Kabar Mengejutkan

1243 Kata
Mereka yang berada di sana terkejut sampai berdiri dari kursi nya, mendengar perkataan dari Xing Zaolin. Dan yang paling kaget adalah Lie Chen. “Nak, benarkah kata-kata mu ini?” “Paman Lie! Nama ku adalah Xing Zaolin, dan aku satu-satu nya anggota Sekte Naga Merah yang selamat pada hari p*********n, dan hari itu adalah hari pertama aku mendapat gambar naga merah di d**a kiriku ini.” Lalu Xing Zaolim menceritakan apa yang dia ingat sewaktu p*********n yang di lakukan oleh orang-orang dunia persilatan. Braaak..!! “Biadab, mereka sungguh biadab,” Lie Chen berkata sambil menggebrak meja. Kita harus mencari tongkat setan untuk menanyakan kebenaran dari apa yang dia katakan. “Aku sudah membunuh beberapa orang yang pernah ikut menyerbu ke perkampungan lembah merah,” Ujar Xing Zaolin. Di antara nya adalah siluman goa iblis. Pria yang memakai caping dan dari tadi tak bicara, mengangkat kepala ketika mendengar perkataan dari Xing Zaolin, kemudian berkata. “Hebat juga tuan muda ini, siluman goa iblis sangat tangguh apalagi jika mereka bertiga bersama-sama.” “Jika boleh tahu, siapa guru tuan muda?” Xing Zaolin mengerutkan kening, ketika mendengar perkataan dari pria yang tak terlihat wajah nya. “Xing Zaolin perkenalkan! Ini adalah paman Bang San atau lebih dikenal dengan nama telapak dewa, bekas koksu kerajaan Qun, dan sekarang bergabung bersama paman.” Mendengar perkataan saudara yang baru saja ia temui, Xing Zaolin mau memberi hormat kepada kepada Telapak Dewa. Telapak Dewa seperti tak menanggapi hormat Xing Zaolin, dan memang adat dan sifat Telapak Dewa seperti itu. “Tuan muda belum menjawab pertanyaanku?” Lie Chen tak melarang perkataan dari Bang San, karna ia juga ingin tahu siapa guru dari ponakan nya. “Guruku tak mempunyai gelar paman,” Xing Zaolin berkata. “Panggil aku kakek! Umurku jauh di atasmu,” Bang San berkata sambil melotot kepada Xing Zaolin. Phuihhh. “Tak sudi aku mempunyai kakek sepertimu,” Xing Zaolin berkata. Hmm..!! “Cepat katakan siapa gurumu?” “Penasaran amat,” Xing Zaolin berkata. “Guruku tak mempunyai gelar, aku hanya tahu nama guruku adalah Dewa Gila,” Ujar Xing Zaolin. “Apa kau bilang De, Dewa Gila.” “Benar, paman kenal?” Xing Zaolin berkata. “Apa gurumu sering tertawa sendiri, dan terkadang marah-marah seenaknya.” Xing Zaolin mengerutkan kening mendengar perkataan dari Bang San. “Paman kenal dengan guruku?” Xing Zaolin berkata, sambil menatap ke arah Bang San yang membuka caping nya. Seorang kakek yang rambut nya sudah putih begitu pula dengan kumis dan janggut nya. Ha ha ha. “Tuan Lie Chen, kau sungguh beruntung mempunyai keponakan seperti tuan muda ini.” Jika tuan Lie Chen dan saudara pedang baru ingat tentang seorang tokoh aneh yang sangat ditakuti puluhan tahun silam, jika dia sadar jiwa pendekar nya sangat tinggi dan terkenal baik budi, tetapi jika penyakit gila nya kambuh, yang menurut nya tak sedap di pandang mata, jangan harap orang itu dapat hidup siapapun orang nya. “Tokoh aneh itu disebut, dengan pendekar gila yang bernama Dewa Gila,” Bang San berkata menyelesaikan cerita nya. Mata Lie Chen tampak berbinar mendengar perkataan Bang San. “Anak Xing apa benar perkataan dari paman Bang San?” Ujar Lie Chen sambil menatap Xing Zaolin. “Benar paman! Guruku memang seperti itu.” “Apa gurumu masih ada?” Lie Chen berkata. “Kakek sudah meninggal dunia.” Lie Chen, Bang San dan pedang biru terkejut, mendengar Dewa Gila sudah meninggal dunia. “Sayang sekali, jika beliau masih masih hidup akan sangat berguna bagi bangsa ini,” Lie Chen berkata, di barengi oleh anggukan Bang San dan pedang biru. Sedangkan bangsawan Khe hanya diam, karna bangsawan Khe bukan orang persilatan. “Bangsawan Khe Han Ci,” Lie Chen berkata sambil menatap ke arah bangsawan Khe. “Kau dengar bukan pembicaraan kami?” “Hamba dengar yang mulia.” Ujar bangsawan Khe sambil mendengar perkataan lanjutan dari Lie Chen. “Apa kau masih mau bergabung dengan ku?” “Yang mulia Lie Chen, Khe Han Ci bukan orang yang plin plan, Khe Han Ci selalu sial menjadi bawahanmu.” “Khe Han Ci! Xing Zaolin adalah keponakanku, apapun yang ia perlukan selagi kau bisa, tolong penuhi keinginan nya.” “Baik yang mulia Lie Chen,” Khe Han Ci berkata. “Anak Xing! Paman masih banyak urusan, paman akan pergi dan kau dengar bukan itu, jika kau membutuhkan sesuatu, bicara saja kepada bangsawan Khe.” “Terima kasih paman! Jika paman butuh jasa Sekte Naga Merah, kabari saja aku asal harga nya cocok pasti tak akan gagal paman,” Xing Zaolin berkata. Ha ha ha. Lie Chen tertawa. Kau sama persis seperti ayahmu, kakak Xing Fank. “Aku akan mencari uang yang banyak, karna seperti nya aku akan banyak minta tolong kepadamu,” Lie Chen berkata. Lalu rombongan Lie Chen pergi meninggalkan penginapan. “Setelah bertemu dengan Lie Chen, bangsawan Khe sangat senang, lalu ia mengajak rombongan nya untuk makan.” Bangsawan Khe sudah diberi tahu oleh Lie Chen untuk menutupi identitas Xing Zaolin. Mereka bersantap, dan sekarang pemandangan agak berbeda, bangsawan Khe kali ini sangat menaruh hormat kepada Xing Zaolin. Ketiga muda mudi itu tak mengerti kenapa sikap bangsawan Khe berubah. Rombongan memutuskan menginap dua hari di kota Changsa, dan waktu dua hari itu mereka gunakan untuk berjalan-jalan melihat suasana kota Changsa yang ramai, Xing Zaolin setiap di ajak pergi selalu menolak dan hanya ingin berlatih ilmu tenaga dalam jubah emas taham ke empat yang bernama Jiwa Emas. Di hari terakhir mereka akan pergi, Xing Zaolin memberesi dan mempersiapkan barang-barang nya agar tidak ada yang ketinggalan atau lupa tak di bawa. Ketika melewati kamar-kamar rombongan terlihat sepi. “Pada kemana mereka, aku sudah bersiap, dan menunggu aku yang bangun ke siangan,” Xing Zaolin berkata dalam hati. Xing Zaolin menuruni anak tangga, dan melihat Khe An, Khe Hu, Khe Han Ci dan Xiao Chen. Berkumpul di sebuah meja bulat, dan terdapat kursi di sekeliling nya. Xiao Chen menatap ke arah Xing Zaolin yang sedang menuruni tangga. Mata Xiao Chen tampak berkaca-kaca sambil terus menatap ke arah Xing Xaolin, dan tangan nya yang gemetar, terdapat sehelai kain yang berisi tulisan-tulisan kecil. Xing Zaolin duduk, di kursi kosong yang tersedia lalu mengambil cangkir arak dan menuangkan nya ke dalam cawan, lalu meminum arak itu. Xing Zaolin mengerutkan kening ketika melihat Xiao Chen, memberikan kain kecil yang tadi di pegang erat oleh gadis itu. “Apa ini?” Ujar Xing Zaolin. “Baca saja, nanti kau akan tahu sendiri.” Xiao Chen membalas perkataan Xing Zaolin. Xing Zaolin membuka kain, lalu melihat dan membaca tulisan yang ada di kain itu. Xiao Chen, rumah hiburan surga malam di serang, sesudah kakek mengantarkan nona Ling Ling. Malam hari nya rumah hiburan surga malam di bakar dan semua penghuni nya di bunuh, kakek yang mendengar kabar langsung kesana, tapi hanya bisa menyelamatkan nona Ling Ling, sekarang nona Ling Ling berada di perguruan api suci. Beritahu Xing Zaolin tentang masalah ini. Penyerang nya adalah Kim To si pedang tunggal di bantu oleh murid-murid nya dan sebagian orang-orang dari perkampungan Selaksa Pedang. Xin Cen. Wajah Xing Zaolin langsung berubah merah, tangan kanan nya berubah warna menjadi merah dan di selimuti cahaya kuning emas. Braaak..!! Meja yang terbuat dari kayu tebal terbelah menjadi dua, terkena hantaman tangan kanan Xing Zaolin. Keluar suara seperti desiran dari mulut Xing Zaolin, sambil mata merah nya melotot ke depan. “Kim To, perkampungan Selaksa Pedang, kalian tunggu saja.” “Akan ku habisi mereka semua.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN