Rafli berdiri tegak di depan pagar rumah Melati. Malam itu udara begitu dingin, tapi hatinya jauh lebih dingin. Sorot matanya tajam menembus gelap, menimbang setiap detail di sekitarnya. Ia tahu, sejak beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang janggal. Bukan hanya firasat, tapi juga tanda-tanda kecil yang terlalu jelas untuk diabaikan. Gerak-gerik asing. Tatapan mata yang berpaling terlalu cepat. Bayangan samar di ujung gang. Semua terekam sempurna di matanya. Rafli bukan pria sembarangan. Bertahun-tahun ditempa oleh pengalaman dan ketegasan hidup membuatnya peka. Dan malam ini, kesabarannya habis. Ia harus segera bertindak. Ia berpura-pura berjalan santai meninggalkan rumah Melati. Namun, langkahnya bukan langkah orang yang pergi. Sebaliknya, ia berbelok ke jalan sempit di samping rum

