Xing Zaolin duduk bersama dengan Xin Cen, dan seorang kakek tua berpakaian merah yang tadi dikenalkan oleh Xin Cen bernama Jun Ho yang merupakan penasehat perguruan api suci.
Orang tua yang tak banyak bicara, raut wajah nya seperti sedang cemberut membuat orang sungkan untuk bicara atau sekedar bertanya.
Tak lama kemudian masuk dua orang yang sama memakai pakaian berwarna merah dan agak nya mereka seumuran dengan Xin Cen.
Xin Cen dan Xing Zaolin berdiri ketika mereka berdua datang.
Xing Zaolin perkenalkan ini adalah Xiao Cen, adikku sekaligus wakil ketua perguruan api suci, sedangkan yang ini adalah saudara Mao Sen, ketua bidang hukum di perguruan api suci.
Xing Zaolin mengangguk lalu memberi hormat kepada kedua nya, sambil memperkenalkan diri.
Xiao Cen dan Mao Sen tertawa dan mengangguk, mereka sangat senang dengan kesopanan yang di perlihatkan oleh Xing Zaolin.
“Aku mengumpulkan Toako, Jun Ho Xiao Cen dan saudara Mao Sen untuk merundingkan sesuatu hal,” Xin Cen berkata.
“Kakak, jika boleh tahu, ada masalah apa sehingga kita semua berada di sini, apa ada sangkut paut nya dengan adik Xing ini,” Xiao Cen berkata kepada kakak nya.
“Benar perkataan adik, ini ada sangkut paut nya dengan saudara Xing.”
“Saudara Xing minta kepadaku agar memberitahu letak dari perkampungan selaksa pedang, tapi aku bingung jika memberi tahu saudara Xing, karna perguruan api suci dan perkampungan selaksa pedang sudah lama bersahabat,” Xin Cen berkata.
“Ketua dari perkampungan selaksa pedang adalah pedang langit yang merupakan tokoh yang sangat disegani oleh dunia persilatan.”
“Xing Zaolin menanyakan letak perkampungan selaksa pedang karna ingin menuntut balas, kawan-kawan nya tewas oleh perbuatan Kim Ho dan sebagian orang-orang dari perkampungan selaksa pedang,” Ujar Xin Cen.
“Maaf jika boleh tahu, saudara Xing ini dari perguruan mana?” Mao Sen berkata.
“Aku tidak mempunyai perguruan paman, kakekku sendiri mengajarkanku ilmu kepandaian,” Mao Sen mengangguk mendengar perkataan dari Xing Zaolin.
“Jadi perguruan mana yang di serang oleh Kim Ho dan orang-orang perkampungan selaksa pedang?”
“Saudara Mao Sen! Bukan perguruan tapi rumah hiburan yang bernama surga malam yang berada di kota Shiro,” Ujar Xin Cen.
“Rumah hiburan! Mao Sen berkata sambil mengerutkan kening mendengar perkataan dari ketua nya, Xin Cen.”
Xin Cen lalu menceritakan kejadian awal mula perseteruan antara Xing Zaolin dan Kim Ho, sehingga terjadi nya p*********n yang di lakukan oleh Kim Ho karena merasa terhina oleh Xing Zaolin.
Hmm..!!
“Jadi begitu keadaan yang sebenar nya, apa ketua ingin membantu saudara Xing menyerang perkampungan selaksa pedang?” Ujar Mao Sen sambil menatap ke arah Xin Cen.
Xin Cen diam tak menjawab perkataan anak buah nya Mao Sen.
“Ini adalah urusanku dengan perkampungan selaksa pedang, jadi tak ada sangkut paut nya dengan perguruan api suci,” Xing Zaolin berkata.
“Aku datang hanya ingin melihat Ling Ling dan menanyakan tempat dari perkampungan selaksa pedang, ingin bertanya kenapa mereka sampai begitu kejam nya membantai orang-orang yang tak tahu apa-apa dan tak mengerti ilmu silat,” Ujar Xing Zaolin kembali.
Mao Sen mengangguk mendengar perkataan dari Xing Zaolin lalu menatap ke arah Jun Ho, “Bagaimana menurut sesepuh?”
“Kita jangan ikut campur dengan urusan orang lain,” Ujar Jun Ho.
Maaf ketua Cen, aku tak meminta bantuan selain letak dari perkampungan selaksa pedang.
Xing Zaolin berkata, ketika melihat sikap dingin dari penasehat perguruan api suci.
“Beritahu saja tempat nya dan siapkan peti mati, kami berempat saja belum tentu bisa mengalahkan mereka, apalagi cuma seorang pemuda bau kencur ini,” Jun Ho berkata sambil berdiri lalu meninggalkan ruangan.
Xin Cen menghela nafas, mendengar dan melihat penasehat perguruan api suci.
“Maafkan kakak seperguruanku jika perkataan nya menyinggungmu.”
“Tak apa ketua Cen! Jadi dimana letak perkampungan selaksa pedang?”
Perkampungan selaksa pedang ada di hutan dekat Kingchuan , daerah Kingchuan daerah dekat aliran sungai, tempat nya subur tapi hanya satu perkampungan di sebuah bukit luas, di atas bukit itulah letak perkampungan selaksa pedang.
“Aku memberitahumu karna aku juga penasaran, kenapa perkampungan selaksa pedang begitu ceroboh membunuh lawan yang tak mengerti ilmu silat, jika benar demikian nama perkampungan selaksa pedang akan menjadi bahan gunjingan orang-orang dunia persilatan,” Xin Cen berkata.
“Terima kasih ketua Xin Cen, paman Xiao Cen dan paman Mao Sen.”
“Kau behati-hatilah anak muda,” Xiao Cen berkata.
“Benar apa yang di katakan saudara Xiao Cen, perkampungan selaksa pedang penuh dengan pendekar-pendekar pedang yang tangguh, berhati-hati lah anak muda,” Ujar Mao Sen.
Xing Zaolin mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang ramah itu, lalu di antar oleh ketua Cen ke tempat Ling Ling yang masih dalam tahap penyembuhan, karna luka yang ia derita akibat di keroyok oleh orang-orang perkampungan selaksa pedang.
Xin Cen menunjukkan kamar Ling Ling lalu pergi.
Tok tok tok.
Xing Zaolin mengetuk pintu kamar.
“Masuk saja!” Suara lembut dari dalam kamar terdengar.
Xing Zaolin membuka pintu kamar, kemudian masuk ke dalam kamar melihat seorang gadis tengah duduk melamun.
“Kau sudah baikan?” Ujar Xing Zaolin.
Ling Ling menoleh ke arah pintu kamar ketika mendengar suara seorang lelaki.
Begitu melihat yang datang adalah Xing Zaolin, Ling Ling langsung berdiri dan berjalan cepat lalu menubruk dan memeluk tubuh Xing Zaolin.
“Kakak Xing, kakak Xing mereka semua telah tiada,” Ling Ling berkata sambil menangis.
Xing Zaolin perlahan mengusap rambut Ling Ling.
“Sudahlah, mungkin semua ini sudah takdir, manusia tidak bisa tahu akan kejadian yang menimpa mereka, kita doa kan saja agar Nio Nio, Ling Lung dan Ling Leng dan semua anggota rumah hiburan surga malam bisa tenang di alam keabadian.”
Ling Ling mendengar perkataan dari Xing Zaolin, semakin erat memeluk seakan tak mau melepaskan Xing Zaolin dari pelukan.
Setelah tenang Xing Zaolin dan Ling Ling duduk berhadapan.
“Apa benar Kim Ho beserta murid nya dan anggota perkampungan selaksa pedang yang menyerb, rumah hiburan surga malam?”
Ling Ling mengangguk mendengar perkataan dari Xing Zaolin, wajah gadis itu langsung beringas ketika Xing Zaolin menyebut nama Kim Ho.
“Kakek laknat itu yang telah memimpin menyerbuan, kami bertiga bersama para busu berusaha menahan mereka, tapi kami kalah segala nya dan aku melihat mereka membunuh satu persatu anak buah ibu, ibu juga kedua adik di depan mataku di bunuh oleh mereka.”
“Sudahlah kau tenangkan saja dirimu, jika kau sudah baikan kembali saja ke kota shiro, biar aku yang akan membalaskan dendam Nio Nio dan kedua adikmu,” Xing Zaolin berkata.
“Tapi kemana aku harus kembali, mereka sudah membakar tempat kami,” Ling Ling berkata, menjawab perkataan Xing Zaolin sambil menunduk. Tanpa terasa air mata nya bercucuran, teringat kembali dengan saudara yang sudah tewas.
“Aku sudah menyuruh bangsawan Khe membangun kembali rumah hiburan surga malam, jika bangsawan Khe sanggup, aku menyuruh bangsawan Khe membangun yang lebih mewah dengan bangunan yang dahulu.”
“Benarkah perkataanmu?” Ling Ling berkata, sambil menatap Xing Zaolin.
“Apa aku pernah berbohong?” Xing Zaolin berkata sambil tersenyum ke arah Ling Ling.
Jika kau sembuh, kembalilah ke kota shiro, dan buatlah bangunan seperti apa yang kau ke hendaki.
Aku akan mencari Kim Ho dan membalaskan dendam orang-orang rumah hiburan surga malam.
“Jangan-jangan, biarkan saja, lebih baik kau bersamaku kembali ke kota shiro, dan sekarang surga malam sudah menjadi milikmu.”
“Kau tenang saja, aku ada peritungan sendiri, besok aku berangkat, jika kau kembali ke kota shiro aku akan berpesan kepada ketua Cen untuk memberikan orang yang handal untuk mengawalmu pulang,” Ujar Xing Zaolin.
Setelah terjadi perdebatan antara berangkat dan tidak, akhir nya Ling Ling mengalah dan memutuskan untuk kembali ke kota shiro, setelah kesehatan nya benar-benar pulih.
Ke esokan hari nya Xing Zaolin pergi, mengendarai kuda menuju Kingchuan.
Mata Ling Ling berkaca-kaca dan mulut nya komat kamit membaca doa agar Xing Zaolin selamat, dan kembali ke kota shiro.
Xin Cen hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat kepergian Xing Zaolin, sementara itu ketiga kakek yang melihat kepergian Xing Zaolin salah seorang kakek tersenyum sinis.
***
Xing Zaolin terus berputar-putar sambil mengingat petunjuk jalan yang di berikan oleh Xin Cen.
Menurut pedagang yang tadi bertemu di jalan, Kingchuan tak jauh, tapi Xing Zaolin berputar-putar di daerah itu masih saja, tak menemukan jalan menuju perkampungan selaksa pedang.
Seorang tukang pencari kayu yang sedang memikul kayu bakar untuk di bawa pulang, lewat di dekat Xing Zaolin.
Tanpa sungkan Xing Zaolin turun dari kuda nya, dan bertanya kepada tukang pencari kayu.
“Paman boleh tanya sebentar?”
Tukang kayu menatap Xing Zaolin dan berkata, “Apa yang bisa aku bantu anak muda?”
“Aku ingin pergi ke perkampungan selaksa pedang, tapi menurut petunjuk jalan nya ada di sekitar sini, tapi sudah beberapa kali aku berputar, masih tak menemukan jalan ke perkampungan selaksa pedang, apa paman tahu jalan menuju ke sana?”
“Mau apa tuan pergi ke perkampungan selaksa pedang?”
“Jika aku bilang untuk mencari dan membunuh Kim Ho, tak mungkin aku akan di kasih tau oleh pencari kayu ini,” Xing Zaolin berkata dalam hati.
“Aku ingin mencari teman yang katanya sekarang ia menetap di perkampungan selaksa pedang paman.”
“Siapa nama temanmu?”
“Nama teman ku si pedang emas paman, dia murid dari Kim Ho si pedang langit.”
Hmm..!!
“Kau tinggalkan kuda mu di sini, dan kau liat semak belukar di depan sana. Kau lewat di celah dinding batu ada sebuah bukit, di atas bukit itulah perkampungan selaksa pedang.” Ujar pencari kayu itu dengan tatapan penuh kecurigaan.
Xing Zaolin tak peduli dengan tatapan itu, setelah berterima kasih, Xing Zaolin menambatkan kuda nya, kemudian berjalan ke arah yang di tunjukkan oleh paman pencari kayu bakar.
Dan benar saja yang di katakan oleh paman itu, ketika keluar dari celah batu yang merupakan jalan setapak.
Xing Zaolin melihat bukit yang luar, di atas bukit itu terlihat perkampungan yang di tutupi pagar kayu yang lumayan tinggi.
Xing Zaolin berdiri di depan gerbang kayu yang tak di jaga oleh orang.
Di atas gerbang ada papan besar yang tertulis, “Kampung Selaksa Pedang,” sementara di samping gerbang ada sebuah lonceng ada papan kayu yang sengaja di paku, dan tertulis di papan kayu itu.
Kampung selaksa pedang.
Bunyikan lonceng satu kali jika ingin bertamu.
Bunyikan lonceng dua kali jika ingin bergabung.
Bunyikan lonceng tiga kali jika ingin bertanding.
Xing Zaolin mendengus melihat dan membaca aturan lalu memasang kuda-kuda.
Kedua tangan nya perlahan bergerah ke arah atas dan ke depan, setelah menarik nafas dalam-dalam.
Tanah yang di injak oleh Xing Zaolin melesak dan retak tanda sedang mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi.
Lalu dengan mengerahkan tenaga dalam nya Xing Zaolin mendorong kedua tangan ke arah gerbang perkampungan selaksa pedang, dengan ilmu pukulan dewa angin.
Blaaarr..!!
Gerbang yang terbuat dari kayu langsung hancur, sebagian terbang dan mental ke dalam, akibat akibat hantaman oleh ilmu pukulan dewa angin.
Setelah puas melihat gerbang kayu hancur, Xing Zaolin mendengus dan berkata dalam hati.
“Aku memilih aturan yang ke empat! Menghancurkan kampung selaksa pedang.”
Suara hancur nya gerbang perkampungan selaksa pedang yang di hantam oleh Xing Zaolin, terdengar ke dalam.
Orang-orang yang berdiam di rumah-rumah kecil yang mengelilingi gedung besar berhamburan keluar, untuk melihat apa yang terjadi dan suara apa barusan yang mereka dengar.
Puluhan orang terpaku melihat gerbang kayu perkampungan mereka yang kokoh hancur berantakan, lalu mereka melihat seorang pemuda melangkah masuk ke dalam perkampungan selaksa pedang, melewati pintu gerbang yang hancur.
“Maaf tuan boleh bertanya?” Ujar Xing Zaolin yang mendekati salah seorang warga perkampungan selaksa pedang.
Beberapa orang langsung mendekati Xing Zaolin.
“Siapa kau, mau tanya apa, dari mana, siapa yang menghancurkan gerbang?”
Berbagai macam pertanyaan keluar dari mulut masing-masing warga kampung sambil menatap Xing Zaolin.
“Diam, diam dulu saudara-saudara! Biar aku yang bertanya, dan salah seorang tolong cari Cengcu.”
Seorang warga yang menggembol pedang langsung melesat pergi, mencari Cengcu mereka si pedang langit yang sedang keluar kampung.
“Dua orang pria paruh baya berwajah seram dengan brewok lebat saling bisik, “Seperti nya pemuda ini yang di maksud ketua, apa kau sudah siap?”
“Demi ketua aku rela mati,” Ujar pria yang usia nya lebih muda, pria yang lebih tua berkata sambil menepak bahu kawan nya, “Berpura-pura pingsan saja sisa nya serahkan padaku.”
“Baik, setelah berkata, perlahan pria itu sedikit demi sedikit maju mendekati Xing Zaolin, dan sambil menggoroh pisau yang berada di dalam saku baju nya.”
Ketika kakek tua yang mewakili warga kampung hendak bertanya, teriakan kencang terdengar dari pria yang baru saja perlahan mendekat.
“Pengacau.”
Syuuut..!!
Sebuah pisau menyabet ke arah d**a Xing Zaolin.
Xing Zaolin mendengus, tangan kiri nya menepak pergelangan tangan musuh yang memegang pisau.
Plak, traak.
Pisau jatuh ke tanah, kemudian sebelum pria itu mundur, tangan kanan Xing Zaolin langsung menyambar dan mencengkram tenggorokan pria itu.
Kreeak..!!
Pria pembokong itu tak berteriak, dengan mata melotot dan tulang tenggorokan nya hancur, pria itu tewas seketika.
Bhuuuk..!!
Xing Zaolin langsung membanting pria yang telah tewas itu.
Pria bewok yang tadi berbisik-bisik bersama dengan penyerang langsung memburu mayat kawan nya, meraba tenggorokan lalu mengerutkan dahi, dan wajah nya langsung berubah.
A Cheng tewas, A Cheng tewas.
Teriak pria brewok itu sambil mencabut pedang yang di punggung nya.
Warga kampung selaksa pedang kemudian mencabut pedang mereka, menuruti pria brewok itu.
Sebarang..!!
Teriak pria brewok sambil melesat dan menyabetkan pedang nya ke arah d**a Xing Zaolin.
Whuut..!!
Xing Zaolin mundur selangkah, sehingga pedang pria brewok itu tak sampai mengenai d**a.
Ketika bergerak mundur Xing Zaolin sambil mencabut kedua pedang pendek nya, yang berwarna hitam.
Begini rupa nya orang-orang perkampungan selaksa pedang.
Tak mampu satu lawan satu, main b****g dan yang tak mempunyai kepandaian lalu main bantai.
Ha ha ha.
Perkampungan selaksa pedang, yang di takuti oleh dunia persilatan, ternyata hanya sebangsa curut yang lari cepat jika ada bahaya.
“Hati-hati kalau bicara anak muda,” kakek tua itu berkata.
“Kau bilang tadi ingin bertamu, kenapa sekarang kau bikin onar di sini.”
Pria yang tadi membawa kayu bakar, telah berdiri di antara kerumunan orang-orang perkampungan selaksa pedang.
“Paman! Aku berterima kasih kepada paman yang telah memberi tahu alamat perkampungan selaksa pedang, dan memang benar aku mencari Kim Ho, tapi orang perkampungan selaksa pedang yang terlebih dahulu dua kali membokongku.”
“Maju saja semua, tak usah main bokong.”
Pria brewok itu, semakin nafsu mendengar celoteh Xing Zaolin.
Seraang..!!
Setelah berkata tubuh nya bergerak dan pedang menyambar ke arah kepala.
Xing Zaolin tersenyum dingin, sepasang pedang naga hitam nya berputar-putar di tangan nya.
Traang.
Pedang yang mengarah ke leher berhasil di tangkis.
Kemudian tangan kiri dengan pedang yang berputar menyambar perut orang berwajah brewok.
Breeet..!!
Pria brewok yang merupakan kawan A Cheng. Selamat hanya baju di bagian perut robek besar.
Kakek tua yang tadi bertanya kepada Xing Zaolin dan berdiri dekat paman pencari kayu.
Hmm..!!
“Kau sungguh gegabah, tapi aku baru melihat kau di perkampungan selaksa pedang?” Kakek itu berkata sambil menatap tajam ke arah pria brewok yang sedang memakai pedang.
Hamba di bawa oleh pedang langit. Congkoan di perkampungan selaksa pedang, Kim Ho.
Kakek tua itu mengangguk setelah mendengar perkataan A Kun, nama pria brewok yang menyerang Xing Zaolin.
Kakek tua, dan tukang pencari kayu, maju berhadapan dengan Xing Zaolin.
Paman pencari kayu yang menunjukkan jalan menatap ke arah Xing Zaolin.
“Aku tadi memberi tahu jalan, karna aku pikir kau hendak berniat baik, jika tahu kau mengacau mungkin tadi di pinggiran hutan kau sudah kubunuh.”
“Paman orang perkampungan selaksa pedang?” Xing Zaoli bertanya.
Aku di sebut bayangan pedang, Kim To dan kakek sebelahku adalah pedang iblis, Kiem Mo.
“Orang-orang mu telah membantai teman-temanku dan membakar rumah hiburan surga malam.”
“Tutup mulutmu anak muda, kami bukan orang-orang semacan itu,” Kiem Mo berkata sambil menatap tajam ke arah Xing Zaolin.
Ha ha ha.
“Apa Kim Ho adalah orang dari perkampungan selaksa pedang?” Dan si brewok tadi berkata bahwa Kim Ho adalah Congkoan perkampungan ini.
“Kim Ho yang membunuh dengan keji kawan dengan keji kawan-kawanku di rumah hiburan surga malam, mana orang nya suruh keluar.”
“Setiap tempat ada aturan nya, kau jangan se enak nya berbuat sesukamu di tempat orang.”
Kiem Mo mencabut pedang dari punggung nya.
“Paman! Biar aku saja,” Kim To berkata.
Kim To seperti tidak membawa pedang, tapi ternyata pedang Kim To sangat tipis dan bisa di lilitkan seperti ikat pinggang.
Kim To memegang gagang pedang tipis nya yang bergerak gerak tertiup angin.
Xing Zaolin tak mau menunggu lama, tubuhnya melesat sambil menyambar ke arah d**a Kim To.
Pedang Kim To yang bergoyang-goyang tiba-tiba mengeras dan langsung menusuk ke arah leher Xing Zaolin.
Xing Zaolin kaget dan reflek menarik leher dan tubuh nya langsung bergerak ke kiri, sambil pedang naga hitam yang berputar lalu berhenti kemudian menyambar ke arah pinggang Kim To.
“Ih,” Teriakan kaget terdengar dari mulut Kim To, ketika pinggang nya terancam oleh serangan pedang pendek Xing Zaolin.
Kim To menarik tenaga dalam yang di salurkan ke dalam pedang, pedang tipis yang mengeras menjadi lemas kembali, Kim To mengecutkan pedang nya ke arah tangan kiri Xing Zaolin.
Xing Zaolin menarik serangan, lalu pedang naga hitam menyambar ke arah pedang Kim To.
Ting..!!
Pinggiran pedang Kim To terkena mata pedang Xing Zaolin, pedang Kim To bergetar.
Melihat serangan nya masih dapat di tangkis, Kim To mengerahkan tenaga dalam nya, pedang yang sedang lemas tiba-tiba mengeras lagi dan menusuk d**a Xing Zaolin.
Xing Zaolin mundur dua langkah dengan ilmu meringankan tubuh raja angin, tusukan Kim To hanya mengenai tempat kosong.
Tubuh Xing Zaolin tiba-tiba menghilang dari pandangan Kim To.
Wajah Kim To pucat, ketika melihat di depan nya puluhan pedang pendek berwarna hitam mengincar seluruh tubuh.
Kim To sambil sambil memutar pedang berusaha melindungi tubuh nya dari tusukan pedang Xing Zaolin.
Triing, tring.
Kemudian Kim To menunduk dan bergulingan di tanah, sewaktu pedang Xing Zaolin tiba-tiba berputar dan menyambar ke arah leher Kim To.
“Sungguh aneh ilmu pedang pemuda ini! Serangan nya tak bisa di duga arah dan tujuan, aku baru kali ini menghindari serangan pedang musuh sampai bergulingan di tanah, sungguh memalukan,” Kim To berkata dalam hati.
Ha ha ha.
“Kau menghindar sungguh cepat, seperti tikus tanah,” Xing Zaolin tertawa dan berkata meledek Kim To.
Anak muda ini sangat berbahaya, jika di biarkan dan menjadi jahat sepuluh tahun kedepan tak akan ada yang bisa menandingi ilmu pedang nya selain Cengcu.
“Kim To, kali ini aku harus ikut ambil bagian.”
Kiem Mo sudah meloloskan pedang berwarna hitam dari punggung nya, hawa pembunuh mulai menyelimuti tubuh Kiem Mo, pedang iblis Kiem Mo, tampak di selimuti kabut tipis berwarna hitam, akibar pancaran tenaga dalam yang di alirkan ke dalam pedang.
Kini mereka berdua berhadapan dengan Xing Zaolin.
Sementara itu, seorang kakek berpakaian ala pendeta Ho, duduk di sebuah pohon besar melihat ke arah pertempuran, rambut nya putih nya di gulung dan sebagian sisi nya terurai.
Kumis dan jenggot nya panjang sampai d**a.
Dan di punggung nya menggembol sebuah pedang yang gagang nya seperti ukiran badan naga dan kepala di ujung gagang pedang, seperti pedang naga hitam, tapi pedang kakek itu berwarna putih.
Hmm..!!
“Dua jurus yang di keluarkan sudah merupakan bukti kuat, bahwa anak muda itu adalah pewaris sesungguh nya,” Ujar Kakek itu.
Dalam hati kakek itu berkata, sambil tersenyum penuh arti menatap ke arah Xing Zaolin.
“Setelah lama menunggu, akhir nya sang pemilik datang.”