*Radit*

557 Kata
Beberapa hari ini aku sudah memikirkan semuanya. Tentang kisah cinta remaja kalau kata istilah cinta monyet. Ya... aku jatuh cinta pada Aisyah tepat 2 tahun lalu. Tapi aku tidak pernah mengungkapkan nya karena aku takut mengganggu pelajaran nya. Setahuku Aisyah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke tingkat SMA. Dan setelah beberapa hari ini aku berpikir untuk menyatakan perasaan ku padanya.Tapi harapanku sirna setelah ku lihat Aisyah berboncengan dengan seorang pria. Dari yang ku lihat pria itu hanya berbeda beberapa tahun dari kami. Teman-teman Aisyah pernah bilang kalau Aisyah anak satu-satunya bahkan kerabatnya tidak pernah kelihatan. Hatiku semakin sakit saat Aisyah berpamitan dengan pria itu. Dan pria itu membalas dengan senyuman hangat yang seperti ada rasa sayang yang begitu dalam sambil mengacak rambut Aisyah. Selama ini aku mencari info ke teman Aisyah dan mereka bilang Aisyah hanya mempunyai seorang ibu tanpa ayah. Bahkan nama Aisyah di ambil dari nama belakang ibunya Latifah. "serius amat dit..?" Raka yang sudah ada di samping dan mengejutkan ku "Astagfirullah... ngejutin saja Lo" ucap Radit sambil mengelus dadanya "Makanya Lo jangan kebanyakan melamun. Gimana persiapannya?" Raka mengingatkan tentang rencana ku untuk menyatakan perasaan pada Aisyah. Raka lah sahabat yang mengerti perasaan ku pada Aisyah dan dia yang memberi ide agar aku menyatakan nya sebelum semua terlambat. "Huft ....Papi mengirimku untuk melanjutkan ke universitas di Faris" sebenarnya itu hanya alasan ku agar tidak bisa menyatakan nya pada Aisyah. Sebab tadi aku melihat tidak ada kesempatan ku lagi dan lebih baik aku pergi jauh darinya. "It' okey bro.. Lo kan masih bisa LDRan" ucap Raka "Bukankah itu akan menyakiti nya, gue tidak mau memberikan harapan untuk setia nantinya" jelas Radit secara perlahan "Terserah Lo deh dit" malas Raka berkomentar Radit dan Raka jalan bersama menuju ruangan mereka. Tanpa mereka tahu Aisyah jalan beberapa meter di belakang mereka. Entah kenapa dia selalu merasa bahagia walaupun hanya melihat punggung tegap Radit. Radit pria idaman wanita di kelas bahkan di sekolah nya. Ayahnya memiliki beberapa perusahaan di Indonesia membuat Radit tidak pernah kekurangan apapun. Berbeda dengan Aisyah anak dari keluarga kurang beruntung. Sejak lahir Aisyah sudah di tinggal ayahnya, bahkan nama belakang Aisyah di ambil dari nama ibunya. Tapi Aisyah tidak pernah mengeluh, Aisyah kecil sering melihat ibunya menangis tiap malam dan setelah bangun pagi ibunya selalu tersenyum dan menampilkan wajah bahagia nya. "Hmmm ... sahabat ku semakin lama semakin gila. hahahaha ..." Sarah datang merangkul ku dari belakang "Apaan sih "Aisyah menyela "Cuma lihat punggung Radit saja sampai bisa buat sahabat aku senyum senyum sendiri " lanjut Sarah " Berisik ihhh " Aisyah langsung mendahului Sarah sambil berlari kecil "Aisyah sebentar lagi kita lulus SMA loh, kamu tidak ingin mengungkapkan nya pada Radit?" bisik Sarah setelah mereka sampai ke kelas mereka "Gak ahhh, masa wanita duluan yang nyatanyain cinta ke pria" sela Aisyah "Yeee zaman sekarang wanita lebih agresif loh" ucap Sarah "Kamu lihat kemarin kan kelas sebelas terang terangan nembak pria, bahkan ada yang bilang pria itu kelas sepuluh loh." lanjut Sarah Kemarin satu sekolah di hebohkan dengan seorang siswi kelas sebelas yang nyatanyain cinta ke pria kelas sepuluh. Dan akhirnya wanita itu di tolak, malu banget dong jadi wanita itu. Sebenarnya aku takut jatuh cinta karena aku tidak ingin bernasib sama seperti ibuku. Ayahku pergi bersama mantan nya saat ibuku mengandung. Tapi ibuku tidak pernah menunjukan kesedihan nya dan selalu menampilkan senyum terbaiknya di depan ku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN