Informasi

2085 Kata
"kita mau kemana?" tanya Qila saat mobil mulai bergerak meninggalkan parkiran. Selesai kelas, Axel langsung mengajaknya pergi. "bertemu seseorang" jawab Axel. Qila mengerutkan kening "who?" "Dokhwa" jawab Axel. Qila langsung berdecak "aku pikir bertemu siapa. Kau hampir membuatku takut" keluh Qila. Axel hanya tertawa mengedar Qila mengeluh. "kita bertemu dimana?" tanya Qila kemudian. "di cafe yang dulu" jawab Axel. Qila mengangguk. Mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mengirim pesan kepada sang bunda. Malam ini dia ingin memasak ayam balado dan akan menanyakan resepnya kepada sang bunda. Baru mengirim pesan kepada sang bunda, pesan masuk datang ke ponsel Qila. Desn In Sung, mengirimnya pesan. Dosen In Sung Aku dengar, anak yang baru masuk Beautiful Day sangat menyukaimu dan selalu menanyakanmu. Lebih seringlah datang kesana untuk menjadi pengasuhnya. Jika kau membutuhkan pekerjaan paruh waktu, aku juga tidak keberatan untuk menggajimu. Setelah membaca, Qila langsung menuliskan balasan kepada Dosen In Sung. Terima kasih atas tawaran anda, saya akan berusaha menyisihkan waktu lebih luang untuk berkunjung. Pesan terkirim dan dalam beberapa detik kembali di balas. Dosen In Sung Terima kasih, Qila  Qila langsung tersenyum lebar, Dosen In Sung menulis kata 'terima kasih' dengan bahasa Indonesia.  Axel yang sesekali melirik Qila, langsung penasaran saat mendapati Qila tengah tersenyum sambil menatap layar ponsel. "ada apa?" tanya Axel langsung. Qila langsung menatap Axel. Mobil berhenti di lampu merah. "dosen In Sung mengirimku pesan. Minta aku untuk lebih sering mengunji Jaeha. Dia juga mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia" "lalu kau jawab apa?" tanya Axel, matanya melirik lampu yang belum berubah. "aku bilang akan usahakan lebih sering berkunjung" Axel mengangguk, lampu lalu lintas sudah berubah, Dia kembali menjalankan mobilnya hingga behenti di sebuah cafe tempat dia dan Dokhwa janji untuk bertemu. "Dokhawa sudah datang?" tanya Qila sambil menutup pintu mobil. "sepertinya belum." jawab Axel. Qila mengangguk, keduanya kemudian melangkah masuk kedalam cafe. Memilih tempat duduk lalu memesan. Karena cafe ini terkenal dengan kopinya, jadi Qila memesan kopi, kopi yang sesuai dengan dia yang bukan pencinta kopi alias kopi yang cocok untuk lidahnya. Axel juga memesan red velvet sebagai pelengkap.   "La, aku lupa. Ibuku berpesan, sesekali datanglah lagi ke rumah" ucap Axel. Sebenarnya, ibunya tidak berpesan, dia berbohong. Hahaha. "baik, nanti aku datang" jawab Qila lalu meminum kopinya. Tidak lama Dokhwa datang, dia tersenyum lebar menghampiri Axel dan Qila. "hey bro!" Dokhwa memukul punggung Axel cukup keras. Axel menggeram, melayangkan balasan dengan meninju lengan Dokhwa. "halo Qila, apa kabarrr" sapa Dokwa dengan bahasa Indonesia.  Qila tertawa, lucu saat mendengar Dokhwa mencoba menyebutkan kata 'R' "halo, aku baik" jawab Qila kemudian. "artinya?" tanya Dokhwa, kembali dengan bahasa Korea. Qila kembali tertawa "i'm fine" jawabnya lagi. "cih, cuma baru bisa satu kata sudah sombong" cibir Axel yang duduk disebelah Dokhwa. "daripada kau? kau tidak sombong karena tidak bisa satu katapun" ledek Dokhwa. "siapa bilang?!" Axel tidak terima. "aku. Aku yang bilang!" Dokhwa menepuk dadanya. Axel berdecak, dia ingin membuat kejutan kepada Qila saat kemampuan bahasa Indonesia sudah cukup baik, dia ingin Qila bangga. Jadi dia harus menahan diri kali ini. "see? kau diam. Kau itu makhluk paling sombong. Tidak mungkin kau diam saat kau punya sesuatu untuk di pamerkan" Dokhwa kembali bersuara, mengejek sahabatnya. "diam, atau ku siram wajah jelek mu!" kesal Axel. "kau berani menyiram mantan calon personil EXO atau BTS?"  "mana ada! kau bahkan langsung gagal di audisi tahap pertama!" "sudah ku bilang! kalau aku berhasil, aku sudah ada di grup!" "berhenti bicara omong kosong dan sok tampan!" "aku memang tampan. Berhenti iri kepadaku!" "memangnya kau punya apa sampai aku harus iri!" suara Axel lebih tinggi. Qila hanya menatap keduanya dengan sebelah tangan yang menyangga kepalanya.  "aku punya segalanya! uangku melimpah! wajah tampan! otak cerdas! I'm a good boy" sombong Dokhwa. Qila menggigit bibirnya agar tidak terbahak. Keduanya benar-benar seperti anak TK yang sedang berdebat. Axel berdecih "good boy? f**k boy!" "hey! aku bilang berhenti iri kepadaku!" "aku tidak pernah iri! never!" "jadi, mau sampai kapan kalian terus berdebat?" tanya Qila yang sudah bosan menonton. "bilang kepada pacarmu, berhenti untuk iri kepadaku" pinta Dokhwa kepada Qila. "pacar? aku dan Axel tidak berpacaran" jawab Qila dengan wajah polosnya. Dokhwa langsung tertawa, terbahak dan Axel tahu jika manusia itu sengaja berbicara seperti itu, menggodanya lalu meledeknya.  "berhenti tertawa atau ku lempar ke tengah jalan" kesal Axel. "oke, Sorry bro" ucap Dokhwa sambil mengangkat sebelah tangannya dan memberikan senyum meledek kepada Axel. "lanjut ke pembicaraan serius, Qila, are you ready?" tanya Axel selanjutnya. "ready for?" Qila bertanya balik dengan bingung. Dokhwa langsung menatap Axel "kau belum bilang?" Axel menggeleng "belum" "apa yang kalian sembunyikan?" tanya Qila. "tidak ada. Aku pikir Axel sudah memberitahu maksud pertemuan hari ini" jawab Dokhwa. "jadi ada apa?" "begini-" Axel mengambil alih, tidak ingin Qila berpikir buruk "kau ingat? aku pernah meminta beberapa informasi tentang ayahmu. Informasi tersebut aku serahkan kepada Dokhwa untuk diselidiki dan hari ini Dokhwa akan memberitahu tentang hasil yang dia dapatkan" jelas Axel. "apa kau mendapatkan sesuatu?" tanya Qila pada Dokhwa.  Dokhwa mengangguk dan jantung Qila langsung berdebar dengan begitu cepat.  "jadi, bisa aku mulai?" tanya Dokhwa. Qila mengangguk, dia benar-benar merasa gugup sekaligus penasaran. "Aku mencari informasi ini dari beberapa kenalan ayahku yang berprofesi seorang wartawan maupun editor di sebuah kantor berita. Aku juga menyelam di beberapa forum untuk bertanya-" Dokhwa berhenti, menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan sebelum melanjutkan "perusahaan ayahmu bangkrut. Setelah perusahaan itu bangkrut, ayahmu kembali ke perusahaan orang tuanya, atau nenek dan kakekmu, nama perusahaan milik kakek dan nenekmu adalah A Corp. Selama ini, tidak ada yang tahu jika pemilik perusahaan yang gulung tikar itu adalah anak dari pemilik perusahaan besar. Hingga muncul kabar jika perusahaan itu gulung tikar karena ulah orangtuanya sendiri, mereka berselisih pendapat. Orangtua ingin anaknya mengurus perusahaan mereka dan sang anak ingin mandiri tanpa bantuan orang tua. Singkatnya sang anak kalah, perusahaannya gulung tikar dan dia mengikuti keinginan orang tuanya. Hingga kini, tidak pernah ada yang tahu wajah si anak itu seperti apa, anak itu benar-benar menyembunyikan dirinya, info lain mengatakan jika anak itu, maksudmu ayahmu, telah menikah dan kini lebih banyak tinggal di luar negeri bersama istrinya" lanjut Dokhwa menjelaskan. "aku tidak pandai menjelaskan, tapi aku harap kau mengerti dengan ucapanku" tutup Dokhwa. Qila diam, terlalu bingung harus memberikan respon seperti apa.  "are you okay?" tanya Axel begitu khawatir. Qila tersenyum getir lalu mengangguk "yeah, I'am okay" jawab Qila lalu kembali memaksakan senyumnya kepada Axel. "dan terima kasih untuk informasi yang kau berikan" lanjut Qila beralih menatap Dokhwa. Dokhwa mengangguk "senang bisa membantu" *** Qila diam, hanya menatap keluar jendela. Tatapannya kosong dan bibirnya terkunci rapat. Axel mengajak Qila pulang tidak lama setelah Dokhwa memberikan informasi.  Mobil berhenti di lampu merah, Axel menatap Qila yang masih diam. Dia tidak bersuara, hanya menghela napas dan menjalankan mobil saat lampu sudah berganti warna. Tidak membawa Qila langsung ke kosan, Axel memilih menghentikan mobil di depan sebuah taman. Dia turun dari dalam mobil dan memasuki mini market untuk membeli minum. "minum dulu" Axel menyodorkan botol minum kepada Qila. Qila mengerjap, langsung menatap Axel kemudian mengambil botol berisi air putih yang Axel sodorkan. "terima kasih" ucap Qila pelan lalu meminumnya, tidak banyak. "are you okay?" tanya Axel pelan. Qila menatap nanar Axel lalu mengangguk. Axel meraih tangan Qila untuk di genggam, matanya menatap tepat di mata Qila. Kesedihan terlihat jelas disana "Qila, its okay to not be okay. That's normal" ucap Axel. Tanpa di cegah, air mata Qila terjun. Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Ada rasa sakit dihatinya mendengar sang ayah telah menikah lagi.  Axel menarik Qila kedalam pelukannya, tangannya mengusap lembut punggung Qila, membiarkan Qila menangis. "ternyata menyakitkan" ucap Qila disela tangisnya. Axel tidak berbicara, hanya tetap mengusap lembut punggung Qila agar lebih tenang. Setengah jam lebih Qila menangis dalam pelukan Axel. Setelah lebih tenang, Qila mengangkat melepaskan pelukannya. "minum lagi" ucap Axel. Qila mengangguk, meminum air lebih banyak. "sudah lebih tenang?" tanya Axel. Lagi, Qila mengangguk "terima kasih" Axel tersenyum hangat, mengusap kepala Qila "jangan malu untuk bilang jika kau tidak baik-baik saja." "padahal aku sudah membayangkan jika ayahku memang sudah memiliki kerluarga lagi, tapi mendengar jika apa yang aku bayangan ternyata nyata, hatiku langsung merasa kecewa. Sakit, sangat sakit" Qila berbicara dengan suara serak, napasnya juga masih tidak teratur efek setelah menangis. "lalu bagaimana, apa kau ingin berhenti?" Qila menggeleng "aku tetap ingin melihatnya, tapi kini benar-benar ingin dari jauh. Sepertinya aku tidak akan sanggup melihat ayahku dengan keluarga barunya" "apapun itu, aku akan mendukung dan membantumu" Qila tersenyum sambil menatap Axel "terima kasih banyak" ucapnya kemudian dengan tulus. Mengenal Axel dan dekat dengan Axel adalah salah satu kado terindah dalam hidup Qila ditengah kesendirian dan kesepiannya saat tinggal di Korea. *** Sampai di kosan, Qila langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya tidak ada lagi tenaga yang dia miliki saat ini. Jangankan untuk memasak resep yang bundanya kirimkan, untuk ke kamar mandi dan berganti pakaian saja, Qila sudah merasa tidak kuat. Hatinya masih sakit dan tubuhnya menjadi lemas tak berenergi. Ponselnya berdering, dengan susah payah Qila merogoh sakunya, melihat layar kaca tersebut, tersenyata sang bunda menghubunginya. "Assalamualaikum" "waalaikumsalam bunda"  "Kenapa La? kamu sakit?" "engga bunda" "bohong. Suara kamu kedengeran beda ya." "Ila cuma capek aja bunda" "La..." "Bener bunda, Ila gak sakit. Ila cuma lagi capek aja"  Qila mendengar sang bunda menghela napas "jaga kesehatan ya La, bunda gak mau kalau kamu sampe sakit" "iya bunda. Ila selalu berusaha jaga kesehatan. Bunda juga" "Iya, La" "bunda" panggil Qila pelan, rasanya dia ingin bercerita tentang apa yang mengganjal dihatinya kepada sang bunda. "kenapa sayang?" "Ila pengen cerita" "cerita apa sayang?" Qila diam, mencoba mengumpulkan suaranya agar tidak menangis "tentang ayah, bun" "iya sayang, cerita aja. Bunda dengerin" Qila menarik napas dalam, lalu perlahan mengembuskannya "Axel minta bantuan ke temennya untuk cari info tentang ayah. Hari ini Qila sama Axel ketemu temennya dan dia bawa info tentang ayah. Dia juga bilang, kemungkinan sekarang ini ayah tinggal di luar negeri sama istrinya. Kalau anak, Qila gak tahu, ayah udah punya anak atau belum" "terus perasaan Qila gimana? sedih?" "iya" lirih Qila. "Qila sedih karena ayah tinggal di luar negeri, jadi kemungkinan Qila ketemu sangat susah, atau ayah yang tinggal sama istri barunya?" "dua-duanya bunda" "Ila, dengar. Bunda sama ayah kamu itu pisahnya udah lama banget. Orang tuanya ayah kamu gak suka sama bunda. Dengan berjalannya waktu, ayah kamu juga pasti menikah lagi, entah itu karena pilihannya sendiri atau karena orang tuanya. Kamu jangan sedih." "iya bunda. Pas denger langsung, ternyata sakit. Ila udah prediksi dan ngebayangin tentang ayah sama keluarga barunya, Ila yakin bakal biasa aja. Tapi ternyata, pas denger langsung tuh rasanya beda, sedih aja gitu" "jadi sebenernya kamutuh gak capek cuma lagi sedih aja sekarang?" "iya bunda"  "terus mau gimana? mau udahan aja? bunda bakal marah sama kamu kalau gara-gara ini kamu pengen pulang ke Indonesia dan putus kuliah ya La" "engga bunda. Ila gak akan putus kuliah"  "terus? mau berhenti cari ayah?" "engga bunda. Ila tetep mau cari ayah. Sekarang Ila udah dapet informasi lain, Ila akan tetep cari ayah." "tapi tetep ingat ya La. Jangan sampe kedatangan kamu ngerusak keluarganya ayah. Kita kan gak tahu, istri ayah kamu itu tahu atau engga tentang masalalu suaminya yang sebelumnya pernah menikah." "iya bunda. Ila janji gak akan bikin keluarga ayah berantem gara-gara Ila. Kalau Ila sudah tahu rumahnya ayah, Ila paling cuma nunggu di luar, dari jauh. Setelah udah lihat papa, Ila akan pulang lagi" "La, dalam hidup itu pasti ada yang akan berjalan diluar rencana kita. Entah itu kegagalan, atau keberhasilan. Hati juga kadang tidak pernah sejalan dengan pikiran kita. Bunda minta, apapun itu yang kamu dapat nantinya. Entah itu gagal atau berhasil, entah itu senang atau sedih. Tetaplah berjalan ya La. Ila selalu punya bunda untuk Ila jadikan kekuatan." "iya bunda. Terima kasih" "semangat ya La. Meskipun hidup tidak berjalan dengan apa yang Ila inginkan" "iya bunda" "pinter. Pokoknya kamu harus tetap semangat, jaga kesehatan, fokus kuliah, kalau bisa diberesin cepet-cepet dan pulang ke Indonesia" "iya bunda" "iya bunda terus, La" QIla tersenyum "terus Ila harus jawab apa bun? engga?" "ya jangan!" "yaudah bunda. Ila tutup dulu ya telepon nya" "iya sayang. Ingat pesan bunda" "siap bunda. Dah bunda, Ila sayang bunda" "iya, bunda juga sayang kamu" Qila tersenyum setelah panggilan dengan sang bunda selesai. Hatinya sudah merasa jauh lebih baik. Bercerita dengan orang yang tepat selalu berhasil membantu memperbaiki suasana hati. Ponsel Qila kembali berbunyi. Kali ini notifikasi pesan dari Axel. Axel Park aku diluar, membawa makan malam untukmu Senyum Qila kembali merekah. Axel dan segala yang dia lakukan, tidak pernah mengecewakan. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN