Tanda Tanya

1121 Kata
“ahhh segarnya disini” gadis dengan balutan dress berwarna putih selutut menelentangkan kedua tangannya diudara, dirinya merasa inilah surga dunia yang sesungguhnya. dengan senyum yang merekah, gadis itu tidak berhenti mengagumi keindahan danau yang saat ini dirinya berada. Ia baru mengetahui keberadaan danau ini, “mengapa aku baru mengetahui tempat ini” celetuknya. “jika dari dulu aku sudah mengetahuinya pasti aku akan sering berkunjung disini” tambahnya. Kakinya sedikit melangkah maju lebih depan, kini gadis itu berada diujung jembatan kayu yang ia pijak, gadis itu bisa melihat pantulan dirinya diair yang sangat jernih itu. Ia tersenyum simpul, sangat anggun sekali memakai dress seperti ini dan diatas rambutnya yang terurai panjang memakai flower crown menambah kesan kecantikan tersendiri, “aku tidak akan pulang, aku betah disini!” seru gadis itu. Ia merubah posisinya menjadi duduk, mengayunkan kedua kakinya secara bergantian dan merasa bila hidup disini ia akan lebih tenang tanpa beban hati dan fikiran, buktinya gadis itu merasa damai disini fikirannya lebih plonggg dari biasanya. Srek srek srek Gadis itu mendengar suara langkah kaki menuju kearahnya, senyum itu langsung memudar berganti dengan wajah datar. Ia letakkan kedua tangannya menyentuh alas kayu jembatan untuk menompang tubuhnya yang tiba tiba terasa lemas, kakinya masih berayun secara bergantian tanpa energi. “apa kamu sudah lama menungguku?” pemilik suara bariton itu sudah berdiri tegak disampingnya. Dengan enggan menoleh gadis itu menjawab, “aku tidak menunggu siapa siapa disini, jadi menjuahlah dariku!”. Pria itu tertawa renyah membuat dirinya mengeryitkan dahi “ini rumahku, kamu tidak bisa mengusirku” tandas pria misterius itu. Tanpa mengucapkan sesuatu gadis yang menggenakan dress putih mencoba berdiri disisa tenaganya, baru saja selangkah tangannya ditarik paksa oleh tangan kekar yang ia yakini tangan dari pria menyebalkan itu. “zeline.... mengapa kamu tidak ingin melihatku?” tanya pria itu dingin. Zeline nampak bingung, mengapa pria disebelahnya bisa mengetahui namanya. "Tentu saja aku tau, aku adalah dewa tidak perlu bertanya siapa sebenarnya dirimu" jawab pria itu seperti tau kebingungan zeline. "kamu adalah milikku zeline" cetusnya. zeline mengabaikan ucapan pria yang dirinya anggap tidak jelas, gadis itu ingin segera pergi jauh mencari tempat yang tenang dan tidak ingin siapapun menganggu. Zeline masih saja melihat kearah depan, sikap cuek zeline membuat pria itu menatapnya tajam. “aku menginginkanmu, kamu milikku hanya milikku” ungkap pria itu, nada bicaranya lebih terdengar lembut daripada sebelumnya. “aku tidak perduli tuan” desis zeline. Mendengar jawaban dari zeline pria itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “aku akan membawamu kesuatu tempat yang dimana akan membuatmu jauh lebih tenang” ucap pria itu merubah pandangannya kearah depan dengan senyum smirk. Zeline bergidik ngeri, bulu kuduknya merinding “kemana?” dirinya berusaha tidak terlihat lemah walaupun tubuhnya sedikit bergetar. “berenanglah bersamaku” ajaknya enteng. Zeline menolah kesumber suara lalu mendelik kaget, bagaimana mungkin ia berenang kalau dirinya saja tidak bisa berenang yang ada malah mati kaku diair. “tidak, a-aku tidak bisa berenang” tolak zeline, gadis itu berusaha menarik tangannya yang masih dalam genggaman pria itu. “lepaskan aku, aku mohon” pinta zeline, zeline mulai panik ia memutar otaknya bagaimana caranya bisa terlepas dari pria tidak jelas disampingnya. Pria itu menarik paksa tangan zeline “ayo turunlah kebawah.” “tidak aku tidak bisa berenang” teriak zeline, wajah pria itu berubah menyeramkan sangat dingin seperti ingin membunuh siapapun yang berani kepadanya. Zeline menangis dan memekik keras, “tolong lepaskan aku, aku tidak bisa berenang.” Pria itu tidak memperdulikan ucapan zeline untuk melepaskan gadis yang sudah berada didalam genggamannya, genggamannya semakin kuat zeline meringis kesakitan. "Awww, tolonggg lepaskan aku" zeline semakin histeris . Satu tarikan tak berhasil membuat zeline terjatuh, pria misterius itu berfikir dan tidak percaya ternyata gadis yang saat ini meronta meronta mempunyai energi yang sangat kuat juga. Tarikan kedua belum berhasil zeline masih bisa menahannya , dan tarikan ketiga... Byurrrrr Zeline terjebur, kuping, mulut dan hidung zeline kemasukan air yang cukup banyak, gadis itu merasakan sesaat tubuhnya sangat panas kepalanya pusing dia tidak kuat lagi untuk bertahan. "Zel zeline" - * * * Zeline merasakan pipinya ditepuk berkali kali oleh seseorang, kedua mata sontak terbuka nafasnya tersengal-sengal, keringat dingin bercucuran didahinya. "Hey, kamu kenapa zeline?" Tanya farel kedua tangannya mengenggam tangan zeline. Zeline bangun dari posisi tidurnya dan berganti menjadi duduk, ia berusaha menetralkan dirinya "aku kenapa rel?" Tanya zeline memastikan. Farel mengusap pucuk kepala zeline dengan lembut lalu beralih menangkup kedua pipi zeline, "kok tanya balik? Seharusnya aku yang tanya, kamu kenapa?." Gadis itu masih enggan bercerita apa yang baru saja ia alami, bahkan kejadian seperti ini sudah berkali kali ia alami sejak duduk dibangku SMA. Farel yang memahami kondisi sahabat kecilnya itu berusaha menenangkan, "baiklah jika tidak ingin bercerita dulu" kata pria itu."tadi kamu sepertinya mengingau, berteriak tanpa henti meminta untuk dilepaskan. Aku yang baru saja datang cukup terkejut saat baru turun dari mobil, karna dari luar rumah teriakanmu cukup keras terdengar, aku fikir kamu sedang dalam bahaya" ungkap farel, wajahnya tadi benar benar terlihat sangat panik. Zeline yang sudah merasa tenang mengangguk lemah, seingatnya sepulang dari pertemuannya dengan gabino ia tidak langsung menuju kamar. Zeline memutuskan menunggu kedatangan farel diruang tamu, daripada harus naik turun tangga sangat menyusahkan dirinya saja. Dan zeline memang membohongi gabino, bukan mamanya yang menelfonnya tadi melainkan farel pria yang baru saja ia temui setelah bertahun tahun mereka berpisah, memang ini salah sudah membohongi kekasihnya tapi zeline tidak punya pilihan lagi. Gadis itu menundukkan kepalanya, ia merasa lelah setiap kali memimpikan pria yang sampai saat ini menghantuinya dalam mimpi. "Ngomong ngomong tadi ngapain kekantor?, Kamu tidak mengurus butikmu?" Farel mengalihkan pembicaraan, pria itu tidak ingin gadis didepannya berubah jadi murung dan itu menutut farel sangat menyeramkan. Zeline mengangkat wajahnya, lalu menghela nafas membuang jauh jauh rasa ketakutannya. " Aku ingin mengucapkan trimakasih untuk hadiah kalung yang sangat cantik ini." Zeline tersenyum dengan memegang lation berbentuk bulan, "dan untuk butik, aku biasanya datang setiap 3-4hari sekali dalam satu minggu. Karna semua pekerjaan sudah ada yang menghadle itulah gunanya aku mencari karyawan" tambahnya. Farel menyandarkan punggungnya disandaran kursi, jarinya Telunjuknya memainkan kunci mobil. "Tidak perlu bertrimakasih, aku sudah lama ingin memberikan padamu namun belum saatnya kita bisa bertemu" jelas pria itu. "Mama Novi dan papa gunawan kemana zel?" Tanya farel yang saat ini sudah berdiri didepan banyaknya pigora berisikan foto foto kecil zeline dan keluarganya. "Sedang berlibur kerumah nenek dimalang rel" kini zeline berdiri sejajar dengan farel. "Lihatlah zeline wajahmu saat kecil sangat menyebalkan" ejek farel dengan menunjuk salah satu foto yang tergantung rapi didinding. Zeline memutar bola matanya malas, ia lebih memilih meninggalkan farel yang terus saja mengejeknya. Zeline menuju kedapur membuatkan minuman untuk farel. Setelah selesai, zeline segera menuju ruang tamu. Disana sudah ada farel yang duduk manis sambil memainkan ponselnya. "Heem" zeline berdehem. Farel mengangkat wajahnya lalu tersenyum lebar melihat gadis yang datang dengan membawa segelas jus jeruk, "Waahhh repot repot segala, gitu dong peka ada tamu dateng langsung dibuatkan minuman sekalian cemilannya juga." farel meraih gelas yang ada ditangan zeline lalu meneguknya hingga tak tersisa. "Dih ngelunjak ya" zeline menjawab dengan ketus. Farel tertawa puas, "eittss tamu adalah raja." "Yang ada pembeli adalah raja bodoh" cibir zeline. Mendengar jawaban kesal dari zeline semakin membuat farel tertawa keras "ehh salah ya?." Zeline tak menanggapi ucapan pria yang saat ini bersamanya, ia lebih memilih diam daripada berdebat untuk hal tidak penting. "Zeline jika takdir membuatmu diambang kebingungan kamu harus bersikap dengan tegas, jangan membuat orang orang yang sudah digariskan dalam satu lingkaran takdir bersamamu kecewa akan keputusanmu. Ini memang bukan kemauanmu maupun orang lain tapi percayalah skenario dari tuhan tidak akan mengecewakan umatnya malah akan membuatnya semakin dewasa dan berfikiran secara terbuka" tutur pria itu. Farel berdiri merapikan jas yang dipakai lalu berpamitan, "Kalau begitu aku pamit dulu "satu tangan farel terangkat mengusap lembut pucuk kepala zeline lalu melenggang pergi meninggalkan zeline yang masih tidak bergeming. Gadis itu masih terus mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh sahabatnya, mulutnya terasa kaku untuk bertanya arti setiap ucapan sahabat kecilnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN