Tanpa sadar bibir Eliana ikut tersenyum kagum melihat senyum indah di depannya semakin lebar hingga memperlihatkan jelas gigi rapinya. “Andai senyum manis itu bisa menjadi pemandanganku setiap hari,” batin Eliana lagi yang semakin hanyut pada sebuah senyum hingga ia lupa untuk menyapa atau meminta maaf karena sudah menabrak tamu yang datang. “Untung saja aku yang ditabrak, bagaimana jika lemari itu?” Alvian sedikit mengangkat dagu untuk menunjuk lemari pajang yang tidak jauh dari pintu kamar Eliana. “Keningmu pasti akan memar dan Devan pasti akan sangat cemas jika melihat kening sekretarisnya tidak mulus lagi.” Eliana tetap tersenyum tanpa mengalihkan tatapan dan semakin kagum melihat gerakan bibir Alvian. Bahkan ia tidak fokus pada apa yang Alvian ucapkan. “El?” panggil Alvian karena

