“Ra, kamu kenapa nangis? Ada yang sakit?” tanya Sky mengulang pertanyaan yang sama. Naura menggeleng sambil menyuguhkan senyum tipis, membuat Sky kebingungan. “Lalu?” “Aku kangen nenek. Tiap kali aku sakit, beliau membuatkan bubur sumsum untukku. Boleh aku menjenguknya?” “Tentu boleh, Ra. Tapi tunggu sampai tubuhmu benar-benar sehat ya.” Naura mengangguk. Esoknya Naura terbangun dari tidunya dan tidak mendapati siapapun dalam kamar. Padahal, tengah malam tadi ia masih melihat Sky dalam kamarnya. Mungkinkah ia pulang ke apartemen setelah ia tertidur? Naura menatap langit-lagit kamar rumah sakit. Menoleh ke arah jendela yang gordennya belum dibuka, pun dengan pungung tangannya yang masih tertancap jarum infus. Dua hari di rumah sakit ia merasakan bosan. “Kamu sudah bangun? Maaf

