Kenapa aku harus berangkat bersama Tan, harusnya dia duduk di depan bersama Pak Han dan aku bersama Diah. Entah mengapa kalau melihatnya aku jadi teringat nafas buatan kemarin. Tiba-tiba saja aku merasa ternodai meski hanya di bibir. “Ehem,” Tan berdehem, aku rasa dia akan mulai pembicaraan. “apa Teddy Bearnya di buang?” tanyanya dengan wajah yang datar. “Belum.” “Be-lum?! Berati kamu berniat membuangnya begitu?!” Tiba-tiba ekspresinya berubah kesal. “Tadinya.” “Kamu gak tahu itu limited adition! Harganya di atas harga paling mahal dari brand ternama lainnya! Itu home made tahu!” “Mana aku tahu, sepertinya sama saja seperti boneka di pasar Gembrong.” “Belajarlah menghargai pemberian orang lain! Kalau tidak suka kembalikan lagi!” “Barang yang sudah di be

