Marah

1404 Kata

Kusandarkan pipi di atas meja,  begitu lemas seolah tulang-tulang telah lepas dari  tubuh. Perut pun tidak ada rasa lapar sama sekali. Sedari tadi aku hanya mengacak-ngacak isi piring dengan garpu tanpa memakannya. Isi piring ini persis seperti perasaanku yang berantakan, hidupku yang kacau.  Bahkan aku tidak mengenali siapa diriku sendiri.  Oh ya ampun, mengapa mereka tidak menenggelamkanku sekalian seperti piring kotor di dalam wastafel.   Puk!   Kuambil potongan wortel yang menempel di dahi. Mengangkat kepala dari meja, menyadari ada seseorang yang melayangkan potongan makanan ke arahku.  Rupanya si batu sudah pulang,  sejak kapan dia berada di sini. Hahh,  melihatnya di ujung sana semakin mengingatkanku pada pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Membuatku semakin membenc

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN