Hari ini adalah hari pertama Qila berkuliah, tatapannya masih memancarkan aura canggung dan bingung saat kakinya memasuki kelas. Meskipun dia bisa berbahasa Korea, tapi kemampuannya itu memang belum dapat di katakan sempurna. Takut ada pengucapan kata dan malah membuat salah faham, Qila memilih diam atau sesekali tersenyum dan menunduk untuk menyapa.
Qila bukan orang yang ahli membuat pertemanan, dia selalu merasa minder dan takut di anggap aneh oleh orang yang ingin dia ajak kenalan. Qila duduk di baris kedua dari belakang, tersenyum singkat ke mahasiswa sebelah kursinya sebelum duduk.
Menunggu dosen masuk, Qila memilih memainkan ponselnya, mulai melanjutkan kegiatan mencari informasi tentang sang ayah. Hingga kegiatannya harus terhenti saat dosen masuk. Segera Qila menyalakan recorder, dia akan mengulang penjelasan sang dosen saat di kosan, agar lebih mengerti.
Hingga akhirnya mata kuliah selesai, catatan Qila cukup penuh, ada beberapa kata yang di belum mengerti secara jelas. Biar nanti dia tanyakan kepada Grace atau mencarinya sendiri.
"hey"
"hey"
"hey!"
Qila langsung menengok ke arah suara saat intonasinya lebih tinggi. Perempuan yang berkenalan dengan Qila saat penyambutan mahasiswa baru tengah tersenyum lebar kepadanya.
"aku tidak melihatmu sepanjang pelajaran, ternyata kau duduk di belakang" ucap perempuan berambut blonde tersebut. Park Haneul. Qila ingat namanya.
Qila balas tersenyum, saat penyambutan mahasiswa baru, dia dengan Haneul tidak banyak berbicara. Qila tidak menyangka jika Haneul tenyata cukup ramah. "iya, kau duduk dimana?" Qila balik bertanya.
"Pojok sana. Mau makan bersama?"
Qila kembali tersenyum lalu mengangguk "boleh"
Haneul langsung menarik tangan Qila untuk bangun, lalu menggandengnya keluar kelas. Perasaan Qila saat ini jauh lebih baik. Setidaknya, ada satu orang yang mau berinteraksi dengan dirinya.
Qila memilih membeli roti dan s**u strawberry. Dia belum banyak bertanya kepada Haneul tentang menu makanan halal yang bisa dia makan di kantin.
"benar, tidak ingin makan nasi?" tanya Haneul sambil mengunyah makanannya.
Qila mengangguk "aku hanya makan makanan halal" jawab Qila kemudian.
Mata Haneul membulat "kau muslim?"
"iya, apa itu masalah?" tanya Qila sambil menggaruk kepala belakangnya, canggung.
"tidak. Temanku di media sosial juga ada yang muslim. Aku hanya takut kau yang merasa tidak nyaman" jawab Haneul
"tidak masalah. Jangan sungkan"
"kau memiliki teman?"
Qila menggeleng "aku tidak pandai bergaul dan menyapa. Aku takut dibilang aneh" jujurnya.
"kita sama. Di High School, aku bahkan tidak punya teman dekat"
"aku juga. Tidak ada teman yang benar-benar dekat, hanya teman yang saling mengenal"
"bagaimana sekarang, bisa kita berteman?" tanya Haneul.
Qila mengangguk "tentu. Kita bisa berteman"
"terima kasih, semoga aku tidak mengecewakanmu. Aku adalah orang yang aneh" canda Haneul.
"akupun begitu. Semoga kau tidak kecewa denganku"
Selesai makan siang, mereka kembali menuju kelas selanjutnya. Kali ini Qila duduk di sebelah Haneul. Dia mengulang kegiatan sebelumnya, merekam setiap penjelasan dosen. Dibandingkan dengan masiswa asli Korea, Qila memang harus lebih rajin, mengingat ada kekuarangan dalam bahass Koreanya. Tapi beruntung dosen kali ini sesekali mencampur dengan bahasa inggris, Qila sangat terbantu.
Selesai kelas, Qila dan Haneul berpisah. Qila akan langsung pulang dan Haneul akan mengunjungi suatu tempat.
Turun dari bus, Qila mengirim pesan kepada sang bunda tentang hari pertama kuliahnya. Memberi tahu kepada sang bunda jika dia baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi.
Hingga sampai di depan gedung tempat tinggalnya, Qila menyapa Bibi Im yang tengah berada di kebun super mini miliknya.
"kau baru pulang?"
"iya bi, saya pamit ke kamar dulu"
"baiklah. Istirahatlah"
"baik bi"
Sampai di kamar, Qila langsung mengganti pakaiannya dna mencuci wajah. Menyetel ulang penjelasan sang dosen agar lebih mengerti hingg akhrinya Qila mengantuk dan tertidur.
***
Qila bangun saat langit sudah gelap, ponselnya sudah mati karena kehabisan daya. Diliriknya dinding, dan sudah pukul delapan malam. Qila langsung mengisi daya ponsel, lalu kekamar mandi untuk mengambil wudhu, dia harus salat maghrib sekaligus isya.
Malas keluar, Qila memilih memasak mie instan untuk makan malam. Dia juga memasak nasi dan telur dadar untuk pelengkap.
Makan sendirian terasa begitu sepi untuk Qila. Sudah satu hampir minggu dia Korea dan waktu terasa begitu lama berputar. Dia rindu rumah, rindu masakan sang bunda, rindu semuanya. Hingga tidak terasa air mata mengalir di pipinya. Lagi, ketika rindu itu melanda, penyesalan telah mengambil keputusan ini juga hadir. Dia ingin memeluk sang bunda.
Tangisnya semakin deras hingga tidak sanggup melanjutkan makan malam yang baru setengah jalan. Qila memilih melanjutkan tangis. Membayangkan hari-hari sepi ini akan berlangsung sangat lama.
Melangkah pergi dari meja makan, Qila langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Dia ingin bundanya, sekarang. Memeluk sang bunda dengan erat. Dia rindu, sangat rindu.
Menggeser tubuhnya, Qila meraih ponsel. Menghidupkan ponsel tersebut. Tidak menunggu lama, banyak notifikasi masuk dari sang bunda.
Qila mengubah posisinya menjadi duduk, bersandar ke kepala tempat tidur. Tangannya lalu mencabut kabel charger meskipun ponsel belum terisi penuh. Jarinya langsung lincah mengirim pesan kepada sang bunda. Memberi tahu jika ponselnya mati dan dia baik-baik saja.
Tidak lama, panggilan masuk langsung muncul di layar ponsel Qila. Menarik napas dalam dan perlahan mengembuskannya, Qila lalu menekan tombol hijau di layar.
"assalamualaikum bunda" sapa Qila dengan suara yang dia buat tenang, tidak ingin sang bunda mengetahui jika dia baru selesai menangis karena bisa membuat sang bunda khawatir.
"Waalaikumsalam, Ila. Kamu gak apa-apa sayang? kok hp nya baru aktif?"
"gak apa-apa bunda, tadi pulang dari kampus, Ila ketiduran, terus hp nya mati"
"ohgitu, bunda khawatir soalnya. Gak biasanya hp kamu mati cukup lama. Bener gak apa-apa?"
"iya bunda, Ila gak apa-apa"
"udah makan malam?"
"udah bunda, bunda udah makan?"
"belum, bunda baru pulang dari rumah sakit"
"bunda jaga kesehatan, jangan terlalu capek"
"iya Ila, kamu juga. Jaga kesahatan. Kamu makan malam sama apa sayang?"
"aku males keluar bun, jadi cuma masaka mie, telor sama nasi"
"tapi jangan keseringan makan mie ya La"
"iya bunda"
"bulan depan bunda kirimin masakan kering deh, jadi kalau kamu males keluar, gak sering makan mie"
"makasih bunda"
"iya sayang, oh iya. Salam dari nenek, katanya jangan lupa sama pesan nenek"
Qila langsung tertawa "iya, Ila inget kok pesan nenek."
"La, rumah sepi banget gak ada kamu" suara bunda sudah berubah menjadi pelan.
Qila menghela napas "sabar ya bunda"
"rasanya beda banget La, biasanya setiap bunda pulang ke rumah, ada kamu yang nyambut bunda, ada yang nemenin bunda makan, ada yang ajak ngobrol. Sekarang sepi La, sepi banget. Bunda kangen kamu"
Air mata Qila kembali menetes "Ila juga kangen banget sama bunda" sahut Ila, suaranya sudha mulai bergetar karena menahan tangis.
"kamu jaga kesehatan ya La, jaga makanan, Salat jangan lupa. Jangan bikin bunda khawatir, kalau ada apa-apa, hubungi bunda"
"iya bunda, bunda juga jaga kesehatan ya"
"iya sayang, udah ya. Bunda tutup"
"iya bunda. Assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
Meletakkan ponsel di samping bantal, Qila kembali menangis. Benar kata Dila, rindu itu berat.
***
Qila ke kampus dengan mata yang sangat bengkak, dia bahkan sampai harus menggunakan kacamata untuk sedikit menyamarkannya. Moodnya buruk, sangat buruk. Dia malas melakukan apapun, termasuk pergi ke kampus, tapi teringat dengan statusnya yang seorang mahasiswa beasiswa, mau tidak mau Qila tetap harus pergi. Ada tanggung jawab yang tidak bisa dia lepas.
Qila kembali duduk di kursi kemarin, baris kedua sebelum baris terakhir. Dia tidak tahu apakah Haneul sudah datang atau belum, karena Qila hanya melangkah dengan wajah yang menunduk saat memasuki kelas.
Kelas dimulai, ponselnya kembali merekam. Tangannya sibuk mencorat-coret buku dengan garis abstrak, dia tidak bisa fokus. Dia rindu rumah dan bundanya.
Hingga Qila langsung mengerjap, terkejut, saat pundaknya di tepuk dengan pelan.
"terjadi sesuatu?" tanya Haneul yang sudah duduk di hadapan Qila.
Tidak langsung menjawab, Qila terlebih dahulu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ternyata kelas sudah selesai.
"tidak ada" jawab Qila kemudian menghele napas.
"ayo ke kantin" ajak Haneul.
Qila mengangguk, lalu memasukkan barang-barangnya kedalam tas. Keduanya segera melangkah menuju kantin.
Kembali Qila membeli roti dan s**u strawberry, kali ini bukan karena perihal menu, tapi karena nafsu makannya hilang ditelan rindu.
"tidak makan nasi lagi? kau diet?"
Qila menggeleng dengan pertanyaan Haneul "hanya tidak nafsu makan?"
"apa yang terjadi? matamu merah, kau menangis"
Qila tersenyum singkat "hanya rindu ibuku saja"
"kau dekat dengan ibumu?"
"tentu, kami dekat, sangat dekat"
Qila menghela napas pelan "aku iri"
"iri?"
"aku sering bertengkar dengan ibuku" aku Haneul.
"tapi ibumu pasti sayang kepadamu"
"iya, tapi lebih sayang kepada kakakku"
"ku pikir kau anak tunggal"
"tidak, aku memiliki kakak laki-laki. Dia kuliah di luar negeri"
Qila hanya mengangguk singkat, lanjut memakan rotinya sedangkan Haneul juga kembali menyantap makan siangnya.
Seperti hari sebelumnya, selesai makan, mereka berdua kembali menuju kelas selanjutnya. Hingga sore mereka baru bisa pulang.
Haneul mengajak Qila untuk pergi minum kopi, tapi Qila menolak, dia hanya ingin segera sampai kosan dan langsung tidur. Hari ini dia sama sekali tidak semangat melakukan apapun.
Qila berjalan, kosannya sudah dekat, sesekali dia juga menyapa bibi-bibi yang dia kenal. Karena Qila sudah tinggal di lingkungan itu, mereka perlahan mengingat Qila.
"Ilaaaaa" teriakan Bibi Im menghentikan langkah Qila yang akan menaiki tangga.
"ada apa bi?" tanya Qila.
"tunggu disini, sebentar" suruh bibi Im. Bibi Im kembali masuk kedalam rumah, lalu keluar sambil membawa nampan berisi makanan.
"aku membuat resep baru di internet, ini masakan Italia, halal" jelas Bibi Im, Bibi Im memang pernah tinggal di luar negeri, lebih tepatnya di Belanda. Karena hal itulah Bibi Im jadi suka memasak makanan dari beberapa negara di Eropa.
Qila menerima nampan tersebut, lalu tersenyum kepada Bibi Im "terima kasih bi"
"sama-sama. Jangan lupa dimakan"
Qila mengangguk "baik, kalau begitu permisi"
"iya, silahkan."
Qila lanjut melangkah, menaiki tangga menuju kamarnya. Sampai di kamar, dia meletakkan makanan pemberian Bibi Im, dia lanjut pergi mandi dan mengganti pakaian. Masuk waktu maghrib, Ila langsung salat. Barulah setelahnya Ila mencoba makanan dari Bibi Im.
Ponselnya berdering, sang bunda menghubunginya.
"assalamualaikum Ila, sayang"
"waalaikumsalam bunda"
"sudah di kosan?"
"sudah bunda, bunda dimana?"
"bunda baru mau pulang. Sudah makan?"
"ini lagi makan"
"oh ya? makan apa?"
"Rissoto bun, dari Bibi Im"
"wah, baiknya. Tapi halal kan?"
"halal bunda"
"alhamdulillah kalau begitu. Gimana hari ini belajarnya?"
"begitulah bunda"
"semangat ya sayang"
"iya bunda"
"yaudah, bunda tutup dulu ya. Ojek bunda sudah datang"
"oke bunda"
"makan yang banyak ya"
"siap bunda"
Setelah menutup sambungan telepon, Qila lanjut makan, tidak sampai habis karena nafsu makannya masih belum muncul, dia makan hanya untuk menghormati Bibi Im, dan mengasihani lambungnya.
Memangku laptop dan bersandar ke kepala tempat tidur, Ila memulai pencarian sang ayah lagi, tidak banyak info yang dia dapatkan karena perusahaan milik ayahnya sudah lama dinyatakan tutup.
Hingga hampir dua jam Qila bergelut dengan layar laptop, Qila masih belum bisa menemukan titik terang untuk pencarian sang ayah. Rasanya benar-benar sulit. Hingga air mata kembali menetes di pipinya. Rasanya dia benar-benar menyesal sekarang. Jika tahu akan sesulit ini, harusnya dia tidak pernah mengambil pilihan ini.
Satu jam menangis, Qila kemudian mencuci wajahnya, dia mencoba menghubungi sang bunda, berharap dapat lebih tenang.
"bunda" lirih Qila langsung.
"kenapa La? ada apa?" suara sang bunda langsung terdengar panik.
"Ila kangen bunda" ucap Qila lalu menangis lagi.
"Ila, jangan nangis. Bunda sedih dengernya sayang"
"tapi Ila kangen bunda"
"iya, bunda juga kangen Ila. Sekarang jangan nangis lagi, Bunda sedih"
Qila menarik napas dalam, lalu perlahan mengembuskan. Dia mencoba mengatur dirinya agar berhenti menangis, meskipun napasnya tersengal.
"kenapa? cerita sama bunda"
"Ila kangen bunda, kayanya Ila nyesel deh ambil pilihan ini"
"sayang, gak boleh gitu. Inikan baru awal, tahap mulai belajar, belajar adaptasi, Ila cuma belum terbiasa kok. Nanti juga terbisa, perlahan aja. Bunda juga dulu gitu pas pertama datang ke Korea, bawaannya kangen dan pengen pulang terus. Waktu kaya berjalan lama banget, sampe akhirnya terbiasa dan waktu ternyata berjalan dengan cepat. Sabar ya sayang. Ila kan kuat, anak bunda hebat"
"tapi bunda, Qila juga belum bisa nemu info tentang ayah"
"jangan di pikirin. Inget kata bunda, Ila fokus belajar. Kalau Ila sulit cari info tentang ayah, jangan di jadikan beban, itu cuma akan nambah pikiran buat Ila. Waktu Ila disana panjang, sekarang yang Ila butuhkan cuma lebih santai dan beradaptasi agar lebih nyaman. Urusan ayah bisa dicari kalau Ila udah bener-bener hafal dan kenal sama lingkungan disana."
"Kalau Ila gak berhasil ketemu ayah gimana?"
"Ila lupa? kan Ila yang bilang sendiri, kalaupun Ila gak ketemu ayah, Ila masih bisa mendaat gelar sarjana. Jadi, sekarang bunda minta supaya Ila jangan fokus ke cari ayah. Sulit kalau Ila masih ada di tahap adaptasi, udah belum nyaman karena tinggal di tempat baru, ditambah pusing sama hal lain. Kamu bisa sakit loh, bunda gak mau"
"terus, sekarang Ila harus gimana?"
"sekarang Ila harus buat nyaman diri Ila. Jangan mikirin itu dulu, Ila fokus ke diri Ila, punya temen, jalan sama teman, belajar. Pokoknya buat supaya Ila nyaman. Setelah nyaman, Ila bisa mulai lagi cari ayah secara perlahan. Ila juga nanti bisa minta bantuan sama temen Ila, siapa tahu bisa ada yang bantu"
Qila mengangguk, meskipun sang bunda tidak dapat melihatnya "makasih ya bunda"
"iya sayang. Jangan dijadikan beban ya sayang. Jika suatu di akhir Ila belum juga bertemu ayah, ingat ada bunda. Bunda akan selalu berperan menjadi ibu dan ayah buat Ila. Kita berdua akan tetap bahagia meskipun tidak ada sosoknya. Tolong jangan sakit ya sayang, karena bunda akan merasa lebih sakit dari kamu"
Air mata Qila kembali menetes "terima kasih bunda, Ila sayang banget sama bunda"
"bunda juga, sayang banget sama Ila. Semangat ya sayang"
"iya bunda"
"sekarang istirahat, disana udah malem banget. Besok kuliah kan?"
"iya bunda, kuliah"
"yaudah, sekarang tidur ya"
"iya bunda. Bunda juga istirahat ya"
"iya sayang, dah sayang"
"dah bunda"