Bersalah

1121 Kata
Zeline berdiri tegak didepan gedung yang menjulang tinggi berkali kali gadis itu melihat kartu nama yang dipegang, memastikan bahwa dia tidak salah alamat. "Sepertinya aku tidak salah alamat, Pt groub B" gumam zeline, "sebaiknya aku segera masuk kedalam." Sambungnya. Langkah kakinya mendekati pusat resepsionis, "permisi, apakah saya bisa menemui tuan farel bramantio damian?." Tanya zeline pada pegawai resepsionis. "Apakah ibu sudah membuat janji dengan bapak direktur?" Ucap pegawai resepsionis memastikan. Zeline menggelengkan kepala, "belum." "Baik, sebaiknya ibu membuat janjian terlebih dahulu dengan bapak direktur. Karna setau saya hari ini beliau ada meeting dijakarta" tutur pegawai resepsionis. Raut wajah zeline terlihat kecewa mendengar penjelasan dari pegawai tersebut. "Baiklah, trimakasih" zeline melangkah sedikit mundur lalu ia membalikkan tubuhnya. tanpa sengaja bahu zeline menabrak seseorang, gadis itu meringis kesakitan "sssshhhh" tangannya mengusap lembut bahunya. Zeline mengangkat wajahnya mencoba melihat siapa yang baru saja ia tabrak, saat matanya bertemu mata elang itu ntah kenapa tubuh zeline tiba tiba membeku. Ada apa dengan dirinya? Mengapa tubuhnya tak bisa berkutik?, pertanyaan itu terus bermunculan difikirannya. "Heemm" pria itu berdehem. "Ma-maafkan aku ini salahku terlalu ceroboh" ujar zeline meminta maaf. Tanpa menunggu respon dari pria tersebut gadis itu melanjutkan langkahnya dan segera keluar dari perusahaan sahabat kecilnya itu. Kini ia berdiam diri didalam mobil fikirannya masih melayang layang dengan kejadian yang baru saja ia alami mata itu sangat indah, terlihat tajam namun siapapun yang melihatnya akan terkesima. Zeline menggelengkan kepalanya, tidak ia tidak boleh memikirkan terus apalagi kagum pada pria lain bahkan dia saja tidak mengenalnya, ada hati yang harus ia jaga dirinya tidak boleh mudah terlena. Dering telfon berhasil mengalihkan fikirannya yang masih berkecamuk pada kejadian tadi, zeline mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas dashboard mobil. Senyumnya merekah terlihat jelas diwajahnya, bisa ditebak siapa yang menelfon, sosok yang bisa merubah mood zeline dengan cepat tentu saja kekasihnya gabino. "Hallo sayang" sapa orang disebrang sana, "sedang dimana? Apa ada waktu? Aku akan menjemputmu" sambungnya. "Mau kemana? Aku sedang dijalan. Sebaiknya langsung saja kita bertemu ditempat" ajak zelin. "Baiklah, kita pergi kecafe saja sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua" kata gabino. "Oke, kirim shareloknya" "Iya hati hati dijalan, I love you" "I love you too" ucap zeline, setelah itu sambungan telfon terputus. Senyum gadis itu masih menghiasi wajah cantiknya, walaupun sudah menjalin hubungan sejak lama tak pernah ada kata bosan didalam hati dan fikirannya meskipun terkadang gabino menjengkelkan tapi hanya lelaki itu yang bisa meluluhkan hatinya. Lokasi cafe yang akan ia kunjungi sudah dikirim oleh kekasihnya, sebaiknya ia segera jalan tidak ingin membuat gabino terlalu lama menunggu. Dua puluh menit zeline baru sampai dilokasi, jalanan sedikit padat dan sempat membuatnya kesal. Maklum zeline bukan wanita yang terlalu penyabar apalagi menghadapi kemacetan, gadis itu segera masuk kedalam cafe dan bertemu dengan orang yang selalu dirindukannya. Gadis itu mengedarkan pandangannya memastikan bahwa orang tersebut sudah datang, saat pandangannya bertemu dengan sosok yang dirindukannya sedang melambaikan tangan padanya, zeline berlari kecil menghampirinya. Tubuhnya menubruk d**a bidang kekasinya, zeline memeluk erat gabino ia sangat merindukannya. Apalagi sudah satu bulan tidak bertemu membuatnya ingin menumpahkan apa yang sudah lama terpendam. Zeline tak perduli ia kini menjadi pusat perhatian orang orang yang berada didalam cafe, yang terpenting sekarang rasa rindunya sudah tertuntaskan. Sementara itu, gabino yang mendapat perlakuan itu dari zeline. Ia tersenyum simpul dan membalas pelukan gadisnya, bila ditanya apakah pria itu tidak merindukan zeline?. Tentu saja gabino sangat merindukannya, waktu yang membuat terbatasnya komunikasi mereka tetapi gabino tak pernah memalingkan perasaannya kepada wanita lain selain zeline. Selama ini gabino hanya fokus berkerja dan lebih sering bertemu dengan klien karna urusan pekerjaan, ia bahkan rela waktu bertemu dengan kekasihnya banyak tersita oleh pekerjaannya. "Sayang, aku sangat merindukanmu" gabino melepaskan pelukannya, ia menatap mata gadis didepannya. Membelai lembut rambut zeline, gadisnya tak pernah berubah tetap cantik dan manja jika sudah bersamanya. Cup Kecupan hangat mendarat dikenimg zeline membuat gadis itu membeku ditempat, ini bukan pertama kalinya gabino menciumnya tapi efek dari kecupan gabino selalu saja bisa membuat ia tak berdaya. "Aku juga sangat merindukanmu sayang" balas gadis itu. Kini mereka berdua sudah duduk dengan tenang dan tidak lagi menjadi pusat perhatian. "Bagaimana butikmu, apa tidak ada masalah?" Tanya gabino "Tidak ada, aku juga ada project dengan beberapa klien untuk persiapan wedding mereka" zeline menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, "lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?." Tambahnya. "Semua baik baik saja aman terkendali" gabino meraih tangan zeline diatas meja cafe, pria itu mengenggamnya. "ini semua berkat doa dan usahamu juga sayang, aku tidak akan pernah melupakannya." Zeline melihat mata sendu gabino ada setitik rasa lelah disana namun, kobaran semangat jauh lebih besar sehingga rasa lelah bisa tertutupi dengan keantusiasan untuk mengapai impian. "Ah aku hanya membantu sedikit saja, kamu lebih banyak bekerja keras untuk semua ini" tukas gadis itu. Gabino tersenyum, ia membelai lembut pipi gadisnya. Mendapat perlakuan seperti itu membuat hati zeline menghangat,gadis itu memejamkan matanya menikmati belaian lembut dari kekasihnya. "Kalung ini sangat cantik, dapat darimana?" Pertanyaan yang dilontarkan gabino seketika membuat zeline membuka matanya lebar lebar. Degg * * * "Sayang hallo" gabino melambaikan tangan didepan mata zeline. "Ehh i-iya kenapa sayang" zeline menjadi gugup mendapat pertanyaan seperti itu dari gabino. "Kalung ini sangat cantik, kamu mendapatkannya dari mana?" Tangan gabino masih memegang lation yang tergantung dileher zeline. Zeline mencoba mencari alasan, ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya mendapatkan kalung tersebut dari pria lain. Yang ada gabino akan marah jika mengetahui hal tersebut, sekalipun gadis itu menjelaskan bahwa pria tersebut adalah sahabat kecilnya. "Oh ini dari lila sayang, kamu masih mengingatnya kan?" Zeline mengigit bibir bawahnya takut jika gabino tidak mempercayainya. Gabino mencoba mengingatnya, "tentu, sahabat SMAmu kan?." Zeline mengangguk ragu, memang ini salahnya berbohong pada pria tulus didepannya tapi mau bagaimana lagi dirinya tidak ingin menghancurkan momen yang sudah langkah seperti ini. "Maafkan aku gabino" ujarnya dalam hati. Gabino masih memandangi kalung yang terpasang dileher, ada sepercik rasa sedih didalam hatinya karna tidak pernah memberikan zeline hadiah secantik ini malah orang lain yang lebih dulu memberinya. "Aku cemburu!" Seru gabino, pria itu melipat kedua tangan didadanya. Kening zeline berkerut, dirinya tidak begitu mengerti maksut dari kekasihnya atau jangan jangan gabino mencurigainya ahh itu tidak boleh terjadi. Gadis itu menggelengkan kepala, gabino yang melihat itu menjadi heran. Mengapa gadisnya tiba tiba menggelengkan kepala?. "Cemburu? Kenapa? Apa aku membuatmu merasa sakit hati?" Tanya zeline hati hati. "Aku cemburu karna tidak pernah memberimu hadiah secantik itu, malah lila yang memberikan lebih dulu hadiah sebagus itu kepadamu" ungkap gabino. Mendengar penjelasan dari gabino, zeline menghembuskan nafas lega. Dirinya berfikir gabino tidak akan percaya dengan dirinya ternyata fikirannya terlalu berlebihan. Gadis itu meraih tangan gabino, menganggam dengan lembut. "Jangan pernah punya fikiran seperti itu, tidak apa apa kalau kamu tidak pernah memberiku hadiah yang terpenting kamu bisa menjaga hati untukku" kata zeline dengan senyum manis yang malah menambah kecantikan diwajahnya. Melihat gadisnya seperti itu, gabino ingin sekali memberikan ciuman bertubi tubi namun, pria itu tidak banyak keberanian yang ada kenak tampol zeline nanti. Walaupun mereka sudah menjalin hubungan sejak lama, gabino tidak pernah bersikap agresif pada gadisnya itu. Ntah dari kapan wajah gabino maju kedepan, membuat jarak antara gabino dan zeline semakin menipis. Zeline memejamkan matanya, kedua tangan zeline meremas roknya. Jantung zeline berdetak cepat bahkan gabino bisa mendengarnya dan... Ponsel zeline berdering, gadis itu mendorong pelan tubuh gabino untuk menjauh. Dengan gugup zeline membuka tas kecil yang ia bawa lalu mencari ponselnya. "Ha-halo" ucap zeline gugup. "...." "Kapan?" "...." "Oke, aku pulang sekarang" Tit. Sambungan telfon terputus, zeline bisa bernafas lega setidaknya ia bisa menghindari kejadian tadi. Selama ini gabino hanya mencium pipi kanan kiri dan kening, bila gabino mencium bibirnya berarti gabinolah yang mengambil first kissnya. Tidak, tidak boleh terjadi. Walaupun gabino kekasihnya, frist kiss hanya untuk suaminya nanti. "Sayang aku pulang dulu ya, mama telfon barusan nyuruh cepet pulang. Kapan kapan kamu main kerumah lagi ya, pasti mama senang lihat kamu datang lagi apalagi sudah lama tidak berkunjung kerumah" pinta zeline. Gabino yang masih diam berhasil membuat zeline merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi gadis itu tidak ingin frist kissnya diambil sebelum menikah. "Iya hati hati dijalan sayang" gabino mengusap lembut pucuk rambut zeline. Zeline mengangguk sebagai jawaban, lalu ia pamit untuk segera meninggalkan cafe. Tanpa gadis itu sadari, gabino menatap nanar punggung zeline, pria itu merasa bersalah dan terlalu lancang kepadanya. "Maafkan aku zeline" ucap gabino menyesal, pria itu berfikir zeline kecewa atas perlakuannya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN