. Ibu Seo membuka pintu tersebut, Qila sejenak tajkub melihat isi kamar. Sangat bagus. Seperti kamar milik anak dari keluarga kaya. Interior yang bagus, dengan tempat tidur yang terlihat begitu nyaman.
"aku akan meminta orang untuk membawakan minum dan cemilan" ucap Ibu Seo.
Qila mengangguk, Ibu Seo pergi. Qila dan Axel melangkah masuk. Qila duduk di tempat tidur, Jaeha masih betah menyembunyikan wajahnya. Perlahan Qila usap lembut kepala Jaeha "jangan takut. Tidak ada yang jahat" ucap Qila.
Perlahan Jaeha mengangkat wajahnya. Matanya langsung melihat suasana kamar.
"itu paman Axel. Dia baik. Nanti kita pergi ke taman bermain bersama paman Axel" ucap Qila menunjuk Axel.
Axel tersenyum lebar. Menyapa Jaeha dan mengaku sebagai pahlawan super yang akan melindungi Jaeha.
Tidak lama Ibu Seo datang bersama wanita yang datang bersama Jaeha. Membawa nampan berisi air putih dan obat.
"ibu Seo juga orang baik. Dia juga akan menjaga dan merawat Jaeha" lanjut Qila.
"Jaeha harus meminum obatnya" ucap wanita yang belum Qila tahu namanya tersebut.
Qila mengangguk "yuk sekarang Jaeha minum obat. Agar cepat sembuh"
Bersyukur Jaeha mau meminum obatnya, meskipun masih dalam pangkuan Qila. Hingga kurang lebih lima belas menit, Jaeha tertidur. Efek obat, usapan Qila dan lelah karena menangis.
Setelah meletakkan Jaeha diatas kasur dan menyelimutinya. Mereka keluar tanpa mengeluarkan suara.
"Perkenalkan, saya Qila" Qila langsung mengulurkan tangan kepada wanita yang membawa Jaeha.
"panggil Bibi Lee" sahutnya sambil menjabat tangan Qila.
"saya Axel" kini Axel yang mengenalkan diri.
"Bibi Lee"
"apa yang terjadi kepada Jaeha?" tanya Qila.
"dia di siksa oleh pamannya. Orang tuanya sudah meninggal. Kami menjemputnya lalu membawa ke rumah sakit. Saat ini kasusnya sudah di laporkan dan Jaeha akan tinggal disini"
"apa disini satu kamar diisi dengan satu anak?" tanya Axel.
"tidak. Ketika kondisi mental mereka sudah siap, mereka akan tidur bersama dengan yang lain untuk bersosialisasi" jawab Ibu Seo.
Axel dan Qila mengangguk. Tempat ini benar-benar luar biasa.
***
"Kau senang?" Tanya Axel. Keduanya sudah di jalan menuju pulang. Jaeha sempat tidak ingin berpisah dengan Qila. Tapi setelah dibujuk dan diberi pengertian dengan perlahan, Jaeha mengerti. Qila juga berjanji akan lebih sering berkunjung untuk menemui Jaeha.
"tentu. Dia lucu. Jahat sekali pamannya sampai membuat banyak luka diwajah kecil itu. Aku hampir menangis ketika pertama kali melihat wajahnya" jawab Qila. Terbayang wajah lebam Jaeha, Qila benar-benar sedih.
"masih kecil sudah mendapat hidup yang begitu keras" sahut Axel.
Qila mengangguk "Kuharap dia bisa bangkit dan bisa merasa hidup tenang"
"jadi, agenda kita akan lebih sering kesana?"
"itu agenda ku. Kalau kau, terserah"
"memang kau bisa kesana sendiri?" goda Axel, matanya masih fokus menatap jalan.
"aku bisa berangkat dengan taxi" jawab Qila
"jaraknya jauh, naik taxi akan mahal"
"kalau begitu naik bus" Qila tidak mau kalah.
"itu akan lebih lama, karena rutenya berputar" sahut Axel lagi dengan santai.
"yasudah, aku mengajak teman di grup Indonesia saja" ketus Qila dengan wajah cemberut.
Axel berdecak "jangan. Ada aku, kenapa harus minta tolong kepada yang lain? manfaatkan saja aku"
Qila tertawa "baiklah, baiklah. Aku kan hanya berjaga jika kau tidak bisa ikut"
"bisa. Aku akan selalu bisa"
"jawabanmu membuat kau terlihat seperti orang yang tidak punya pekerjaan"
"aku pengangguran yang banyak acara"
Keduanya kemudian tertawa. Perdebatan kecil yang terdengar aneh.
***
Bersambung