Qila tersentak, matanya langsung mengedar ke sekitar yang ternyata sudah tidak ada dosen dan hampir kosong. Dia melamun.
"kau kenapa?" tanya Axel setelah membuat Qila kembali ke alam sadarnya.
Qila menghela napas kasar, lalu menatap Axel. "tidak tahu" jawabnya lalu mematikan alat perekam yang kembali dia gunakan.
"kau masih menggunakan itu?" tanya Axel.
Qila mengangguk "hanya untuk kondisi aku yang begitu malas masuk kelas. Setelah ada kau, aku belajar tidak menggunakannya, karena kau sangat membantu. Tapi, yeah- hari ini aku benar-bena tidak bisa fokus" jelas Qila.
"masih memikirkan tentang ayahmu?"
Qila mengangguk kembali "rasanya seperti di hantui"
"bagaimana kalau kita mulai mencari? kita buat pencarianmu selesai lebih cepat" usul Axel.
"bisakah?"
"tentu!" yakin Axel.
"kita sudah tahu beberapa informasi penting, kita bisa mulai dari itu"
"kau yakin?"
"tentu saja. Ayo semangat. Bukankah lebih cepat selesai akan jauh lebih baik?"
Qila mengangguk "iya"
"yasudah, kalau begitu, ayo" Axel menarik tangan Qila agar bangun. Kelas sudah benar-benar kosong sekarang, hanya menyisakan dia dan Qila.
"kemana?"
"makan. Aku lapar" jawab Axel lalu tersenyum lebar.
Qila berdecak, mebuat Axel tertawa. Keduanya lalu melangkah keluar kelas. "aku ingin makan burger" ucap Axel.
"baiklah, ayo beli"
Dari jarak kurang dari satu meter, Axel sudah menekan kunci agar mobil terbuka. Sekarang ini, Axel memang lebih sering menggunakan mobil daripada motornya. Padahal motornya sudah selesai di perbaiki.
"kenapa sekarang lebih sering menggunakan mobil?" tanya Qila setelah memasang sabuk pengaman.
"kau tidak nyaman?" Axel malah balik bertanya.
"aku kan yang bertanya lebih dulu, kenapa tidak kau jawab?" kesal Qila.
Axel tertawa pelan, dia mulai menjalankan mobil "tapi aku juga ingin bertanya"
Qila berdecak "jawab dulu, baru bertanya. Seperti itu"
"baiklah-baiklah. Jadi, kau tidak senang aku membawa mobil?"
"hey! jawab dulu pertanyaanku!" protes Qila.
Axel terbahak, dia suka menggoda Qila "baiklah. Naik mobil ternyata lebih nyaman, tidak panas" bohong Axel. Tidak mungkin dia jujur dan bilang 'naik mobil membuat dia lebih lama berdua dengan Qila dibandingkan naik motor yang bisa dengan cepat sampai'
Qila mengangguk "alasan diterima"
"kenapa? kau lebih suka naik motor? duduk lebih dekat denganku?"
Mata Qila membulat "apa?! tidak! enak saja. Aku tidak bilang begitu" protes Qila.
Axel lagi-lagi terbahak dengan respon Qila. Gemas, dia benar-benar gemas kepada perempuan di sampingnya itu.
Hingga setelah lima belas menit dalam perjalanan yang diisi dengan saling meledek, Axel menghentikan mobil di depan restoran Jepang. "aku ingin makan udon, disini juga menyediakan menu halal. Jadi aman" ucap Axel sambil melepas sabuk pengaman. Di tengah perjalanan tadi, dia memang membatalkan keinginannya untuk memakan burger.
Qila tersenyum lebar, tangannya terulur untuk mecubit pipi Axel "kau memang terbaik" ucap Qila.
Axel diam, merasa wajahnya terasa panas dan jantungnya sedang menari diiringi lagu hand's up dari grup 2PM karena pertama kalinya Qila melakukan hal tersebut. Rasanya lebih dari senang. Selama ini, dia sadar jika Qila masih memiliki rasa canggung kepadanya.
"kau kenapa? apa aku terlalu keras mencubitmu?" wajah Qila nempak khawatir.
Axel mengerjap, lalu menggeleng cepat "tidak. Tidak sakit" ucapnya dengan cepat.
Qila langsung tersenyum, dia tadi kelepasan dan mencubit Axel. "baiklah, ayo kita turun" ajak Qila kemudian.
Axel mengangguk, lalu keluar dari mobil, begitu juga Qila. Melangkah bersama, keduanya memasuki restoran untuk mengisi perut.
***
"Kau siap?" Axel bertanya sebelum dia menjalankan mobil.
Qila mengangguk "aku harus siap" jawabnya mantap.
Axel tersenyum, tangan kanannya terulur untuk mengusap kepala Qila "ada aku, jangan takut"
"aku tidak takut, hanya gugup" elak Qila,
Axel tertawa, dia mulai manjalankan mobil menjauhi retoran menuju tempat selanjutnya. Gedung milik nenek dan kakek Qila, A Corp.
Selama perjalanan, jantung Qila berdetak lebih cepat. Jarinya saling meremas karena gugup. Axel sesekali melirik, tapi tidak berbicara dan tetap fokus menatap jalan, dia hanya mempercepat kecepatan mobil agar segera sampai.
"aku benar-benar gugup" jujur Qila. Apalagi kantor nenek dan kakeknya benar-benar besar dan tinggi.
"ada aku, tenang dan setelah kau tenang kita bisa turun"
Qila mengangguk, menarik napas dalam lalu mengembuskan perlahan, terus seperti itu hingga dia merasa tenang.
"ayo" ajak Qila.
"sudah lebih baik?"
Qila mengangguk lagi "sudah"
Axel tersenyum, keduanya turun dari mobil dan berjalan memasuki kantor tersebut. Berhenti di meja resepsionis, Axel memutuskan mengambil alih. Wajah Qila kembali terlihat lebih gugup.
"saya ingin bertemu dengan Tuan Ahn Suk Hwan" ucap Axel langsung.
Wanita penjaga respsionis tersebut mengerutkan kening, "sudah membuat janji?" tanyanya kemudian.
Axel menggeleng "belum, tapi kami perlu bertemu dengannya"
"begini, jika ingin bertemu dengan bos besar, kau harus membuat janji terlebih dahulu. Tidak sembarang orang bisa menemuinya"
"tapi kami bukan sembarang orang, temanku adalah cucunya"
Mata wanita penjaga meja resepsionis itu sedikit membesar "maaf, jika belum membuat janji, memang tidak bisa bertemu. Ini sudah aturannya"
Axel menghela napas, lalu menatap Qila dan menggeleng lemah. Qila tersenyum dan mengangguk, memberitahu kepada Axel, bahwa dia tidak apa-apa.
"baiklah kalau begitu. Tolong sampaikan saja kepada bapak Ahn Suk Hwan, jika cucunya datang dan mencarinya. Ini nomornya" pesan Axel, dia lalu menyerahkan nomor ponselnya sendiri. Bukan nomor Qila.
Wanita itu mengangguk. Axel kemudian meraih tangan Qila untuk keluar. Mereka gagal.
Sampai didalam mobil, Axel tidak langsung menjalankan mobil. Memilih diam untuk beberapa saat.
"apa tidak ada cara lain?" tanya Qila memecah keheningan.
"jika cara untuk menerobos gedung, jelas tidak ada. Kita amatiran yang bisa dengan mudah ditangkap oleh petugas keamanan." jelas Axel.
"betul, itu hanya akan membuat masalah untuk kita. Bisa saja kita langsung dibawa ke kantor polisi" sahut Qila.
"tapi mungkin kita bisa menungu sampai kakekmu keluar gedung dan kita menemuinya. Kita mengintainya" usul Axel kemudian.
Qila menghela napas "itu bisa kita lakukan jika kita tengah menganggur. Masalah lain, kita tidak tahu apakah kakekku ada di kantor atau tidak. Selian itu, petugas keamanan juga bisa curiga dan akhirnya mengusir kita untuk pergi"
Kali ini Axel yang mengangguk, seorang chaebol pasti memiliki pengamanan yang ketat, pasti dapat dengan mudah mengetahui jika ada yang menguntitnya.
"benar-benar tidak ada harapan" ucap Qila dengan lemah.
"berdoa agar pegawai tadi menyampainkan pesan. Aku tidak memberikan nomormu karena takut nomormu disalahgunakan"
"terus kalau nomormu yang disalahgunakan?"
"aku bisa dengan mudah mengatasinya. Tenang saja"
"terima kasih. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas semua kebaikan yang telah kamu lakukan. Aku benar-benar bersyukur mengenalmu"
Rasanya Axel ingin tersipu mendengar ucapan Qila. Dia ingin meminta Qila menjadi kekasihnya, tapi dia merasa jika itu terlalu cepat. Mungkin untuk dirinya, tidak ada kata terlalu cepat menyukai Qila, tapi lain dengan Qila. Apalagi Qila tidak pernah memiliki hubungan sebelumnya. Dia ingin memberi waktu kepada Qila, memberi waktu agar Qila dapat lebih mengenal dirinya dan yakin bahwa dia adalah orang yang benar-benar bisa Qila beri kepercayaan.
***
Dua minggu setelah mengunjungi kantor kakek dan neneknya, Qila kini merasa sudah ada di titik lelah berusaha. Saat ini, dia tidak memiliki pilihan atau opsi lain sebagai cara menemui sang ayah. Kali ini dia pasrah. Axel sudah membantu mencari informasi tentang sang ayah. Lagi-lagi, mereka tidak mendapat apa-apa. Ayahnya seolah-olah sengaja menutup segala akses publik.
"untukmu" Axel menyerahkan paperbag berukuran kecil kepada Qila. Dia sengaja menyimpannya dan memberinya saat mereka selesai jam kuliah.
"apa ini?"
"buka saja" suruh Axel.
Sambil tersenyum, Qila melepas simbol pita di paperbag, lalu membuka paperbag dan melihat isinya "cokelat!" teriak Qila dengan senang. "for me? really?" tanya Qila langsung pada Axel.
Axel tersenyum lebar lalu mengangguk "yes"
"thank you so much" ucap Qila dengan senyum lebar. Dia benar-benar senang.
"kau senang?" tanya Axel, kali ini dia mulai menjalankan mobilnya.
"tentu, terima kasih" jawab Qila penuh semangat.
"ayahku baru pulang dari Kanada, anggap itu sebagai oleh-oleh"
"sampaikan terima kasih kepada ayahmu"
"cukup aku saja, nanti ibuku cemburu kalau aku bilang kepada ayah"
Qila tertawa "dasar. Sekali lagi, terima kasih. Aku benar-benar suka"
"sekarang kita kemana? kau ingin langsung pulang?"
"bagaimana kalau makan dulu? aku malas memasak hari ini"
"baiklah. Ingin makan apa?"
"aku sedang ingin makan tom yum, kau tahu tempatnya?"
"tahu, aku pernah kesana sekitar dua tahun lalu"
"kau tidak keberatan kalau kita kesana sekarang?"
"tentu tidak."
"terima kasih" Qila tersenyum begitu lebar.
***
Qila tersenyum lebar saat pesanan mereka datang. Baru saja dia akan meraih sendok, ponsel miliknya berdering. Panggilan masuk dari Haneul. Qila mengerutkan kening, baru kali ini Haneul menghubunginya sejak insiden minuman beberapa bulan lalu.
"siapa?" tanya Axel.
"Haneul" Qila memperlihatkan layar ponselnya kepada Axel.
"angkat saja, siapa tahu penting"
Qila mengangguk, lalu menekan tombol hijau dan menempelkan layar ponsel ke telinganya.
"La, kau dimana? bisa kita bicara?" tanya Haneul langsung
"aku sedang makan. Bicara apa?" Qila balik bertanya.
"oh. Dengan Axel?"
"iya, dengan Axel" jawab Qila lalu menatap Axel yang duduk di hadapannya.
"baiklah kalau begitu, apa bisa nanti kita bertemu. Aku ingin berbicara berdua denganmu"
"berdua?" ulang Qila. Axel mengerutkan keningnya. Sejak tadi, dia memang sengaja mencuri dengar ucapan Qila.
"iya. Berdua, ada yang perlu aku bicarakan"
"tentang apa? tidak bisakah sekarang saja?"
"tidak. Ini tentang apa yang pernah aku lakukan kepadamu"
"bicara saja sekarang, aku akan mendengarkan" suruh Qila.
"nanti, ketika kau sudah memiliki waktu berdua untuk ku. Selamat bersenang-senang dengan Axel"
"tap-" ucapan Qila langsung berhenti saat Haneul menutup panggilannya secara sepihak.
"apa yang dia bicarakan?" tanya Axel langsung.
"dia mengajak bertemu, dia ingin berbicara tentang apa yang dulu dia lakukan"
"aku ikut"
"dia hanya ingin berdua"
"aku tetap ikut, aku akan menajaga jarak"
Qila hanya mengangkat bahunya "nanti saja di pikirkan. Sekarang kita makan"
Keduanya kemudian mulai makan dengan lahap hingga tidak ada lagi makanan yang tersisa.
"aku kenyang" Qila duduk bersandar sambil mengusap perutnya.
"aku juga" Axel melakukan hal sama dengan Qila.
"tunggu sampai semua makanan turun, baru kita pulang"
"tentu"
Kali ini ponsel Axel bergetar, panggilan dari nomor asing.
"halo" Axel langsung menjawab panggilan tersebut.
"beberapa hari lalu saya mendapat laporan jika ada yang mengaku sebagai cucu dari tuan Ahn Suk Hwan. Apakah benar anda orangnya?" tanya orang tersebut.
"betul. Saya dan teman saya datang kesana. Teman saya adalah cucu dari tuan Ahn Suk Hwan" jawab Axel.
"tuan Ahn Suk Hwan meminta untuk bertemu di kantor besok siang. Silahkan datang."
"baik, terima kasih" ucap Axel lalu menutup panggilan tersebut.
Dia menghela napas, lalu menatap Qila. "dari kantor kakekmu. Dia ingin bertemu besok"
Mata Qila membulat "kau serius?!"
Axel mengangguk "tentu!"
"yey!!!!" Qila langsung berteriak senang. Allah kembali memberinya titik terang agar dia tidak putus asa.
Axel tersenyum lebar, ikut senang dengan kebahagiaan Qila. "kita pulang sekarang?"
Qila mengangguk "iya. Ayo" ajak Qila.
Axel tertawa pelan. Mereka sudah membayar makanan mereka sebelumnya, jadi mereka bangun dari kursi dan berjalan keluar lalu memasuki mobil.
***
Qila melambaikan tangan saat mobil Axel begerak menjauhi tempat tinggalanya. Dia membalikkan tubuhnya untuk menaiki tangga tapi seseorang langsung menghentikan langkahnya.
"Haneul" Qila menatap bingung pada Haneul yang entah datang darimana.
"aku menunggumu. Bisa kita bicara?" tanya Haneul. "sebentar saja" lanjut Haneul.
Qila menghela napas, lalu mengangguk "baiklah. Kita bicara di minimarket depan" putus Qila.
Haneul tersenyum kecil, dia mengangguk. Keduanya pergi menuju minimarket dan saling diam selama perjalanan.
Qila masuk kedalam, begitu juga Haneul. Dia mengambil jus strawberry untuknya dan biarkan Haneul dengan pilihannya. Setelahnya mereka langsung duduk di depan. Tempat dulu Haneul membohonginya.
"aku ingin minta maaf" ucap Haneul.
Qila tidak langsung merespon, hanya diam. Memberikan waktu untuk Haneul menjelaskan semuanya.
"saat itu aku sedang bingung. Aku marah. Aku bertengkar dengan ibuku. Kondisi keluargaku sangat memalukan. Aku ingin berbicara kepada orang lain, tapi terlalu malu. Aku takut dipandang berbeda. Kau adalah teman pertamaku di perkuliahan, aku malu untuk jujur. Hingga akhirnya aku memilih untuk membuatmu mabuk. Setidaknya, saat kau mabuk, kau tidak akan pernah melihat bagaimana wajahku saat aku bercerita tentang buruknya keluargaku dan mungkin kau juga tidak akan mengingat ceritanya. Aku salah, aku minta maaf" jelas Haneul.
Qila menarik napas dalam, lalu perlahan mengembuskannya. "kau gengsi memperlihatkan kerpuhanmu?" tanya Qila.
Haneul hanya mengangguk.
"semua orang pasti pernah terpuruk. Kau, Aku, orang lain, pasti memiliki masalah. Tapi memperlihatkan kesedihan dan kerapuhan kita, itu wajar. Selalu berusaha terlihat baik-baik saja juga tidak baik. Saat kau bercerita, tidak semua orang akan memiliki respon sang sama. Tidak semua orang akan melihatmu rendah saat kau terlihat lemah. Tidak semua orang akan senang saat kau terpuruk dan tidak semua orang akan simpati saat kau bersedih. Meskipun aku tidak bisa banyak membantu, mungkin aku bisa menjadi penyemangatmu saat kau bercerita tentang hal burukmu. Tapi kau terlalu cepat menilai aku buruk, aku kecewa. Sangat." jelas Qila. Dia kembali menarik nafas dan mengembuskannya perlahan "tapi tentang permintaan maafmu. Aku terima. Aku memaafkanmu" lanjut Qila.
Haneul tersenyum "lalu, apa bisa kita menjadi dekat lagi? seperti sahabat?"
"aku memaafkanmu, tapi tidak bisa menjadi sahabatmu. Tapi aku tidak akan keberatan jika kau ingin meminta bantuan." jawab Qila.
Haneul mengangguk "aku mengerti. Kau sudah mau memaafkanku, itu sudah sangat bagus. Terima kasih"
Qila tersenyum. Dibalik setiap perbuatan buruk, selalu ada alasannya. Tapi berbuat baik, tidak selalu harus memiliki alasan.
***
Bersambung