“Kenapa, Pak?” “Tidak semua alasan dari laranganku harus kamu tahu.” Dengan perasaan kecewa Eliana langsung menunduk patuh. “Maafkan pertanyaanku, Pak.” Devan tersenyum lalu satu tangannya terangkat untuk mengusap kepala Eliana dan tidak menurunkan tangannya lagi meskipun Eliana sudah kembali mendongak. “Untuk kali ini aku beri ganti dari permintaanmu,” ucap Devan tanpa menghilangkan senyumnya agar bisa sedikit menghilangkan perasaan kecewa Eliana. “Tidak usah, Pak. Aku tidak punya permintaan apa pun.” “Kamu menolak tawaranku? Bukankah menolak kebaikan seseorang termasuk hal yang tidak sopan, bahkan menyinggung?" Eliana melirik ke sembarang arah memikirkan jawaban dari perintah yang berdalih tawaran. Melihat wajah Eliana saat mengedarkan pandangan, Devan seperti melihat Eliana y

