Makan Malam

1269 Kata
Begitu tiba di rumah, Devan langsung menuju ke ruang makan karena semua keluarga sudah berkumpul di sana, menunggu dirinya yang terlambat akibat kemacetan. “Maaf, Pah, Mah, tadi ada insiden kecil sampai membuat jalan sedikit macet,” ucap Devan sambil duduk di samping Alvian. “Maaf, Kak,” ucapnya pelan. “Macet atau sibuk dengan dua wanita panggilan itu?” sindir Maya sambil beranjak dari duduknya untuk mengisi piring Herdi karena akan mulai makan. “El bukan wanita panggilan, Mah!” elak Devan kesal. Alvian menyentuh lengan Devan lembut agar tidak perlu membantah sindiran ibu mereka yang memang tidak terlalu suka adiknya itu memilih tinggal di apartemen hanya untuk lebih dekat dengan Eliana dan Nani ketimbang tinggal di rumah. Devan mengalihkan tatapannya ke arah lain guna meredakan rasa kesalnya karena Eliana selalu disebut wanita panggilan oleh ibu kandungnya, meskipun ia berkali-kali mengatakan Eliana tidak pernah menjual dirinya sekali pun sampai detik ini. “Mah,” tegur Herdi lembut agar tidak perlu mengeluarkan ketidaksukaanya pada pilihan Devan sekaligus tidak mengacaukan suasana makan malam bersama dengan kedua anaknya yang sudah sangat jarang dilakukan, karena kesibukan masing-masing. “Mamah bicara apa adanya. Tidak mungkin, ‘kan wanita panggilan Mamah sebut sebagai ratu?” elak Maya tidak mau salah. Devan semakin kesal dan memutuskan untuk beranjak dari duduknya. “Aku makan di apartemen saja!” ucapnya kesal. Alvian langsung menahan tangan Devan untuk kembali duduk. “Aku datang ke rumah hanya untuk makan bersama malam ini, jadi jangan makan di apartemenmu,” pintanya lalu melirik Maya. “Mah, jangan bahas apa pun selain keluarga kita, ok!” Maya menanggapinya hanya dengan lirikan mata tak peduli sambil menaruh piring di depan Herdi. “Sudah, ya, Mah, Papah merindukan anak-anak," pinta Herdi. Devan kembali duduk tanpa menghilangkan wajah kesalnya, lalu mengisi piring dengan semua lauk-pauk yang ada di tengah meja untuk segera makan dan menghakhiri keadan kaku ini. Setelah piring masing-masing terisi, keempatnya langsung menikmati makanan dan tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Padahal Herdi berharap makan malam kali ini ada senda-gurau dari kedua anak lelakinya. Tapi harapan hanya tinggal khayalan, melihat wajah kesal Devan yang tidak juga berubah saat makan, ia pun bingung untuk memulai obrolan. Seandainya bicara dengan Alvian pun, ia yakin suasana akan tetap kaku karena salah satu tidak ikut bicara. Setelah melihat Devan minum lalu mengambil tisu untuk mengusap sisa makanan yang ada di sudut bibir, Herdi sudah membuka mulut untuk berbasa-basi, tapi belum sempat suaranya keluar, anak keduanya itu sudah beranjak bangun. “Aku pulang!” pamit Devan tanpa melihat siapa pun. “Devan, tunggu aku di kamar!” pinta Alvian. “Hmm,” balas Devan sambil melangkah menuju kamar kakaknya tanpa membantah. Alvian dan Herdi kompak melirik Maya yang sedang minum karena keduanya sama-sama ingin melayangkan protes pada ratu di rumah ini. “Mah, terus-menerus menjelekan Eliana dan ibunya akan membuat Devan menjadi seorang pembangkang!” ucap Alvian. "Mamah bukan menjelekkan, tapi mengatakan fakta!" "Tapi Devan tidak suka Mamah menyebut Eliana seperti itu." “Jika sekretarisnya wanita biasa dan masa lalunya bukan seorang wanita panggilan, Mamah tidak akan pernah menyebut dia seperti itu. Mamah juga tidak akan mempermasalahkan siapa pun wanita yang Devan suka meskpipun dia dari kalangan kumuh," elak Maya lagi karena tetap tidak mau disalahkan dan tidak mau jawaban dikalahkan. “Masa lalu sebagai wanita panggilan itu hanya ibunya, Eliana tidak, Mah," bela Alvian lagi. “Sama saja. Sekretaris itu adalah anaknya, tidak mungkin dia tidak pernah mengikuti pekerjaan ibunya." mendengar anak dan istrinya saling bicara, Herdi ikut bicara untuk menegur tindakan istrinya. "Pertanyaan Papah, mau sampai kapan Mamah mempermasalahkan pilihan Devan? Ini sudah enam tahun Mamah terus menunjukkan ketidaksukaan Mamah pada El, sampai Devan berubah menjadi seorang pembangkang, tapi Mamah tetap saja seperti itu. Jika Mamah tidak setuju, sampaikan dengan cara yang benar atau cara lain yang mambuat Devan tetap hormat pada Mamah,” ucapnya agak kesal karena suasana makan malam yang telah dikacaukan sebelum dimulai. Maya diam sejenak memikirkan cara lain yang suaminya maksud sambil melirik ke arah lain. Alvian merasa obrolan ini tidak akan berujung dan pasti akan terus berlanjut dengan ucapan pembelaan diri dari ibunya, maka ia memilih pergi dari meja makan ketika ibunya itu berpikir. “Aku ingin mendatangi Devan di kamarku,” ucap Alvian. “Al, jangan lupa tunjukkan pada Devan foto yang Papah berikan tadi,” ujar Herdi. “Ya!” balas Alvian. Maya langsung menatap serius suaminya untuk menanyakan foto yang dimaksud. “Foto apa, Pah?” “Foto beberapa anak gadis rekan kerja Papah untuk Devan pilih.” Maya mendengus sambil tersenyum kecut mendengar jawaban suaminya. “Sekarang Mamah yang balik bertanya pada Papah, Mau sampai kapan Papah berusaha menjodohkan Devan hanya melalui foto? Ini sudah tujuh tahun berlalu semenjak dia kembali lagi ke Indonesia dan perjodohan melalui foto yang Papah tawarkan selalu ditolak. Apalagi dua tahun ini, Devan bahkan tidak sedikit pun menyentuh belasan foto yang Papah sodorkan, apa Papah tidak bosan?” “Papah menunjukkan foto padanya memang tidak sepenuhnya yakin Devan mau memilih, bahkan dia tidak tahu jika foto yang belasan kali Papa sodorkan ada beberapa yang hanya itu itu saja.” “Jika tidak yakin, lalu untuk apa terus-menerus menjodohkan melalui foto?” “Setidaknya Devan tahu Papah ingin dia menikah.” Tiba-tiba Maya mengerutkan kening sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Herdi untuk bicara lebih serius. “Pah, seandainya Devan menikahi El, apa Papah setuju?” “Siapa pun yang akan Devan nikahi nanti, Papah akan setuju, meskipun itu El, yang penting Devan bisa segera menikah. Menurut Papah, El juga bukan wanita yang buruk. Dia sopan, baik, dan pandai mengurus Devan, jadi tidak masalah bagi Papah jika mereka menikah.” “Apa?” pekik Maya dengan wajah terkejut. “Papah mau punya menantu mantan wanita panggilan?” Herdi menghela nafas berat karena bingung harus menjawab apa. Jika ditanya tidak setuju Eliana menjadi menantunya, tentu ia juga tidak setuju karena ingin memiliki menantu dari keluarga terhormat, meskipun ia tidak yakin Eliana adalah mantan wanita panggilan seperti tuduhan Maya, tapi dalam pikirannya, jika ibunya kotor, sudah pasti anaknya juga ikut kotor walaupun Devan berkali-kali mengatakan Eliana bukanlah seorang wanita yang pernah menjual diri. Herdi juga tahu seberapa kuatnya Devan mempertahankan sekretarisnya itu, hingga ia bingung untuk menjawab setuju atau tidak. Bahkan dulu ia pernah menyampaikan ketidaksetujuannya menjadikan wanita yang hanya lulusan SMA sebagai sekretaris, sedangkan dirinya sudah menyediakan sekretaris profsional dan berpengalaman untuk mendampinginya mengendalikan perusahaan. Namun, anaknya itu lebih memilih mengajari Eliana dari nol sampai memahami detail jobdesc seorang sekretaris, dan juga urusan pribadinya, karena keinginan yang begitu kuat untuk hidup selalu berdekatan dengannya. Bahkan, waktu itu dia juga lebih memilih mengajari Eliana mengemudi setiap hari, setelah bekerja daripada menyewa orang lain untuk mengajarinya. Saat Herdi dan Maya mengetahui anaknya ingin menanggung semua biaya kehidupan Eliana dan Nani, keduanya menentang tegas, tapi Devan tetap pada pendiriannya, yakni memilih menghidupi kedua wanita itu dan menentang kedua orang tuanya, bahkan mengancam tidak akan menjalankan perusahaan jika tidak diizinkan tinggal berdekatan dengan seorang Eliana, hingga akhirnya lambat-laun Herdi dan maya terpaksa menerima pilihan anaknya. Baik Herdi maupun Maya hingga detik ini sama-sama bingung dengan alasan utama Devan sangat ngotot untuk hidup bersama wanita asing yang hanya satu kali dia temui di dalam bus, tapi langsung menjadikan wanita itu sebagai keluarga inti dan tidak boleh lepas dari pantauannya. “Pah, kenapa diam?” tegur Maya saat melihat Herdi melamun. “Papah ingin istirahat di halaman belakang, Mah,” balas Herdi sekaligus ingin menghindari pertanyaan istrinya. “Ck!” Maya berdecak sebal karena suaminya tidak bisa diajak diskusi hingga ia memutuskan pergi ke kamarnya untuk menghilangkan kekesalannya dengan bermain ponsel atau menonton televisi. •••••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN