Eliana duduk di tepi tempat tidur sambil meletakkan semua makanan di dekat Dudu yang nyaman melingkar di tengah kasur. “Bisa-bisanya Ibu menuduh aku mau menggoda Pak Al,” gerutu Eliana kesal. Eliana menyedot minuman di genggamannya lalu menaruh dekat kaki yang bersila. Ia kemudian mengambil potongan roti bakar untuk dinikmati lagi. Namun, saat roti sudah berada di depan mulut dan mulutnya sudah terbuka, ia malah mengurungkan niat untuk menyuap karena teringat hal yang cukup penting dalam hidup Devan, tapi ia tidak tahu sama sekali. “Aku pikir aku sudah sangat mengenal Pak Devan dari hal terkecil sampai yang terbesar. Dari yang penting sampai yang sepele. Ternyata aku belum benar-benar tahu tentang dia meskipun setiap saat bersamanya. Atau memang dia yang sangat pandai merahasiakan

