Akhir Sebuah Kesombongan

2807 Kata
“Kawan! Kenapa dengan Xiao Chen, apa dayang-dayang pengawal tak ikut dengan nya?” Pedang Tunggal berkata. Semakin besar cucuku itu semakin tak mau di kawal. Ketua Xin Cen berkata sambil menghembuskan nafas. “Pedang emas! Di mana kau bertemu dengan Xiao Chen?” Pedang Tunggal berkata kepada murid nya. “Kami bertiga melihat nona Xiao Chen di rumah makan yang berada di pusat kota, dengan lelaki dusun itu,” Pedang emas berkata sambil menunjuk ke arah Xing Zaolin. Bagaimana bisa gadis terhormat cucu dari ketua perguruan terbesar di daratan tionggoan bergaul dengan pemuda dusun. “Sudahlah Kiem Ho, tak usah di permasalahkan lagi, dan dia bukan pemuda dusun,” Ketua Xin Cen berkata. “Jadi siapa dia?” Pedang tunggal yang juga di panggil Kiem Ho berkata, sambil jari nya menunjuk tepat di depan wajah Xing Zaolin. Xing Zaolin diam tak menjawab walau jari Kiem Ho, tepat berada di depan wajah nya, dan menurut aturan yang berlaku, Kiem Ho tak sopan melakukan itu apalagi di depan banyak orang, karna hal itu sama saja dengan merendahkan dan menganggap remeh orang tersebut. “Dia adalah busu pengawal rumah hiburan surga malam.” Ketua Xin Cen berkata. Ha ha ha. “Busu rumah hiburan.” Ha ha ha. Kiem Ho tertawa dan berkata, dengan maksud menghina dan merendahkan Xing Zaolin yang cuma busu dari rumah hiburan. Busu tingkatan nya paling rendah, karna hanya menjadi pengawal di rumah hiburan. Karna busu memang mempunyai tingkatan, busu rumah pejabat, bangsawan, perkampungan dan yang terakhir adalah busu rumah hiburan. “Kau jauh lebih pantas menggendong Xiao Chen, dari pada busu itu!” Kiem Ho berkata. “Aku sudah menyuruh nya untuk mengantar nona Xiao Chen pulang, tapi nona Xiao Chen tak mau di antar oleh murid mu, mungkin karena ada maksud terselubung, jadi biar mabuk Xiao Chen masih bisa merasa khawatir,” Xing Zaolin berkata. Mendengar perkataan dari Xing Zaolin wajah Kiem Ho berubah kelam dan sangat gusar. “Kami orang-orang dari perkampungan selaksa pedang adalah orang-orang terhormat, bukan seperti mu yang hanya seorang busu.” Perkampungan selaksa pedang walau tidak banyak orang, tapi semua penduduk nya jago-jago pedang yang ada di daratan tionggoan ini. “Apa kau pernah dengar nama pedang langit! Ketua kampung dari perkampungan selaksa pedang?” Ujar Kiem Ho. “Tidak,” Xing Zaolin berkata sambil menggelengkan kepala. “Orang seperti mu mana kenal dengan pedang langit, kau hanya kenal dengan nama-nama gadis penghibur di tempat mu bekerja.” Pedekar pedang tunggal berkata. Sementara itu Xin Cen terus memperhatikan kedua nya, yang dari tadi selalu saja saling hina dan ledek. “Jadi tuan yang bernama pedang langit?” Xing Zaolin berkata. “Memang nya kenapa? Pedang tunggal berkata. Biasa nya orang yang mempunyai nama besar jarang omong!” Xing Zaolin menjawab perkataan dari pedang tunggal. “Apa maksud dari perkataan mu busu tengik?” Pedang tunggal berkata sambil menatap tajam ke arah Xing Zaolin. “Aku tak ada maksud apa-apa, bukankah benar apa yang aku katakan tadi.” Xing Zaolin berkata sambil balas menatap pedang tunggal. “Apa seperti ini cara-cara orang perguruan dari golongan merah? Bebas menghina orang tapi diri nya sendiri tak mau di hina.” Ujar Xing Zaolin. “Apa kau merasa terhina busu rumah hiburan? Jika kau tak mau di hina, lebih baik masuk ke anggota perguruan api suci, itu lebih terhormat dari pada busu di rumah hiburan surga malam. Tapi aku yakin, ketua perguruan api suci tak kan mau menerima orang seperti mu.” Pedang tunggal berkata. “Ketua Cen! Jika aku masuk jadi anggota perguruan api suci, apa busu rumah hiburan malam ini mau ketua Cen terima?” Xing Zaolin berkata. Dan memang tepat Xing Zaolin berkata seperti itu, karena setelah acara selesai, dan melihat sekilas pertempuran antara Xing Zaolin dengan Cakar Setan, ada niatan dari ketua Xin Cen untuk mengajak Xing Zaolin bergabung dengan perguruan api suci. “Jika kau mau! Perguruan api suci dengan senang hati akan menerima mu?” Ketua Xin Cen berkata. Pedang tunggal mengerutkan kening nya mendengar perkataan kawan nya, Xin Cen. Sementara itu Xing Zaolin tertawa ter bahak-bahak, melihat pedang tunggal yang seperti orang kebingungan. “Saudara Cen, apa benar perkataan mu tadi! Sedangkan murid ku dari dulu ingin ikut masuk perguruan api suci, selalu kau tolak, tanpa ada penjelasan.” Pedang tunggal berkata. “Kawan! Masalah yang nyangkut tentang perguruanku, dan bagaimana aku mengambil anggota biar aku saja yang urus tanpa harus memberitahukan kepada orang lain.” Ketua Xin Cen berkata sambil menatap tajam ke arah pedang tunggal. Pedang tunggal wajah nya merah, karna telah di sindir secara halus oleh sahabat nya Xin Cen, masalah perguruan adalah masing-masing karna setiap perguruan berbeda aturan. Perkampungan selaksa pedang juga selalu me milih-milih anggota nya, rata-rata mereka yang memang benar-benar ahli dalam soal pedang, sisanya barulah mereka mengajari anak murid mereka menjadi anggota perkampungan selaksa pedang. Mendengar perkataan dari Xin Cen, itu artinya bahwa murid nya tidak berbakat, dan busu itu lebih berbakat di bandingkan dengan ketiga orang murid nya. Pedang tunggal semakin membenci Xing Zaolin, karna tadi nya dia berpikir akan di bela oleh Xin Cen, tapi agak nya Xin Cen seperti orang yang tak peduli dan tetap seperti biasa. Sementara itu, bangsawan Khe dan para tamu undangan yang mulai berdatangan, menghampiri dan melihat ke arah Xin Cen. Pedang tunggal dan Xing Zaolin yang tengah berkerumun dan bertukar omongan. “Lagi-lagi busu muda itu membuat keributan! Bangsawan Khe berkata sambil menggelengkan kepala, sambil melihat ke arah Xing Zaolin. Melihat orang semakin banyak berdatangan, pedang tunggal semakin merasa berada di atas angin, dan terus berkata-kata bahwa busu itu tak sopan, dan telah menghina dia dan perkampungan selaksa pedang. Xing Zaolin hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan dari pedang tunggal, dan tak berniat mencari perkara dengan kakek itu. Tapi pedang tunggal tak mau melihat Xing Zaolin pergi berlalu begitu saja dari hadapan nya. Sriing, sreeet..!! Sebuah pedang tipis sudah di cabut keluar dan menempel di leher Xing Zaolin. “Mau kemana?” Lagakmu baru menjadi busu saja sudah seperti tokoh persilatan. Xing Zaolin tanpa melihat karena leher nya tertempel pedang berkata. “Apa ini cara orang-orang dari golongan merah?” Ujar Xing Zaolin. Pedang tunggal menarik kembali pedang nya dan berkata. “Aku hanya memberi peringatan kepadamu supaya tidak meninggalkan tempat ini.” Xing Zaolin tak memperdulikan perkataan dari pedang tunggal. Tapi menatap ke arah bangsawan Khe dan ketua Xin Cen. “Aku meminta saran! Xing Zaolin sudak tak mau berbasa basi dan sopan lagi, dia menyebut “Aku” di depan bangsawan Khe dan ketua Xin Cen yang kedudukan nya jauh di atas nya. “Apa yang kau ingin kan?” Bangsawan Khe berkata. “Aku ingin pibu dengan kakek yang bernama pedang tunggal.” Xing Zaolin berkata. Ha ha ha. Pedang tunggal tertawa mendengar perkataan dari Xing Zaolin. “Kau ingin pibu dengan ku! Lebih baik, kau bermain main dengan muridku saja dari pada denganku. Meruntuhkan nama besar ku saja jika bertanding melawan busu rumah hiburan malam seperti mu.” Pedang tunggal berkata. “Makin tua mulutmu makin tajam saja,” Ujar Xing Zaolin. “Bagaimana jika kita bertaruh? Xing Zailin berkata kembali.” “Terserah kau saja, jadi apa yang harus kita pertaruhkan?” Pedang tunggal berkata. “Kita bertaruh dengan telinga, siapa yang kalah harus menebas telinga sendiri.” “Baik, kalian menjadi saksi,” Pedang tunggal berkata sambil menatap ke arah bangsawan Khe dan ketua Xin Cen. Setelah mendengar perkataan dari pedang tunggal, Xing Zaolin berkata sambil menatap ke arah musuh nya itu. “Apa kau sudah siap?” “Aku sudah siap bertarung dari tadi, tangan ku sudah gatal sekali,” Pedang tunggal berkata sambil menatap tajam ke arah Xing Zaolin. Xing Zaolin membalas perkataan dari pedang tunggal, dan mata nya menatap tajam ke arah kakek itu, lalu berkata dengan dingin. “Aku bertanya bukan siap atau tidak nya kau bertarung. Tapi, apa kau sudah siap kehilangan telinga? Ujarnya. Ha ha ha. “Kau terlalu percaya diri anak muda, kita lihat saja telinga siapa yang akan hilang.” Pedang tunggal berkata. Sementara itu Xing Zaolin yang mendengar perkataan dari pedang tunggal, tersenyum dingin dan berkata. “Jika kau memohon padaku sambil panggil aku kakek, aku hanya akan memotong sebelah telinga mu, kau camkan baik-baik omongan ku.” Mendengar perkataan dari Xing Zaolin, wajah pedang tunggal langsung merah dan sangat gusar. “Aku seorang pendekar pedang, keluarkan senjatamu karna aku biasa bertempur menggunakan pedang.” “Ketua Xin Cen dan bangsawan Khe tolong ingatkan aku, agar tidak membunuh nya.” Xing Zaolin berkata. Ketua Xin Cen dan bangsawan Khe mengangguk mendengar perkataan dari Xing Zaolin. Tapi perkataan Xing Zaolin kepada bangsawan Khe dan ketua Xin Cen di anggap sebagai penghinaan bagi pedang tunggal. “Tak usah banyak omong lagi cepat keluarkan senjata mu.” Pedang tunggal berkata. Xing Zaolin tersenyum mendengar perkataan dari pedang tunggal dan berkata, “Ajak ketiga murid mu untuk ikut pibu biar adil, guru dan murid sama-sama tak ada telinga,” Xing Zaolin berkata sambil tertawa. Ha ha ha. “Tak usah banyak bicara, cepat keluarkan senjatamu.” Pedang tunggal berkata, wajah nya semakin lama semakin merah kelam karna hawa amarah nya. Xing Zaolin tak ada pilihan yang lain, sepasang pedang pendek naga hitam keluar dari balik baju nya. “Naga hitam, naga hitam,” Teriak beberapa orang yang menyaksikan pertarungan di halaman depan, setelah pedang tunggal menolak bertanding di panggung arena, karna menurut nya pertandingan yang mereka lakukan bukan pertandingan resmi. Xin Cen tertegun dan tersenyum melihat sepasang pedang naga hitam, milik Xing Zaolin. “Ku pikir pedang nya hanya satu, ternyata sepasang.” Xin Cen berkata dalam hati. Pedang emas mendengar perkataan naga hitam dari beberapa penonton, dan berpikir, “Apa benar pemuda yang tak lain adalah seorang busu rumah hiburan malam, adalah orang yang di sebut-sebut naga hitam.” Pedang tunggal menatap sepasang pedang naga hitam, yang berada di tangan kanan dan kiri Xing Zaolin. “Pedang pendek yang aneh, tak mungkin seorang busu rumah hiburan surga malam mempunyai sepasang pedang antik seperti itu. Siapa dia sebenarnya?” Pedang tunggal berkata dalam hati. Xing Zaolin memutar-mutar sepasang pedang naga hitam, berputar lalu berhenti, berputar dan berhenti lagi, sambil menatap posisi pedang tunggal. “Jika kau takut bilang saja dari sekarang, lalu potong kuping kirimu itu.” Xing Zaolin berkata, ketika melihat pedang tunggal hanya diam tak menyerang. Pedang tunggal yang mendengar perkataan dari Xing Zaolin, tanpa basa basi langsung menyerang ke arah Xing Zaolin. Xing Zaolin yang melihat pedang tunggal menyerang, tersenyum dingin, lalu kedua pedang naga hitam milik nya berputar dan terus berputar dengan kencang, jurus putaran dewa pedang siap di keluarkan. Pedang tunggal menebas ke arah pinggang Xing Zaolin. Xing Zaolin menangkis serangan pedang yang ke arah pinggang nya. Traang. Bunga api terpecik, ketika pedang dari Kiem Ho dan pedang naga hitam saling beradu dengan sangat keras. Kiem Ho memang sengaja, beradu pedang karna ia ingin tahu sampai sejauh mana tenaga dalam yang di miliki oleh Xing Zaolin, juga untuk mengetes pedang hitam Xing Zaolin dengan pusaka milik nya. Pedang baja putih. Senjata yang selalu menemani Kiem Ho kemanapun dia pergi. Pedang Kiem Ho, balik terpental ketika menebas pinggang dan tangan nya bergetar. Kiem Ho melentingkan tubuh nya ke arah belakang, saat pedang naga hitam yang berada di tangan kiri Xing Zaolin menyambar ke arah bahu Kiem Ho. Serangan percobaan dari Xing Zaolin berhasil di hindari oleh Kiem Ho. Dan kali ini ganti Xing Zaolin yang mengambil inisiatip menyerang duluan. Sepasang pedang naga hitam berdengung ketika berputar semakin lama semakin kencang. Tangan kanan Xing Zaolin, menyambar ke arah pergelangan tangan Kiem Ho. Kiem Ho menggeser tangan nya lalu balik menyerang, dengan menusukkan pedang baja putih milik nya tepat ke arah jantung Xing Zaolin. Dengan pedang naga hitam di tangan kiri, Xing Zaolin kembali menangkis serangan dari Kiem Ho. Traaang..!! Semakin lama gerakan-gerakan mereka berdua semakin cepat. Putaran pedang di tangan Xing Zaolin juga semakin lama semakin kencang, dan menimbulkan angin yang bisa membuat kulit terasa nyeri jika terkena angin dari putaran dewa pedang. “Gila, ilmu pedang apa yang dia gunakan, pedang nya tampak biasa saja dan di gagang nya juga tidak ada apa-apa, tapi kenapa pedang nya terus berputar di telapak tangan nya walau tidak dia genggam.” Pendekar pedang tunggal berkata dalam hati. Karna menurut nya pedang yang tidak di genggam pasti akan jatuh, tapi kedua pedang pendek berwarna hitam itu terus berputar di telapak tangan Xing Zaolin, dan itu membuat serangan pemuda itu susah di duga oleh si pedang tunggal, pedang yang berputar hanya berhenti jika sudah menemukan tempat yang pas dan terbuka untuk di serang. Semakin lama semakin banyak perubahan-perubahan dari jurus putaran pedang Xing Zaolin, dan semakin merepotkan Kiem Ho untuk bertahan. Karna untuk menyerang Xing Zaolin, Kiem Ho tak punya kesempatan, setiap hendak menyerang Kiem Ho menarik kembali serangan nya karena pedang di tangan kanan dan kiri Xing Zaolin srlalu lebih dahulu menyerang, dan Kiem Ho harus menangkis serangan Xing Zaolin dengan pedang nya. Lama kelamaan jika seperti ini urusan nya bisa kalah, dan jika kalah maka hancurlah nama besar pedang tunggal, tanpa terasa keringat dingin keluar dari pori-pori tubuh Kiem Ho. Memang, nama besar bagi seorang pendekar adalah segalanya, untuk mempertahankan nama besar yang di milikinya biar tidak jatuh atau hancur. Seorang pendekar rela melakukan apapun supaya nama besar nya bisa bertahan di atas, seperti sekarang yang dilakukan Kiem Ho. “Aku harus membunuh busu ini, jika sampai kalah, mau taruh dimana muka ku dan orang-orang akan mencemooh aku nanti nya.” Kiem Ho berkata dalam hati. Serangan-serangan Kiem Ho semakin hebat, dan mulai banyak perubahan dan jurus tipuan untuk memperdaya lawan. Pedang baja putih milik Kiem Ho, kini hanya sinar putih saja yang terlihat, saking cepat nya gerakan jurus pedang yang di gunakan oleh Kiem Ho. Hmm..!! Xin Cen mendengus melihat pertarungan yang berlangsung, sinar putih dan hitam di senja hari memang menarik perhatian, orang-orang yang baru datang langsung menonton sehingga halaman depan sudah di padati oleh penonton lama juga penonton yang baru saja datang, termasuk rombongan Ling Ling yang melihat pertempuran antara Xing Zaolin dan pedang tunggal. Ini sudah bukan pibu yang mempertahankan telinga, tapi untuk mempertahankan nyawa masing-masing mereka yang bertempur. Xing Zaolin juga menyadari serangan-serangan yang di lakukan Kiem Ho, lebih menjurus untuk membunuh nya bukan melumpuhkan. Traang, traang. Dua kali serangan pedang Kiem Ho di tangkis oleh Xing Zaolin. Xing Zaolin mulai mempergunakan jurus kedua kitab dewa pedang, selaksa dewa pedang. Sepasang pedang naga hitam berhenti berputar, tapi sekarang kecepatan nya membuat sepasang pedang naga hitam, menjadi lebih banyak se akan-akan berjumlah puluhan, semakin membuat wajah Kiem Ho pucat. Pedang baja putih, terus berputar di depan tubuh Kiem Ho dan hanya itu cara Kiem Ho untuk menahan serangan sebenarnya dari sepasang pedang naga hitam milik Xing Zaolin, yang berubah menjadi banyak. Xing Zaolin terus menyerang pedang tunggal, pedang nya seperti berubah menjadi puluhan bahkan seperti ratusan, membuat kepala pusing melihat pedang yang berubah banyak dan seperti menyerang dari segala arah. Saking sibuk nya menahan serangan, angin dari hawa pedang sudah banyak merobek baju dari pedang tunggal. Sepasang pedang naga hitam mulai di kombinasi antara tangan kiri memakai jurus putaran dewa pedang, dan yang kanan memakai jurus selaksa pedang, kedua tangan Xing Zaolin saling bergantian memainkan jurus itu, dan semakin membuat pedang tunggal hanya bisa menangkis dan mundur. Ketika pedang di tangan kiri berputar dan berhenti di depan d**a, pedang tunggal terkejut, pedang baja putih kemudian menangkis ketika pedang di tangan kiri Xing Zaolin dengan cepat menyambar ke arah d**a. Tapi dengan jurus selaksa pedang, pedang naga hitam di tangan kanan menyambar ke kiri kepala pedang tunggal. Sreeet, craash. Pedang tunggal berusaha menghindar, tetapi sesuatu yang dingin menyerempet ke arah kepala kiri nya. Xing Zaolin melihat pedang tunggal mundur, tak mengejar. Sementara itu suara gaduh terdengar dari para penonton, tak terkecuali drngan bangsawan Khe dan ketua Xin Cen, ketika melihat sebuah telinga berada di bekas pertempuran antara Xing Zaolin dan pedang tunggal. Semua mata mengarah ke arah pedang tunggal atau bisa di sebut dengan Kiem Ho, karna Kiem Ho yang terus di desak oleh Xing Zaolin. Pedang tunggal sudah merasakan sakit di kepala kiri nya, dan dia baru tahu setelah melihat telinga nya berada di tanah tempat mereka bertempur. “Jika kau ingin kuping kanan mu selamat, apa yang harus kau katakan padaku? Ujar Xing Zaolin.” Pedang tunggal diam, dan akhir nya ia berkata dengan suara gemeteran menahan marah. “Kakek, aku mengaku kalah!” Pedang tunggal berkata kepada Xing Zaolin, sorot mata nya mengandung dendam ketika berkata. Xing Zaolin mengangguk mendengar perkataan dari Kiem Ho. Sambil manggut-manggut Xing Zaolin berkata, “Julukan sekarang sudah bukan pedang tunggal lagi!” Kiem Ho mendengar perkataan Xing Zaolin mengangguk, sambil melotot menahan marah ia berkata. “Aku memang tak pantas memegang gelar pefang tunggal.” Ujar Kiem Ho. “Bagus jika kau mengerti, sekarang ganti julukan mu!” Xing Zaolin berkata. “Pendekar telinga tunggal.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN