hilang kesempatan

523 Kata
Ujian sudah selesai tapi mas Haris masih aktif mengantarku ke sekolah. Padahal kemarin aku sudah bilang dengannya untuk tidak mengantar ku lagi. Saat di perjalanan mas Haris membuka pembicaraan " Kamu sudah sarapan?!" "Sudah mas dengan mama dirumah" sahut ku "Kalau begitu temani mas sarapan di warung depan ya" Tanpa persetujuan ku mas Haris langsung menuju ke warung depan. Mengkin mas Haris sudah tidak tahan menahan lapar nya. Pikir ku demikian "Mas... bubur ayam satu dan teh manis hangat dua" "Siap den!" Selesai memesan bubur ayam mas Haris duduk di hadapan ku. "Kamu beneran tidak ingin sarapan syah" "Tidak mas, aku benar sudah kenyang" "Ada yang mas ingin bicara kan padamu" "Bicara saja mas, gak perlu formal gitu macam sama siapa saja" "Ibuku selalu membicarakan mu padaku dengan mata berbinar. Bahkan kemarin ia menyuruh ku untuk memiliki hubungan lebih dekat denganmu" Mas Haris memberi jeda dengan menarik nafas "Tapi aku sudah jatuh hati dengan teman lama ku, bahkan kami sudah punya hubungan serius walaupun masih dalam tahap meminta restu ibu. Tapi aku tidak bisa menolak permintaan ibu, jadi bisakah aku meminta mu jika ibu meminta mu menjadi menantunya agar kamu menolak nya!" "Aku juga tidak pernah berpikir mempunyai hubungan lebih dengan mas Haris, dan mas sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri" Dengan tenang dan menatap manik mata bulat mas Haris, aku berkata sesungguhnya. Karena aku tidak memiliki perasaan apapun dengan nya. Aku selalu senang bila bisa berbicara dengan mas mungkin karena itu dia pikir aku punya perasaan dengan nya. Padahal aku menginginkan sosok ayah yang hangat dan perhatian yang sudah lama ingin ku rasakan kehadiran nya. Mas Haris sama dengan ku yang memiliki orang tua tunggal. Bedanya ayah mas Haris meninggal dunia saat ia memasuki SMP. Sedangkan ayah ku meninggalkan ibuku agar bisa dengan wanita lain. ***** Tak terasa saat wisuda pun sudah tiba, semua siswa dan siswi bersemangat untuk terakhir kali merasakan suasana hangat bersama guru dan teman sekolah dan selanjutnya untuk meneruskan ke perguruan tinggi. Ku edar kan pandangan ke setiap sudut gedung wisuda untuk mencari sosok yang aku nantikan beberapa hari ini. Jika Minggu kemarin aku gagal untuk mengungkapkan cinta ku ke Radit, hari ini tidak boleh gagal. Karena dari yang ku dengar Radit akan melanjutkan pendidikan ke Faris. "Juara umum pertama di pegang oleh... Aisyah Latifah" Prok ... prok ... prok... Aku sangat terkejut mendengar nama ku menjadi juara umum pertama, padahal Radit lah yang lebih pintar dariku. Dan saat ini malah Radit yang menjadi juara umum kedua.Tapi aku tidak melihat nya bahkan keluarga nya tidak ada yang datang. Aku menaiki panggung dengan senyuman walaupun hati ku terasa sedih mengingat tidak ada kesempatan ku lagi. Atau mungkin aku memang tidak berjodoh dengan nya. "Selamat ya Aisyah.. ibu bangga dengan prestasi mu" "Terimakasih Bu telah mendidik saya dengan baik dan sabar" "Dan kamu di minta untuk mengurus beasiswa mu secepatnya" "Sekali lagi terimakasih Bu" Dengan berat hati aku turun dari panggung, bukan karena tidak suka dengan apa yang ku capai. Aku merasa puas dengan semua yang ku dapat sehingga mama tidak akan bekerja lebih keras lagi. Aku hanya merasa kesempatan ku hilang untuk mengungkapkan perasaan cinta ku pada Radit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN